Posts Tagged ‘love’

 

While I was reading Robert. E. Stake and listening to Boyce Avenue and Ed Sheeran, all of a sudden, I ended up….kangen 😛

 

Advertisements

meandhim

 

We have been given a “privilege” to experience long distance relationship again (from dating until we are married now). This kind of privilege is not for every couple but we continue to be grateful for it as we have learnt so much in a way that we are strengthened by it. The ups and downs are there and we continue to learn from each other by being who we truly are. Three years and counting and all we can say is Alhamdulillah, Insya Allah, and Bismillah for every hope and dream we have in building our love & life together.

Along the way, we have developed a sense of understanding that might be different from other couples but that’s just fine, because every couple has different path and journey as well as the preferences to go along with them. Differences are good in a way that they give us perspective to understand everything deeper. In the midst of struggles, we believe that every struggle we have, comes with countless blessings in disguise and that we always try our best to perceive it positively. Yes, we have also learnt that distance is not the issue. It is all about mantaining communication as it is an important foundation to explore and find meaning to and of each other. Semoga ikhtiar, mimpi, cita-cita, harapan, dan niat baik kami berdua diberikan jalan yg terbaik oleh Allah SWT.

One thing we have learnt is that there’s no such thing as trivial topic in our way of communicating. Every topic, word, sentence and phrase, as simple as it may be, is woven into something priceless in our hearts. This is how we are learning from each other. Karena pada dasarnya, semuanya kembali ke asal muasal, mengapa kami berdua bisa bertemu, suka, jatuh cinta, menikah, mencintai, menyayangi dan menjaga sampai detik ini.

Never in our lives had we thought to be husband & wife (We were elementary school friends and that was how and when we met for the first time). Dari situ kami belajar utk memahami bahwa jika Allah SWT sudah Berkehendak maka tak ada satu pun hal yang mustahil terjadi. Dan, kami pun hanya mampu utk terus belajar bercita-cita, berencana, berusaha, dan menjalani dgn sebaik-baiknya sembari senantiasa memasrahkan segalanya dalam Tangan dan KuasaNya semata. Jika mengingat itu semua, hanya rasa syukur yg menggema, yg insya Allah selalu dapat menjadi reminder kami dalam menghadapi setiap badai yg ada. Karena bagi kami, menikah adalah sebuah keindahan perjalanan yg tidak hanya sebatas fisik namun juga batin, yang ingin kami bawa sampai setelah kami menyelesaikan kehidupan kami di dunia ini menuju Jannah, insya Allah.

I am grateful to have someone like my husband to grow old with. Beliau benar2 memberikan saya ruang seluas-luasnya utk belajar menjadi seorang istri yg juga diberikan kesempatan agar tetap dapat senantiasa mengepakkan “sayapnya” utk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, alhamdulillah. Finally, it has been such a wonderful journey in our marriage with us being perfect in our own imperfection. Saling menyempurnakan; saling membahagiakan. ‪#‎BahagiaItuSederhana ‪#‎marriage ‪#‎communication ‪#‎love ‪#‎kawruhjiwa #reflection

 

Wini,

June 6, 2015

Wellington, New Zealand

 

 

Aku ingin berdansa denganmu, tapi dengan cara yang tak biasa.

Dengan irama yg tak biasa.

Dengan gerakan yg tak biasa.

Aku ingin berdansa denganmu hanya dengan memandangmu, jauh ke dasar indah kornea matamu.

Teduhnya senyumanmu membuat jiwaku berdansa.

Sejuknya pandanganmu membuat panca inderaku berdansa.

Dalamnya kalbumu yang berbicara membuat aliran darahku berdansa.

Lagu itu, hanya dirimu yg punya.

Hanya dirimu lah yg mampu membuatku berdansa yang tak biasa.

Suamiku tersayang, ijinkan aku berdansa seperti ini sampai usia tak lagi mampu membuatku berbicara.

Ijinkan aku tetap berdansa seperti ini bersamamu sampai saat jiwa ini lepas dari raga.

Untukmu, hanya ini yg kumiliki, hanya ini yg mampu kulakukan dengan seluruh hati, jiwa dan raga.

Hanya denganmu-untukmu-milikmu.

