Archive for October, 2012

*Judulnya panjang amat, engga banget dan ga penting juga kaleee

*Uncensored/Extended version alias Non-Edited Ideas and Thoughts (Beware) 😛

*Disarankan kalau “biografi” nya udah “jadi” dan “cetak”: sebaiknya untuk konsumsi sendiri ajah ya hehe (e.g. I chose “only me” option as the only viewer who can view ArchivedBook result page).

*Tidak berlaku bagi yang sudah “off” selamanya dari Facebook dengan mendelete akun-nya (kalau de-activate sih mungkin masih bisa lah bikin biografinya) dan Facebookers tipe “back to Square One” alias yang memang sudah (dengan sengaja lah pastinya, masak ga nyadar hehe) men-delete keseluruhan postingannya di masa lampau (D3=dikit dikit delete) dan selalu maintain tampilan dan content Fb page/wall-nya dari waktu terkini (waktu current) alias selalu bersih sebersih lantai keramik warna putih yang di pel berkali-kali, atau selalu kosong sekosong tong yang nyaring bunyinya, atau (lagi) gersang -segersang (ini relatif lho ya) gurun sahara tanpa pasir (nah lho?)

*(Sangat) Tidak Berlaku bagi Facebookers yang memang Gak Mau dan Gak Minat buat Archiving serta para anti-FB-ers yang ga perlu repot baca postingan ini 😀 (Lha daripada dapet respon “emang gue pikirin mau archiving atau kagak?”) 😛

===============================

Nulis dari April 5, 2008 s.d Oktober 11, 2012, Total jenderal (sementara ini) sudah 419 Halaman PDF File

Hah? Nulis apaan? Blog?

Engga

Buku?

Engga

Surat?

Engga

Nulis apaan doong?

Status sama posting

Gubrakkkkkkh…hah? bisa ya? tapi kok PDF File? mbok ya di word platform gitu (sok tahu))

Ya ndak bisa lah, wong bukan traditional “writing” kok.

Kok aneh-aneh aja sih kamu. Memang bisa? pegimane caranya? (teteuuuuup mo tahuuu)

Aneh2 ya boleh dong ah, wong buat diri sendiri ini. Jawabannya bisa. Pake aja aplikasi Archivedbook dari Archivedbook.com (atau aplikasi lain yg senada) trus di PDF-in. tapi musti sabarrrr. Semakin lama (tua) kelahiran Facebookmu, semakin agak lamaan proses convert-nya. Satu lagi, sebaiknya disarankan untuk dilakukan di PC/laptop pribadi ya untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan seperti hacking, dll 😛

Kamu bilang itu nulis?! Ah Alay!

Mau Alay kek, Alang-alang kek, Aneh kek, biarin, wong buat kepuasan diri sendiri kok, wek!

——————————————

Mulai dari museum, album foto jadul, buku sejarah, sampai ke prasasti, ada satu hal yang mungkin secara tidak sadar jadi “obsesi” alam bawah sadar kita to “learn from the past but not living in the past”. Ada sebuah keunikan dan sensasi tersendiri saat re-living the past. Dulu pernah sempet punya coretan artikel mengenai “Facebook as My Own Personal History Ensiklopedia” (tapi entah ilang kemana ya file-nya, hiks) yang sebenernya pengen aku share. Ini juga sebenernya asal muasalnya dari ide research awal (beneran yg versi research seriusnya) mengenai Social media (khususnya FB) dan signifikansinya terhadap …..(ada deeeeeh), tapi kok lama2 aku ngerasa jadi latah ide gitu, soalnya akhir2 ini, sudah buanyaaaaaak juga research2 yg membahas ini (well, we’ll see ajah). Gara2 ga jadi pake ide ini, untuk preparation aku lanjut studi S3 nanti, aku putar haluan ambil arah fokus research (yg beneran) dengan berusaha “mengawinkan” Graduate Writing dan Digital Literacy (uhuk, awalnya pake batuk2 panjang sebelum nyerahin draftnya ke prospective advisorsku tapi alhamdulillah malah in turns, dapet masukan yang menggembirakan dan me-motivasi alias they do like my idea on this! *sekilas info numpang lewat).

Anyway, inti dari coretan aku yang waktu itu hilang (dan belum ketemu sampe sekarang, hiks lagi) adalah “Seeing myself and evaluating myself from a social media called Facebook”. Asik juga sih berpetualang mulai dari pakai apps Facebook Stat (e.g Zeebly yg kmrn sempet di-share Nyoman Widia Anggreni, thanks ya Nyo) that “sort of” concluding what kind of person I am (percaya ga yaaaaa sama machine-like psychoanalyst macam begini? hehe) sampai pada sebuah pemikiran yang bunyinya kira2 gini “Cool kali ya liat seluruh status-status (atau postingan) Facebook aku dari mulai pertama kali join sampai sekarang TANPA REPOT HARUS BERGANTUNG TERUS SAMA KONEKSI INTERNET dan tanpa harus susaaaaah dan lamaaaa scroll downnya, apalagi klo koneksinya -when love and hate collide  plus bisa “dibaca” KAPAN AJA, DIMANA AJA, LEWAT GADGET APA AJA ASAL ADA PDF READERNYA”. Yak benar sekali, semacam e-book yang KB-KB alias Klik Baca-Klik Baca.

Well, point aku sebenernya cuma satu sih: belajar menertawakan diriku sendiri baik lewat status-status newbie, status galau, status ga penting, status emo, status mellow, status marah/kesel/jengkel, status serius, status setengah serius, status seperempat rius, dan jenis status2 lainnya (beserta postingan dan my related comments). But, FYI, not even once I tried to fake all of those; status newbie, galau, ga penting, emo, mellow, marah/kesel/jengkel, serius/setengah/seperempat rius dll nya itu beneran happening for real within me, inside of me. Jadi inget waktu workshop Karya Tulis Ilmiah di Bogor September 2012 lalu saat Prof. Wasmen Manalu (DIKTI) berkata bahwa “Yang namanya researcher/peneliti atau akademisi itu boleh salah tapi ga boleh bohong. Yang ga boleh salah tapi boleh bohong itu namanya bisnismen. Nah, kalau yang boleh salah dan boleh bohong itu namanya baru politikus” (Icebreaking KTI Penulisan Jurnal Teknodik, September 2012 di Bogor). That is why (berbekal semangat boleh salah tapi ga boleh bohong-nya Prof. Manalu), sebenernya ga ada maksud alay atau lebay utk ber-status ria di FBku but I have been  trying my best (scout’s honor!) to be as honest as possible BUKAN UTK ORG LAIN but TO MYSELF. So, berstatus ria buatku itu BUKAN utk cari Likes atau Comment tapi lebih sebagai “archive maya” dimana aku bisa nyalurin segala “kemanusiaanku” dan “kemerdekaan” ku dalam berekspresi dan beremosi via status, notes, photo albums, postings, etc. Dari situlah sering aku kadang2 nemuin “oalahdotcom” moment yang membuatku jadi lebih “sadar” diri tentang hal-hal yang sebelumnya luput dari refleksiku sehari-hari. Looking back on my old statuses and postings allow me to be “brave” belajar dari masa lalu tanpa harus “takut” terjebak di masa lalu (malahan it motivates me to move forward and not trapped in my own past).

