Archive for May, 2012

I wrote this short story quite a while back when I was early undergrad. This short story was written in regards to writing workshop that I followed in 2002 (creative writing workshop). The names, places, or events used in this short story used for fictional purposes only. None is intended personally, and if there are any similarities at certain degrees, that would be a coinsidence. Furthermore, my intention for writing this short story was for an exercise for mind-entertainment only. Hope it entertains your mind!

Have fun reading it!
Any comments, critiques, and inputs are greatly welcomed and appreciated!

=========================================================================

T.E.R.N.Y.A.T.A

Kalau tak salah, kami pernah bertemu sebelumnya. Coba kuingat dulu, hmm ya benar, aku dan dia pernah bertatap muka dan terlibat dalam percakapan sejenak di Joe’s Fish Shack,sebuah restoran seafood yang cozy di kota Fremantle Perth Australia. Saat itu dua tahun silam, aku mempunyai kesempatan seminggu untuk refreshing. Setidaknya aku bisa melepaskan kepenatanku sejenak sebagai seorang penyiar radio dan sekaligus menyembuhkan hatiku yang sedang terluka karena kehilangan seorang pujaan hati.

Pekerjaan ini sudah kujalani sekitar tiga setengah tahun lamanya dan sulit bagiku untuk beralih ke profesi lain karena sudah seperti urat nadiku saja.Selama seminggu liburanku di Negeri Kangguru lalu, ada banyak kejadian yang kualami. Setiap kejadian yang kujumpai menjadi sebuah misteri tersendiri. Seperti sebuah kejadian yang mempertemukanku dengan dia malam itu. Wajahnya tak akan pernah kulupa. Ya, memang dialah orangnya. Seseorang yang sama yang pernah karena keadaan, semeja denganku. Saat itu Joe’s sedang ramai-ramainya. Sewaktu aku datang pun, tinggal tersisa satu meja. Terlebih lagi malam itu sedang turun hujan yang lumayan derasnya. Udara pun cukup dingin, mungkin sekitar 8 derajat celcius. Dan dia datang. Dengan coat tebalnya yang nyaris basah kuyup semua, dan ya ampun! aku benar-benar masih mengingatnya karena riasan wajahnya waktu itu. Benar-benar berantakan. Maskaranya meluber sampai ke bawah matanya, lipstiknya hampir memudar warnanya dan salah satu bagian matanya terlihat agak janggal. Rupanya bulu mata palsu yang dipakai pada salah satu matanya lepas.

Salah seorang waiter menghampirinya, dan dari isyarat tangannya aku tahu bahwa meja favoritnya telah terpakai. Kulihat rona bingung dan kecewa di wajahnya. Walaupun agak jauh, aku tetap bisa melihatnya dengan jelas. Sejenak aku membayangkan bila aku ada di posisinya, betapa kacau dan bingungnya diriku, belum lagi ditambah dengan beberapa pasang mata yang tak henti-hentinya melihat dengan penuh selidik. Risih sekali rasanya bila aku menjadi dia. Atas pertimbangan itulah maka kulambaikan tanganku pada waiter tadi dan segera mengisyaratkan kalau aku tak keberatan berbagi meja dengannya. Kulihat ia agak sedikit terkejut tapi kemudian kudapati binar lega pada wajahnya dan hei, dia tersenyum walaupun sedikit. Kuanggukkan kepalaku dan inilah aku, berhadap-hadapan dengan seorang wanita yang kurasa sedang mengalami bad luck, bad day, atau apapun yang pastinya buruk. Sedikit terkejut kusadari bahwa ternyata wanita didepanku ini serumpun, maksudku aku dan dia sama-sama orang Indonesia. Bedanya hanya dia berambut pirang kecoklatan (mungkin berasal dari cat rambut) sdangkan aku berambut hitam legam. Tapi yang pasti aku dapat langsung mengenali kalau dia sama denganku, walaupun rambut aslinya disamarkan dengan warna cat rambut. Sebelum keadaan terasa semakin canggung, kuawali saja percakapan ini. “Excuse me, do you live around here?” ucapku perlahan. “Mmh, Yes, I do” “I mean, I stay in Port Lodge near here, you know it’s a kind of boarding house for International students who study in Notredam University” ucapnya hati-hati.Hmm rupanya dia terlihat agak gugup, mungkin aku dikiranya mencurigakan. Kemudian keberikan dia senyum termanisku sambil mulai melanjutkan percakapan. “I’m sorry, I haven’t introduced myself. My name is Scaesaria Ayu, S-C-A-E-S-A-R-I-A, but you can call me Ayu”, kataku sambil mengeja bagian depan namaku yang agak susah bila hanya didengar sekali. Kulihat dia diam, wah apa dia tak mau memberikan identitasnya padaku. Tiba-tiba dia tersenyum lebar sambil menyambut uluran tanganku. “Ha…ha…kamu orang Indonesia juga toh, aku sudah menduganya dari tadi, lagian namamu juga sudah mencerminkan”. Ini dia! Tiba-tiba saja dia mulai menghilangkan rasa sungkannya dengan ber-aku-kamu padaku dan terus bercerita tentang dirinya yang kebanyakan dalam bahasa Indonesia. “Finally, this is my good luck, kamu tahu? Rasanya aku senang sekali bisa bertemu dengan sesamaku, sudah rindu rasanya bisa bercakap-cakap dalam bahasa sendiri” “Eh, maaf, namaku Djenar Pramesti, tapi teman-temanku disini lebih suka memanggilku Djen, ha..ha..mungkin dikiranya mirip dengan ejaan seperti pada nama Jenny” tuturnya bersemangat sembari sekali-kali tertawa kecil. “Bolehkan kalau aku memanggilmu Djenar saja?” kataku lembut. “Oh boleh saja, aku merasa lebih senang dengan panggilan itu”, katanya setengah merajuk. “Oh iya, kamu ngapain disini? Tinggal disini juga? Ucapnya akrab seolah aku sudah seperti sahabat lamanya saja.