 

(Wini, 2014; Dialog Dengan Embun)

 

collageus

Collagecintacinta5

Yang tersayang sahabat seumur hidupku, Yang terkasih nahkoda dari bahteraku, Yang tercinta suamiku;pasangan jiwaku,

Masih terbata-bata aku mengumpulkan tanggal, hari dan jam untuk tenggelam dalam pelukanmu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan keping benakku dari segala kepungan tanggung jawabku disini, utk tenggelam dalam senyum-mu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan angan utk bangun lebih pagi sebelum engkau, dengan secangkir teh hangat untukmu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan asa utk tidur lebih malam setelah engkau dan mengantar lelap istirahatmu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan impian untuk memasakkan sesuatu yang kau suka dan melihat kau menikmatinya setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan harapan utk dapat menemani sujud Tahajudmu padaNya setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan cita-cita utk dekat di matamu, dekat di hatimu setiap waktu, sampai akhir waktu

Mungkin jarak ini diberikan oleh Tuhan utk lebih mendekatkan kita padaNya

Sebuah ikhtiar untuk makin menguatkan, melanggengkan, dan mendewasakan perjalanan yang sakinah-mawadah-warahmah, Insya Allah

Seperti yang selalu kau ucapkan padaku setiap waktu, di setiap kesempatan: La Tahzan, sayangku

Dan malam ini kembali kuserahkan segala rencana-rencana dan niat baik kita dalam sujudKu padaNya.

Maaf, aku belum fasih mencintaimu

Maaf, aku belum fasih menjadi istrimu

Kesempurnaan hanya milikNya; aku tidak meminta itu padaNya

Yang kupinta padaNya hanya jalan yg terbaik agar aku bisa fasih; sefasih-fasihnya mencintaimu; menghabiskan sisa hidup, waktu dan umurku bersamamu, setiap waktu

Semoga keterbataanku makin difasihkan oleh Tuhan dengan waktu terindahNya

Kutitipkan cinta itu pada mimpiku untuk dapat menjamah mimpimu disana setiap malam

Tak selalu harus terkatakan, namun semoga bisa selalu terasakan

Atas nama cinta, dengan ijin Tuhan, kudoakan jarak ini, tak ingin berlama-lama bersama kita,

Istrimu,
teman masa kecilmu 23 tahun yang lalu,
pendamping hidupmu yg hanya bisa melabuhkan cinta, rasa, asa, dan karsa padamu, untukmu

Di ujung rindu…berbincang syahdu dengan jarak dan waktu dan sedikit kata-kata sebagai penyeka kalbu

Jakarta, 26 Februari 2014

cintacinta

As A little bit serious-ly funny and unpredictable as can be: Part of my love story, How I met my husband (again).

 

“Aku bukan siapa-siapa, dan sejatinya aku juga tak punya apa-apa. Apapun yang kumiliki di dunia ini hanya “titipan” sementara yang bisa diambil Ingkang Maha Kuwasa sewaktu-waktu”…kembali saya diingatkan lagi saat jarum jam menunjukkan pukul 00:00 WIB.

 

Setelah bersujud malam ini, pun saya lanjutkan jam dengan mengutak-atik beberapa deadline yang saya rasa masih jauh dari sreg. Lagi, tak bisa tidur. Entah mengapa sambil mencari referensi, jari-jari saya punya maunya sendiri utk scrolling up and down mengikuti “gundah gulana” nya hati malam ini. Bukan apa-apa, kadang-kadang, saya pun tak habis pikir, merasa tak memikirkan apa-apa tapi restless mind ini serasa “jalan” sendiri mencari “refleksi” nya.

 

Spontan ada bisikan tanpa getaran “ndhuk, jangan terlalu kuatir. Tuhan tak pernah meninggalkanmu, apapun yang kaualami dalam hidup ini, seberapa pahit dan getirnya air matamu, Tuhan tak akan membiarkanmu jatuh dan luruh. Ingatlah kembali perjalanan hidupmu sampai umurmu saat ini dan tak ada yang mustahil bagiNya untuk memberikan makna di setiap jejak langkah rencana-rencanamu. Saat kau tak selalu tahu pasti apa yang kau inginkan, Dia selalu tahu pasti apa yang terbaik untukmu. Saat kau tertatih mencari jawaban atas semua makna hidupmu, Dia selalu hadirkan makna itu di setiap suka-dukamu. Jika engkau sudah susah payah dinanti sekian lama oleh ayah ibumu, dan susah payah dilahirkan dengan segenap kekuatan ibumu, dan susah payah dibesarkan dengan teladan dan pengabdian ibumu, maka saat engkau menyerah, yang paling sedih adalah ibumu. Ayahmu mungkin tak selalu ada untukmu, namun bukan berarti kau tak punya “ayah-ayah” yg lain dalam hidupmu yang juga mampu memberikan kasih sayang dan teladannya untuk hidupmu. Ibumu mungkin tak selalu bisa mengobati resah rindu terhadap ayahmu, tapi bukan berarti tak ada “ibu-ibu” yang lain yang akan mampu mencukupkan kasih sayang itu.

