Archive for September, 2012

Inspiration, where are you now when I need you the most?

I don’t know why I keep losing your track no matter how hard I have tried, not yet there. Sometimes my days are not so friendly; however, I always…always try to be friend-ed with it. My mind sometimes becomes my most enemy. What is more, it is so infectious that I can not even comprehend myself. I don’t mean to be complicated but sometimes complexity teaches me a lot: paradoxes, ambivalence, and ambiguities against clarity, certainty, and divinity, and that is what I am made of. In other words, simplicity is a struggle but also a reward..he..he..

I know that everything I have now will not last but at least there’s a great advantage of being so versatile and adjustable. It is all because variety (with regards to complexity) is a another dimension that will always take me higher, wider into the horizon of almost anything that exists mentally and physically.

*A one night-stand intimate conversation with myself in the midst of intense disappointment and distraction along the way…

Wini, Jakarta, 2012




Since Multiply had closed its service on the social networking page and now focusing on e-commerce, I have tried to “import” the content of my site to my “hard drive”..then, I stumbled upon my “curhat” page about dealing with the first quarter of my graduate study when I was at Ohio University as an international student. G percaya juga bisa nulis “gaul kayak gini” and alhasil ngebacanya setengah ngetawain diri sendiri karena “astaga-naga bahasanya gw-gw begitu, norak banget sih, ini beneran aku yg nulis ya?” tapi ga papa deh, namanya juga personal reflection yg buat aku sih fungsinya memang utk ajang ngetawain diri sendiri 🙂

As an international student, I had to deal with a complex paradigm of what so called as cross-culture adjustment, whether it is my personal/cultural struggle or my academic “acquisition”. Klo personal atau cultural sih mungkin ga terlalu nge-lag banget but yg pasti academic transition process yg aduhai struggling sekaliiiiii (terutama utk advanced graduate writing section yach yg sampe dijabanin 2 hari ga tidur siang malem buat belajar kultur menulis akademisnya USA). Anyway, below are “suara hati” yg ditujukan pada diri sendiri (maklum, karena Gemini mungkin bawaannya kadang2 saking banyaknya conversation dengan diri sendiri suka dianggep cuek sama sekitar). 

Mungkin buat temen-temen yg lagi belajar di negara orang, khususnya di negaranya Om Obama, apa yg aku alamin bisa buat masukan buat temen-temen so that you guys are going to have a better strategy to handle everything related to graduate study process and environment there. Akhir kata, mohon maaf kalau ada bahasa yang kesannya ‘sok gaul” banget atau terasa lebay, atau terasa gimana gitu…ga ada maksud apa2 selain untuk menegur diri sendiri kok…maklum, umur 26 waktu itu masih labil dalam berbahasa dan berkata-kata alias campur aduk hehe. 

============================================================================

(manuscript asli, diambil dari tahun 2008 saat menghadapi first quarter)

Ya ampyun…never I imagine before that final week could be this “colonializing”. Salah strategi deh. Sok kebisaan juga gw he..he…ini akibatnya klo a way too excited….kepentok sendiri deh gw. Kebanyakan kelas yang gw ambil…sebenernya interconnected sih….asik banget. Cuma eh cuma, pacing-nya engga banget deh….1 kelas full of technical stuff, 1 kelas lagi half breed, mostly technical framework yang masih bisa gw handle sih sebenernya…BUT dua2nya HYBRID…huaduh…ini dia…musuh nomor satu buat procrastinator…asliii berats….kayaknya ajah enak tapi….eh ga papa ding, dengan begini, gw belajar manage diri sendiri supaya lebih baik lagi ngatur semua…ya waktu, ya emosi, ya mood, ya semua deh. 

