Archive for June, 2015

soultraveler

Kenyamanan yang paling terasa yang justru saya dapatkan saat keluar dari zona nyaman saya adalah kenikmatan untuk menikmati ketidaktahuan dan bereksplorasi untuk memenuhi rasa ketidaktahuan itu seperti seorang anak kecil yang berlari mengejar indahnya kupu-kupu.

Karena anak ayam pun harus “memecahkan” kenyamanan cangkang telurnya untuk tumbuh. Dan bayi pun harus “memecahkan” kenyamanan ketuban untuk berkembang. Saat dulu remaja, pernyataan iconic yang mendera adalah proses pencarian jati diri. Setelah dewasa, proses itu pun sebaiknya “tumbuh dan berkembang” pula menjadi sebuah proses pencarian (kese)-jati-(an) diri.

Untuk itu, bagi teman-teman sekalian yang melalui proses tersebut dengan harus sementara waktu berpisah dan meninggalkan keluarga tercinta; saya ingin menyampaikan bahwa justru itu adalah bentuk cinta yang sedang berproses menuju kese-jati-an nya. Mengapa? Karena tak setiap orang “berani” menempuh jalan tersebut. “Keberanian” ini lah yang insya Allah akan mendapatkan segala kebaikan yang penuh dengan pemaknaan kehidupan yang benar-benar dari hati. Dan yakinlah, saat teman-teman jauh dari keluarga untuk berjuang, berikhtiar, dan berdaya upaya, bukan berarti tidak memprioritaskan, tidak mengutamakan keluarga, atau tidak sayang keluarga. BUKAN. Justru inilah salah satu bentuk selfless love and commitment yang insya Allah nanti juga akan diberikan Gusti Allah SWT waktu terindahnya untuk “berlabuh” pada kesejatiannya. Karena semuanya hanyalah sementara. Karena tidak ada yang abadi. Karena hidup tanpa “keberanian” sama halnya berlayar tanpa angin, panas, hujan, badai, ganas ombak, dan…pelangi.

Saya percaya, teman-teman yang sedang merantau jauh dari keluarga adalah pribadi-pribadi yang memiliki ketahanan, kekuatan, kesabaran di atas rata-rata. Dan saya percaya, teman-teman yang sedang merantau jauh dari keluarga insya Allah diberikan keteguhan untuk melindungi dan menghangatkan keluarganya dari jauh seolah serasa tanpa jarak dan waktu.

Kelak, segala ikhtiar teman-teman semua yang sedang dirantau akan menjadi rekam jejak yang indah tidak hanya bagi anak cucu dan keluarga namun juga sesama. Selamat berjuang meraih asa dan impian. Percayalah, suatu saat, pelangi itu akan membiaskan sendiri jalan cahayanya untuk teman-teman untai dalam doa dan rasa syukur yang tak berkesudahan.

Hidup hanya sekali, carilah arti yang hakiki sampai ke ujung bumi untuk menjaga dan memaknai hati setiap hari dengan pelangi.

Titip salam saya untuk keluarga tercinta dari teman-teman semua yang sedang merantau jauh. Semoga doa dan kiriman semangat, kasih dan sayang dari keluarga tercinta akan senantiasa menghangatkan periuk keteguhan, kesabaran, dan kekuatan teman-teman sampai pada waktu terindahnya nanti yang bahkan jarak-pun tak mampu membagi. Carpe Diem!

(Wellington, June 25, 2015)

Merantaulah…

Posted: June 25, 2015 in Uncategorized
Tags: , , , ,

rantau  rantau2

Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).

Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).

Reference: Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cetakan Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39.

Subhanallah…

graduation1

 

This is exactly I am quoting AE: “I have no special talents. I am only passionately curious” (Albert Einstein).

It is merely because I am nobody without them all. I am nobody without every single remarkable person that has crossed path with me starting from my childhood until now. I am nobody without my family: my mother, my late grandmother, my late father and everyone whom I have considered as my own parents and family. I am nobody without the existence of great teachers, lecturers, advisers, my best friends, friends, colleagues, and everyone who have taught me about the world, about life, about everything money can’t buy: priceless life lessons. Most of all, I am nobody without the never-ending blessings from Allah SWT.

Throwing back my undergrad (above, 2004; Unika Soegijapranata Semarang), my graduate (master, below,2009; Ohio University, USA), and now Bismillah I am walking my journey through post grad (PhD, hopefully insya Allah until 2019; Victoria University of Wellington, New Zealand). All of these accomplishments are mostly dedicated to my dearest mother, my late grandmother, and my late father.

Karena kawruh ilmu itu salah satu bentuk ngibadah, dan amalan dalam kawruh inilah mungkin yg “boleh” dibawa mati dan “boleh” terus “murup” setelah meninggalkan dunia fana ini, insya Allah. Saya masih merasa bukan siapa2 dan tak punya apa-apa, namun sepanjang Allah SWT masih memberikan saya umur dan kesehatan, maka akan saya ikhtiarkan perjalanan ini sesuai dgn kemampuan, keterbatasan dan kekurangan saya.

Segala ikhtiar dan kawruh ini saya bawa dengan segenap penghargaan yg sedalam2nya untuk mama saya atas cita2, kasih sayang, dan kesabaran beliau sbg single parent; utk almh eyang putri saya atas kenangan akan memoar penuh dedikasi dan perjuangan beliau sbg single parent & single grandparent; utk adik saya semata wayang yang sudah memberikan saya hadiah terindah utk merasakan menjadi seorang kakak; dan utk alm papa saya atas segala pelajaran hidup yg telah membantu menempa saya seperti sekarang ini.

