Archive for December, 2013

palu

Revenge has failed me many times. I’ve learnt the hardest way from my own mistakes and foolishness. Had I known that it served nothing but constant pain, I would have tried to avoid it since the very first beginning. Now, I have learnt that forgiveness never fails, at least for me. But I had gone such lengths in my journey to discover that. I might not as lucky as others when it comes to forgiveness. I sort of “envy” those who can forgive so easily, effortlessly without no hard feeling at all. My process has always been uneasy but it has taken me into such lengths I never thought I will get through.

 I used to be someone who was easy to keep grudge and extremely emotional. My determination to get back at those who hurt me so bad was so dark; I thought it would be the fairest answer. Yet, along the way, I realized it wasn’t the answer; the fair-least. The true strength is actually coming from forgiving those who hurt me the worst and I don’t learn it through a bumper sticker; I’ve learnt it the hardest way of my life but it’s all worth it.

wet

Everything is fair eventhough it might not seem like it is at first. I’ve learned that I don’t have to make revenge for those who wronged me. There’s always Higher Power that makes everything fair. I have discovered that having revenge only eats my soul from within and I never want to feel that way again. In the past, I was dragged and drowned in this kind of feeling: numbness.

 Yes, I am still human so I think it is still okay to be emotional sometimes. I realize that predicament will always come and go, never dissapears. I shall be ready at anytime to be tested in order to find wisdom. Sometimes, when I get so angry, very angry until I feel like I wanted to tear a curtain, the temptation to “get-back-at” is always kicking inside, as if it was an itchy feeling that needed to be scratched immediately. In my life journey, this feeling is the potential seed for revenge to grow larger and deeper. Yet, whenever I feel it within the greatest length of my anger, there’s a soft part in my heart telling that if I follow it, I will hurt everyone I love so dearly, and I don’t want that.

chicago

Somehow, in my 30s, the temptation for revenge seems to have faded away eventhough my memories doesn’t always surrender so easily to forget. Maybe my heart is getting more selective to notice what kind of feeling that’s worth to harbor. Losing someone very dear might add to that recipe of strength. It may be hard for me to forget those hurtful glimpses of horrible memory but I will dare say that I am willing to challenge myself every second to try my best to forgive. My heart always says “worry not, as everything that’s good and beautiful will be approaching at its own best time only when you don’t lose your sight; patience is always the key to ultimate happiness”.

 I know in my life dictionary, the journey to be able to forgive will not always come easily and smoothly but I am willing to try harder since I always long for how it makes me feel afterward: a true peace and serenity within myself. That’s what I am eventually aiming at when I leave this world; a true peace and serenity. So yes, I am willing to risk anything to finally forgive, even when I have to get through the roughest path. Because in the end, these true peace and serenity are the only things that’ll able to pay all the “dark debts” I still have within my soul, in hoping that it will continuously cleanse my soul until the end of my journey on earth.

 I am never proud of what I had done ugly in the past and I have honestly learnt to enjoy humiliating myself in a good way for that; A therapeutic method I’ve invented for myself to avoid making the same mistakes again, hopefully.

Wini,

Jakarta, December 12, 2013

lakehope

*Playlist while writing:

 Lesson Learned by Carrie Underwood

 Better in Time by Leona Lewis

 Yesterday by Leona Lewis

 The Climb by Miley Cyrus

 Someone’s Watching Over me by Hillary Duff

CIMG6118

“Ojo dolanan ning kene, kowe kan bolone kae” (“Jangan bermain disini, kamu kan temannya dia”). Masih kuingat waktu itu aku belum masuk TK besar, mungkin 4 tahun-an; pertama kali mengenal dan mengalami apa yg disebut “prasangka” (prejudice) dan “diskriminasi”. Hanya karena aku meminjamkan untaian karet gelang untuk lompat tali (atau sprentel) pada salah satu anak tetangga, aku dibenci anak-anak yg lain yang memang tidak suka dia dgn alasan yang aku sendiri tak pernah tahu dengan jelas. Saat itu, hampir nangis karena bingung oleh diskriminasi dan prasangka yg tiba-tiba macam itu namun yg aku ingat kemudian hanya pulang ke rumah dan main-main lagi dengan koleksi boneka-boneka balon plastik yg sering dibelikan mama di Simpanglima. Hampir nangisnya tak bertahan lama.