2 kelas lagi are amazing, banyaaaaaaak buku yang dibaca…banyak theoritical review, philosophical point of view which means aku sukaaaaaaaaaaa bangets. Nah, again….the thing is these classes demand “analytical operation within”….again, masalahnya analysis dari satu point ke point satunya tuh butuh super duper level of understanding yang ga gampang obtain-nya….in order to understand even a simple concept…it will be so hard if common sense kita ga mau masuk2….nah saat itulah, I need double effort to catch inspiration….again, inspiration ga akan pernah mau dateng klo mood ga stabil….waaaaaah…udah lah…semakin dirunut semakin pusing. Not to mention laptop gw ngambeks…udah minta “pensiun” dia coz udah uzur…ha..ha….jadi deh aku musti beli newbie dan itu nunggu lagi deh sampe lappie-nya di delivered.

Back to classes, karena udah point of no return, ya udah, I have to do my best to handle all of the consequences….best efforts…sampe2 jerawat juga ikutan ngedukung hore..hore…hahahaha
BUT it’s worth the effort kok. Cuma gw-nya aja yang kadang2 suka mikir terlalu jauuuuuh sampe restless begini…temen2 di kelas bilang ngapain gw serius2 building up analysis, perspectives, comments, de el el….lha terang ajah….mereka khan tuan rumah..ha..ha..sedang gw, sadar dong…udah dibiayain masak ga serius…LOL….the bottom line is, being a graduate student is a privilege as much as consequences ha.ha….

Kesini2nya gw jadi berpikir, sayang banget…saat masa2 emas pertumbuhan cognitive gw (which was elementary school phase), sebagai siswa SD, gw jarang diajarin for building up critical thinking….selalu waktu SD dulu, apa kata guru itulah yang legit….murid dilarang kritik, comment atau bahkan mempertanyakan sesuatu alias….kebiasaan mempertanyakan suatu konsep adalah tabu…..nah, gini nih akhirnya, akumulasi curiosity gw ga tersalurkan selama bertahun2, begitu gw udah dewasa….gw harus mulai from scratch…mengurai benang kusut of my curiosity precipitation sehingga nantinya finally (hope so) be able to be fluently flowing…..ini kasus yang kadang2 karena begitu banyaknya konsep yang gue pikirin…numpuk…sampe2 ga tahu dari mana dan apa yang harus diomongin dulu….gw musti belajar mind mapping lebih baik nih….:)

Anyway do re mi fa sol la si do, banyak yang harus gw benahi dalam diri sebagai a graduate student. gw akan pakai apa yang sudah gw pelajari di first quarter ini sebagai framework buat maju terus ke depan…no place for regret…keep moving forward….
We’ll see…apakah second quarter akan bisa menjadi turning point gw…dan semoga kedepan2nya gw bisa lebih aware towards the ground beneath my feet….:)

Cheers,
Wini
Athens, Ohio – 2008

Seperti halnya bahasa-bahasa suku-suku bangsa di Indonesia, bahasa Jawa merupakan aset bangsa Indonesia yang sangat penting. Dunia begitu mengakui keberadaan Bahasa Jawa, tak kurang dari situs web paling populer di dunia, yaitu Google, menyediakan edisi khusus pencarian dalam Bahasa Jawa, Google Nggoleki. Selain itu situs web enslikopedia terbesar di dunia, yaitu Wikipedia menyediakan edisi khusus Bahasa Jawa dengan konten 37.290 artikel (posisi 28 Oktober 2011).

Berdasarkan estimasi ethnologue.com pada tahun 2009, Bahasa Jawa menempati peringkat ke 11 di dunia dari segi jumlah penutur, yaitu berturut-turut setelah: 1. Bahasa China dengan jumlah penutur 1,21 milyar orang (paling dominan Bahasa Mandarin dengan 845 juta penutur); 2. Bahasa Spanyol (329 juta); 3. Bahasa Inggris (328 juta); 4. Bahasa Arab (221 juta); 5. Bahasa Hindi (182 juta); 6. Bahasa Bengali (181 juta); 7. Bahasa Portugis (178 juta); 8. Bahasa Rusia (144 juta); 9. Bahasa Jepang (122 Juta); 10. Bahasa Jerman (90,3 juta); dan 11. Bahasa Jawa (84,3 juta). Jumlah penutur Bahasa Jawa lebih banyak dibanding Bahasa Vietnam, Perancis, Korea dan Turki.Sedangkan untuk Bahasa Indonesia sendiri, berada di peringkat 41 (23,2 juta) setelah Romania (23,4 juta) dan sebelum Bahasa Belanda (21,7 juta).