Kurasa wanita ini sudah melupakan bad luck dan bad day nya, dan kujawab saja pertanyaanku dengan enteng bahwa aku disini hanya liburan selama seminggu dan kemudian kulanjutkan dengan menceritakan pekerjaanku dan keseharianku di Indonesia. “Wah, menarik sekali! Jadi kamu penyiar ya? Menyenangkan sekali!” katanya bersemangat. “Kalau kamu? Ceritakan tentang dirimu.” “Kalau aku disini sih sedang menyelesaikan S2 ku di Notredam University, aku sedang mengambil program Graduate School of Humanities, tepatnya jurusan Language and Culture” ada nada bangga saat ia mengucapkannya. “Lho, bukannya ini sedang winter, pastinya khan season ini adalah holiday, kok kamu nggak pulang?” kataku penasaran. “Nah itu dia, aku memang lagi males pulang soalnya pasti selalu dikejar-kejar untuk cepat-cepat married. Aku khan masih ingin sendiri dan berkarir, lagian disini juga tidak begitu buruk, aku juga masih bisa fun kok!” kelihatan sekali kalau ia sedang membela dirinya sendiri. Rupanya dia sedang berusaha meyakinkanku bahwa dirinya sedang tidak bermasalah.

Diam-diam kupandangi bola matanya dan kucoba cari tahu sebenarnya apa yang terjadi. “Benarkah begitu?” “Ah, kamu, Don’t look at me like that, iya deh, aku baru nggak mood aja kok. “I got a terrible boyfriend yang benar-benar menyiksa hidupku. In the end, aku putuskan saja untuk menyudahi hubungan ini, eh dianya malah balik mengancamku dan menggangguku, I think if it goes worse, I’m going to call the police” suaranya sedikit bergetar karena menahan emosi. Kusodorkan secangkir cappuccino dan satu porsi Fish ‘n Chips yang memang menjadi menu andalan di tiap-tiap restoran di Fremantle yg dikenal sebagai harbour city itu. “Thanks” ucapnya pendek. Aku lihat dia makan dengan lahapnya sampai-sampai lupa aku berada didepannya.”Uhm, sorry, aku lapar sekali, aku belum sempat makan apa-apa dari siang tadi” bola matanya naik turun sedinamis mulutnya yang sedang mengunyah makanan. Tiba-tiba saja dia memegang jemariku,”The bill is going to be mine, percayalah, kalau kamu menolak maka lupakan saja pertemuan ini” katanya sedikit memaksa. “Oke, oke, silahkan, with pleasure” pikirku, terserah saja dia kalau mau membayarnya, pun pengeluaranku jadi agak lebih hemat. Sepanjang malam itu kami berbicara panjang lebar sambil sesekali tertawa terbahak-bahak. Tak lupa kukatakan betapa kacaunya penampilannya sebelum kami berpisah. Dia berkata tak akan pernah melupakanku dan tanpa sadar saat itu aku membalasnya dengan berkata bahwa kami akan bertemu lagi, entah kapan, tapi akan bertemu lagi.

*
Sesaat, aku tak percaya bahwa yang kulihat ini benar. Detik ini, dengan jarak yang hanya beberapa meter saja, aku dapat mereka-reka wajah itu. Kujaga agar dia tak dapat melihatku, sebab bila itu terjadi, akan kacaulah semuanya. Ia sedang tersenyum dan bercakap-cakap dengan seseorang, akrab sekali seperti sepasang kekasih. Kelihatannya sih itu memang kekasihnya atau pujaan hatinya. Kuperhatikan sesekali tangan kekasihnya itu mengusap dan menggenggam jemarinya. Kulihat sinar bahagia terpancar dari raut wajahnya. Ada raut aneh terpancar dari wajah waiter yang mengantarkan menu pesanan ke meja mereka. Kalau saja aku punya cukup keberanian untuk menerangkan yang sebenarnya pada waiter itu, pasti ia tidak akan bingung lagi. Kujamin itu, tapi biarlah lagipula bukan itu yang menjadi fokus perhatianku. Setelah waiter itu pergi, kulihat kekasihnya itu mengambil sesuatu dari saku bajunya yang necis dan kemudian memberikannya padanya dengan penuh sayang. Sebuah cincin! Cincin yang benar-benar sangat bersinar! Sebagai sentuhan akhir, ia memberikan kecupan yang terlihat sangat romantis pada keningnya. Hmm, rupanya ia sudah bisa menerima komitmen, pikirku. Dulu aku ingat ia pernah berkata masih ingin sendiri dulu. Mungkin dengan berlalunya waktu, pendirian seorang wanita seperti dia bisa berubah. Wanita yang sekarang ini berada di depanku benar-benar sangat mempesona, seperti seorang putri yang bersahaja. Sangat kontras dengan penampilannya dulu ketika pertama kali kami bertemu di Joe’s. Kemungkinan besar sekarang dia sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan plus gaji yang tinggi. Dengan predikatnya yang lulusan S2 luar negeri, rasa-rasanya semua impian wanita untuk berkarir ada dalam genggaman tanganya. Belum lagi wajah yang rupawan, tubuh yang tinggi semampai, dan selera penampilan yang lux membuat aku tak bisa beropini lebih lanjut tentang dirinya. Anehnya, kok aku sepertinya mengenal kekasihnya itu, tapi apa tidak salah? Aku belum berani memastikannya dengan jelas sebab posisinya agak membelakangiku.