“Papamu dimana, kasian banget sih ga ada yang beliin ini (sambil menunjukkan rumah-rumahan Barbie)”. Ingatanku tak pernah bohong. Walau sudah lebih dari 20 tahun berlalu sejak saat itu diucapkan, ingatanku tak pernah bisa melupakan hal-hal yg menyakitkan, walaupun kadang sudah kutepis dengan berbagai macam cara. Saat itu memang saat-saat dimana papaku tidak dapat menjalankan tugasnya mengayomi keluarga; pergi tanpa berita, meninggalkan tanggung jawabnya. Marah? Bukan marah lagi, tapi sempat benci menjadi-jadi. Masa pra remaja yg sangat sensitif. Disaat yg lain seusiaku bisa bermanja minta ini-itu dengan papanya; bermain dengan papanya; aku harus menggigit bibir dan menahan tangis melihat semua adegan itu. Saat seharusnya aku menikmati masa itu tanpa beban lahir batin, ternyata hidup mendaftarkan dirinya menjadi guruku lebih awal dari anak seusiaku yang lain: prihatin dan mandiri adalah pelajaran utamanya. Membangunkanku lebih awal untuk menjadi dewasa: menjaga perasaan mamaku, adikku, dan keluarga disekitarku. Habis-habisan mengejar makhluk yang namanya prestasi di sekolah hanya karena ingin membuat bangga mamaku sebagai pembuktian pada dunia luar bahwa aku tak butuh dikasihani. Saat menginginkan sesuatu, tak bisa asal tunjuk dan minta; yang ada dalam benakku hanyalah berapa lama yg harus kutabung untuk bisa mendapatkannya. Aku tahu mamaku adalah orang yg kuat. Tak pernah sekalipun kudengar keluhan darinya. Yang selalu berusaha memberikan segala sesuatu yang dimiliknya untuk kebahagiaanku. Sesekali mendengarnya menangis saat malam tiba sudah menjadi hal yang cukup memunculkan keinginan kelamku untuk “membalas dendam” pada semua, pada hidup ini, pada papaku, bahkan pada Yang Diatas. Saat itu adalah saat dimana dunia adalah tempat yg kejam, menyedihkan dan tak adil. Jiwaku kelam sekelam kertas karbon. Kujadikan sekolah (pendidikan) sebagai tempat pelampiasanku untuk mencari makna bahwa kehadiranku penting didunia ini; yang penting, setiap terima raport, mamaku bisa tersenyum. Itulah pertama kali kurasakan apa yang dinamakan insting anak sulung dan insting sebagai seorang kakak. Peran eyang putri dan keluarga mamaku juga sangat besar untuk mengisi kehampaan psikologis ku karena ketidakhadiran figur seorang ayah.

“Kamu ngobat ya? Pantesan, anak broken home sih, ga usah mimpi sekolah tinggi deh, siapa yang mau bayarin?”. Kembali kutelan pil pahit itu. Pahit menusuk memang, tapi kutahan. Sudah sering menerima prasangka macam begini jadi lama-lama sakitnya tak terlalu kuanggap. Ya, aku marah pada dunia. Dan masa ini berlangsung hingga aku lulus kuliah S1. Godaan pelampiasan mulai dari merokok, trek-trek-an, icip-icip “puyer 16”, dolan nongkrong sampai malam, dan sebagainya hadir silih berganti tapi tak sampai hati aku melakukannya. Yang ada dalam benakku hanya satu: Tak ingin membuat mamaku sedih apalagi menangis karena kuatir dan marah. Kulalui semua itu dengan badan yg kurus kering dan emosi serta mood yang turun naik ekstrimnya. Psikiater pun sempat kucicipi tanpa sepengetahuan mamaku, hanya karena aku mulai sering berhalusinasi dan tak bisa tidur berhari-hari. Syukurlah tak sampai parah. Aku masih bertahan walau kadang sering melarikan segala perih dengan film, musik, dan buku. Tenggelam seakan tak ingin bangun dan menghadapi realita. Dalam hati sambil masih menanyakan dimana papaku saat itu. Badanku kurus kering bukan karena ngobat dan cacingan, tapi ya memang mungkin karena hormon dan gizi yg tidak seimbang, sering skip makan dan jarang istirahat. Ada saat-saat dimana aku sangat putus asa ingin gemuk supaya orang-orang tidak berprasangka yang aneh-aneh.