Fungsi dari sesuatu itu relative, tergantung pada penggunanya dan ‘modus operandi” nya (jiaaah). Ada yang berpendapat FB itu totally trashful. Ada yang berpendapat FB itu just for killing time. Ada pula yang berpendapat FB itu fungsional and helpful in their own terms. Tapi ada juga yang memutuskan untuk “pensiun” (off atau deactivate sementara) dari FB karena reasons yg bervariasi (mungkin karena bosan, karena hack, karena pencemaran nama baik, karena bullying (serius amat sih?! *marah!), karena ingin lepas dari addiction-nya, karena angin-anginan, dan karena-eh-karena yang lain-lainnya (ssst, dilarang terlalu eksplisit). Apapun reasons-nya itu hak masing-masing pribadi dan sah-sah saja. Nah, to me, my birthday with Facebook is on April 5, 2008. Therefore, my “relationship” with Facebook has been for 4 years, 6 month and 6 days per tanggal 11 Oktober 2012 ini (prikitieeww, sneeze!).

Bolehlah mungkin pada posting kali ini bakal ada yg mengkritisi “Ah jangan terlalu didramatisir; Ah, jangan terlalu berlebihan; Ah, jangan terlalu lebay (udah lebay pake terlalu lagi); Ah, jangan alay; dan Ah-ah yang lainnya. Oh well, it’s okay for me though, yg penting, I don’t mean to be all that. I just want to share my perspective and if it can not be accepted ya leave it alone. It is either take it or leave it (halah).

Dalam hidup, dramatisasi itu kadang2 perlu, lebay atau alay itu kadang2 menyenangkan, emo atau mellow itu kadang2 membebaskan (maksudnya liberating gitu). Bahkan dalam menulis hal ini pun sekarang, aku pake bahasa suka-suka (“renang gaya bebas klo boleh bilang) yang mencoba untuk tidak mempedulikan tanda baca (titik, koma), susunan kalimat (SPO), keruntutan (awal-akhir-statement-reasons), dan lain-lain yang umumnya dipakai dalam penggunaan penulisan yang baik dan benar semacam academic writing, scientific writing (nulis jurnal, halah), artikel resmi, review resmi, dll. Yup, ini tulisan yang tidak baik dan tidak benar dalam hal tata cara yang juga (sangat) tidak resmi, hehe, so tidak menerima komplen karena sudah kupaparkan sebagai warning disclaimer pengantar tulisan ini haha.

Seperti tadi yg sudah kusebutkan di atas bahwa ada variety of free online apps yg bisa dipakai utk “menganalisa” Facebook behavior dan character kita (belum pasti orangnya juga sih tergantung motivasi dan treatment masing-masing orang terhadap akunnya sendiri-sendiri). Nah, awalnya sih sebelum sistem Timeline FB yang sekarang (apalagi yang ada promote status yg musti bayar, hedeh), lumayan gampang buat Scroll Down liat2 “lahirnya” FB kita (tapi kadang capek juga sih, hihi). Tapi begitu sekarang pada interface FB yang sudah mulai “advanced”, tambah 2R (rebyek dan ribet) lagi deh yg namanya scroll down.

Tahun demi tahun ada masa-masa dimana aku mengalami “I to the Bored to the Max” pada FB, nah saat2 itu aku pindah ke lain hati buat Multiplying (yang in udah RIP), blogging sampe maling list-an (tapi intinya sama sih, agak susah lepas sama yg namanya online activity) tapi ga tahu kenapa ga pernah terbersit pikiran buat deactivate. Sebentar…sebentar, ada yg nanya “Wi, kamu ga Friendster-an tho?” Jawabku “ha? apa tuh? ga kenal…maklum jaman friendster dulu, awareness ke-social-mediaan-ku belum “terbangun” (ngikik).

Anyhow, pada saat2 boring itulah, signifikansi (ya elah) FB agak sedikit tereliminasi dan sama sekali ga terpikir buat update2 an (boro-boro buka akun). Makin kesininya, entah kenapa jadi balik “aktif” lagi semenjak involving di pelatihan guru—guru untuk pemanfaatan social media for education, pemanfaatan online resources, dsb-dsb, secara naluriah (dan harafiah) muncul lagi yg namanya rasa penasaran “kilas balik” untuk “membaca” bagaimana karakter dan behavior FB aku sampai sekarang. Ya sudah, alhasil, iseng-iseng aku balik lagi nyobain Zeebly dan ArchivedBook buat “menganalisa” ini dengan catatan hasil analisanya lebih diperuntukkan dan dimaksudkan untuk “keasyik-masyukan” diri pribadi. Dan voila, dapetlah itu namanya oalahdotcom dan a-ha moments haha.

Intinya sekarang aku (somehow lebay-nya) seneeeeeeeng banget udah punya biografi pribadi tidak resmi berplatform PDF file (Tebelnya nyampe 419 halaman dari ArchivedBook! Pas 92.0 MB!) dari FB page aku terutama untuk status dan postingan. Definitely tidak akan pernah published dan hanya untuk konsumsi pribadi hehe (no copyright violation hopefully and no royalty deal haha) . Ehm, 419 halaman itu statusnya masih “to be continued” dan (ini mungkin lho) bisa sampai ribuan halaman kalau Facebooking-nya masih dilanjutin sampai in the next future (dengan catatan kalo aplikasi FBnya in the next future masih ada ya).

Usut punya usut, mulai ngebacanya dari awal, tengah, sampai yang terbaru bikin aku sukses cuek sama release film2 terbaru, baca buku penting, atau bahkan bisa dibilang ini kali pertamanya aku ga ngantuk yg namanya baca. Geli-geli gimana gitu, kok bisa ya dulu aku begini-begitu, dsb. Ya hitung-hitung filsuf buat diri sendiri lah. That’s why rada menghindari make-up status yg buatku ga ada gunanya, coz to me, itu sama aja boong sama diriku sendiri. So, mau gak dicomment kek, mau dicomment kek (alhamdulillah), mau di acungin jempol kek (alhamdulillah lagi), atau bahkan kalo ada yg mau di block atau di unfriend ya monggo2 aja lah (cuma tetep aja penasaran sih jangan2 aku sudah bikin marah anak orang hehe). Jujur, GAK PERNAH kepikiran aja what’ll happen next to my status update seperti yg baru saja kujelaskan, yg penting bisa “sempet” ngeluarin uneg2, pikiran atau emosi itu sendiri sudah lumayan melegakan (dengan catatan ga ngerugiin orang lain, ga nyinggung orang lain, ga bikin ribut, ga bikin sensasi” kandang ayam”, berusaha “sesopan” mungkin karena teteplah, walaupun ini platformnya dunia maya, kan musti ada kode etik “netiquette” nya).

Well itulah sekelumit moment of sharing hari ini, siapa tahu ada yg suka bernostalgia juga, mungkin iseng2 ga ada salahnya bikin archive page Facebookmu sekalian buat lucu-lucuan aja sama diri sendiri hehe. Sebenernya ada lagi hal menarik mengenai Instagram, Twitter, WordPress, Kompasiana, BlogDetik, dan lain-lainnya tapi aku belum cukup “research” dan “jam terbang” buat mengulasnya (nunggu beberapa waktu dulu sambil menyelam minum air). Soon as I feel that I’ve gathered quite decent sharing moment enough, I’ll write about it (in the most informal way). Actually hal ini juga bisa ditulis dalam bentuk resmi, akademis, dan ilmiah sih tapi ntar ajah (soalnya kalo itu butuh waktu lebih lama lagi buat compiling, referencing, paraphrasing, and finally editing-revising haha).