 

Dan ada yang aneh dengan selaput mata saya…sedikit aneh, semuanya berpendar. Saya tak boleh mudah putus asa. Terlalu malu untuk berputus asa karena kasih sayang Tuhan begitu besar untuk saya, baik lewat suka maupun duka saya.

 

Saat kecil, saya sudah harus belajar “mendewasakan” diri utk menerima realita hidup yg tidak semanis impian saya. Tapi masa kecil saya banyak bahagianya daripada sedihnya.

 

Saat remaja, saya sudah harus belajar “melawan” ego diri sendiri dalam proses pencarian jati diri yang tidak semanis imajinasi saya. Tapi masa remaja saya banyak bahagianya daripada sedihnya.

 

Saat awal dewasa, saya sudah harus belajar “mengalah” terhadap apa yang mampu saya kalahkan dan belajar“memaklumi” apa yang tidak mampu saya maklumi….saat itu. Tapi masa awal dewasa saya banyak bahagianya daripada sedihnya.

 

Saat dewasa, saya masih harus belajar untuk “memaafkan” masa lalu dan “berprasangka baik” pada masa depan. Dan saat-saat ini, di dalam masa dewasa saya, proses “pendewasaan” itu pun masih bertanda koma, belum titik. Tuhan masih sayang pada saya dan masih memberikan waktu untuk terus memperbaiki diri sebelum tanda titik itu dinoktahkan dalam perjalanan akhir hidup saya.

 

Dan kali ini pun, saya memaknai kembali perjalanan cinta saya lewat peran serta “wall” dan “timeline”. Mungkin terdengar remeh temeh dan berlebihan, tapi kalau tidak melakukan “flashback” terhadap “remeh-temeh” ini, saya pun tidak akan pernah “ngeh” kalau tanggal 24 September 2010 adalah tanggal dimana saya memberanikan diri untuk nge-wall belahan jiwa saya, bukan apa-apa, I just needed to know how he was doing at that time, no expectation at all.Dan lucunya, posting pertama itu adalah tentang sepeda dan topi 🙂

 

Tanpa “flashback” terhadap “remeh-temeh” ini pun saya tidak akan pernah “ngeh” kalau tanggal 7 Oktober 2010 adalah tanggal dimana saya “ditembak” dan tanggal 28 Oktober 2010 adalah tanggal dimana saya dan mantan pacar (sekarang suami saya) berkomitmen untuk mengenal lebih jauh (alias jadian). Entah mengapa kami pun butuh “waktu” sekitar 21 hari untuk memutuskan “officially jalan bareng”.

 

Pada tanggal 7 Oktober 2010 itu lah, saya mengupload puisi saya “19 Years Later is Now” dimana hal tersebut merupakan curahan “keheranan” saya dengan penuh syukur bahwa tak ada yang mustahil bagiNya. Saat saya lelah memaknai cinta sampai ke seberang benua lain; Saat saya lelah dengan pencarian pelabuhan hidup saya; saat saya apatis dengan arti pernikahan; saat saya lelah “dijudge” dengan status single saya; saat saya sempat berpikir bahwa saya tak perlu menikah; saat saya sudah mati rasa dengan yang namanya cinta…saat itulah Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada saya: setiap manusia punya perjalanan sendiri-sendiri dan waktu sendiri-sendiri, dan semua memang akan indah pada waktunya yang terbaik. Hanya Allah SWT lah yang mampu mempertemukan kami kembali setelah sekian lama kami bertemu utk pertama kalinya di bangku SD hingga kemudian bersatu mengikat janji sehidup semati, ditengah perjalanan yang begitu banyak duri. Bahkan kami berdua pun sampai saat ini masih saja heran dengan jalan Allah yang mempertemukan kami kembali yang diawali dengan a simple phone call then writing on the“wall”; cenderung klise malah, but it happens.