Last but not least, perjalanan menuju kawruh ilmu yg selanjutnya ini, saya dedikasikan juga utk suami saya tersayang yang sudah berjiwa besar ikhlas dan ridho memberikan ijin, doa, dan semangatnya utk saya agar saya tetap dapat terus belajar mengepakkan sayap meraih cita, harapan, dan asa bersama sampai akhir tiba di batas akhir perjalanan.

So yes, I am blessed, thankful, and grateful. I am not just studying, I am honoring those who have sincerely given me so much love and affection until the second I am writing this. Mugi2 Gusti Allah SWT mberkahi lan diparingi dalan ingkang sae kagem sharing manfaatipun tumprap sesami, aamiin yra.

 

Wellington, June 18, 2015

soul2

Mungkin ini hanya perasaan saya saja, but somehow, when I have found people with the same “wave”, all of a sudden, the boundary of age dissapears; poof. It doesn’t mean to disrespect. It’s just…when my wave is connected to others with similar one, all I can feel is transcendental bliss. However, it doesn’t happen often. Most definitely it is by surprise. Through the way they write, say, think, express their thoughts through words, phrases, sentences, ideas, and even context! This is not judging; this is the way I “read” and understand people.

So far, it has been verified 95% (through my life experiences) that meeting these similarly-waved people has been a rare-but-full-of blessing-in-disguise opportunity where I don’t usually meet them often, in person (usually ocean apart) but when we have a chance to converse our thoughts, that kind of “conversation” lasts forever. I call them my fellow soul travelers. Such a blessing! Alhamdulillah.

To you…yes, you. You know who you are and I think our souls traveled centuries ago and will be “traveling” again together in the other dimension in another realm, insya Allah. You have been giving me good influence and teaching me to never stop learning to be a better person. So until then, stay passionate! 

Happy Father’s Day, Papa…

Posted: June 25, 2015 in Uncategorized
Tags: , ,

fathersday

 

Every birthday of mine is actually father’s day and mother’s day combined. However, today, let me hold your hands through my prayers; heaven sent. For everything that had happened, you will always be my father and I will always be your little girl forever. Happy father’s day, papa…Hopefully one day, we can dance again in Jannah *Alfatihah

 

meandhim

 

We have been given a “privilege” to experience long distance relationship again (from dating until we are married now). This kind of privilege is not for every couple but we continue to be grateful for it as we have learnt so much in a way that we are strengthened by it. The ups and downs are there and we continue to learn from each other by being who we truly are. Three years and counting and all we can say is Alhamdulillah, Insya Allah, and Bismillah for every hope and dream we have in building our love & life together.

Along the way, we have developed a sense of understanding that might be different from other couples but that’s just fine, because every couple has different path and journey as well as the preferences to go along with them. Differences are good in a way that they give us perspective to understand everything deeper. In the midst of struggles, we believe that every struggle we have, comes with countless blessings in disguise and that we always try our best to perceive it positively. Yes, we have also learnt that distance is not the issue. It is all about mantaining communication as it is an important foundation to explore and find meaning to and of each other. Semoga ikhtiar, mimpi, cita-cita, harapan, dan niat baik kami berdua diberikan jalan yg terbaik oleh Allah SWT.

One thing we have learnt is that there’s no such thing as trivial topic in our way of communicating. Every topic, word, sentence and phrase, as simple as it may be, is woven into something priceless in our hearts. This is how we are learning from each other. Karena pada dasarnya, semuanya kembali ke asal muasal, mengapa kami berdua bisa bertemu, suka, jatuh cinta, menikah, mencintai, menyayangi dan menjaga sampai detik ini.

Never in our lives had we thought to be husband & wife (We were elementary school friends and that was how and when we met for the first time). Dari situ kami belajar utk memahami bahwa jika Allah SWT sudah Berkehendak maka tak ada satu pun hal yang mustahil terjadi. Dan, kami pun hanya mampu utk terus belajar bercita-cita, berencana, berusaha, dan menjalani dgn sebaik-baiknya sembari senantiasa memasrahkan segalanya dalam Tangan dan KuasaNya semata. Jika mengingat itu semua, hanya rasa syukur yg menggema, yg insya Allah selalu dapat menjadi reminder kami dalam menghadapi setiap badai yg ada. Karena bagi kami, menikah adalah sebuah keindahan perjalanan yg tidak hanya sebatas fisik namun juga batin, yang ingin kami bawa sampai setelah kami menyelesaikan kehidupan kami di dunia ini menuju Jannah, insya Allah.

I am grateful to have someone like my husband to grow old with. Beliau benar2 memberikan saya ruang seluas-luasnya utk belajar menjadi seorang istri yg juga diberikan kesempatan agar tetap dapat senantiasa mengepakkan “sayapnya” utk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, alhamdulillah. Finally, it has been such a wonderful journey in our marriage with us being perfect in our own imperfection. Saling menyempurnakan; saling membahagiakan. ‪#‎BahagiaItuSederhana ‪#‎marriage ‪#‎communication ‪#‎love ‪#‎kawruhjiwa #reflection

 

Wini,

June 6, 2015

Wellington, New Zealand