“Kapan kamu pernah ke luar negeri? Memang bisa? Ga usah ngayal deh”. Lama-lama pantulan rasa sakit itu makin keras. Saat ada kesempatan seleksi konferensi mahasiswa di Perth, Australia, kuberanikan diri ikut dan akhirnya kubuktikan mampu. Itulah pengalaman overseasku yg pertama kali; saat menjadi mahasiswa S1. Bangga? Lebih tepatnya puas. Puas membuktikan aku bisa. Saat-saat itu, tujuan hidupku hanyalah pembuktian demi pembuktian: pada dunia, pada orang-orang yang merendahkanku. Maklum, pemahamanku akan hidup masih dangkal. Emosi masih membuncah dimana-mana. Kedewasaanku tertutupi dengan kabut kebencian dan balas dendam.

“Kerja kok Cuma gitu thok. Mau maju kapan?”. Peluh kesal kubasuh lagi. Saat itu aku memang hanya staf export-import di perusahaan swasta; woodworking company tepatnya. Masih fresh graduate, berusaha mencari pengalaman kerja, tapi sudah merasakan sakitnya disepelekan. Maklum lagi, masih muda, masih idealis, gampang terluka egonya. Kecewa? Lebih tepatnya ngotot kerja sampai capek sehingga tidak ada waktu lagi untuk mengeluh. Vertigo, mimisan, dan maag kronis menjadi efek samping dari ini. Memang dasar aku keras kepala, kusembunyikan semua itu dari mamaku. Aku paling benci dengan diri sendiri kalau sampai mengecewakan, terlebih mamaku. Diam itu emas.

“Enak amat bisa masuk PNS, pasti nyogok ya? Bayar berapa? Pasti dibantu koneksi deh”. Ini prasangka yang sampai sekarang mungkin masih berlaku untukku. Saat-saat pertama CPNS ku. Kenyataanya aku masuk PNS tanpa nyogok sepeserpun, tanpa koneksi siapapun: terlalu naif tapi alhamdulillah masuk ga pake neko2. Pandangan sinis orang-orang yang merasa tak ingin aku tersenyum, mulai menjadi makanan sehari-hari. Saat itu belum intens social media, jadi kulampiaskan keluh kesahku pada pekerjaan dan makanan. Tenggelam dalam pekerjaan dan terjangkit sindrom perfeksionis. Sering kubohongi diri sendiri dengan mengatakan dalam hati “I am okay” yang in fact, “I wasn’t”.

“Ga usah mimpi ketinggian deh, memang kamu mampu lanjut S2?”. Well, mimpiku memang kadang kurasakan sendiri terlalu tinggi. Tapi eyang putri pernah ngendikan bahwa aku bisa jadi apapun yang aku inginkan. Mamaku juga tak pernah sekalipun memaksakan kehendaknya padaku. Mama paling nrimo yang pernah kumiliki. Saat aku gagal meraih sesuatu yg kuinginkan, mamaku justru yang selalu “ngayem-ngayemi” bahwa itu adalah keberhasilan yg tertunda. Klise memang, tapi itu sangat kuat efeknya. Justru aku yang sering menghukum diri sendiri hingga hidup sehari-hari kok rasanya seperti kompetisi. Lelah. Amat sangat lelah. Sampai pada suatu saat, di tahun 2005, aku bertemu kembali dengan papaku yang sudah belasan tahun “hilang” dari peredaran keluarga kecilku. Genap 15 tahun sudah ketidakhadirannya dalam hidupku. Tahun 2005 aku sudah di Jakarta. Bertemu lagi dengannya serasa mengoyak luka lama, namun saat detik pertemuan itu terjadi, yg bisa kulakukan hanya diam, bingung, rasanya ingin demo dan protes tapi tak tahu pada siapa. Papaku sudah berumah tangga lagi dan punya dua orang anak yang semuanya perempuan. Ya, aku punya adik lagi. Mungkin mamaku sudah punya feeling sejak lama, jadi saat kuberitahukan ini, beliau tak kaget (walau mungkin tetap sedih karena membuka luka lama). Yang paling marah adalah adikku. Aku paham perasaannya tapi tak tahu musti bagaimana. Yang aku tahu, perasaan seperti itu hanya bisa dikendalikan oleh diri sendiri. Sakitnya memang harus dialami, dijalani dan kemudian baru bisa dilakukan: memaafkan. Proses ini serasa seumur hidup untukku. Saat setahun kemudian, tahun 2006, papaku pergi lagi untuk yg kedua kalinya, namun kali ini untuk selamanya: tutup usia tepat di hari Idul Adha tahun 2006. Saat papaku dipanggil Allah SWT, umur kedua putrinya yang ditinggalkan saat itu sama dengan umurku dan adikku yg dulu ditinggalkannya. Saat itu aku heran tak bisa menangis. Sehari sebelum pemakamannya, aku hanya mengelus kakinya dan memanjatkan doa, tanpa air mata. Saat pemakamannya pun aku tak bisa hadir karena sedang tes kesehatan CPNS yang tak bisa diagendakan ulang: wajib tes. Saat pulang dari tes kesehatan itulah, air mataku baru tumpah di dalam bus. Aku sudah tak peduli lagi orang mau bilang apa, air mataku tak bisa berhenti. Setelah seminggu kepergian papaku, baru aku bisa berhenti menangis tapi tetap belum bisa memaafkan. Hingga berita itu tiba: beasiswa melanjutkan S2 ke USA. Dan perjalanan itupun harus kulalui hingga disana aku akhirnya bisa benar-benar memaafkan: memaafkan diriku sendiri dan papaku. Berdamai dengan ketidakadilan hidup.