Singkat kata (dan akhir kata untuk posting kali ini-masih bakal bersambung) ini tulisan paling ga penting dan paling amburadul mulai dari bentuknya, bahasanya, tata caranya, maupun tampilannya BUT I’m still personally proud to myself krn udah mencoba “ber-ektrovert ria” (kata Zeebly, aku termasuk orang yg introvert dalam bersocial media jadi (mungkin) Zeebly menyarankan agar aku bisa lebih “pushing boundaries to myself” dalam mengekpresikan sesuatu haha.

Last but not least (lagi), mohon maaf ya kalau ada sesuatu yang kurang berkenan di postingan ini. Jarang-jarang soalnya aku posting sesuatu yang TANPA editan yg decent (maksudnya first draft coming from my thoughts and feelings), so mohon maaf akan ke-naif-an, ke-alay-an, dan kelebay-an ku (semoga dimaafkan) hehe.

Terakhir dari yang paling akhir, semoga dengan “keruwetan” postingan resource sharingku kali ini, insya Allah tetap dapat memberikan manfaat (ngarepdotcom. biarin, yg penting sudah berniat baik pengen share :P-lha?! niat baik kok pake diomongin segala?! :D)

Well, see you on the next edition of my non-edited posting! 🙂

And, thanks for reading 🙂

*To be continued

*semoga professors aku ga ikutan baca postinganku yg ini (bisa panjang jelasinnya mengenai hasrat “ngawurisme” ku dalam menulis) 😛

Contoh tampilan dari laman web maupun yg sudah PDF (419 halaman; 92.0 MB)

   

Hari lahir, ulang tahun FBku: 5 April 2008 (Siapa yang nanya? wek :P)

“History” lain yg bikin aku sendiri ngikik 😛

Per Oktober 11 ini sudah 4 tahun, 6 bulan , 6 hari usia Facebook-ku 😛 (ga penting banget deh)

Advertisements

I often come across this phrase very often. Never had I tried to take a closer look beyond literal meaning because I used to take this phrase for granted – assuming that memorizing it will help me a lot in understanding it. Well, it’s a huge nonsense. Apparently, I had to experience this by myself, stumbled upon bitter experiences facing this real-life phrase application until I felt that this phrase talked to me while undressing my mere-memorization: showing me how it felt to take something for granted and to be taken for granted!

The very well-known Javanese phrase’s journey of “Aja Dumeh”

• Aja Dumeh Kuwasa, Tumindake daksura lan daksia marang sapada-pada. Mumpung kuwasa sapa sira sapa ingsun. This is to say, just because you have power or are powerful, it doesn’t mean that you can do whatever you want to oppress others.

• Aja dumeh pinter, tumindake keblinger. Mumpung pinter, njur sembrana nerak wewaler. This is to say, just because you have high intelligence or are intelligent, it doesn’t mean that you can do whatever it takes to carry out your goal heartlessly and make everything your rules.

• Aja dumeh kuat lan gagah, tumindake sarwa gegabah. Mumpung kuat lan gagah, njur tanpa arah-arah. This is to say, just because you have strength or are strong, it doesn’t mean that you can use it to weaken somebody else’s.

• Aja dumeh sugih, tumindake lali karo sing ringkih. Mumpung sugih, njur nyenyamah karo sing ringkih. This is to say, just because you have countless digits in your bank account, it doesn’t mean that you can measure everything based on it.

• Aja dumeh menang, tumindake sewenang-wenang. Mumpung menang, njur nyawiyah hake liyan. This is to say, just because you have stronger position and grand self-statement, it doesn’t mean that you can take everybody else for granted and stomp on others.

==Wini==
Reference from Serat Sasangka Jati
by R. Tumenggung Hardjoprakoso and R. Tri Hardono Soemodiharjo

   

 

Apa yang terjadi saat kita tidur? Jawabannya bisa bermacam-macam tergantung kondisi. Ada yang menjawab bermimpi, mendengkur, atau bahkan tidur sambil jalan (sleepwalking). Apapun jawabannya, yang pasti terjadi saat kita tidur adalah terjadinya regenerasi sistem pencernaan yang sangat penting fungsinya terutama untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan sel dan membantu proses pembersihan metabolism tubuh dari racun dan zat-zat yang merugikan tubuh. Dalam bukunya berjudul “Quantum Eating: The Ultimate Elixir of Youth” (2007), Tonya Zavasta mengungkapkan bahwa TIDAK makan di malam hari memberikan kesempatan pada pencernaan kita untuk beristirahat dengan menyalurkan energi yang ada dari seluruh bagian tubuh kita untuk proses regenerasi ini. Nah, berbanding TERBALIK dengan sistem pencernaan kita dimana kita disarankan untuk tidak makan di malam hari, kulit kita justru disarankan untuk “makan” di malam hari. “Makan” di malam hari inilah yang sangat penting dan dianjurkan bagi proses regenerasi kulit.

Sebenarnya, apa sih yang terjadi pada kulit kita saat kita tidur di malam hari? Pada saat kita tidur di malam hari, ada beberapa hal yang terjadi pada kulit kita seperti berikut:

1. Produksi hormon melatonin.
Hormon melatonin ini diproduksi oleh kelenjar pineal yang berperan penting sebagai antioksidan untuk kulit dari radikal bebas (Endocrine Journal, 2005).
2. Meningkatnya proses penggantian sel-sel baru
Associate professor dermatologi dari University of Southern Carolina, Alex Khadavi, MD, mengungkapkan bahwa proses penggantian sel-sel kulit baru terjadi secara lebih efektif di malam hari, bahkan kecepatannya berlipat ganda dengan puncak waktu pukul 23:00 dan 04:00.
3. Meningkatnya temperatur permukaan kulit.
Sejalan dengan meningkatnya proses penggantian sel-sel kulit baru di malam hari, temperatur permukaan kulit juga ikut meningkat. Meningkatnya temperature kulit memperlambat proses penguraian protein sehingga dapat mempercepat proses penggantian sel-sel kulit baru (Alex Khadafi, MD).
4. Kelembapan kulit berkurang sehingga kulit menjadi lebih kering
Menurut sebuah artikel pada Journal of Investigative Dermatology, Transepidermal Water Loss (TEWL) atau hilangnya kadar air dalam lapisan-lapisan kulit adalah suatu kondisi jumlah kadar air yang hilang dalam lapisan-lapisan kulit karena proses evaporasi dan difusi tubuh kita (October, 1998). Untuk mengatasi kondisi ini, tidak jarang para ahli dermatologi merekomendasikan penggunaan humidier.
5. Tingkat penyerapan kulit yang lebih tinggi
Pada jurnal yang sama (Journal of Investigative Dermatology) terungkap juga bahwa daya serap kulit terbukti lebih tinggi dari pada siang hari.
6. Meningkatnya produksi kolagen
Kolagen adalah protein utama pada jaringan kulit yang berperan dalam menjaga elastisitas kulit, merawat kelenturannya sehingga dapat memperlambat kerutan-kerutan kulit (http://www.cosmobiz.com)

Seperti kita ketahui bersama bahwa kulit adalah salah satu bagian tubuh yang sudah bekerja keras sebagai garis depan pertahanan tubuh kita yang melindungi tubuh dari debu, polusi, mikroorganisme, dan radiasi sinar matahari. Karena itu, untuk tetap dapat menjalankan fungsinya melindungi tubuh kita secara maksimal pada keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, kulit membutuhkan proses regenerasi kulit pada malam harinya yang tentu saja sangat penting untuk menjaga kesehatan dan vitalitas kulit agar tetap prima. Itulah mengapa malam hari menjadi saat yang paling tepat untuk memberikan perawatan khusus bagi kulit kita.

