“Kamu orang mana sih?”

 

2018-08-25-12-57-03-994 (1)

International context: “You don’t look like an Indonesian”, “Which part of Indonesia are you from?”

Local context: “Mbak, kamu orang mana sih?” “Asalmu mana sih? kok ndak ada aksen2nya (medok, maksudnya).

“Very specific-local context alias setengah julid”: “Lahirmu dimana sih? Pasti di X/Y/Z ya?” (implikasi setengah julid itu biasanya diikuti dengan unsolicited assumption dari yang nanya) 😛

***

Well, ini adalah ‘friendly curiosity’ yg sering saya dapatkan dari orang-orang yg baru mengenal saya; which is no problem and can be entertaining to me. This shows betapa “beragam”nya persepsi lensa mata terhadap wajah (dan warna kulit) saya. Being an Indonesian is such a blessing. Mau mixture atau “adonan” nya apa aja, yg namanya being an Indonesian itu is more than just packaging. Hati orang2 Indonesia itu sebenarnya sudah diciptakan Allah SWT utk lebih tulus “memeluk” segala keragaman sebagai “melting pot” dari terciptanya wisdom sila pertama sampai sila kelima Pancasila. Iya, lebih tulus. Harusnya bisa lebih tulus. Bahkan ketulusan ini sampai disematkan pada filosofi nama “tulus” sbg reminder “hidup” dalam keseharian (yang namanya mas Tulus angkat jempol hehe). Iya, semoga ketulusan orang2 Indonesia itu tidak hanya ada di jaman batu atau tidak semakin membatu akhir2 ini.

Kita, yang sama2 lahir dari kebajikan dan kebaikan darah dan gen para leluhur di tanah negeri ini, idealnya kembali lagi “menginjak tanah” utk kembali merangkul segala keragaman yg ada sebagai zamrud khatulistiwa yg menguatkan kita.

Mau Jawa, Sunda, Batak, Padang, Ambon, Papua, Dayak, Bugis, dll…..

Mau Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, kepercayaan thdp Tuhan lewat kearifan lokal budaya, dll….

Mau pejabat, ASN, mahasiswa, pegawai swasta, enterpreneur, selebritis, pedagang kaki lima, bisnisman, dll….

Mau lulusan perguruan tinggi di Indonesia ataupun lulusan luar negeri (belum ada lulusan luar angkasa)….

Mau vegetarian, setengah vegetarian, raw foodies, omnivor, dll….Mau runner, jogger, boxer, yogist, dll….

Mau pilih nomor satu, dua, tiga, tigabelas, empatbelas, duapuluh, dll (pas kampanye pilpres atau pilkada ceunah)….tolong jangan dilupakan bahwa tidak hanya Sumpah Pemuda yang menjadikan kita satu dari begitu banyak ragam, tapi dari setiap lembar sejarah yg menghantar lahirnya Indonesia, keragaman itu sudah seperti “KAKANG KAWAH ADI ARI-ARI”.

Jangan lupakan bahwa kita punya “ari-ari” yg bahkan sebelum lahir pun, ia sudah menjadi lambaran kekuatan dan penopang kita didalam rahim Ibunda tercinta. Kecuali bagi yg merasa sudah bisa lahir tanpa ari-ari dan kemudian dgn angkuhnya begitu saja melupakan sejarah, ya monggo dinikmati sampai sejauh mana keblingernya. Hambok ya’o mari kita sama2 saling gandeng tangan, jabat erat mesra dan senyum berjamaah dalam meng-Indonesiakan Indonesia. Inget, kita ndak bisa milih loh mau dilahirkan dari bangsa mana. Ndilalahnya Allah SWT gadhah dawuh kita lahir sebagai orang Indonesia itu Subhanallah berkah banget. Kalau untuk saya yg alhamdulillahnya sudah diberikan kesempatan oleh Sang Maha untuk merantau jauh lintas benua dan melihat betapa sekeren-kerennya, seganteng-gantengnya, secantik-cantiknya temen-temen dari bangsa lain, I do feel that bangsa Indonesia itu is the best melting pot ever! Mboten wonten ingkang se-kaya Indonesia (ini ndak melulu dari kacamata materi loh).

Dari sekelumit pengalaman ngrantau ini, saya hanya bisa senantiasa berdoa, supaya Allah SWT terus mengingatkan terhadap “ari-ari” saya, dimanapun saya berada. Kalau perlu, ya Rabb, sentillah saya sekeras2nya kalau saya sudah mulai terindikasi “lupa” pada “ari-ari” saya.