“Kok belum nikah-nikah sih? Gonta-ganti melulu kan? Standardnya ketinggian”. Haduh, begitu gampangnya kah orang mengambil kesimpulan terhadapku tentang masalah pendamping hidup. Saat itu sudah 27 tahun umurku. Well, aku paham, they are not me so I forgive them for taking that conclusion. Saat pertama kali pacaran dulu sampai harus bolak-balik gagal, dikecewakan, dan disakiti, membuatku sempat tak pernah berfikiran untuk menikah. Pikirku dulu, aku bisa hidup kok tanpa harus ada suami. Duniaku belum kiamat kalau aku tidak nikah. So, nothing to lose. Saking seringnya gagal, dikecewakan dan disakiti, membuatku antipati terhadap lelaki: bukan trauma tapi antipati. Hingga menjelang saat-saat mendekati dipertemukannya lagi diriku dengan suamiku yang sekarang. Itupun melewati suatu peristiwa kegagalan dulu untuk yg kesekian kalinya. Allah maha adil, jika Dia sudah berkehendak, semuanya akan mengalir: ditunjukkan jalan dan dimudahkan walaupun dengan rintangan yg sepertinya mustahil untuk ditaklukkan. Sampai sekarang terkadang masih amazed dengan statusku sebagai istri yang mendampingi suamiku yg dulunya adalah teman SD ku. Jodoh itu misteri.

“Masak Cuma gara-gara nikah aja pindah agama sih? Sempit amat, murtad amat”. Ya Allah, prasangka ini membuatku benar-benar menangis dalam hati. Tak perlu juga kujelaskan bahwa sebenarnya jauh-jauh hari sebelum menikah pun, ada sebuah kerinduan yang tak bisa dijelaskan saat aku melihat mukena dan sajadah; saat aku mendengar lantunan ayat suci walaupun tak paham artinya; saat aku berkali-kali bertemu sosok bersorban keemasan yang sering kuanggap bunga tidur karena kelelahan. Sejak SMP aku sudah mengalami semua itu, tapi tak pernah kuceritakan pada siapapun: tidak pada mamaku, adikku, eyang putriku ataupun keluargaku bahkan temanku, Kusimpan sendiri, kusangka akan hilang sendirinya dengan berlalunya waktu. Tapi justru semakin lama semakin kuat, sampai pada akhirnya, dipilihkannya waktu-ku oleh waktunya Allah SWT: yang terbaik untuk mengucapkan 2 kalimat syhadat. Rasa haru yang tak bisa dijelaskan dengan kata-katapun kusimpan dalam hati. Hanya sholatlah yang mampu mengungkapkannya. Aku tahu sempat ada saat-saat dimana aku mengecewakan beberapa pihak dengan menjadi mualaf. Tapi aku tidak melakukannya karena terpaksa. Dan aku mendapatkan hidayah itu pun setelah melalui perjalanan panjang dan penempaan yang tiada henti. Hanya karena waktu nya dekat dengan waktu pernikahanku, maka prasangka tersebut muncul. Well, I don’t blame them. Aku terima semua ungkapan kekecewaan, cacian, makian, kemarahan, kekesalan, penyepelean, dan sebagainya dengan rasa syukur. Anehnya, setelah moment itu, sedikit demi sedikit, yang namanya cobaan hidup itu datang makin bertubi, namun tak sepenuhnya kurasakan sakit, luka atau berat yang menjadi-jadi seperti dulu. Hanya semacam tergores sedikit saja: sebentar sakit lalu perlahan memudar sakitnya. Sejuk perlahan.