 

Mengingat hal-hal seperti inilah yang membuat saya kembali mensyukuri hadiah cinta dari Gusti Allah ini. Moment-moment yang tak sengaja ter-record inilah yang membuat saya berpikir, segala sesuatu itu diciptakan baik oleh Allah SWT, bila memang dilandasi dengan niat baik dan gak neko-neko, akan memberikan energi yang positif. Salah satunya ya…jatuh cinta lagi dengan suami saya. Semoga Allah SWT memberikan waktu bagi kami berdua untuk mengarungi hidup bersama ini sampai akhir nafas kami (amin yra).

 

Tak malu saya ucapkan, thank you Facebook; for being a research media I could use to get findings about myself and everything related to it. Semoga hipotesa-nya bisa terus memberikan pencerahan 🙂

 

Dan, entah mengapa setelah menulis ini, Alhamdulillah, saya pun sukses mengantuk. I gotta sleep now. The “finger print” and bunch of deadlines are waiting at the office tomorrow 🙂

 

Wini,

Jakarta, 20 Februari 2014

firsttime_okky

tembak_okky

poem_october72010

inarelationship_okk2

inarelationship_okky

married_okky

married_okky2

marriedstatus_okky

palu

Revenge has failed me many times. I’ve learnt the hardest way from my own mistakes and foolishness. Had I known that it served nothing but constant pain, I would have tried to avoid it since the very first beginning. Now, I have learnt that forgiveness never fails, at least for me. But I had gone such lengths in my journey to discover that. I might not as lucky as others when it comes to forgiveness. I sort of “envy” those who can forgive so easily, effortlessly without no hard feeling at all. My process has always been uneasy but it has taken me into such lengths I never thought I will get through.

 I used to be someone who was easy to keep grudge and extremely emotional. My determination to get back at those who hurt me so bad was so dark; I thought it would be the fairest answer. Yet, along the way, I realized it wasn’t the answer; the fair-least. The true strength is actually coming from forgiving those who hurt me the worst and I don’t learn it through a bumper sticker; I’ve learnt it the hardest way of my life but it’s all worth it.

wet

Everything is fair eventhough it might not seem like it is at first. I’ve learned that I don’t have to make revenge for those who wronged me. There’s always Higher Power that makes everything fair. I have discovered that having revenge only eats my soul from within and I never want to feel that way again. In the past, I was dragged and drowned in this kind of feeling: numbness.

 Yes, I am still human so I think it is still okay to be emotional sometimes. I realize that predicament will always come and go, never dissapears. I shall be ready at anytime to be tested in order to find wisdom. Sometimes, when I get so angry, very angry until I feel like I wanted to tear a curtain, the temptation to “get-back-at” is always kicking inside, as if it was an itchy feeling that needed to be scratched immediately. In my life journey, this feeling is the potential seed for revenge to grow larger and deeper. Yet, whenever I feel it within the greatest length of my anger, there’s a soft part in my heart telling that if I follow it, I will hurt everyone I love so dearly, and I don’t want that.

chicago

Somehow, in my 30s, the temptation for revenge seems to have faded away eventhough my memories doesn’t always surrender so easily to forget. Maybe my heart is getting more selective to notice what kind of feeling that’s worth to harbor. Losing someone very dear might add to that recipe of strength. It may be hard for me to forget those hurtful glimpses of horrible memory but I will dare say that I am willing to challenge myself every second to try my best to forgive. My heart always says “worry not, as everything that’s good and beautiful will be approaching at its own best time only when you don’t lose your sight; patience is always the key to ultimate happiness”.

 I know in my life dictionary, the journey to be able to forgive will not always come easily and smoothly but I am willing to try harder since I always long for how it makes me feel afterward: a true peace and serenity within myself. That’s what I am eventually aiming at when I leave this world; a true peace and serenity. So yes, I am willing to risk anything to finally forgive, even when I have to get through the roughest path. Because in the end, these true peace and serenity are the only things that’ll able to pay all the “dark debts” I still have within my soul, in hoping that it will continuously cleanse my soul until the end of my journey on earth.