Kupesan secangkir cappuccino lagi sekedar untuk berpantas-pantas ria berada di restoran ini. Setidaknya aku jadi punya alasan untuk bisa duduk lebih lama. Satu jam berlalu dengan cepat dan kelihatanya sepasang manusia itu segera kan mengakhiri persinggahannya. Sebenarnya sih, aku ingin cepat-cepat menghampiri wanita itu, hanya untuk memastikan seratus persen bahwa dia adalah Djenar yang pernah kukenal dulu sekaligus menyambung lagi tali komunikasi kami yang sempat terputus. Siapa tahu aku bisa mewawancarainya di program acara radio tentang jejak langkah seorang wanita sukses, mungkin akan berguna utk pendengarku. Baiklah, aku tak ingin kehilangan dia lagi, kapan lagi bisa bertemu dengannya? Indonesia kan cukup luas kalau hanya dihabiskan utk mencarinya saja.

Kuputuskan saja utk segera mendekatinya sementara dia dan pujaan hatinya itu hampir sampai ke pintu keluar. Selagi aku menghampirinya, kusiapkan kata-kata dan kalimatkalimat pembuka percakapanku dengannya. Oops, tinggal beberapa senti lagi jarakku dengannya. Dengan sesegera mungkin kujulurkan tanganku utk mencolek bahunya dan bersiap-siap mendaratkan ciuman di pipinya. Dalam beberapa saat saja setelah kedua sejoli itu menoleh padaku, senyumku mendadak memudar. Sebagai gantinya aku tertegun tak percaya dengan apa yang kulihat. Wanita itu sih tak salah lagi memang benar-benar adalah Djenar yang kukenal dulu sedangkan wajah kekasihnya itu begitu familiar bagiku. Dia pernah ada dalam hidupku dan mengisi hari-hariku. Dia membuatku tak pernah bisa berpaling pada laki-laki lain untuk selamanya. Dia adalah Jane, seorang kekasih hati bagi diriku dan rupanya bagi Djenar juga. Ternyata aku dan Djenar sama-sama berasal dari satu dunia. Dunia dimana hanya ada satu cinta dari dan untuk satu wanita yang bisa berperan ganda baik sebagai sumber maskulinitas dan feminitas sekaligus. Sebuah dunia dengan sisi kehidupan yang membedakan aku, Djenar dan juga Jane dengan dunia lain. Dimata orang lain, dengan penampilan seperti itu, mungkin Jane hanya dianggap seorang wanita abnormal yang kebetulan gagah, cantik sekaligus tampan, tipikal seorang lesbian. Tapi bagi kami, bagiku dan Djenar, dia adalah seorang pujaan hati yang benar-benar normal dan sempurna. Yang aku tahu pasti bahwa setelah ini, berat rasanya jika aku harus bersaing dengan Djenar untuk mendapatkan cinta Jane kembali apalagi mengharapkan sebuah cincin dan kecupan hangat darinya!

=========================================================================
Copyright by Pratiwi Wini Artati @2002

Advertisements

A Lesson from A Poetic Excerpt by Ibn. Arabi.

THE CAPABLE HEART

My heart has become capable of every form:

it is a pasture for gazelles and a convent for Christian monks,

And a temple for idols,

and the pilgrim’s Ka’ba,

and the tables of the Tora and the book of the Koran.

I follow the religion of Love,

whichever way his camels take.

My religion and my faith is the true religion.

(Ibn. Arabi).

=====================================================================

It’s such a beautiful poetry from Ibn. Arabi that somehow has shown me the beautiful unity of all religions and that different prophets all came with the same essential truth: The religion of Love.

This reminds me of how true open-mindedness can only be gained by the willingness to understand without even expecting to be understood: unconditional understanding that is. Really, sometimes, inadvertently (or advertently) we try to understand so that others will understand us in return. Well, nothing is wrong with that, it’s human. It’s just we need to also learn beyond that. Wider and deeper understanding requires complete willingness to understand, that is, a process of a lifetime.

