Posts Tagged ‘marriage’

 

While I was reading Robert. E. Stake and listening to Boyce Avenue and Ed Sheeran, all of a sudden, I ended up….kangen 😛

 

Advertisements

meandhim

 

We have been given a “privilege” to experience long distance relationship again (from dating until we are married now). This kind of privilege is not for every couple but we continue to be grateful for it as we have learnt so much in a way that we are strengthened by it. The ups and downs are there and we continue to learn from each other by being who we truly are. Three years and counting and all we can say is Alhamdulillah, Insya Allah, and Bismillah for every hope and dream we have in building our love & life together.

Along the way, we have developed a sense of understanding that might be different from other couples but that’s just fine, because every couple has different path and journey as well as the preferences to go along with them. Differences are good in a way that they give us perspective to understand everything deeper. In the midst of struggles, we believe that every struggle we have, comes with countless blessings in disguise and that we always try our best to perceive it positively. Yes, we have also learnt that distance is not the issue. It is all about mantaining communication as it is an important foundation to explore and find meaning to and of each other. Semoga ikhtiar, mimpi, cita-cita, harapan, dan niat baik kami berdua diberikan jalan yg terbaik oleh Allah SWT.

One thing we have learnt is that there’s no such thing as trivial topic in our way of communicating. Every topic, word, sentence and phrase, as simple as it may be, is woven into something priceless in our hearts. This is how we are learning from each other. Karena pada dasarnya, semuanya kembali ke asal muasal, mengapa kami berdua bisa bertemu, suka, jatuh cinta, menikah, mencintai, menyayangi dan menjaga sampai detik ini.

Never in our lives had we thought to be husband & wife (We were elementary school friends and that was how and when we met for the first time). Dari situ kami belajar utk memahami bahwa jika Allah SWT sudah Berkehendak maka tak ada satu pun hal yang mustahil terjadi. Dan, kami pun hanya mampu utk terus belajar bercita-cita, berencana, berusaha, dan menjalani dgn sebaik-baiknya sembari senantiasa memasrahkan segalanya dalam Tangan dan KuasaNya semata. Jika mengingat itu semua, hanya rasa syukur yg menggema, yg insya Allah selalu dapat menjadi reminder kami dalam menghadapi setiap badai yg ada. Karena bagi kami, menikah adalah sebuah keindahan perjalanan yg tidak hanya sebatas fisik namun juga batin, yang ingin kami bawa sampai setelah kami menyelesaikan kehidupan kami di dunia ini menuju Jannah, insya Allah.

I am grateful to have someone like my husband to grow old with. Beliau benar2 memberikan saya ruang seluas-luasnya utk belajar menjadi seorang istri yg juga diberikan kesempatan agar tetap dapat senantiasa mengepakkan “sayapnya” utk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, alhamdulillah. Finally, it has been such a wonderful journey in our marriage with us being perfect in our own imperfection. Saling menyempurnakan; saling membahagiakan. ‪#‎BahagiaItuSederhana ‪#‎marriage ‪#‎communication ‪#‎love ‪#‎kawruhjiwa #reflection

 

Wini,

June 6, 2015

Wellington, New Zealand

 

 

Aku ingin berdansa denganmu, tapi dengan cara yang tak biasa.

Dengan irama yg tak biasa.

Dengan gerakan yg tak biasa.

Aku ingin berdansa denganmu hanya dengan memandangmu, jauh ke dasar indah kornea matamu.

Teduhnya senyumanmu membuat jiwaku berdansa.

Sejuknya pandanganmu membuat panca inderaku berdansa.

Dalamnya kalbumu yang berbicara membuat aliran darahku berdansa.

Lagu itu, hanya dirimu yg punya.

Hanya dirimu lah yg mampu membuatku berdansa yang tak biasa.

Suamiku tersayang, ijinkan aku berdansa seperti ini sampai usia tak lagi mampu membuatku berbicara.

Ijinkan aku tetap berdansa seperti ini bersamamu sampai saat jiwa ini lepas dari raga.