Berdasarkan Sensus Tahun 2000 (ethnologue.com) jumlah penutur Bahasa Jawa mencapai 84,3 juta orang, tersebar di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur 69 juta orang, Cirebon (termasuk Indramayu) 2,5 juta orang, Banten 500 ribu orang (tersebar di Pantai Utara Serang dan Tangerang). Selain itu tersebar di Papua, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Sumatera, Sabah, Singapura, bahkan sampai ke Belanda, Suriname dan Kaledonia Baru. Sebenarnya bahasa Jawa sudah tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia serta puluhan negara di berbagai benua. Keberadaan suku bangsa Jawa bahkan sangat dominan di beberapa daerah luar Jawa, seperti di Lampung 62 persen, Sumatera Utara 33 persen, serta Jambi dan Sumatera Selatan masing-masing 27 persen. Setelah Bahasa Jawa, bahasa dengan jumlah penutur terbanyak kedua di Indonesia adalah Bahasa Sunda (Sensus tahun 2000 sebanyak 34 juta orang). Bahasa Sunda sendiri merupakan bahasa peringkat 31 (34 juta) terbesar di dunia, melampaui Bahasa Persia (31,4 juta), dan Tagalog (23,9 juta).

Bahasa Jawa meliputi beragam dialek seperti Jawa Halus, Solo, Yogyakarta, Cirebon, Tegal, Indramayu, Tembung, Pasisir, Surabaya, Malang-Pasuruan, Banten, Manuk, Tegal, Surabaya, dan Malang-Pasuruan.

Bahasa Jawa merupakan salah satu warisan budaya dunia yang ada di Indonesia, sudah semestinya Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya meng-internasional-kan keberadaannya. Beberapa universitas dengan kultur Jawa yang kental seperti Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Sebelas Maret (UNS), bisa menjadikan bahasa dan budaya Jawa sebagai keunggulan spesifik untuk menuju posisi universitas kelas dunia (world class university).

Lebih jauh lagi, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Wiendu Nuryanti mengatakan, bahasa Jawa telah menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam sambutan mewakili Mendikbud Mohammad Nuh pada pembukaan Kongres Bahasa Jawa ke-5 (KBJ5, 2011). Beliau mengatakan bahwa “Bahasa itu menunjukkan kemampuan budaya suatu etnik tertentu dan bahasa Jawa banyak mengajarkan petuah yang memiliki kedalaman makna. Bahasa Jawa dikenal halus, santun, dan berkedalaman makna, karena banyak petuah dan ajaran yang akhirnya menjadi inspirasi dalam kehidupan keseharian dan kehidupan berbangsa/bernegara. Lebih jauh lagi, dalam sambutannya, beliau pun mencontohkan sejumlah petuah Jawa seperti Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa yang mengajarkan kepada kita, bagaimana berbeda tapi tetap satu, bagaimana menghargai perbedaan dan tenggang rasa, walau kita beragam. Ada pula petuah “Sugih Tanpa Bondho” yang mengajarkan kekayaaan material itu bukan segalanya, melainkan kekayaan spiritual itulah yang utama. Demikian pula petuah “Nglurug Tanpa Bondho, Menang Tanpa Ngasorake” yang mengajarkan kemenangan tanpa mempermalukan.