Pluralism, unity in diversity have always been the topic of civilization, it’ll always be there as long as civilization exists. Encountering this issue, I have to be blessed and grateful because I had been given chances to be exposed to this issue earlier at younger age and goes on to my adulthood where I had the experience to be outside of my comfort zone, outside of my own country and had sort of ‘naturalized’ experiences related to pluralism: different set of custom, culture, language, views and religion. By ‘naturalized’ means that my open-mindedness has been growing through a different kind of process where I had to undergo confronting my own ego & selfishness as an effort to ‘penetrate’ into levels of my own willingness of understanding. Outside of my own comfort zone, several ‘isms’ I had learned and still love to learn (for what’s worth and for what’s good). Among those are utilitarianism, totemism, theism, spiritualism, socialism, skepticism, romanticism, racism, pragmatism, polytheism, pluralism, phenomenalism, objectivism, monotheism, liberalism, humanism, experientialism, egalitarianism, dualism, cosmotheism, constructivism, conservatism, capitalism, atheism, animism, aestheticism, academicism. Part of it also learning about more religion than just 5 recognized by my own country and that also includes so many denominations and branches of new religion and what so-called outside-mainstream’s beliefs. Those are things I’ve learnt that I couldn’t even possibly learn & experience openly here in my own nest.

One thing I know for sure, being open minded doesn’t always mean that you agree on everything you learn. It means that you can accept that nothing is perfect and that you are willing to embrace the imperfection as it is, as part of the mystery of absolute truth that can never be revealed by anything human:”What we cannot know through human reason, we cannot know” (Kantian view). Sometimes I think that with everything I know it can have the possibility to shake me but it can also have the positive ability to strengthen me, it depends on the way my assumption and logic go along the way, harmoniously, with my feeling and perception. It wasn’t an easy way to confront things that are (in my own feeling and opinion) way too controversial and against mainstream. Yet, it wasn’t difficult as well, if you have been able to go beyond your own centered-ness/ego/selfishness, in other words: to unconditional understanding (as in unconditional love). Yes, it’s still a process of a lifetime for me: I cannot easily accomplish and sometimes have to push through beyond my own strength of logic and feeling but timing and process makes it indescribably amazing journey for the way I understand life, love, and all their related principals. Yes, for me, I still feel the thirst to learn some more because what I’ve known is still the least of it.

Last but not least, I have learnt that doubt is actually the ultimate test to everything I know, everything I believe, everything I comprehend. It brings you to deeper and wider wisdom as long as you take your heart with it. Don’t be afraid to have doubt to what your mind believes in but never doubt what your heart believes. It’s not about whether it was wrong and it’s now right or vice versa. It’s about whether it suits your mind and heart as a whole because the difference border between what’s right and what’s wrong extends far beyond everything written in any moral book or any scripture. Who gets to decide which/who’s the best or the worse? Who gets to decide which/who’s wrong and right? Who gets to decide which/who’s going to heaven or hell? The decision for sure, doesn’t belong to us, human. We all want to achieve the same thing: happiness and peace. If one wants otherwise then we are still obliged to love. If one hates us and wants to destroy us so badly, I believe, in all religion, God never wants us to have revenge. Instead, He wants us to love and to have love in any circumstances because when it comes to karma or harvesting deeds, He wants it to be His decision, His area, His power, His rule. Good Heavens!

Below is deeper review and analysis taken from Reverend Jennifer Brooks’ sermon in Nantucket from the denomination of Unitarian Universalist, who is also in the same rhythm of understanding with Ibn. Arabi. With her sermon, she tries to express what she comprehends and feels about Ibn. Arabi’s masterpiece: The Capable Heart. May the wisdom of this piece reaches out to those whose hearts are willing to open.

(Wini, Jakarta, December 20, 2010)

=====================================================

Nantucket, July 13, 2008

“My heart has become capable of every form.” —Ibn Arabi

Ibn Arabi was a Sunni Muslim born in 1165, just a few years after England’s King Richard the Lion Heart. He lived the first half of his life in Spain. When he was 35 he went on pilgrimage to Mecca and stayed for a few years. Most of the second half of his life he lived in “Anatolia,” a multi‐cultural, multi‐ethnic region that today is Turkey. His last years were in Damascus, then an independent city in the area that now is part of Syria. He was a poet and philosopher; a Sufi mystic and a careful, logical thinker. He wrote thousands of pages of closely reasoned analysis of the nature of the cosmos, asking and answering questions about the nature of reality and the existence of God. When he wrote the few lines of poetry beginning with “My heart has become capable of every form,” he had already achieved greatness as a thinker and teacher. During his lifetime—a lifetime marked by six crusades—he was so well‐regarded in the West that he was called “Doctor Maximus.”

Today he is considered the pre‐eminent Muslim philosopher of all time, and his works continue to have relevance for post‐modern thinkers. “My heart…is a pasture for gazelles.” This line is a tribute to naturalism, a world‐view that finds connection and meaning in the natural world. It’s a view familiar to many people today, especially in American Unitarian Universalism, because our 19th century forebears were the transcendentalists—Ralph Waldo Emerson, Henry David Thoreau. These American Unitarian thinkers were naturalists and they laid the groundwork for the spirituality that today we call naturalism.

“My heart [is]…a cloister for Christian monks.” This line expresses acceptance of Christian traditions—not surprising, really. The Islamic tradition accepts and incorporates many aspects of Christianity and Judaism. There are Sufi Muslim poems and prayers to Jesus and to Mary his mother. Islam, Christianity, and Judaism all trace their origins to Abraham, father of Isaac and Ishmael. They are the three great “Abrahamic” religions, the three traditions that assert belief in “one God” rather than many. All the same: the heart as “cloister” for monks of a non‐Islamic religion? This line is, perhaps, a bit edgy.