Untukmu, hanya ini yg kumiliki, hanya ini yg mampu kulakukan dengan seluruh hati, jiwa dan raga.

Hanya denganmu-untukmu-milikmu.

 

(Wini, 2014; Dialog Dengan Embun)

 

collageus

Collagecintacinta5

Yang tersayang sahabat seumur hidupku, Yang terkasih nahkoda dari bahteraku, Yang tercinta suamiku;pasangan jiwaku,

Masih terbata-bata aku mengumpulkan tanggal, hari dan jam untuk tenggelam dalam pelukanmu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan keping benakku dari segala kepungan tanggung jawabku disini, utk tenggelam dalam senyum-mu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan angan utk bangun lebih pagi sebelum engkau, dengan secangkir teh hangat untukmu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan asa utk tidur lebih malam setelah engkau dan mengantar lelap istirahatmu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan impian untuk memasakkan sesuatu yang kau suka dan melihat kau menikmatinya setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan harapan utk dapat menemani sujud Tahajudmu padaNya setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan cita-cita utk dekat di matamu, dekat di hatimu setiap waktu, sampai akhir waktu

Mungkin jarak ini diberikan oleh Tuhan utk lebih mendekatkan kita padaNya

Sebuah ikhtiar untuk makin menguatkan, melanggengkan, dan mendewasakan perjalanan yang sakinah-mawadah-warahmah, Insya Allah

Seperti yang selalu kau ucapkan padaku setiap waktu, di setiap kesempatan: La Tahzan, sayangku

Dan malam ini kembali kuserahkan segala rencana-rencana dan niat baik kita dalam sujudKu padaNya.

Maaf, aku belum fasih mencintaimu

Maaf, aku belum fasih menjadi istrimu

Kesempurnaan hanya milikNya; aku tidak meminta itu padaNya

Yang kupinta padaNya hanya jalan yg terbaik agar aku bisa fasih; sefasih-fasihnya mencintaimu; menghabiskan sisa hidup, waktu dan umurku bersamamu, setiap waktu

Semoga keterbataanku makin difasihkan oleh Tuhan dengan waktu terindahNya

Kutitipkan cinta itu pada mimpiku untuk dapat menjamah mimpimu disana setiap malam

Tak selalu harus terkatakan, namun semoga bisa selalu terasakan

Atas nama cinta, dengan ijin Tuhan, kudoakan jarak ini, tak ingin berlama-lama bersama kita,

Istrimu,
teman masa kecilmu 23 tahun yang lalu,
pendamping hidupmu yg hanya bisa melabuhkan cinta, rasa, asa, dan karsa padamu, untukmu

Di ujung rindu…berbincang syahdu dengan jarak dan waktu dan sedikit kata-kata sebagai penyeka kalbu

Jakarta, 26 Februari 2014

cintacinta

As A little bit serious-ly funny and unpredictable as can be: Part of my love story, How I met my husband (again).

 

“Aku bukan siapa-siapa, dan sejatinya aku juga tak punya apa-apa. Apapun yang kumiliki di dunia ini hanya “titipan” sementara yang bisa diambil Ingkang Maha Kuwasa sewaktu-waktu”…kembali saya diingatkan lagi saat jarum jam menunjukkan pukul 00:00 WIB.

 

Setelah bersujud malam ini, pun saya lanjutkan jam dengan mengutak-atik beberapa deadline yang saya rasa masih jauh dari sreg. Lagi, tak bisa tidur. Entah mengapa sambil mencari referensi, jari-jari saya punya maunya sendiri utk scrolling up and down mengikuti “gundah gulana” nya hati malam ini. Bukan apa-apa, kadang-kadang, saya pun tak habis pikir, merasa tak memikirkan apa-apa tapi restless mind ini serasa “jalan” sendiri mencari “refleksi” nya.