Nah, setelah memahami tentang apa yang terjadi pada kulit kita di malam hari, masihkah kita tetap cuek pada kulit kita dan membiarkan kulit kita “layu” seperti tanaman yang kurang perawatannya?

Di era teknologi dan gadget canggih seperti sekarang ini, perawatan kulit yang tidak merepotkan dari segi waktu, praktis, efektif, dan ekonomis menjadi pilihan utama bagi wanita modern seperti kita. Kita pun membutuhkan “gadget” canggih untuk perawatan kulit tubuh malam hari yang handal. Tentu saja selain mandi, mengkonsumsi banyak air putih, cukup tidur, (tidak sering begadang), selalu positive thinking dan menjaga asupan gizi serta makanan, penggunaan body lotion dapat menyempurnakan keseluruhan proses perawatan kulit kita secara holistik. Body lotion yang praktis, efektif, ekonomis adalah “gadget” wajib kita yang canggih sebagai wanita modern sebagai ungkapan rasa sayang kita terhadap diri sendiri yaitu  untuk menjaga dan merawat kesehatan dan vitalitas kulit.

Si Ungu yang UnyuCitra Night Whitening Body Lotion

Tak kenal, maka tak sayang. Pertama kali secara tidak sengaja melihatnya di salah satu alley supermarket langganan,  tampilannya saja sudah langsung “mengundang” mata: desain botol yang unik yang ditambah dengan warna ungu yang memikat (kebetulan aku suka sekali warna ungu!). Kesimpulanku waktu itu: pintar sekali Citra menyusun market strategy-nya. “Makin kenal, makin sayang” mungkin adalah suatu ungkapan yang benar-benar pas untukku karena sejak aku mengenal dan memakai Citra Night Whitening Mulberry dan Minyak Biji Anggur, rasanya jadi tambah sayang dengan kulit dan Citra. Bagaimana tidak? Paduan bahan alami dari Ekstrak Mulberry membantu mencerahkan kulit dan menjadikan kulit tampak lebih putih, sedangkan Minyak Biji Anggur telah digunakan sejak zaman nenek moyang kita untuk membuat kulit tampak lebih muda dan terasa lembut (http://rumahcantikcitra.co.id/).

Pada saat menulis ini, kuakui memang belum ada dua minggu sejak pemakaianku yg pertama tapi kulitku sudah mulai terasa lain dari biasanya. Kulitku jadi lebih lembut dan tidak kering, cocok sekali dengan slogan Citra: “Awali Cantikmu” yang membuatku jadi lebih percaya diri.

Tak salah memang aku memilih Citra (Unilever) sebagai committed brand yang akan terus “berevolusi dan berinovasi untuk memenuhi kebutuhan wanita Indonesia yang selalu ingin tampak cantik, terawat, dan memiliki kulit yang sehat” (http://rumahcantikcitra.co.id/cms/cerita_citra-esok). Teknologi yang digunakan  Citra dalam produknya sudah terbukti kualitasnya sehingga tidak heran jika paduan bahan alami Ekstrak Mulberry dan Minyak Biji Anggur yang digunakan dalam produk Citra Night Whitening ini membuat sensasi tersendiri yang membuatku tak ingin cuek dan lalai lagi pada kulitku di malam hari. Ini adalah postingan blog aku yang pertama kalinya mengenai product testimony yaitu Citra Night Whitening, dan aku ingin meminjam istilahnya Tonya Zavasta di awal tulisanku tadi untuk Citra Night Whitening dengan Ekstrak Mulberry dan Minyak Biji Anggur ini sebagai Quantum “Eating” for My Youthful Skin at Night!

Bagaimana, ladies? Jangan tunggu sampai kulit kita “menjerit” ya? Yuk, sama-sama kita jaga dan lindungi kulit kita supaya bisa terus cantik, sehat dan cerah-secerah matahari yang menyinari bumi di pagi hari. Kalau kulit kita cantik, sehat, dan cerah maka kita jadi percaya diri dan nyaman menjalani aktivitas kita sehari-hari. Kepercayaan diri dan kenyamanan akan memberikan energi yang positif sehingga insya Allah, segala hal yang kita lakukan sehari-hari akan menghasilkan banyak energi positif baik untuk hidup kita maupun untuk orang lain dan lingkungan di sekitar kita. Itulah Cantik Holistik; cantik luar dalam. Jangan tunda lagi! Awali Cantikmu Sekarang!

                           

So ladies, jika ada waktu senggang, yuk jalan-jalan ke Rumah Cantik Citra terdekat di daerahmu dan rasakan pengalaman relaksasi dengan hand & foot massage, body massage, body scrub dan face massage hanya dengan pembelian produk Citra di semua Rumah Cantik Citra. Aku sudah merasakan cantiknya Rumah Cantik Citra dan tidak sabar ingin kesana lagi. Buat para ladies yang masih penasaran, yuk, Awali Cantikmu di Rumah Cantik Citra terdekat di daerahmu!

Salam Cantik!

–Pratiwi Wini Artati, October 8, 2012–

Image sources
“Beauty Tips” ((image source: http://tiananana.blogspot.com/2012_06_01_archive.html)

“You are …never forget it” (www.gickr.com)

Moon” (http://videohive.net/item/moon-and-stars/2333158)

Skin-diagram” (http://www.healthy-skin-guide.com/skin-diagram.html)

Bunga layu” (http://www.atiek1704.wordpress.com)

‘Rumah Cantik Citra” (Image source: Facebook Rumah Cantik Citra)

Jujur, jika dengan pikiran, agak susah memahami dan mencerna hal ini. Bukannya berusaha mangkir atau menolak konsep yang digambarkan oleh Raja Paku Buwana V mengenai sosok wanita Jawa sebagai seorang istri, namun karena perkembangan jaman via “satelit emansipasi dan feminisme” yang tak bisa dipungkiri telah menciptakan suatu “shift” dalam kehidupan wanita untuk mendapatkan kesempatan dan achievement yang relatif sejajar dengan kaum pria, persepsiku terhadap peran dan sosok seorang istri juga “shifted”.