But Ibn Arabi’s poem goes from edgy to challenging in the next line: “My heart is … a temple for idols and a Ka’aba of the pilgrims.” These two ideas side‐by‐side are an amazing statement for a devout Muslim. Ka’aba means “cube” in Arabic. The word refers to a black granite cube, 15 meters high, at the center of Mecca. In pre‐Islamic times, the Ka’aba was the center of a 20‐mile zone of non‐violence, allowing tribes in Mecca and the surrounding areas to trade peacefully.

Muhammad lived from 570‐632 CE. His tribe was keeper of the Ka’aba, which had become the center of a sacred area and was surrounded by 360 idols to Arabian tribal gods. Central to Muhammad’s religious philosophy was that there is no God but Allah—the “one God.” When Muhammad said that the Ka’aba should be a shrine only for the “one God” alone, his views irritated the other tribes and as a consequence the leaders of Muhammad’s tribe became angry with him. In 622 he escaped to Medina; he returned 8 years later and conquered Mecca. When he had established control, Muhammad destroyed the 360 tribal idols surrounding the Ka’aba.

It’s almost anti‐climatic when Arabi goes on, in the next lines, to call his heart “the tablets of the Torah, and the book of the Koran.” In the space of a few lines he tells the Muslim world that his heart is a temple for idols, the holiest structure of Islam, the central sacred writings of Judaism, and the words of Muhammad, Islam’s sacred book the Koran.

It’s easy to understand that in his time Ibn Arabi was somewhat…controversial. Why would this philosopher, who toiled over thousands of pages of closely reasoned analysis, encapsulate in just a few lines the idea of multivalence? Of pluralism, multiculturalism? Of religious tolerance? What was he saying? And—why does it matter to us?

In Ibn Arabi’s philosophy, God is infinite and everything else is limited. He said, “The movement which is the existence of the universe is the movement of love.” The debate of the time, a debate that continues today, was whether a human being could possibly understand the nature of reality, the nature of the cosmos.

Does God exist? If so, what is God? Is God co‐extensive with the universe, or outside the universe, shaping it? Can limited human beings grasp what God is, what God requires? Ibn Arabi did believe in the possibility of actual knowledge of the existence as a whole, not by use reason and logic, but by the heart. This idea allowed him to escape the problem of pluralism, the problem of wide acceptance and tolerance of all perspectives and beliefs. The era of “modernism,” in which all of us were immersed at birth, taught us that reason is foundational. For the past 500 years modern thinkers have used reason to examine religious beliefs and cultural practices.

In the Unitarian Universalist tradition, our religious forebears brought reason to the interpretation of scripture. Our denomination’s acceptance of diversity in theology is in part a response to the differences that result when people reason from different perspectives. It’s like the old story about people wearing blindfolds who touch different parts of an elephant. The one who touches the tail says, “The object before me is a rope.” The one who touches the trunk says, “The object before me is a snake.” The one who touches the leg says, “The object before me is a tree.” No one can see the whole elephant and recognize it as an elephant. Each has a limited perspective.

Pluralism accepts that a human’s limited perspective, combined with differences in culture and experience, cause people to understand the universe differently. Reason, however exact, cannot enable the blindfolded observer to deduce the elephant by touching its tail. Post‐modernism is the era we live in now, the era of reaction to modernism. In postmodernism, acceptance of pluralism results from an understanding that differences in belief and outlook are inevitable, and that reason isn’t enough to identify the whole truth about existence. Post‐modernists say that it’s not possible to know the “ultimate ground of existence”- just as it is not possible for the blindfolded observers to know the whole elephant.

For Ibn Arabi, pluralism and the acceptance of all beliefs as valid does not arise from the idea that we lack an “ultimate ground”; Arabi’s idea is that the nature of reality itself creates a multitude of perspectives, and yet we can know the ultimate ground. This is a paradox. If the nature of reality creates multiple perspectives, how can we know the ultimate truth about reality?

One of the great rational thinkers of the modern age was Kant, who thought that through reason it would be possible to arrive at all the fundamental principles of religion. Ibn Ara would agree with Kant about the power of reason to give us information about the universe. But Kant also believed that “what we cannot know through human reason, we cannot know,” and here Ibn Arabi would disagree. He thought there was another way of knowing—the way of the heart—in Sufi Muslim terms, the way of love.

In my own thinking about pluralism, I’ve been frustrated by the fact that acceptance of differences appears to have no limits. Reason does not give us a way to set limits for pluralism, to identify what beliefs we should not tolerate, because reason cannot reach the ultimate ground”; but post‐modernism does not offer guidance either. Post‐modernism simply says we have to accept every point of view. But Ibn Arabi, writing centuries ago, offers our post‐modern era a way to resolve the paradox of pluralism. His view of the cosmos means tolerance of differing perpectives. It means striving to understand others. It means radical acceptance of other people and other ways. But it also sets a limit. That limit is bounded by love.

When we ask ourselves what beliefs and behaviors we must tolerate because we accept the idea of pluralism, we can use love to identify beliefs and behaviors we need not tolerate. Love does not torture. Love does not oppress. Love does not make distinctions among human beings because of the color of their skin. Love answers the question of boundaries to tolerance, to the acceptance of pluralism.

