Archive for January, 2014

Guru itu ada dimana saja. Setiap manusia diciptakan untuk menjadi “guru” bagi yang lainnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bisa dari keluarga, orang lain, orang asing, karakter fiktif di cerita fiksi, bahkan binatang dan tumbuhan pun tak luput dari julukan “guru”. Bahkan, guru pun bisa hadir lewat representasi kondisi lingkungan dan masalah-masalah serta tantangan-tantangan hidup di sekitar kita. Segala sesuatunya diciptakan baik oleh Allah SWT dan walaupun kadang-kadang ada yang namanya orang jahat di dunia ini, saya tetap yakin, kejahatannya itu bisa menjadi kebaikan bagi yang lain, dalam artian, menjadi “cermin” untuk yg lain agar segera menyadari yg negatif dan merubahnya menjadi positif. Sejak kecil, entah kenapa saya “haus” ngelmu; itu bahasa halusnya. Bahasa agak halusnya ya penasaran dan ingin tahu tak kenal koma, tapi bukan karena ingin “kepo”. Ingin tahu 5W+1H di dalam setiap detik hidup saya. Awalnya saya tidak pernah sadar, namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa bahkan saat saya diam pun, batin dan pikiran saya tak pernah bisa di-diam-kan, seolah punya “diskursus” sendiri di dalam.

Mengapa harus terjadi global warming; mengapa korupsi menjadi sebuah kebiasaan lumrah; mengapa pemimpin yang adil dan jujur makin meredup; mengapa banyak wabah dan virus penyakit aneh; mengapa marak penculikan dan human trafficking; mengapa disiplin lalu lintas seolah mati suri; mengapa banyak pedagang menghalalkan segala cara untuk meraup untung; mengapa kondisi perekenomian negara ini makin tak terkendali; mengapa masih banyak rakyat yang tidak sejahtera; mengapa pertanian, peternakan, dan perikanan di negeri ini tidak diintensifikasi pengembangannya; mengapa banyak fenomena ilmu hitam; mengapa pendidikan masih harus banyak pembenahan; dan mengapa-mengapa yang lainnya….

Saya tidak pernah berpikir bahwa memikirkan hal-hal tersebut diatas adalah sesuatu yang (kadang) orang menganggap muluk-muluk; tidak. Untuk saya, makro dan mikro itu hubungannya sangat erat sekali. Terlebih lagi, cara saya berolah pikir tidak melulu sistematis, malah kadang tidak kenal sistem, bisa dari penjuru arah mana saja. Oleh sebab itu, “belajar” hidup itu ya justru dari apa yang terjadi di sekitar kehidupan saya: baik itu makro maupun mikro; baik itu khusus-umum maupun umum-khusus; baik itu kualitatif, kuantitatif, maupun gabungan keduanya. Penarikan sebuah kesimpulan pelajaran hidup dalam mekanisme olah pikir dan olah rasa saya harus melalui berbagai “gelembung-gelembung” zona, mulai dari zona sangat nyaman, zona nyaman, zona agak tidak nyaman, zona tidak nyaman, zona sangat tidak nyaman, bahkan zona yang sama sekali belum bisa teridentifikasi kenyamanannya. Saya melakukan hal tersebut karena saya membutuhkan “verifikasi-verifikasi” dari kesimpulan-kesimpulan pelajaran hidup (lesson learned) saya; mulai dari hal-hal yang sifatnya sangat simple sampai pada pada hal-hal yang bobotnya menurut saya berat dan complicated, tapi tak apa karena proses mengurai “benang kusut” itulah yang menjadi esensi kedewasaan berpikir saya yang tujuannya adalah meluaskan wawasan, menjadi lebih open minded tanpa kebablasan untuk minding someone else’s business.

Saat saya “belajar” dari “guru” yang makro ( bahkan sangat makronya sampai-sampai orang sering bilang kepada saya “ndak usah lah ikut-ikutan mikir begitu, pikirin aja dirimu dan kehidupanmu”), tak pernah terbersit pun dalam pikiran saya untuk gaya-gaya an atau sok-sok an; justru dengan demikian, saya menantang narrow-minded ness saya untuk “diluaskan” sedikit dengan melihat kondisi sekitar, kondisi yang sedang terjadi di lingkup masyarakat dan negara ini bahkan global. Tak jarang dari situ justru saya menemukan “tips dan trik”, semacam strategi saya sendiri untuk menghadapi dinamika kehidupan saya di lingkup yang lebih mikro. Contoh: Lewat isu mengenai makin tingginya harga pangan dunia, makin langkanya air bersih, makin tipisnya lapisan ozon, makin menimbunnya sampah dunia, makin tercemarnya lautan di dunia, dll, membuat saya belajar untuk tidak berlebihan dalam menggunakan air (walaupun kadang dinas dengan akomodasi hotel mewah), tidak mengucurkan air keran saat gosok gigi, tidak mengucurkan air keran saat cuci tangan, menuangkan air cucian beras ke tanaman, tidak neko-neko milih makanan yg serba wah tapi kurang sehat, tidak membuang-buang makanan dengan hanya kepengin thok terus tidak dihabiskan, dll. Itu hanya sebagian dari contoh paling simple-nya, atau bisa juga saat saya melihat, mempelajari gaya kepemimpinan para pemimpin negeri sekarang ini ataupun mempelajarinya dari biografi para pemimpin bangsa negeri ini di jaman dahulu kala saat saya belum lahir, membuat saya memahami benang merah dari apa itu arti sebuah kepemimpinan: budaya menjadi sebuah elemen penting yang membentuknya. Semakin luhur budaya nya (tindak tanduk, pola pikir tingkah laku, cara bicara, cara memilih kata, cara memposisikan diri, dll), semakin “matang” kualitas kepemimpinannya. Itulah teladan yg bisa saya ambil untuk setidaknya “memimpin” diri saya sendiri dulu: setidaknya mengatur ke-ego-an saya agar tidak menganggu harmonisasi lingkungan di sekitar saya dan tidak menimbulkan hawa yang negatif terhadap orang-orang di sekitar saya. Apa yang saya lihat, saya dengar, dan baca menjadi bagian dari proses pembelajaran tersebut.