“Shifted” disini bukan berarti lalu kurang ajar dan melupakan kodrat serta bisa seenaknya…bukan, bukan seperti itu. Hanya saja, hal ini mengingatkanku pada apa yang selalu dikatakan oleh eyang putriku dan mamaku “Ndhuk, bagaimanapun kondisimu, apapun keadaanmu, kamu harus ingat bahwa dirimu adalah seorang wanita. Eyang dan mama memahami karakter dan keinginan mu yang super keras serta kemandirianmu yang terkondisikan oleh keadaan hidupmu, namun jangan sampai semuanya itu menutupi akar kepribadianmu sebagai seorang wanita Jawa, apalagi nantinya sebagai seorang istri atau garwa, yang artinya adalah sigarane nyawa dari calon suamimu. Pengabdian dan Nrima-mu ing pandhum terhadap suamimu nantinya jangan diartikan sebagai suatu kekalahan dari suatu kelemahan dan kepasifan, namun jadikanlah semua itu sebagai perwujudan rasa cinta dan cipta baktimu yang lahir dari sebuah keikhlasan hati. Ingat, dalam perkawinan itu tidak ada kalah menang, tidak ada kuat lemah”.

Waktu pertama dulu diriku diberikan wejangan seperti itu (kalau ga salah semasa awal SMA) dalam hati aku berkata “ga salah nih wejangan? Mengalah itu bukan sesuatu yang mudah buatku yang sejak awal telah terbiasa bersaing dan berkompetisi utk meraih yg terbaik. Mengabdi itu juga bukan sesuatu yang gampang untukku karena aku tidak mau didikte begitu saja tanpa alasan yg jelas dan masuk akal. Terlebih lagi, sejak dulu aku sudah terkondisikan untuk bergantung pada diri sendiri, mengambil keputusan sendiri, dan memanjakan diri sendiri. Absennya figur dan sosok seorang ayah juga membuatku tidak terbiasa bermanja-manja dan harus trial-error mengatasi segala suka duka hidup yang pada akhirnya membuatku menjadi agak sedikit berbeda memaknai arti sebuah perkawinan. Namun dengan berlalunya waktu dan bertambahnya umur, lambat laun kekeras-kepalaan-ku dan keterlalu-mandirian-ku mulai dapat mengkompromikan dirinya (mudah-mudahan tidak terlambat). Dan, akupun mulai menyadari dari hati bahwa apa yang sudah diwejangkan Oleh eyang putri dan mamaku bukanlah suatu “bumper sticker” ataupun “slogan” semata. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari semuanya itu dari hatiku yang paling dalam walaupun harus aku akui bahwa terkadang ke-aku-anku yang keras masih harus di “training” (Oleh diriku sendiri tentunya).

Nah, berikut ini adalah kutipan dari apa yang digambarkan Oleh Raja Paku Buwana ke V pada tahun 1809 dalam buku Suluk Tembangraras mengenai sosok wanita Jawa sebagai seorang istri, yang tentunya, masih terus berusaha kupelajari dengan hati:

“Sosok wanita jawa itu seperti lima jari. Ibarat jempol, istri harus pol mengabdi kepada suami.Ibarat Jari telunjuk, istri harus mentaati perintah suami. Ibarat panunggul (jari tengah), istri harus bangga akan suaminya, bagaimanapun keadaannya. Ibarat jari manis, istri harus selalu bersikap manis dengan suami. Dan ibarat jejenthik (jari kelingking), istri harus selalu berhati-hati, teliti, rajin dan terampil dalam melayani suami dan anak2nya” (Suluk Tembangraras by Paku Buwono V, 1809).

*Memang, posting ini dibuat saat aku belum pernah merasakan menjadi seorang istri, let alone seorang ibu, namun setidaknya aku ingin mulai belajar memahami konsep ini sebaik-baiknya dengan perspektif yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih bijak (now that I am and for some reasons, there’s part in me that automatically and willingly accept certain essential roles as a wife in Javanese culture).

Semoga bermanfaat….

–WINI: Happily Married–






In the ancient time Sastra Jendra was only for certain gods, it was a top secret knowledge. In wayang stories, the supreme god Batara Guru had tought this knowledge to god Indra. A person who had accomplished the real meaning of the teaching of Sastra Jendra is a spiritually great person (Priyagung in spiritualism). Only a selective people could achieve Sastra Jendra, after passing successfully his/her Tapa Brata (spiritual ascetism).

In his classical works, Arjuna Sasrabahu, a poet of Surakarta Palace (1824), R.Ng.Sindusastra mentioned that “Sastra Jendra is a world secret” (Sastra Jendra wadining rat) Despite several comments circulated Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu is Sastra – knowledge; harjo – Raharjo – safe; Endra – god, king; yu – Rahayu – safe; ningrat – world, body; pangruwat – to be freed from; diyu – giant or buta – blind, cannot differentiate between good and bad.

Previously it was Sastra (Har) Jendra – a secret knowledge of gods, but at present it is becoming Sastra Ceta – a clear knowledge, showing a human being who is successfully doing his/her samadi, accepted by Gusti, he/she would see the reality (kasunyatan) for a person seeking for a reality, samadi is one of the most important thing to practice.

Achieving Sastra Jendra spiritually means: A human sees his/her real-self (kejatenira), his/her life is safe/perfect, able to ‘mamayu hayuning bawono’ – to embellish the world for the benefit of all creatures, knows the real knowledge of ‘Sangkan paraning dumadi’, the secret of circulation of life, from where it comes & where it goes. Of course it could happen only by the permit of Almighty God (Gusti Allah) as a blessing to our good, correct and continues spiritual efforts.

According to K. Suwardi, one of the followers of Sastra Jendra in Jogjakarta said that “Some kejawen people say this teaching can be achieved by those who perfectly understand the real meaning of Hanacaraka Javanese letters of characters. Based upon experience, I am of the opinion, the most suitable time to disclose the true essential purpose of Sastra Jendra is the night of 1st of Suro, the Javanese New Year, the holy day for Javanese”.

–WINI–
*From variety of resources






INSOMNIA-ku

Posted: October 3, 2012 in Personal-Me
Tags: , , ,

I would do…any…almost anything to have a turned-off-mind-sleep!!
my mind’s on-state of the art is killing me lately…I know it’s just a phase but it feels like I were in a different dimension
eyes closed…sleeping, but not actually having REM
I want my REM back!!

A List has been offered…The A-List…A Top notch recipe…from devil’s advocates….

Tempting…Yet, since I have learned to say no…I guess I will let it be a list…only a list….

I always knew that this won’t be “permanent” so…okay…I’ll take this intoxicating side effect…I’ll live. O yea, it has nothing to do with marriage at all: Insomnia is still insomnia, period

So …

I’ll watch you like a movie
I’ll sing you like a song
Read you like a story,
If it takes me all night long
Keep you like a secret
Tell you like a joke
(Drew – Varsity)

Until I have my REM back…

Oops!! The sun rises already…..*Deep sigh

— WINI —

There’s nothing wrong to be selfish sometimes
There’s nothing wrong to be helpless sometimes
There’s nothing wrong to be less important sometimes
There’s nothing wrong to be stupid, dumb, disoriented, confused, sometimes
There’s nothing wrong to be sad, miserable, down, stressed out, freakin out, sometimes
There’s nothing wrong to be mad, furious, angry, sometimes
There’s nothing wrong to be blue, sometimes
There’s nothing wrong to be crazy, insane, sometimes
There’s nothing wrong to be nonsense, case-sensitive, sometimes
There’s nothing wrong to be cynical, skeptical, doubtful, sometimes
There’s nothing wrong to be careless,shallow, sometimes
There’s nothing wrong about them all because that’s the only way we can do and feel the opposite – binary opposition.