In many ways Ibn Arabi’s spiritual philosophy is like that of contemporary Unitarian Universalism. The seven principles, those values that we share—that draw us together—they join us in a unity of love, not a unity of theology. Our denomination has chosen to welcome the diversity in theology that results from different cultural perspectives and experiences. But our principles serve as a boundary of love: if we respect the inherent worth of every person, if we commit ourselves to justice, to compassion, to protection of the planet, to democracy—then we are not a denomination that “accepts anything”—it’s not true, as people sometimes say, that “if you are a Unitarian it doesn’t matter what you believe.”

It does matter. Tolerance is essential; but the boundary of tolerance is love. It’s not easy to explain or codify, but it’s something we nonetheless can understand. Ours is a tradition that respects the power of the mind but also celebrates the truth of the heart.

In Emerson’s words,“the heart knoweth.”

So I say with Ibn Arabi:“I follow the religion of Love:

Whatever path Love’s camel takes,

That is my religion and my faith.”

(Rev. Jennifer Brooks)

 

Source: http://www.unitarianchurchnantucket.org/pdfs/thecapableheart.pdf

God bless us all!

Sejak aku mengenalmu, ada sesuatu yang sangat kuat menarik batinku untuk jauh menyelami jiwaku. Namun dulu, saat aku menyadari hal itu untuk pertama kalinya di masa kecilku, aku terlalu takut, tak kuat aku membiarkanmu mendekat karena aku jauh dari berani untuk melihat diriku sendiri; aku terlalu takut dengan diriku sendiri. Saat aku mengenalmu lagi, waktu seolah takmembiarkanku untuk menghindari tarikan batin yang sekali lagi jauh lebih kuat kurasakan saat aku memandangmu, meresapimu, menyayangimu dan mencintaimu. Tarikan itu membuka kuat sekat batin dan jiwaku yang awalnya meronta tak ingin disentuh. Pelan tapi pasti kurasakan betapa beratnya melolosi diri sendiri, melihat diri sendiri, meruntuhkan sekat diri sendiri.

Berat, pedih, sakit, perih. Namun semakin dalam aku menyayangimu, semakin aku diberikan kekuatan untuk merasakan berat, pedih, sakit, dan perihnya residu-residu jiwa dari masa lalu yang sebelumnya bahkan tak dpt kulihat, tak dpt kurasa, dan tak dpt kusentuh dgn mata batinku.

Sayangku, aku telah melewati proses yang begitu amat panjang dan melelahkan dalam mengejawantahkan arti hidupku, arti keberadaanku, arti hadirku di dunia ini, namun hanya denganmu proses yang begitu panjang tersebut bisa kumaknai sebagai awal dari perjalananku. Dengan menyayangi dan mencintaimu, rahasia terdalam dalam diriku telah tersingkap dengan sendirinya, perlahan tapi pasti, satu persatu, merangkak menuju tungku pembakaran residu jiwaku.

Aku diberanikan oleh waktu, aku didewasakan oleh kisah hidupku, dan aku diseimbangkan oleh keberadaan dirimu disisiku. Atribut-atribut dalam hidupku runtuh saat aku bersamamu, aku tak merasakan secuil perbedaanpun saat meresapimu walaupun kita diantar oleh dua waktu dan dua kisah hidup yang berbeda. Hanya saja, perbedaan itu semakin membuatku mengerti bahwa ada bahasa yang sama yang hanya tercipta dari dan untuk kisah kita, yang hanya bisa terucap saat batinku memanggil batinmu. Perbedaan itu menjadi sebuah persamaan.

Tak pernah dapat kumengerti sampai detik ini bagaimana hal ini bisa terjadi, tercipta, dan teruntai kembali sedemikian indahnya. Saat aku bersamamu, ada kedamaian dan kebahagiaan yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Seluruh kekuatiran dan ketakutan akan diriku sendiri dan fananya dunia seketika sirna berganti menjadi suatu pengharapan untuk dapat bersama-sama berada pada suatu pencarian jati diri sebagai anak manusia yang sedang bertirakat untuk kembali ke pangkuanNya dengan segala keikhlasan dan kelapangan jiwa. Saat kedaginganku kembali, sering takdapat kupahami mengapa aku dapat merasakan itu semua denganmu. Namun saat kulepaskan kedaginganku dan menuju perenungan mata batinku, semuanya seolah tercerna lekat tanpa kata-kata.

Mengenalmu, meresapimu, menyayangi, dan mencintaimu membuatku lebih mengenal, meresapi, menyayangi, dan mencintai diriku. Sekali lagi, aku diberikan pencerahan melalui suatu proses yang penuh luapan emosi, bahwa dirimu bukanlah milikku, melainkan milik Tuhan, sama seperti diriku yang juga bukan milikmu, melainkan adalah milikNya. Dengan demikian aku bisa menyayangi dan mencintaimu lebih ikhlas.

Takut kehilangan adalah sesuatu yg manusiawi, sayangku, tapi jika kuserahkan seluruh milikku padaNya, aku tak takut lagi untuk kehilangan karena aku yakin, apa yang telah kuserahkan sepenuhnya padaNya, akan selalu dipeliharaNya dengan baik, dan dengan demikian, aku tak sepantasnya merasa terlalu kuatir. Sayangku, ada kelegaan yang begitu menyentuh saat batinku bisa memahami itu semua.