***

Balik lagi ke konteks kalau saya dapat pertanyaan:

“You don’t look like an Indonesian”—> kalau yg ini tinggal njawab balik “what makes you think I don’t look like an Indonesian?” (dan seterusnya bisa jadi topik promosi Indonesia hehe).
.
“Which part of Indonesia are you from?”—> kalau yg ini tinggal njawab balik “Javanese. If I show you the Indonesian map, would you know which island that is?” (dan seterusnya bisa jadi topik promosi budaya Jawa hehe).
.
“Mbak, kamu orang mana sih?” —> kalau yg ini saya kadang suka iseng njawab balik “orang mana hayoooo?” (dan selanjutnya bisa berlanjut tebak-tebak-an kota, kabupaten, bahkan propinsi hehe. Kecuali kalau yg nanya orang tua ya jangan diginiin ya, ndak sopan hehe).
.
“Asalmu mana sih? kok ndak ada aksen2nya? —> kalau yg ini ya saya njawabnya senada sama yg no 3 tapi untuk ngejelasin aksen, ya gampang-gampang susah karena saya itu modelnya klo ndak ‘kepancing’ sama temen-temen yang se-daerah yg ngajak ngobrol (atau minimal kalau orang denger saya ngomong sama suami, baru lah itu aksen Semarang-an ne metu seko kandhang), biasanya aksen asli saya cukup well-hidden (bukan di-hidden in loh ya) karena intensitas ngabdi negoro di Jakarte membuat tombol switch aksennya saya ya segera menyesuaikan dgn kondisi komunikasi di lingkungan Metropolitan.
.
“Lahirmu dimana sih? Pasti di X/Y/Z ya?” —> kalau yg ini ya saya njawabnya senada lagi dengan no 3 (again, kecuali yg nanya orang tua ya dijelaskan dgn sopan hehe).
.
Nah, kalau versi “TMI” nya itu begini:

Mama saya itu lahir dan besar di solo sedangkan Papa saya (alm) itu lahir dan besar di Pekalongan. Saya sendiri dilahirkan dan growing up sampai undergrad di Semarang sebelum merantau ke ibukota saat CPNS dan PNS. Saya kenal cinta pertama, patah hati pertama,  sampe saya ketemu jodoh dan menikahnya pun di semarang. Ktp nya pun Semarang walo sudah 13 tahun lebih ngabdi negoro di Ibukota. Nah, di ibukota ini, klo pas pulkam Semarang, selalu “dihantar” ujaran yg sepertinya lumrah: “cie, pulang ke Jawa yak?” (Sambil mbatin geli2 awkward gitu, memangnya Jakarta itu di luar Jawa yak?”). Kali lain, klo naik taksi di Jakarta, sering dikira org Betawi krn kebawa logat, baru pas denger logat Jawa kental, “sembuh” otomatis mbalik lagi ke logat asli nya hehe. Nah, di lain waktu, sering juga dikira ada campuran Chinese “question mark” (krn sipit, tapi kok kulit sawo mateng banget). Dulu di USA, sering dikira dari Thailand; di New Zealand sini sering dikira dari Malaysia. Menariknya, di NZ sini, aksen saya ndak ngikut “Ngiwi” sehingga mudah sekali mereka identify. Tapi ya itu, mereka selalu nanya pake asumsi berapa lama saya di USA gegara saya ndak bisa lepas dari American accent sampai sekarang. Terutama lagi kalau saya sudah kebawa ngomong “best-practice”. Nah, supervisor saya di NZ sini sampai ngasih “petuah”: “Wini, that is very Americanised. There’s no such thing as best practice. Best according to whom? Just say it as is: practice”. Mak duerr lah saya; wes kadung americanised bulak’e 😅
.
Ah, apapun itu, Indonesia itu bagian dari DNA saya, org tua saya, eyang2 sesepuh saya, leluhur saya dan pendahulu2 saya yg membuat saya ndak hanya lahir cenger tapi juga tumbuh dewasa. Sejauh2 saya merantau ke negara orang (dimana saya juga benar2 merasakan rasanya jadi minoritas tapi alhamdulillah tetap dihargai sebaik2nya manusia oleh yg mayoritas di negaranya), Insya Allah saya tetap ingin jasad ini dikebumikan di bumi Pertiwi nantinya jika sampun ditimbali Gusti Allah SWT, aamiin yra.
.
Setiap orang memiliki hak asasi utk memaknai identitas pribadi nya masing2. Hal ini sudah dipastikan sangat subyektif, relatif, dan perseptif. Hak asasi ini bukan soal2 ujian, jadi  ya menurut saya, tidak ada “salah-benar”-nya. Sepanjang tidak ada niat utk undermine orang lain atau mendiskreditkan yg lainnya, perbedaan dalam pemaknaan diri itu sah2 saja. Yg pasti, ke-Indonesia-an seseorang itu beyond yg tersurat secara administratif pada dokumen2 identitas walaupun itu memang jadi salah satu indikator kasat-mata nya. Buat temen2 sesama perantau di negara orang seperti saya mgkn ndak asing dgn term “Indonesianis”. Ini merefer pada orang asing yg cintaaaaa banget dengan Indonesia, ya budayanya, ya negaranya, ya semuanya, walau secara administratif, ia bukan WNI. Kadang2 para Indonesianis ini terasa lebih Indonesia dari saya sendiri yg orang Indonesia lho sampai kagum saya melihatnya 😁🤗✌
#WhatItMeansToBeAnIndonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s