What is wrong is to be right when something is truly wrong and pretending it is right
What is wrong is to define what is right and wrong based on collective notions – quantifying what’s right and wrong
Right and wrong are the case of circular cause and consequence – chicken and egg –
Which came first? – Chickens hatch from eggs, but eggs are laid by chickens
Whose standards?
Whose morality?
Whose rules?
Whose sanity?
Whose normality?

Compartmentalizing humanity
Homogenizing humanity
What is wrong by being different?
What is wrong with plurality?
What is wrong with diversity?
Does collective truth is the ultimate truth?
What is the ultimate truth?
Why do we need the ultimate truth?
What if the truth of the truth has never been true?
What if there’s no such thing as true or false?
What if the concept of what’s true and false has been the utility to foster somebody else’s needs of justification?

How do we find what’s right and wrong without any textual justification?
How do we find what’s right and wrong apart from what we have been told of right and wrong?
Take off everything: verses, chapters, pages, quotes – be naked
Now, what will we see and feel?
Will we be lost without those things attached?
Will our heart solely show us the picture that verses, chapters, pages, quotes have never showed before?
Or will we find the ultimate truth? – the truth is meant for everyone – everyone has one’s truth – the truth is not a game of monopoly

So, if only we could dive in what was it like to be a newly born baby
If only we could remember the first time we opened our little eyes
If only we could remember the first time we took a deep breath in and out
If only we could remember the first thing that made us amazed, laughed and cried
If only…probably the ultimate truth is in that moment…It is meant to be hidden…so pure…Not even the wisest man can reach…
Then why do we argue what is right and what is wrong?
Then why do we argue who is the best and who is the worst?
Since nobody can reach the answer, why do we keep baffling around the unanswered questions?

Why don’t we just be naked – in skin – peeling off the layers of inhumanity – just being human
Will the world be a better place anytime sooner?
Now, I am being skeptical and there’s nothing wrong with that – since the answer seems in a far-far away land
But one thing for sure – the hope is the antidote – it’s fancy but we definitely need it to finally see the possibility of the impossibility!

To me, being skeptical itself is a choice for a means to cultivate my own understanding

 

Ohio, 2008

—WINI—


(illustration taken from http://www.604republic.com)

One of my friends has just shared me this notion of working dead. I had no clue what it meant until he explained to me that it's actually the simplification of acting like working. Ah-ha, my comic bubble above my head finally blinks. This notion could be someone else's paradise and someone else's hell. That just depends on how deep the passion is rooted.

Further away he said:
"When the big boss cat was away on vacation, the worker mice shared a six pack"

Before I finally said any word (I was opening my mouth and prepared to say something), he cut me off and continued saying:
"I get paid to watch television all day.” — “I get paid to stay in an air conditioned office all day.” — “I get paid to play solitaire all day.” — “I get paid to browse the Internet all day.” — “I get paid to babysit a phone all day.” — “I get paid to attend meetings all day.” — “I get paid to watch the clock all day.”

I said "Wow….sounds like paradise".
He said " Well, it was for quite a while…then my soul felt decomposed"
I asked "what did you do? Did you quit?"
He said "It took me almost 10 years to finally realize to quit, I wish I could do it faster. I was too afraid of taking risks… letting my soul captivated by the insecurity of not being able to pay my bills"
He proceed…"Wini, it was a job I was working so I’d have something impressive to say when someone asked me what I did for a living. It was a job I was working to make my parents proud. It was a job I was working to pay the bills"."Wini, it’s easy to bury your passion beneath a pile of bills and let rationality run your life. I’ve done it, just as many others have and countless others do — but I don’t recommend it"

—-to be continued—–

He made me think a lot afterwards….wondering whether there's an outside-of-the-box alternative for this working dead (unable to fall in love with your job) other than just quitting…Hmmm…There must be some ways…I am sure there must be.

Thanks dude!
The big boss cat and worker mice sounds to co-exist with the context…I got it! hahaha

Wini, Athens, Spring 2009


Collage of illustration/pictures taken from (lovelylovesayings.com, fwds.in,photodoto.com, besteducationpossible.blogspot.com, favim.com, city-data.com, myspace.com, openyourself.tv)

Pertama kali I stumbled upon this article when I was hopelessly skeptical about love. For some reasons, membaca apa yang anak-anak pikirkan tentang cinta dan its meaning had given me the sense of “shame”. Pikirku…kids are so pure. They think what they feel, just the way it is. Pada waktu itu, saat aku begitu sibuk lari dari cinta krn merasa that one thing was so complicated, eh, ga sengaja baca ini….so, even though, some parts of these are humorous, the pure honesty is the main theme. Honesty creates simplicity without losing the essence of being simple. Ya sudahlah….untuk intermezzo aja….toh cinta itu, walaupun rasanya berjuta….tapi tetap punya satu rasa besar…benang merah yang sama, yaitu….”kebahagiaan”….:)

So, have fun reading 🙂

=======================================
Dear Couples,

What is love? It seems to be the primary reason for couples
getting and staying together.

Yet how do you define it? What are examples of it that can be instantly recognized?

Philosophers and poets have struggled with the concept of love for years. Well, here’s another take. Someone did a small survey on examples of love and asked some of the best philosophers around-kids. Even if you’ve seen these quotes before, they’re worth reading again.

“Love is when Mommy sees Daddy on the toilet and she doesn’t
think it’s gross.” Mark – age 6

“When my grandmother got arthritis, she couldn’t bend over and paint her toenails anymore. So my grandfather does it for her all the time, even when his hands got arthritis too. That’s love.” Rebecca- age 8

“When someone loves you, the way they say your name is
different. You just know that your name is safe in their mouth.”
Billy – age 4

“Love is when a girl puts on perfume and a boy puts on shaving cologne and they go out and smell each other.” Karl – age 5

“Love is when you go out to eat and give somebody most of your French fries without making them give you any of theirs.”
Chrissy – age 6

“Love is what makes you smile when you’re tired.” Terri – age 4

“Love is when my mommy makes coffee for my daddy and she takes a sip before giving it to him, to make sure the taste is OK.”
Danny – age 7

“Love is when you kiss all the time. Then when you get tired of kissing, you still want to be together and you talk more. My Mommy and Daddy are like that. They look gross when they kiss.”
Emily – age 8

“Love is what’s in the room with you at Christmas if you stop opening presents and listen.” Bobby – age 7

“If you want to learn to love better, you should start with a friend who you hate.” Nikka – age 6

“Love is when you tell a guy you like his shirt, then he wears it everyday.” Noelle – age 7

“Love is like a little old woman and a little old man who are still friends even after they know each other so well.” Tommy –
age 6

“During my piano recital, I was on a stage and I was scared. I looked at all the people watching me and saw my daddy waving and smiling. He was the only one doing that. I wasn’t scared anymore.” Cindy – age 8

“My mommy loves me more than anybody. You don’t see anyone else kissing me before I go to sleep at night.” Clare – age 6

“Love is when Mommy gives Daddy the best piece of chicken.”
Elaine-age 5

“Love is when Mommy sees Daddy smelly and sweaty and still says he is handsomer than Robert Redford.” Chris – age 7

“Love is when your puppy licks your face even after you left him alone all day.” Mary Ann – age 4

“I know my older sister loves me because she gives me all her old clothes and has to go out and buy new ones.” Lauren – age 4

“When you love somebody, your eyelashes go up and down and
little stars come out of you.” Karen – age 7

“You really shouldn’t say ‘I love you’ unless you mean it. But if you mean it, you should say it a lot. People forget.”
Jessica – age 8

And the final one — Author and lecturer Leo Buscaglia once
talked about a contest he was asked to judge. The purpose of the contest was to find the most caring child.