Matur nuwun Kangmas, Mugi2 Kangmas inggih sami diparingi karaharjan ingkang saking Gusti lan mugi2 panjenengan tansah tinarbuka samubarangipun lan pikantuk kasarasan lahir lan batin kangge ngadepi sedaya lelakon in donya punika ugi ngantos kondur malih dumateng Gusti. Sedaya pangarep-arep punika kula aturaken ing ngarsanipun Gusti ugi pangucap syukur lan sungkem manah dumateng leluhur sedaya bilih kangmas lan kawula saged kaparingaken kabecikan hurip lan manah ingkang rahayu.

Namun demikian Sayang, jika perjalananku masih panjang, dan jika sekiranya aku dapat mengucapkan suatu permohonan pada Tuhan, terlalu egoiskah aku sebagai manusia jika aku memohon untuk dapat didampingi olehmu?

Wini, Jakarta, January 26, 2011

“Inovasi adalah solusi yang bervisi, bertransformasi, dan berevolusi” (Pratiwi Wini, 2012)

Sepeda itu ibarat zat hijau daun (klorofil) dan krisis adalah sinar mataharinya. Tanpa adanya krisis, mungkin Belanda tidak akan pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah per-sepeda-an dunia sebagai the world’s number one cycling country dengan jumlah 18 juta sepeda yang melebihi jumlah 16 juta penduduknya (www.hollandtrade.com). Berkaitan dengan predikat tersebut, kota-kota di Belanda pun saling mengukuhkan posisinya dalam kancah per-sepeda-an dunia. Dalam situsnya, Dutch Fietsberaad (Bicycle Council) telah menetapkan kota-kota berikut ini dengan masing-masing keistimewaan dan keunggulannya sebagai The Best Bicycle Towns: Groningen, Houten, Amsterdam, Delft, Zwolle, Utrecht, Tilburg, Veenendaal, Apeldoorn, Enschede, Nijmegen, Zutphen, Drachten, dan Raalte (www.fietsberaad.nl). Kekuatan infrastruktur, kebijakan, dan budaya bersepeda sebagai sebuah kesatuan sistem yang prima (excellent), berkelanjutan (sustainable), dan penuh inovasi (innovative) adalah buah manis yang dipetik Belanda sampai saat sekarang ini. Akan tetapi, buah manis tersebut bukan hanya hasil dari zat hijau daun dan sinar matahari saja, perlu pupuk dan air yang tepat untuk membuatnya tumbuh dan berkembang menjadi buah yang manis dan sempurna. Pertanyaan selanjutnya adalah dimanakah pupuk, air, dan krisisnya? Nah, jawabannya ada dalam proses fotosintesis krisis berikut ini.

Titik balik sejarah per-sepeda-an Belanda dimulai pada pasca perang dunia II (tahun 1948-1970), dimana pendapatan perkapita rata-rata penduduk Belanda meningkat tajam (www.e-library.lt). Naiknya pendapatan perkapita ini berdampak pada peningkatan pembelian mobil dan termarginalisasi-nya sepeda sebagai sarana transportasi. Sayangnya, landscape (tata kota) di negara Belanda tidak mendukung cepatnya laju kepadatan mobil karena struktur jalan-jalannya yang sempit sehingga kemudian mulai mengganggu kualitas kehidupan di Belanda itu sendiri: krisis tata kota (banyaknya gedung yang harus dihancurkan untuk ruang parkir dan jalan-jalan mobil), krisis kebersihan udara (polusi udara), krisis keamanan lalu lintas (banyaknya korban kecelakaan lalu lintas yg diantaranya anak-anak dan memicu kampanye “stop de kindermoord” (stop the child murder), serta krisis bahan bakar dan energi (mahalnya harga minyak menyebabkan keterbatasan bahan bakar yang memicu krisis ekonomi) (www.aviewfromthecyclepath.com). Eureka! Dan keseluruhan krisis inilah sinar matahari bagi fotosintesisnya.

Gigihnya pengunjuk rasa “stop de kindermoord” akhirnya membuat para pemimpin dan para pengambil kebijakan di Belanda pada waktu itu berpikir keras untuk mencari solusi yg kreatif bagi krisis multidimensi tersebut tanpa mengurangi kualitas hidup. Eureka! Dan zat hijau daun inilah solusinya; sepeda!
Menyadari bahwa akhirnya industri mobil adalah “penyakit” dan memarginalisasi sepeda adalah suatu kekeliruan, penduduk Belanda dari segala lapisan mau bekerjasama untuk merubah cara pandang dan gaya hidup bermobil mereka yg tidak sehat menjadi lebih sehat dengan bersepeda. Eureka! Dan kesadaran, kemauan, serta kerjasama inilah pupuk dan airnya!

Solusi kreatif dari fotosintesis krisis itu kini berbuah manis. Dengan sepeda, tata kota menjadi lebih dinamis, kualitas udara lebih bersih, tingkat kecelakaan lalu lintas yg menurun drastis, penghematan bahan bakar dan energi, serta meningkatnya vitalitas, dan kualitas hidup. Pada akhirnya, buah manis ini menjadi inovasi holistik yang telah memacu kreativitas per-sepeda-an Belanda menjadi tidak terkalahkan di seluruh dunia sampai sekarang, mulai dari The Dutch Bicycle Master Plan, funding yang besar bagi infrastruktur sepeda, sistem keamanan canggih untuk mencegah pencurian sepeda, sampai pada produksi dan desain sepeda yang inovatif.