 I am never proud of what I had done ugly in the past and I have honestly learnt to enjoy humiliating myself in a good way for that; A therapeutic method I’ve invented for myself to avoid making the same mistakes again, hopefully.

Wini,

Jakarta, December 12, 2013

lakehope

*Playlist while writing:

 Lesson Learned by Carrie Underwood

 Better in Time by Leona Lewis

 Yesterday by Leona Lewis

 The Climb by Miley Cyrus

 Someone’s Watching Over me by Hillary Duff

CIMG6118

“Ojo dolanan ning kene, kowe kan bolone kae” (“Jangan bermain disini, kamu kan temannya dia”). Masih kuingat waktu itu aku belum masuk TK besar, mungkin 4 tahun-an; pertama kali mengenal dan mengalami apa yg disebut “prasangka” (prejudice) dan “diskriminasi”. Hanya karena aku meminjamkan untaian karet gelang untuk lompat tali (atau sprentel) pada salah satu anak tetangga, aku dibenci anak-anak yg lain yang memang tidak suka dia dgn alasan yang aku sendiri tak pernah tahu dengan jelas. Saat itu, hampir nangis karena bingung oleh diskriminasi dan prasangka yg tiba-tiba macam itu namun yg aku ingat kemudian hanya pulang ke rumah dan main-main lagi dengan koleksi boneka-boneka balon plastik yg sering dibelikan mama di Simpanglima. Hampir nangisnya tak bertahan lama.

“Papamu dimana, kasian banget sih ga ada yang beliin ini (sambil menunjukkan rumah-rumahan Barbie)”. Ingatanku tak pernah bohong. Walau sudah lebih dari 20 tahun berlalu sejak saat itu diucapkan, ingatanku tak pernah bisa melupakan hal-hal yg menyakitkan, walaupun kadang sudah kutepis dengan berbagai macam cara. Saat itu memang saat-saat dimana papaku tidak dapat menjalankan tugasnya mengayomi keluarga; pergi tanpa berita, meninggalkan tanggung jawabnya. Marah? Bukan marah lagi, tapi sempat benci menjadi-jadi. Masa pra remaja yg sangat sensitif. Disaat yg lain seusiaku bisa bermanja minta ini-itu dengan papanya; bermain dengan papanya; aku harus menggigit bibir dan menahan tangis melihat semua adegan itu. Saat seharusnya aku menikmati masa itu tanpa beban lahir batin, ternyata hidup mendaftarkan dirinya menjadi guruku lebih awal dari anak seusiaku yang lain: prihatin dan mandiri adalah pelajaran utamanya. Membangunkanku lebih awal untuk menjadi dewasa: menjaga perasaan mamaku, adikku, dan keluarga disekitarku. Habis-habisan mengejar makhluk yang namanya prestasi di sekolah hanya karena ingin membuat bangga mamaku sebagai pembuktian pada dunia luar bahwa aku tak butuh dikasihani. Saat menginginkan sesuatu, tak bisa asal tunjuk dan minta; yang ada dalam benakku hanyalah berapa lama yg harus kutabung untuk bisa mendapatkannya. Aku tahu mamaku adalah orang yg kuat. Tak pernah sekalipun kudengar keluhan darinya. Yang selalu berusaha memberikan segala sesuatu yang dimiliknya untuk kebahagiaanku. Sesekali mendengarnya menangis saat malam tiba sudah menjadi hal yang cukup memunculkan keinginan kelamku untuk “membalas dendam” pada semua, pada hidup ini, pada papaku, bahkan pada Yang Diatas. Saat itu adalah saat dimana dunia adalah tempat yg kejam, menyedihkan dan tak adil. Jiwaku kelam sekelam kertas karbon. Kujadikan sekolah (pendidikan) sebagai tempat pelampiasanku untuk mencari makna bahwa kehadiranku penting didunia ini; yang penting, setiap terima raport, mamaku bisa tersenyum. Itulah pertama kali kurasakan apa yang dinamakan insting anak sulung dan insting sebagai seorang kakak. Peran eyang putri dan keluarga mamaku juga sangat besar untuk mengisi kehampaan psikologis ku karena ketidakhadiran figur seorang ayah.