The winner was a four year old child whose next door neighbor was an elderly gentleman who had recently lost his wife. Upon seeing the man cry, the little boy went into the old gentleman’s yard, climbed onto his lap, and just sat there. When his Mother asked what he had said to the neighbor, the little boy said, “Nothing, I just helped him cry.”

So how do you express your love to those who are special to you? As these quotes reveal, love doesn’t always look and feel the same way.

Wishing you the best in your relationship,

By Peter Pearson, Ph.D and Ellyn Bader, Ph.D


Try your best to understand them as an individual and not just as Mom and Dad because that’s the key to your understanding towards them in your transitional phase as an adult.

Dulu, sering saya sebagai anak berpikir “Kok ga adil ya? Posisi sebagai anak membuat kita “kalah” segala-galanya dari orang tua: cap anak durhaka lah, anak tidak berbakti lah, anak yang gak tahu diri, dan serentetan “cap” mengerikan dengan berbagai konsekuensi neraka dan karma. Lha tapi bagaimana dengan orang tua yang sewenang-wenang thdp anaknya? yang menyia-nyiakan anaknya? yang ga ngertiin dan maksain kehendaknya pada anaknya? dll? They seem to be “justified” as okay because of their position as parents…then, karena saling mencari “kalah-menang”/”benar-salah”, akhirnya bukannya menyelesaikan masalah tapi menambahnya dengan segala macam efek samping seperti penolakan, pemberontakan, pelampiasan, dendam, dsb.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan bertempa dengan pengalaman hidup dan belajar dari hidup sendiri dan org lain, kekurangan, dan kesalahan diri, ada satu celah dalam hati saya dimana ada semacam “pengetahuan” yg entah darimana datangnya, “berbicara” pada diri sendiri “maklumilah orang tuamu apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sebab sebelum menjadi orang tuamu, mereka adalah juga seorang individu yang kompleks dengan segala macam peranannya di dunia ini. Nah, masalahnya, mendengar kata “maklumilah” pada saat itu membuat jiwa saya berontak “masak terus menerus maklum? kapan dong mereka gantian maklumin aku? kan kesel”. Lalu, “suara’ itu terus berlanjut “Maklum itu bukan berarti kalah, maklum itu bukan berarti tidak melakukan apa-apa, bahkan dengan maklum dirimu sudah berbuat sesuatu utk org tuamu, yaitu menunjukkan baktimu dalam peranmu sebagai anak. Kau tak akan pernah bisa benar-benar memahami “peran” orang tuamu jika dirimu belum benar-benar di posisi mereka. Nanti, saat kau sudah saatnya menjadi orang tua, kau akan benar-benar paham. Selagi menunggu waktu itu datang, belajarlah memaklumi, belajarlah mengerti, belajarlah bersabar dengan orang tuamu sendiri karena jika suatu saat waktu mereka telah habis untuk mendampingimu di dunia ini, kau akan benar-benar menyesal tak berkesudahan jika waktu yang tersisa ini tidak kau gunakan untuk benar-benar memaklumi, mengerti, bersabar, dan mengenal orang tuamu lebih dari sekedar “ayah” dan “ibu”, and you ought to know that by the heart.

Terlebih lagi, semakin tua usia, semakin sifat “kekanakan” itu mendominasi. Dengan kata lain, lanjut usia/usia lanjut=kekanak-kanak’an. Nah, fakta itu tidak bisa dipungkiri. Balajar sabar itu ga usah jauh-jauh…belajar sabarlah dulu dengan orang tuamu, lalu dengan saudara kandungmu, dengan keluargamu, dengan kerabatmu, dan akhirnya baru dengan lingkungan di luar itu. Sabar itu tak pernah sia-sia…

Teringat kembali/flashback masa-masa dimana usia saya yang pengennya berontak atau ngeyel saja. Dimana sering terjadi perdebatan dengan piyayi sepuh saya, termasuk almarhumah eyang putri saya sendiri. Masa-masa itu termasuk ngambek, ingin lari dari rumah, diam-diam’an selama berhari-hari bahkan bermingu-minggu, gebrak2 an kaki, tangan, meja,pintu, dsb. Astagfirullah…saya “berangasan” sekali ya? Alhamdulillah, walaupun masih jauh dari sempurna, pengetahuan “maklum” saya terhadap orang tua semakin terasah dengan lebih terbukanya hati dan pikiran saya dengan cara memposisikan diri saya di posisi mereka yg bertujuan untuk lebih mengenal dan memahami ibu saya (ayah saya sudah almarhum dan eyang saya sudah almarhumah) lebih dari sekedar peran beliau sebagai ibu, namun sebagai seorang individu yang punya masa-masa tumbuh dan berkembang dari bayi sampai gadis sebelum waktu saya lahir di dunia ini. Memang tidak gampang, tapi setidaknya hanya itulah yang dapat saya lakukan untuk mengungkapkan betapa sayangnya saya dengan beliau, betapa bangganya saya dengan beliau, betapa respectnya saya dengan beliau.

Saya sadar tidak akan pernah dapat membalas segala jasa dan pengorbanan ibu saya terhadap saya, jadi sebisa mungkin hanya inilah yang bisa saya lakukan selagi saya masih diberikan waktu oleh Allah SWT untuk bersama dengan beliau jasmani dan rohani.

Hanya ingin berbagi saja malam ini, tentang pengetahuan “permakluman” ini, namun pengetahuan ini tak bisa dipaksa, tak bisa dikarbit namun bisa “dikondisikan”.

(Wini, Jakarta Feb-2012)

Dibawah ini terlampir tambahan kontemplasi dari Dewi “Dee” Lestari mengenai refleksinya untuk mengenal ibu beliau lebih dari sekedar “ibu”. Semoga bermanfaat and thank you for reading 🙂

==========================================================================================

Dua malam sebelum jadwal siaran rutinnya setiap Selasa pagi di Cosmopolitan FM, Reza mendiskusikan topik siarannya dengan saya. Dia ingin membahas dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Saya langsung setuju. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika tersebut adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Cepat atau lambat. Suka tak suka.

Kami lantas berdiskusi tentang banyak aspek, antara lain: pengondisian orangtua kita dulu yang akhirnya membentuk perilaku dan pola asuh mereka terhadap kita, hingga seringkali yang mereka terapkan bukanlah yang terbaik bagi anak melainkan sekadar meneruskan warisan dari orangtua mereka sebelumnya. Dan hal itu berlangsung dari generasi ke generasi, termasuk pada kita saat kebagian giliran jadi orangtua. Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Dalam pekerjaannya, Reza tak jarang menemukan belitan trauma akibat pola asuh masa kecil yang bisa mencengkeram seseorang meski umurnya sudah uzur.

Aspek lainnya lagi yang kami bahas adalah kejujuran yang utuh dan lengkap dalam komunikasi antara anak dan orangtua. Seringkali, karena takut dibilang durhaka, tekanan normatif, dsb, kita memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua kita. Akibatnya, anak tetap tidak bisa menunjukkan otentisitasnya sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, tetaplah Si Upik dan Si Buyung yang harus terus menerus diawasi dan dikendalikan.

