Archive for August, 2015

Scorching Bay in a Blink

Posted: August 18, 2015 in Uncategorized

Advertisements

11872203_10205977408087832_228507888729245684_o

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teruslah bermimpi denganku, teruskan bermimpi
Bertahanlah, air mata yang mengalir perlahan
Jangan terlihat cara hidupmu yang penuh kesedihan
Yang selalu ingin kau keluarkan
Dengan jeritan yang bernada tinggi
Dengan keraguan yang besar
Seperti sinar pertama sebuah bintang yang baru naik
Biarkan mimpi yang mulai mendapat bentuk
Meneruskan lagunya samar-samar
Dan tidak menghempas tebing laut
Karena ini ibarat perahu

(Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemawardhani)

*******

Lahir 17 September 1921 di Solo dari pasangan ningrat GKR Timoer Mursudariyah dan KGPAA Mangkoenagoro VII, embun yang cantik dari Solo ini masih menjadi kesejukan yang mampu menginspirasi bumi Pertiwi sampai saat ini. Di masa muda, kecantikannya pernah menggetarkan hati banyak laki-laki berkarisma tingkat tinggi termasuk Bung Karno, Bung Sjahrir, dan Sultan Hamengku Buwono IX. Putri Solo yang rela meninggalkan kenyamanan hidup di dalam istana demi cinta.

Anyway, membaca biografi tentang beliau ini, seperti penawar tabur bunga melati putih di pusara eyang putri saya di Astana Bibis Luhur Solo. Sebagai wanita yang dilahirkan dengan budaya Jawa yang kental, saya paham mengapa Gusti Noeroel lebih memilih “bersabar” sampai usia kepala tiga untuk menjawab cintanya dari seorang biasa namun punya cinta yang luar biasa yang tidak ingin memadu cintanya dan membuat Gusti Noeroel menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya. Gusti Noeroel tetap mampu bersabar untuk sebuah cinta yang tidak akan pernah menjadikannya dimadu, sambil memegang teguh perkataan sang bunda “Nduk, mugo-mugo suk kowe ojo dimaru”.

Dalam hidup saya sebagai seorang wanita, chapter tentang cinta, mimpi, dan cita-cita “tertulis” agak “berbeda” dari chapter-chapter yang lainnya; but it has been truly meaningfully written, alhamdulillah. To me, setiap kata dalam puisinya menyentuh saya. First time reading her poem above, my heart has shivered ever since; Those words, I can truly relate. Cinta, mimpi dan cita-cita itu untuk saya ibarat perjuangan. Menyeimbangkan cinta, mimpi, dan cita-cita itulah yang membuatnya menjadi suatu perjuangan. Beliau ini ndak muluk-muluk dalam ikhtiar kesabarannya. Kecantikannya berpendar beyond her physical appearance. Her words, her thoughts, her way of thinking had shown her bravery to stepping out of her comfort zone. Terlebih lagi saat itu, dimana “stepping out of the comfort zone” for a woman like her was a struggle of its own.

Kembali lagi ke soal cinta. Kenapa sih kok “cheesy” banget hari gini masih aja ngebahas soal cinta, kayak ndak ada yang lebih penting ajah dari buku ini (kata salah satu kolega saya, di suatu waktu). I just said, read it again with your heart.

Bisa saja beliau menerima pinangan salah satu dari very well-known gentlemen yang menaruh hati pada beliau. Bisa saja beliau ndak perlu belajar nari. Ndak perlu belajar jadi horse-rider yang mumpuni (saat itu dianggap masih tabu untuk wanita menjadi penunggang kuda), ndak perlu pinter2 maen tenis, ndak perlu pinter2 meningkatkan kemampuan intelektualnya dalam seni sastra, atau ndak perlu repot nunggu sampai kepala tiga buat akhirnya memutuskan menikah (mendobrak perjodohan dan menikah muda dan memilih sabar menunggu pujaan hati), seperti yang dituturkan oleh Anton DH. Nugrahanto (2012):”Kecantikannya bikin terpukau banyak orang, seorang Bung Karno, lelaki paling hebat di jaman Revolusi 1945, pernah melamarnya, tapi ditolak. Begitu pun Sutan Sjahrir, lelaki Indonesia paling rasional dan brillian kecerdasannya pernah tersungkur jatuh rindu, tenggelam dalam bayangan cinta Gusti Nurul Kamaril. Tapi Gusti Nurul Kamaril menolak semua lelaki hebat, ia malah memilih lelaki yang sederhana, seorang Kolonel yang tak memiliki ambisi, seorang tentara yang tak berniat menjadi Panglima. Dialah Kolonel Raden Mas Surjosularso. Kolonel Suryo ini adalah jenis tentara dibalik meja, bahkan boss Kolonel Surjosularso, Jenderal Nasution sendiri pernah berkomentar : “Dia amat tipikal Jawa, dia tak pernah bicara banyak, bahkan ketika dia hendak protes karena marah besar, dia hanya datang kepada saya dan diam lama sekali di depan saya”.

Nah, bisa saja kan beliau tetep anteng di zona nyamannya? Tetapi beliau bukanlah tipikal yang anteng di zona nyaman dan untuk keluar dari zona nyaman itu (apalagi waktu itu) tidaklah mudah saudara-saudara, namun saat keberanian itu hadir dan pengalaman keluar dari zona nyaman itulah yang akan membuat hidup ini akan jauh lebih bermakna, insya Allah.

Pasca menikah, tidak seperti halnya selebriti jaman sekarang, seperti yang dituturkan kembali oleh Anton DH Nugrahanto (2012) bahwa: “Gusti Nurul hidup jauh dari kemewahan, jauh dari kemewahan bangsawan dan berjarak pada kisah romantika kisah cinta para bangsawan. Sikap cinta sederhana Gusti Nurul ini adalah sebuah laku, bahwa cinta itu amat indah bila dibangun dengan cara yang sederhana dimana pondasinya adalah : Kepercayaan.Kepada Gusti Nurul Kamaril kita banyak belajar bahwa cinta tanpa kepercayaan adalah sebuah lelucon tanpa kelucuan. Cinta yang percaya adalah ibu dari segala ibu keindahan manusiawi”.

Dari beliau, saya belajar tentang korelasi antara keluar dari zona nyaman dan perjuangan: Gusti Noeroel berjuang untuk apa yang beliau yakini terbaik untuk dirinya dengan memberanikan dirinya keluar dari zona nyamannya.

Starting today, I shall ask myself over and over again with these question: 1) Why should I step out of my comfort zone? 2) am I brave enough to step out from my comfort zone?

Dan, tentang cinta. Cinta yang sederhana itu ada. Ullen Sentalu-lah saksinya smile emoticon

Dan tentang kesabaran. Menunggu sampai kepala tiga untuk kemudian memutuskan menikah? Gusti Noeroel pun melakoninya smile emoticon

*Compiled from previous

 

While I was reading Robert. E. Stake and listening to Boyce Avenue and Ed Sheeran, all of a sudden, I ended up….kangen 😛