“Istri yang egois, bukannya ngikutin suami, malah menjauh mementingkan karir”. Sebuah tarikan nafas yang sangat panjang kuambil. Ya Allah, ini sakit sekali tapi ya sudahlah. Toh mereka tak tahu dan tak harus tahu. Siapa yang tak ingin satu atap sebagai suami-istri. Idealnya begitu, tapi saat ini kami masih sama-sama memulai dan menyelami. Tirakat istilahnya. Kami hanya bisa berusaha yg terbaik untuk masa depan dan tak ingin selamanya begini. Planning sudah ada untuk satu atap namun kami menyerahkan semua usaha ini di tangan Allah SWT. Biarlah itu hanya kami dan Allah yang tahu.

“Makanya gak isi-isi, wong jauhan terus. Ga usah ditunda, kapan sih jadinya kalo begini terus?”. Prasangka yang tak pelak lagi menohok tepat di pulung ati. Siapa sih yang tak ingin punya keturunan. Namun sekali lagi, kami hanya bisa berusaha. Anak itu adalah rizki Allah. Jika memang kami sudah dipercaya untuk memilikinya, pasti ada jalan. Jika tidak, ya kami harus siap, namun tanpa lelah berusaha dan terus husnudzon. Jujur, kadang saking menohoknya, kutahan airmata dengan segala cara. Ada suara dalam hati: “kamu gak boleh begitu, gak boleh menangisi yang begini, itu namanya tidak mensyukuri”, dan tumpah semuanya dalam doa, saat benar-benar penat dengan segala prasangka yang menghujam. Tidur adalah anugerah terindah untuk mengakhiri hari dan menyambut pagi.

“Sudah muslimah kok engga berhijab sih? Gak tahu apa kalau itu wajib? Nunggu mati ya baru pasang hijab. Ntar telat loh” Ya Allah, satu lagi yang membuat perih di hati. Seperti waktu mualafku yang butuh timing tersendiri. Seperti anak yang belajar bicara dan berjalan. Hatiku sedang mencari karomah. Aku yakin niat akan menunjukkan jalan, tapi bukan karena terpaksa, dipaksa atau terburu-buru waktu. Aku yakin Allah akan memberi waktu yg terbaik untukku. Akan ada waktunya nanti untukku, yang pas, sama seperti saat aku mengucap syahadat. Tidak pernah aku menetapkan tanggalnya namun jalan yang diberikan memungkinkan itu semua. Itulah yg kuinginkan untuk hijabku. Bukan karena semata-mata wajib-sunnah, hidup-mati, neraka-surga, suci-dosa; aku ingin melakukannya hanya karena cinta, mengalir seperti nafas, alami tanpa mengharapkan pamrih atau apapun. Dan itu tak akan pernah bisa muncul dengan ultimatum. Semoga Allah SWT menunjukkan jalan menuju hijabku nanti.

“Kamu bukan dosen. Kamu bukan civitas akademika Perguruan Tinggi. Kamu bukan peneliti. Kamu hanya pemerhati. Ngapain lanjut S3? Cari penyakit. Fokus aja sama program baby dan suami. Ga usah neko-neko”. Ya Allah, sekali lagi salahkan mimpiku? Cita-citaku kalau bisa tak pernah berhenti sekolah. Lanjut studi bukan untuk mencari gelar, status, posisi apalagi gengsi. Jauh dari itu semua. Aku suka sekolah. Aku merasakan sensasi yag luar biasa saat tak tahu menjadi tahu. Aku menikmati proses kuliah. Aku menikmati pusingnya menulis akademik walau kadang harus tertatih dengan segala tantangan dan lika-likunya. Aku suka menemukan hal baru yang kutempatkan dengan konteksku sendiri. Aku suka sensasi saat pikiran sempitku dibukakan jadi lebih lebar. Aku suka perbedaan pendapat dan debat akademik. Aku suka belajar dengan mengeluarkan diri dari comfort-zone ku. “Mesin cuci” paling ampuh utk drilling, exploring and experimenting “deterjen” ide2 ku yg sering unpredictable. To put it simply, tuntutlah ilmu sampai kutub utara. Aku suka…dan suka…salahkah? Ingkarkah aku akan kodratku sebagai seorang wanita dan seorang istri? Hanya bisa kuserahkan semua cita-cita ini dalam doa. Mungkin terlalu muluk tapi aku tak pernah ingin berhenti bermimpi muluk.