Petuah Jawa lainnya yang dikutip Wiendu adalah “Melu Handarbeni, Melu Hangruwebi” yang mengajarkan rasa ikut memiliki, ikut menjaga, dan ikut bertanggung jawab.Sayangnya, semua petuah itu mulai diabaikan seiring dengan kecenderungan peran bahasa daerah yang tenggelam akibat penggunaan bahasa nasional dan juga bahasa asing,” katanya.

Mulai dari saat ini dan ke depannya, semoga segala daya upaya untuk melestarikan bahasa Jawa dapat menelurkan strategi pengembangan bahasa dan budaya Jawa untuk ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Dahulu kala, nilai-nilai itu diajarkan sejak dini lewat cerita, tembang/lagu, dan sejenisnya, maka sekarang perlu dirancang strategi-strategi baru dengan menggunakan sarana teknologi digital dan TIK.

Melanjutkan usaha pelestarian budaya (dan bahasa) Jawa sebagai aset bangsa, belum lama ini telah “ditelurkan” e-wayang. E-wayang adalah sebuah portal yang diciptakan untuk melestarikan wayang yang memang sampai saat inipun masih menuai kontroversi, pro dan kontra disana-sini, terutama kekuatiran dari sebagian kalangan dalang tradisional, bahwa nilai perwayangan bisa luntur akibat proses digitalisasi wayang tradisional ke wayang digital, atau E-Wayang (http://www.e-wayang.org). Namun menurut saya peribadi, setelah meluangkan waktu untuk browsing dan mengeksplorasi konten portal tersebut, komik-komik wayang yang ada, mulai dari Semar, Petruk, Gareng, Bagong dan lainnya adalah sebuah inisiatif mahakarya dari anak negeri yang dibuat oleh tiga orang Sahabat, Mawan Sugiyanto, Rina Mardiayana dan Dhiny yang sungguh merupakan suatu pencapaian tersendiri dalam ranah Wayang untuk dapat lebih mengenalkan budaya asli bangsa sendiri kepada masyarakat luas lewat perantara teknologi digital.

Di era modern ini, wayang seperti terjebak dalam labirin waktu. Yakni, hanya dikenal namanya saja, tanpa ditelusuri keberadaannya. Untuk itu, dengan adanya E-Wayang, terlepas dari masalah kontroversi atau tidak, tentunya patut diacungi jempol. Sebab, sedikitnya telah mengenalkan budaya bangsa sendiri lewat internet yang banyak merambah ke masyarakat luas. Jangan sampai menunggu warisan budaya ini di-klaim dulu oleh bangsa lain dan pada akhirnya kita sendiri yang kebakaran jenggot.

Tidak ketinggalan juga acungan jempol juga patut diberikan untuk aplikasi-aplikasi versi mobile phone yg bertujuan untuk membantu lebih memahami bahasa Jawa (dalam level pemula) seperti Ngomong Jawa versi 1.1 yang dikembangkan oleh Plugie dan untuk sekarang baru tersedia untuk platform Android.

Memang, pada akhirnya, kelestarian dan kelangsungan “hidup” bahasa Jawa berada di tangan generasinya sendiri. Idealnya generasi senior dan junior “bersatu-padu” menghilangkan gap dalam komunikasi dan bersepakat untuk satu suara memelihara dan “nguri-nguri” bahasa Jawa secara bersama-sama. Dan juga, jangan bahasa nya saja yang dipelajari dan diperdalam pengetahuannya, namun juga unggah-ungguh, filosofi hidup dan makna budaya Jawa secara holistik.

Jangan tunggu punah dulu…penyesalan selalu datang di bagian akhir. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal yang baik. Karena itu, jangan pernah malu untuk dikatakan “kampungan” karena berbahasa Jawa (atau daerah), malah justru sebaliknya. Sebenarnya, hal tersebut adalah sesuatu yang mulia karena berbahasa Jawa itu mencerminkan bakti kita terhadap leluhur dan budaya kita.

Semoga bermanfaat 🙂

*Diramu dari berbagai sumber