 

Spontan ada bisikan tanpa getaran “ndhuk, jangan terlalu kuatir. Tuhan tak pernah meninggalkanmu, apapun yang kaualami dalam hidup ini, seberapa pahit dan getirnya air matamu, Tuhan tak akan membiarkanmu jatuh dan luruh. Ingatlah kembali perjalanan hidupmu sampai umurmu saat ini dan tak ada yang mustahil bagiNya untuk memberikan makna di setiap jejak langkah rencana-rencanamu. Saat kau tak selalu tahu pasti apa yang kau inginkan, Dia selalu tahu pasti apa yang terbaik untukmu. Saat kau tertatih mencari jawaban atas semua makna hidupmu, Dia selalu hadirkan makna itu di setiap suka-dukamu. Jika engkau sudah susah payah dinanti sekian lama oleh ayah ibumu, dan susah payah dilahirkan dengan segenap kekuatan ibumu, dan susah payah dibesarkan dengan teladan dan pengabdian ibumu, maka saat engkau menyerah, yang paling sedih adalah ibumu. Ayahmu mungkin tak selalu ada untukmu, namun bukan berarti kau tak punya “ayah-ayah” yg lain dalam hidupmu yang juga mampu memberikan kasih sayang dan teladannya untuk hidupmu. Ibumu mungkin tak selalu bisa mengobati resah rindu terhadap ayahmu, tapi bukan berarti tak ada “ibu-ibu” yang lain yang akan mampu mencukupkan kasih sayang itu.

 

Dan ada yang aneh dengan selaput mata saya…sedikit aneh, semuanya berpendar. Saya tak boleh mudah putus asa. Terlalu malu untuk berputus asa karena kasih sayang Tuhan begitu besar untuk saya, baik lewat suka maupun duka saya.

 

Saat kecil, saya sudah harus belajar “mendewasakan” diri utk menerima realita hidup yg tidak semanis impian saya. Tapi masa kecil saya banyak bahagianya daripada sedihnya.

 

Saat remaja, saya sudah harus belajar “melawan” ego diri sendiri dalam proses pencarian jati diri yang tidak semanis imajinasi saya. Tapi masa remaja saya banyak bahagianya daripada sedihnya.

 

Saat awal dewasa, saya sudah harus belajar “mengalah” terhadap apa yang mampu saya kalahkan dan belajar“memaklumi” apa yang tidak mampu saya maklumi….saat itu. Tapi masa awal dewasa saya banyak bahagianya daripada sedihnya.

 

Saat dewasa, saya masih harus belajar untuk “memaafkan” masa lalu dan “berprasangka baik” pada masa depan. Dan saat-saat ini, di dalam masa dewasa saya, proses “pendewasaan” itu pun masih bertanda koma, belum titik. Tuhan masih sayang pada saya dan masih memberikan waktu untuk terus memperbaiki diri sebelum tanda titik itu dinoktahkan dalam perjalanan akhir hidup saya.

 

Dan kali ini pun, saya memaknai kembali perjalanan cinta saya lewat peran serta “wall” dan “timeline”. Mungkin terdengar remeh temeh dan berlebihan, tapi kalau tidak melakukan “flashback” terhadap “remeh-temeh” ini, saya pun tidak akan pernah “ngeh” kalau tanggal 24 September 2010 adalah tanggal dimana saya memberanikan diri untuk nge-wall belahan jiwa saya, bukan apa-apa, I just needed to know how he was doing at that time, no expectation at all.Dan lucunya, posting pertama itu adalah tentang sepeda dan topi 🙂

 

Tanpa “flashback” terhadap “remeh-temeh” ini pun saya tidak akan pernah “ngeh” kalau tanggal 7 Oktober 2010 adalah tanggal dimana saya “ditembak” dan tanggal 28 Oktober 2010 adalah tanggal dimana saya dan mantan pacar (sekarang suami saya) berkomitmen untuk mengenal lebih jauh (alias jadian). Entah mengapa kami pun butuh “waktu” sekitar 21 hari untuk memutuskan “officially jalan bareng”.