Namun baru pada pagi inilah, saat saya mendengarkan siaran Reza secara langsung, mendarat hantaman yang juga langsung di batin saya. Pada segmen-segmen akhir, Reza berbicara mengenai transisi yang seringkali tak lancar—bahkan mungkin tak pernah terjadi—dalam perubahan peran “anak” dan peran “orangtua” menuju individu-individu yang real, sejajar, dan apa adanya. Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia—titik—dan bukannya Sang Pemberi Kehidupan, Sang Pemberi Makan, Sang Pengayom, Sang Pelindung, atau Sang Pengasuh. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang bahkan mungkin tak pernah mengenal anak-anaknya sebagai manusia—saja—dan bukannya Si Buah Hati, Si Penerus Keturunan, Si Harapan Bangsa & Keluarga, dst. Semua “Sang” dan “Si” tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius dan melenakan jika kita terus terjebak di dalamnya.

Izinkan saya berbagi sekelumit kisah pribadi. Tentang saya dan Mama.

Dengan kondisi ayah saya yang seorang perwira militer dan mengharuskannya untuk pindah-pindah tempat dinas, otomatis ibu sayalah yang lebih banyak di rumah untuk mengurusi anak-anak. Saya bertemu ayah saya hanya setiap akhir pekan. Dan dalam dua-tiga hari itu, ayah saya lebih sering menjelma menjadi Sinterklas yang selalu membawakan oleh-oleh, uang saku ekstra, dan kesenangan lainnya.

Sementara itu, dalam dinamika harian dari Senin hingga Jumat, Mama harus berperan ganda menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami. Mama memasak dan mengatur rumah, juga menjadi “polisi” dan penegak kedisiplinan, ditambah lagi dengan aktivitasnya yang padat di gereja sebagai penatua, anggota kor, dan ibu asuh tak resmi bagi banyak pemuda perantauan Tanah Batak yang terdampar di Kota Bandung. Begitu banyak peran yang ia jalankan dan semuanya ia jalani dengan sangat baik. Mama adalah sosok yang luar biasa bagi lingkungannya. Dan sosok yang kompleks bagi saya.

Mama meninggal karena kanker di ususnya pada tahun 1995. Saya masih 19 tahun saat itu. Baru kuliah tingkat dua, baru memulai karier bernyanyi. Baru saja berbangga karena bisa membiayai kuliah sendiri dan berhenti minta uang saku. Baru saja menyaksikan ibu saya berbangga melihat anaknya muncul di televisi. Dan baru saja pula saya berkhayal ingin menghadiahinya wisata ziarah ke tempat-tempat suci di Timur Tengah, sebagaimana yang selalu diimpikannya sebagai umat Kristiani.

Saat orang-orang datang melayat, dan juga jauh sesudah itu, kerap saya mendengar berbagai kesan dan cerita orang-orang terhadap Mama. Mereka yang saya kenal, dan juga seringnya tak saya kenal, bercerita banyak hal yang asing di kuping saya tentang Mama. Tak jarang saya takjub bahkan terguncang, menyadari betapa saya tidak mengenal ibu saya sendiri. Dan sebaliknya. Saya merasa Mama pun tidak sempat mengenal saya. Anaknya sendiri.

“Saya ini anak yang besar di luar rumah,” begitu saya selalu berkata. Dan kurang lebih memang benar adanya. Sebagai anak yang dikenal paling cuek di antara lima bersaudara, justru sayalah yang ternyata paling kuat terkena dampak meninggalnya Mama. Saya memimpikannya setiap malam selama berbulan-bulan, dan untuk sekian lama saya tidak bisa membicarakan bahkan memikirkan Mama lebih dari tiga menit tanpa menitikkan air mata. Padahal, saat beliau masih hidup, sayalah yang paling berjarak dengannya.

Selama bertahun-tahun, banyak jawaban dan alasan yang sudah saya renungi. Namun khususnya setelah mendengarkan siaran Reza pagi ini, renungan itu menggenap. Kehilangan saya yang paling kuat bukan disebabkan karena saya belum sempat menghadiahinya wisata melihat Betlehem, bukan karena Mama tidak sempat melihat saya memberinya cucu, bukan karena banyaknya peristiwa penting dan bersejarah dalam hidup saya yang membutuhkan kehadirannya, tapi semata-mata karena saya belum mengenalnya sebagai manusia—titik. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap saya ingin mengenang beliau, saya selalu berbenturan dengan tembok tebal yang diciptakan aneka peran yang Mama mainkan selama hidupnya. Ditambah lagi dengan tameng dari peran saya sendiri sebagai anaknya.

Selama ia hidup, saya hanya mengenalnya sebagai ibu. Mama. Inang Mangunsong. Saya tidak kenal perempuan bernama Tiurlan Siagian. Dan sebaliknya, saya pun merindu dan meradang untuk ia kenali sebagai manusia—saja. Bukan semata anak keempatnya yang hobi menulis dan menyanyi. Dalam sembilan belas tahun kami berinteraksi, kami belum sempat menanggalkan peran-peran kami sebagai ibu dan anak, berjabat tangan atau berpelukan atau sekadar menatap satu sama lain sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang real. Ia pergi sebelum kami sempat bertransisi.

Ayah saya kini berusia 71 tahun. Barangkali tak selamanya ia merasa beruntung hidup lebih lama, karena dengan demikian ia “terpaksa” menyaksikan segala tingkah-polah kelima anaknya yang bertransisi menjadi manusia dewasa, lengkap dengan segala konflik dan pertentangan batin yang turut menyertai proses tersebut. Namun, walaupun mungkin tidak terus-terusan, setidaknya saya sempat merasakan interaksi kami berdua bertransisi dari ayah dan anak menjadi manusia dan manusia.

Pagi ini, saya memberanikan diri untuk berkata: sesungguhnya, itulah hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orangtua kita. Itu jugalah hadiah terbaik yang kelak bisa kita berikan bagi anak kita. Dan hanya itulah persembahan terbaik yang bisa kita tawarkan bagi sesama manusia di sekeliling kita. Meski secercah, meski tak selamanya berakibat indah, otentisitas dan kejujuran kita sebagai manusia adalah satu-satunya jabat tangan yang riil antarhati. Antarjiwa. Hanya dengan demikian kita benar-benar tahu rasanya “terhubung”. Dan sungguh, itu adalah pengalaman yang nyaris punah.

Selama kita bersembunyi dan terperangkap dalam peran-peran yang kita jalankan, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas tameng. Sebatas pengondisian. Kita bahkan bisa berjalan sepanjang hayat dikandung badan di atas planet ini tanpa pernah menyadari topeng-topeng yang kita kenakan, yang meski dalam interaksinya kita bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan hal-hal positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua.

Kesempatan itu sudah tidak ada lagi bagi Mama dan saya, setidaknya dalam kehidupan kali ini. Tapi kesempatan itu masih ada untuk saya gunakan dengan ayah saya, anak saya, suami saya, kakak-adik saya, dan semua orang dalam kehidupan saya. Begitu juga dengan Anda dan siapa pun yang masih ada dalam kehidupan Anda sekarang. Semoga saja kita mau dan berani menggunakannya.

(Dewi “Dee” Lestari)