Posts Tagged ‘menggombali gombal’

Collage3ok.jpg

Beberapa waktu yang lalu, ada yang sempat menanyakan mengenai peluru kertas pada saya. Beberapa mengira itu adalah tweet page semacam quote yang saya gunakan sebagai referensi  untuk kemudian saya jadikan acuan nge-Tweet atau Nge-Wall status. Oh Well, bukan.  Peluru kertas itu sebenarnya adalah The Art of My Own Gombalism yang munculnya sekonyong-konyong koder. Kadang sadis, kadang sinis, kadang romantis, sampai kadang lebay abis tergantung mood saya saat melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu haha. Iya benar. Metodenya adalah berpikir menggunakan mood haha. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan perahu kertas-nya Dewi Dee Lestari, jadi hopefully tidak akan ada copyright issue 😛

Back to my peluru kertas, usianya masih bayi, baru berjalan 6 bulan-an setelah saya akhirnya memutuskan untuk men-share-kan nya di ruang publik, baik itu via Tweet, FB, atau WhatsApp status. Memang tidak semuanya bisa total jenderal saya share sebab ada beberapa peluru kertas yang takutnya malah nyasar dan bikin jantungan orang kalau membacanya. Kira-kira saja, sharing-consideration-nya berdasarkan pada prinsip dan kode etik kepatutan seni berekspresi (halah) saja. Walaupun umurnya memang masih bayi , tapi saat setiap kali membacanya ulang secara pribadi, saya somehow merasa ada semacam kerentaan yang “berdemo” untuk kembali muda belia (halah lagi).

Peluru kertas in terasa sekali menfaatnya untuk saya pribadi, terutama untuk jiwa “mbalelo” saya yang kadang tombol on/off nya suka ngumpet sendiri macam mahkluk yg ada di Alice in Wonderland.

Peluru kertas ini sejujurnya adalah The Art of My Own Gombalism yang lahir dan berkembang biak dari alam pikiran bawah sadar saya (kadang berpikir setengah sadar juga sih hehe) yang fungsi salah satunya adalah menjadi “tamparan” telak yang bagus untuk mengingatkan diri saya sendiri sebelum diingatkan orang lain hehe.

Dilematis manis, itu kalau kata saya. Dilema yang membuahkan sesuatu yang manis untuk kedewasaan berpikir saya (disamping kedewasaan emosional saya yang kadang suka mirip kapal pecah saat tamu bulanan datang hehe).

Oh well, saya bukan orator ulung atau expert dalam bidang public speaking. Dalam berekspresi lewat suara, saya biasa-biasa saja, seperlunya, namun dalam berekspresi lewat tulisan (yang non scientific), saya amatlah sangat di luar kebiasaan saya.

Seperti yang sudah saya jelaskan sedikit di awal bahwa inpirasi untuk peluru kertas ini munculnya sekonyong-konyong koder, tiba-tiba seperti maling yang mengendap endap diam-diam, sehingga kalau tak cepat-cepat “ditangkap” ya hilang lah itu “harta” peluru kertas saya, cling! Nah, proses menangkapnya pun sering tidak biasa yang bahkan sering menghadiahi saya dengan insomnia.

Jujur saja, saya punya kebutuhan untuk selalu harus musti kudu bisa menjawab pertanyaan dari diri sendiri (dan kalau bisa orang lain juga). Selain itu, ada kebutuhan juga untuk selalu belajar memaknai yang belum mampu saya maknai.

Semenjak peluru kertas ini lahir dan tumbuh berkembang, saya jadi belajar memahami bahwa A-ha moment itu tak selalu harus spektakuler, kadang-kadang malah prosesnya terjadi dari hal-hal sepele namun rasanya setara dengan tegangan 1000 volts hehe.

Inilah Republik Gombal saya (sama sekali tidak ada hubungannya dengan NKRI, jadi jangan dikait-kaitkan), sebuah “negara” di alam bawah sadar saya dimana saya belajar menjadi seorang “presiden” yang sadar gombal dengan tidak termakan gombal-gombal dengan mudahnya namun mampu juga menggombali setiap gombal-gombal tersebut dengan cara mendekonstruksi kegombalan menjadi sebuah gombal yang tidak biasa gombalnya.

Maklum, bisa dibilang agak telat saya: baru berani belajar menggombal saat usia kepala 3 hehe

Beberapa peluru kertas yang sudah saya luluskan sensornya 😛

  • Cintaku abstrak sekali. Terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Jadi lebih baik dipandang saja  #pelurukertas-PWA
  • Cintamu seperti bulu kuduk; membuatku merinding#pelurukertas-PWA
  • Indonesia, dimanakah Pancasilamu kini? Dan Indonesia menjawab; Disantet. Pantesan saat ini sulit dibuktikan keberadaannya. ½ Kasat mata: Ada & tiada #pelurukertas-PWA
  • Post Power Sindrom itu lebih tengil dari korupsi tapi keduanya bawa efek sama: Puber kedua paruh baya! #pelurukertas-PWA
  • I’m not falling in love with you. I’m falling in love with your brain. Therefore, your brain is my love #pelurukertas-PWA
  • Sold Out! Tetes hati merk ‘Heartless’, khusus untuk iritasi hati #pelurukertas-PWA

Remark* PWA (Pratiwi Wini Artati)

Wini, 27 Maret 2013 🙂

Advertisements