 

Pada tanggal 7 Oktober 2010 itu lah, saya mengupload puisi saya “19 Years Later is Now” dimana hal tersebut merupakan curahan “keheranan” saya dengan penuh syukur bahwa tak ada yang mustahil bagiNya. Saat saya lelah memaknai cinta sampai ke seberang benua lain; Saat saya lelah dengan pencarian pelabuhan hidup saya; saat saya apatis dengan arti pernikahan; saat saya lelah “dijudge” dengan status single saya; saat saya sempat berpikir bahwa saya tak perlu menikah; saat saya sudah mati rasa dengan yang namanya cinta…saat itulah Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada saya: setiap manusia punya perjalanan sendiri-sendiri dan waktu sendiri-sendiri, dan semua memang akan indah pada waktunya yang terbaik. Hanya Allah SWT lah yang mampu mempertemukan kami kembali setelah sekian lama kami bertemu utk pertama kalinya di bangku SD hingga kemudian bersatu mengikat janji sehidup semati, ditengah perjalanan yang begitu banyak duri. Bahkan kami berdua pun sampai saat ini masih saja heran dengan jalan Allah yang mempertemukan kami kembali yang diawali dengan a simple phone call then writing on the“wall”; cenderung klise malah, but it happens.

 

Mengingat hal-hal seperti inilah yang membuat saya kembali mensyukuri hadiah cinta dari Gusti Allah ini. Moment-moment yang tak sengaja ter-record inilah yang membuat saya berpikir, segala sesuatu itu diciptakan baik oleh Allah SWT, bila memang dilandasi dengan niat baik dan gak neko-neko, akan memberikan energi yang positif. Salah satunya ya…jatuh cinta lagi dengan suami saya. Semoga Allah SWT memberikan waktu bagi kami berdua untuk mengarungi hidup bersama ini sampai akhir nafas kami (amin yra).

 

Tak malu saya ucapkan, thank you Facebook; for being a research media I could use to get findings about myself and everything related to it. Semoga hipotesa-nya bisa terus memberikan pencerahan 🙂

 

Dan, entah mengapa setelah menulis ini, Alhamdulillah, saya pun sukses mengantuk. I gotta sleep now. The “finger print” and bunch of deadlines are waiting at the office tomorrow 🙂

 

Wini,

Jakarta, 20 Februari 2014

firsttime_okky

tembak_okky

poem_october72010

inarelationship_okk2

inarelationship_okky

married_okky

married_okky2

marriedstatus_okky

A Marriage To Me

Posted: March 25, 2013 in Personal-Me
Tags: , , ,

me

 

Every fight, every bitter encounter, every misunderstanding is worth it when our hearts still speak the same language and we can always learn better to love each other again. There’s no such thing as shortcuts or instant ways of a happily ever after in a marriage. It’s an underwater world where we have to try our best to wisely dive without drowning; It’s an outer space horizon where we have to try our best to wisely breathe with no oxygen without dying. However, with the right person whose souls are mirroring each other, any underwater or outer space horizon is always a true paradise (Wini, 2013).

After encountering some discussion and brainstorming with couples who had (and have just had) been very happy celebrating their silver (25 years of marriage) or gold (50 years of marriage) (and even platinum, more than 50 years of marriage) anniversary, I am enlightened in a way where I can see the silver lining of the ups and downs in my own marriage life (even though it is still a long way from silver, gold or platinum). I have been married for almost a year on April 13 this year (2013). Most people say the first five years of marriage is a struggle and the second five years will depend on how the first five years had been handled. Therefore, now I am in a starting point of making it work at my best. In the end, I can only hope, try, and pray that my marriage will last till “death do us apart” in which it can be a priceless legacy for my kids and grand kids later on to cherish, Insya Allah…Amin YRA.

Happy wedding anniversary to any of you who are celebrating today 😉

Love,

Wini

Jakarta, March 20, 2013

Jujur, jika dengan pikiran, agak susah memahami dan mencerna hal ini. Bukannya berusaha mangkir atau menolak konsep yang digambarkan oleh Raja Paku Buwana V mengenai sosok wanita Jawa sebagai seorang istri, namun karena perkembangan jaman via “satelit emansipasi dan feminisme” yang tak bisa dipungkiri telah menciptakan suatu “shift” dalam kehidupan wanita untuk mendapatkan kesempatan dan achievement yang relatif sejajar dengan kaum pria, persepsiku terhadap peran dan sosok seorang istri juga “shifted”.