Jadi, apapun bagi saya saat ini adalah guru dan cermin. Situasi negara ini, situasi masyarakat, situasi dunia, sampai pada situasi keluarga dan situasi diri saya sendiri. Semua zona situasi menjadi guru yang sangat berharga untuk saya. Justru dengan demikian lah saya menemukan mimpi, cita-cita, inovasi, kreasi, anomali, dan sudut pandang yang derajatnya sampai 360. Saya tak akan mungkin bisa menemukan itu semua jika tak “belajar” secara makro dan mikro yang bahkan terkadang sampai berada dalam posisi “out of my comfort zone”. Pada akhirnya memang semua pelajaran hidup itu saya jadikan cermin diri saya sendiri: mawas diri, evaluasi diri, mengkritik diri, mempelajari kesalahan diri, menjaga emosi dan hawa nafsu supaya tidak bablas, mendewasakan hati dan pikiran bahkan sampai belajar mentertawakan diri sendiri.

Tidak ada kata “muluk” dalam kamus kawruh (belajar) saya; sama seperti tidak ada kata “muluk” dalam bermimpi dan bercita-cita setinggi langit sampai keluar orbit planet pluto. Saya tidak akan pernah membatasi diri untuk “belajar”, dengan siapa saja, kapan saja, dalam situasi apa saja, formal, informal ataupun non formal, simple ataupun kompleks, mikro ataupun makro. Karena menurut saya, saat saya bisa belajar memposisikan diri saya di posisi orang lain, dalam kondisi yg lain dan konteks yg beraneka ragam, saya justru diberikan “alat” untuk merasa lebih bersyukur, lebih termotivasi, lebih memahami sudut-sudut dan sisi-sisi yang sebelumnya belum pernah saya rasakan atau tidak pernah saya alami: subyektivitas saya “diuji” dengan ini.

Overall, tentu saja, sebagai manusia, masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan saya dalam “belajar” dan kawruh, tak lepas dari trial dan error, jatuh dan bangun, dan suka-duka pembelajaran saya. Saya pun masih merasa ndak ada apa-apanya walau sudah “belajar” sampai setua umur saya ini. Namun satu yang pasti bahwa, saat hati saya “berontak”, “uneasy” dan “gelisah” terhadap sesuatu hal, saya tahu bahwa ada sesuatu yg “beyond what it appears; more than meets the eye”, walaupun terkadang pikiran saya tidak menyetujuinya. Belajar “membaca” hati saat kawruh adalah sebuah proses yang justru di umur saya sekarang ini, makin terasa lebih “berat” ketimbang jaman dulu sewaktu kedewasaan saya belum berproses. Bahwasanya benar adanya, belajar apapun kalau hanya mengandalkan logika dan pedagogis saja tidak akan seimbang. Harus melibatkan hati, nurani, atau conscience. Sama seperti halnya sebuah lagu, harmonisasi antara musik dan syair/lirik semuanya harus seimbang supaya “bunyi” nya menggungah siapapun yang mendengarnya. Bagi saya, belajar itu sama dengan nembang; sama dengan berlagu: antara rasa dan logika harus selaras, seimbang, dan harmonis. Dan untuk menciptakan sebuah pembelajaran pun senada dengan proses penciptaan sebuah lagu; limitless inspiration, oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja, dan bagaimana saja. Mengapa bagaimana saja? Ya karena, menurut saya, lagu itu bisa berasal dari syairnya dulu atau bisa juga dari musiknya dulu. Dan dari lagu lah, saya juga belajar bahwa suka duka hidup ini punya “nada” masing-masing yang sama indahnya. Have a lovely Wednesday!

Jakarta, January 15th 2014.


Hari ini, tepat di hari ulang tahun mama saya tercinta, terima kasih untuk kehadiran beliau di dunia ini yang 31 tahun yang lalu juga telah melahirkan saya dan mendidik saya, menjadi guru saya, hingga saat ini

 

Collage999