“Kamu ngobat ya? Pantesan, anak broken home sih, ga usah mimpi sekolah tinggi deh, siapa yang mau bayarin?”. Kembali kutelan pil pahit itu. Pahit menusuk memang, tapi kutahan. Sudah sering menerima prasangka macam begini jadi lama-lama sakitnya tak terlalu kuanggap. Ya, aku marah pada dunia. Dan masa ini berlangsung hingga aku lulus kuliah S1. Godaan pelampiasan mulai dari merokok, trek-trek-an, icip-icip “puyer 16”, dolan nongkrong sampai malam, dan sebagainya hadir silih berganti tapi tak sampai hati aku melakukannya. Yang ada dalam benakku hanya satu: Tak ingin membuat mamaku sedih apalagi menangis karena kuatir dan marah. Kulalui semua itu dengan badan yg kurus kering dan emosi serta mood yang turun naik ekstrimnya. Psikiater pun sempat kucicipi tanpa sepengetahuan mamaku, hanya karena aku mulai sering berhalusinasi dan tak bisa tidur berhari-hari. Syukurlah tak sampai parah. Aku masih bertahan walau kadang sering melarikan segala perih dengan film, musik, dan buku. Tenggelam seakan tak ingin bangun dan menghadapi realita. Dalam hati sambil masih menanyakan dimana papaku saat itu. Badanku kurus kering bukan karena ngobat dan cacingan, tapi ya memang mungkin karena hormon dan gizi yg tidak seimbang, sering skip makan dan jarang istirahat. Ada saat-saat dimana aku sangat putus asa ingin gemuk supaya orang-orang tidak berprasangka yang aneh-aneh.

“Kapan kamu pernah ke luar negeri? Memang bisa? Ga usah ngayal deh”. Lama-lama pantulan rasa sakit itu makin keras. Saat ada kesempatan seleksi konferensi mahasiswa di Perth, Australia, kuberanikan diri ikut dan akhirnya kubuktikan mampu. Itulah pengalaman overseasku yg pertama kali; saat menjadi mahasiswa S1. Bangga? Lebih tepatnya puas. Puas membuktikan aku bisa. Saat-saat itu, tujuan hidupku hanyalah pembuktian demi pembuktian: pada dunia, pada orang-orang yang merendahkanku. Maklum, pemahamanku akan hidup masih dangkal. Emosi masih membuncah dimana-mana. Kedewasaanku tertutupi dengan kabut kebencian dan balas dendam.

“Kerja kok Cuma gitu thok. Mau maju kapan?”. Peluh kesal kubasuh lagi. Saat itu aku memang hanya staf export-import di perusahaan swasta; woodworking company tepatnya. Masih fresh graduate, berusaha mencari pengalaman kerja, tapi sudah merasakan sakitnya disepelekan. Maklum lagi, masih muda, masih idealis, gampang terluka egonya. Kecewa? Lebih tepatnya ngotot kerja sampai capek sehingga tidak ada waktu lagi untuk mengeluh. Vertigo, mimisan, dan maag kronis menjadi efek samping dari ini. Memang dasar aku keras kepala, kusembunyikan semua itu dari mamaku. Aku paling benci dengan diri sendiri kalau sampai mengecewakan, terlebih mamaku. Diam itu emas.

“Enak amat bisa masuk PNS, pasti nyogok ya? Bayar berapa? Pasti dibantu koneksi deh”. Ini prasangka yang sampai sekarang mungkin masih berlaku untukku. Saat-saat pertama CPNS ku. Kenyataanya aku masuk PNS tanpa nyogok sepeserpun, tanpa koneksi siapapun: terlalu naif tapi alhamdulillah masuk ga pake neko2. Pandangan sinis orang-orang yang merasa tak ingin aku tersenyum, mulai menjadi makanan sehari-hari. Saat itu belum intens social media, jadi kulampiaskan keluh kesahku pada pekerjaan dan makanan. Tenggelam dalam pekerjaan dan terjangkit sindrom perfeksionis. Sering kubohongi diri sendiri dengan mengatakan dalam hati “I am okay” yang in fact, “I wasn’t”.