“Shifted” disini bukan berarti lalu kurang ajar dan melupakan kodrat serta bisa seenaknya…bukan, bukan seperti itu. Hanya saja, hal ini mengingatkanku pada apa yang selalu dikatakan oleh eyang putriku dan mamaku “Ndhuk, bagaimanapun kondisimu, apapun keadaanmu, kamu harus ingat bahwa dirimu adalah seorang wanita. Eyang dan mama memahami karakter dan keinginan mu yang super keras serta kemandirianmu yang terkondisikan oleh keadaan hidupmu, namun jangan sampai semuanya itu menutupi akar kepribadianmu sebagai seorang wanita Jawa, apalagi nantinya sebagai seorang istri atau garwa, yang artinya adalah sigarane nyawa dari calon suamimu. Pengabdian dan Nrima-mu ing pandhum terhadap suamimu nantinya jangan diartikan sebagai suatu kekalahan dari suatu kelemahan dan kepasifan, namun jadikanlah semua itu sebagai perwujudan rasa cinta dan cipta baktimu yang lahir dari sebuah keikhlasan hati. Ingat, dalam perkawinan itu tidak ada kalah menang, tidak ada kuat lemah”.

Waktu pertama dulu diriku diberikan wejangan seperti itu (kalau ga salah semasa awal SMA) dalam hati aku berkata “ga salah nih wejangan? Mengalah itu bukan sesuatu yang mudah buatku yang sejak awal telah terbiasa bersaing dan berkompetisi utk meraih yg terbaik. Mengabdi itu juga bukan sesuatu yang gampang untukku karena aku tidak mau didikte begitu saja tanpa alasan yg jelas dan masuk akal. Terlebih lagi, sejak dulu aku sudah terkondisikan untuk bergantung pada diri sendiri, mengambil keputusan sendiri, dan memanjakan diri sendiri. Absennya figur dan sosok seorang ayah juga membuatku tidak terbiasa bermanja-manja dan harus trial-error mengatasi segala suka duka hidup yang pada akhirnya membuatku menjadi agak sedikit berbeda memaknai arti sebuah perkawinan. Namun dengan berlalunya waktu dan bertambahnya umur, lambat laun kekeras-kepalaan-ku dan keterlalu-mandirian-ku mulai dapat mengkompromikan dirinya (mudah-mudahan tidak terlambat). Dan, akupun mulai menyadari dari hati bahwa apa yang sudah diwejangkan Oleh eyang putri dan mamaku bukanlah suatu “bumper sticker” ataupun “slogan” semata. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari semuanya itu dari hatiku yang paling dalam walaupun harus aku akui bahwa terkadang ke-aku-anku yang keras masih harus di “training” (Oleh diriku sendiri tentunya).

Nah, berikut ini adalah kutipan dari apa yang digambarkan Oleh Raja Paku Buwana ke V pada tahun 1809 dalam buku Suluk Tembangraras mengenai sosok wanita Jawa sebagai seorang istri, yang tentunya, masih terus berusaha kupelajari dengan hati:

“Sosok wanita jawa itu seperti lima jari. Ibarat jempol, istri harus pol mengabdi kepada suami.Ibarat Jari telunjuk, istri harus mentaati perintah suami. Ibarat panunggul (jari tengah), istri harus bangga akan suaminya, bagaimanapun keadaannya. Ibarat jari manis, istri harus selalu bersikap manis dengan suami. Dan ibarat jejenthik (jari kelingking), istri harus selalu berhati-hati, teliti, rajin dan terampil dalam melayani suami dan anak2nya” (Suluk Tembangraras by Paku Buwono V, 1809).

*Memang, posting ini dibuat saat aku belum pernah merasakan menjadi seorang istri, let alone seorang ibu, namun setidaknya aku ingin mulai belajar memahami konsep ini sebaik-baiknya dengan perspektif yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih bijak (now that I am and for some reasons, there’s part in me that automatically and willingly accept certain essential roles as a wife in Javanese culture).

Semoga bermanfaat….

–WINI: Happily Married–