Jakarta, Indonesia. 13 Mei 2012
Copyright. Pratiwi Wini Artati

Pratiwi Wini Artati Hidayat

Create Your Badge

References
http://www.hollandtrade.com
http://www.fietsberaad.nl/index.cfm?lang=en&section=internationaal
http://www.e-library.lt (Accounting for Economic Growth in the Netherlands since 1913: Research Memorandum GD-26 by Bart van Ark and Herman de Jong)
http://www.aviewfromthecyclepath.com/2011/10/how-dutch-got-their-cycling.html?m=1
2009. Ministerie Van Verkeer en Waterstaat (Ministry of Transport, Public Works and Water Management-Directorate General for Passenger Transport.Cycling in the Netherlands. Fietsberaad. DenHaag: Mosaic Media
http://www.thoriqsalafi.co.cc/
http://www.europana.eu/

Secara filosofis, kita semua tahu bahwa mata adalah jendela jiwa. Salah satu panca indera yang diberikan cuma-cuma oleh Sang Khalik sebagai media untuk memproses pikiran dan perasaan sebelum turun ke hati dan otak. Alangkah indahnya saat mata kita dapat menikmati setiap detiknya untuk melirik, berkedip, memandang, dan bahkan meneteskan oase jiwa yg bernama air mata. Kedua mata kita saling bersinergi untuk saling mengisi dan menujang satu sama lain dan senantiasa setia menemani hari-hari kita.

Saat pikiran, perasaan dan tubuh kita menginginkannya untuk terbuka, matapun akan tetap terbuka. Saat lelah dan penat melanda, mata pun ikut menutup untuk memproses kelelahan tersebut. Ya, mata memang memiliki suatu kekuatan yang mampu meluluhlantakkan pikiran dan perasaan seseorang. Jika direnungkan saat sebelum tidur dan menutup mata, anugerah Sang Khalik yang satu ini sudah sepatutnya kita jaga dengan penuh fokus, kesetiaan, dan tanggung jawab.

Saat lalai, kita cenderung menyepelekan anugerah ini dan bahkan terkadang sering lupa dirawat, didoakan, dan dijaga kebaikannya. Untuk itu, alangkah indahnya jika kita juga dapat menyempatkan waktu untuk “berbicara” dengan panca indera kita (dalam hal ini mata) supaya kita dapat selalu diingatkan untuk bersyukur dan menjaga keindahannya dalam hidayah Sang Khalik. Semua itu tidak lain dan tidak bukan karena pada akhirnya nanti, kita akan mengembalikan titipan Sang Khalik ini pada saat akhir perjalanan hidup kita dan pada akhirnya mata kita sebagai salah satu dari panca indera kita akan memiliki “hak prerogatif” untuk “berbicara” padaNya selama melekat di tubuh kita semasa hidup.

Penuhilah mata kita dengan cinta; rasakanlah setiap gerakannya dengan cinta; Pandanglah segala sesuatunya dengan cinta. Saat melihat ke atas, jadikanlah itu sebagai semangat untuk maju. Saat melihat ke bawah, jadikanlah itu sebagai ungkapan syukur atas semua yg kita terima dan miliki. Saat melihat ke samping, jadikanlah itu sebagai semangat kebersamaan. Saat melihat ke “dalam”, jadikanlah itu sebagai media dan proses untuk introspeksi dan evaluasi diri. Saat melihat ke luar, jadikanlah itu sebagai fondasi kesadaran dan adaptasi kita terhadap lingkungan sekitar. Saat melihat ke “belakang”, jadikanlah itu sebagai media kita untuk menghargai dan mensyukuri setiap pengalaman hidup kita dengan mengambil setiap hikmahnya. Dan saat melihat ke depan, jadikanlah itu sebagai “Bahan bakar” untuk selalu berusaha lebih baik lagi dan menjadi versi terbaik dari diri kita.

Mataku, jiwaku

Mataku, hatiku

Mataku, cintaku,

Mataku, syukurku,

Mataku, ibadahku

Mataku, kepedulianku

Mataku, kepercayaan diriku

Mataku, sahabatku

By Wini,

Jakarta, 27 Juli 2011

(Please, don’t mind my non-academic writing writing style, especially the mixed-gado2-campur2 sentences)

Having the experience to be a foreigner in United States makes me realize that being an open-minded is a prerequisite to a pretty smooth adjustment (maksudnya biar ga terlalu culture shock gitu). It’s going to be tough if we don’t keep an open mind while we are away from home. The meaning of being open-minded doesn’t mean that we have to forcefully adjust the way of life from other culture that doesn’t suit us but it is more to preserving accordingly what we think we can still “make sense” of it and “don’t sweat the small stuff”. However, if you find some things that are NOT you, then you’d prefer to preserve YOUR THINGS just the way they are. Compromising is necessary and good but don’t let it get in the way for being who you are.

Before being a foreigner in someone else’s country, I had never really thought about this thing I call as “compromising culture”. In Indonesia, as I walked across the street and watched foreigners, I thought “Oh, they’re just fine. They’re going to be just fine. They’ll survive”. After having my own-unique experiences being a foreigner myself, my thoughts and perception are different when I come across other foreigners in Indonesia: “Are they doing okay adjusting? Do they find difficulties adjusting? How do they manage adjusting? Will they survive?” in which sometimes I find myself thinking over reactively.

(more…)