Dan….hidupku memang tak pernah berhenti dari tempaan prasangka dan diskriminasi. Kurasa tak apa begitu karena saat ini semuanya terasa beda. Tak lagi aku marah pada dunia. Tak lagi kupunya dendam pada dunia. Tak lagi kuingin mengisi hidupku dengan pembuktian-pembuktian egois tanpa esensi makna. Tak lagi kurasa sembilu yang menderu saat menerima cobaan, hambatan dan tantangan; yang ada hanya penasaran untuk tak berhenti belajar sabar, tawakal, dan ikhlas. Walaupun kadang terasa sakit dan perih namun tak lagi kelam seperti kertas karbon. Mungkin sekarang jika hati sedang menyerah, tangis semalam lebih dari cukup untuk meredakannya. Besok hari harus selalu berusaha menyambut mentari dengan helaan nafas penuh syukur karena masih diberi hidup dan masih bisa tersenyum.

Aku hanya bisa bersyukur untuk tetap bahagia karena masih bisa merasakan sedih, kecewa, marah, kesal, dan terluka. Semua itu nikmat dari Allah SWT yg diberikan padaku sebagai manusia. Bukan cobaan, tapi nikmat dalam cobaan. Tanpa itu semua, tak bisa kurasakan kedalaman esensi sentuhan kebahagiaan. Saat ini sedang belajar merindukan kematian dengan indah; bukan karena putus asa dan pesimis, melainkan sebuah harapan di kehidupan selanjutnya untuk bertemu orang-orang yang sudah terlebih dahulu mendahuluiku; orang-orang yang kusayangi di Jannah: para leluhurku; sosok dimana jejak yang pernah hidup mengalirkan dan meneruskan darahnya padaku. Tak ingin meninggalkan dunia ini dengan kesakitan dan ketakutan namun juga tetap ingin menjalani hidup ini dengan kenikmatan syukur di setiap detiknya dengan hiasan mimpi, harapan, cita-cita dan usaha.

Melihat sejenak kebelakang, betapa konyolnya diriku, betapa sempitnya pikiranku, betapa dangkalnya kesabaranku, betapa kecilnya keikhlasanku. Saat ini pun aku masih merasa penuh dosa. Tak pantas rasanya meminta dalam doa. Malu. Aku sudah terlalu banyak meminta dan Allah SWT sudah memberikan lebih dari yang aku minta. Saat aku terpeleset, masih juga aku ditegur dan diingatkan dengan rangkaian peristiwa dalam hidupku: tanda-tanda yang harus kubaca dengan hati. Semoga aku masih diijinkan untuk berbagi, untuk mengabdi, untuk berserah diri.Semoga masih diijinkan bersyukur karena diberikan mama dan adik yang sebaik dan sekuat ini; diberikan suami yang benar-benar mengerti dari hati; diberikan papa yang membuatku lahir di dunia ini dan mengajarkanku prihatin, mandiri dan arti memaafkan; diberikan eyang putri yang sudah menginspirasi dan menguatkan; diberikan keluarga yang benar-benar mengayomi; diberikan teman-teman yang menjadi guru setiap hari.

Dan aku yakin, bahwa hampir 8 tahun mamaku pantang menyerah menungguku hadir di dunia ini bukanlah tanpa sebab. Sebuah penantian yg menjadi “tetenger” atau tanda seumur hidup utk tidak mudah putus asa. Saat ini hingga akhir nanti aku tak ingin mudah menyerah utk setidaknya membuat mamaku, suamiku dan org2 yg aku sayangi, termasuk diriku sendiri utk tersenyum, semampuku. Sebuah janji utk bahagia dan membagi senyum dari hati.

Hanya waktu yang akan menjawab segala misteri hidup
Kita semua punya waktu sendiri-sendiri
Dan jawaban dari waktu itu selalu indah pada waktunya
Tak perlu diburu-buru, biarkan mengalir apa adanya dengan doa dan usaha yang terbaik
Alhamdulillah – Insya Allah – Bismillah

Ambon – Maluku, 27 November 2013; Pukul 02:44 WIT
After Duty, Moment tak bisa tidur, when my thought’s switch off button is nowhere to be found.

Beraneka warna hikmah dalam prasangka yang telah membiaskan kelamnya hati (Pied in Prejudice)

Image