“Ga usah mimpi ketinggian deh, memang kamu mampu lanjut S2?”. Well, mimpiku memang kadang kurasakan sendiri terlalu tinggi. Tapi eyang putri pernah ngendikan bahwa aku bisa jadi apapun yang aku inginkan. Mamaku juga tak pernah sekalipun memaksakan kehendaknya padaku. Mama paling nrimo yang pernah kumiliki. Saat aku gagal meraih sesuatu yg kuinginkan, mamaku justru yang selalu “ngayem-ngayemi” bahwa itu adalah keberhasilan yg tertunda. Klise memang, tapi itu sangat kuat efeknya. Justru aku yang sering menghukum diri sendiri hingga hidup sehari-hari kok rasanya seperti kompetisi. Lelah. Amat sangat lelah. Sampai pada suatu saat, di tahun 2005, aku bertemu kembali dengan papaku yang sudah belasan tahun “hilang” dari peredaran keluarga kecilku. Genap 15 tahun sudah ketidakhadirannya dalam hidupku. Tahun 2005 aku sudah di Jakarta. Bertemu lagi dengannya serasa mengoyak luka lama, namun saat detik pertemuan itu terjadi, yg bisa kulakukan hanya diam, bingung, rasanya ingin demo dan protes tapi tak tahu pada siapa. Papaku sudah berumah tangga lagi dan punya dua orang anak yang semuanya perempuan. Ya, aku punya adik lagi. Mungkin mamaku sudah punya feeling sejak lama, jadi saat kuberitahukan ini, beliau tak kaget (walau mungkin tetap sedih karena membuka luka lama). Yang paling marah adalah adikku. Aku paham perasaannya tapi tak tahu musti bagaimana. Yang aku tahu, perasaan seperti itu hanya bisa dikendalikan oleh diri sendiri. Sakitnya memang harus dialami, dijalani dan kemudian baru bisa dilakukan: memaafkan. Proses ini serasa seumur hidup untukku. Saat setahun kemudian, tahun 2006, papaku pergi lagi untuk yg kedua kalinya, namun kali ini untuk selamanya: tutup usia tepat di hari Idul Adha tahun 2006. Saat papaku dipanggil Allah SWT, umur kedua putrinya yang ditinggalkan saat itu sama dengan umurku dan adikku yg dulu ditinggalkannya. Saat itu aku heran tak bisa menangis. Sehari sebelum pemakamannya, aku hanya mengelus kakinya dan memanjatkan doa, tanpa air mata. Saat pemakamannya pun aku tak bisa hadir karena sedang tes kesehatan CPNS yang tak bisa diagendakan ulang: wajib tes. Saat pulang dari tes kesehatan itulah, air mataku baru tumpah di dalam bus. Aku sudah tak peduli lagi orang mau bilang apa, air mataku tak bisa berhenti. Setelah seminggu kepergian papaku, baru aku bisa berhenti menangis tapi tetap belum bisa memaafkan. Hingga berita itu tiba: beasiswa melanjutkan S2 ke USA. Dan perjalanan itupun harus kulalui hingga disana aku akhirnya bisa benar-benar memaafkan: memaafkan diriku sendiri dan papaku. Berdamai dengan ketidakadilan hidup.

“Kok belum nikah-nikah sih? Gonta-ganti melulu kan? Standardnya ketinggian”. Haduh, begitu gampangnya kah orang mengambil kesimpulan terhadapku tentang masalah pendamping hidup. Saat itu sudah 27 tahun umurku. Well, aku paham, they are not me so I forgive them for taking that conclusion. Saat pertama kali pacaran dulu sampai harus bolak-balik gagal, dikecewakan, dan disakiti, membuatku sempat tak pernah berfikiran untuk menikah. Pikirku dulu, aku bisa hidup kok tanpa harus ada suami. Duniaku belum kiamat kalau aku tidak nikah. So, nothing to lose. Saking seringnya gagal, dikecewakan dan disakiti, membuatku antipati terhadap lelaki: bukan trauma tapi antipati. Hingga menjelang saat-saat mendekati dipertemukannya lagi diriku dengan suamiku yang sekarang. Itupun melewati suatu peristiwa kegagalan dulu untuk yg kesekian kalinya. Allah maha adil, jika Dia sudah berkehendak, semuanya akan mengalir: ditunjukkan jalan dan dimudahkan walaupun dengan rintangan yg sepertinya mustahil untuk ditaklukkan. Sampai sekarang terkadang masih amazed dengan statusku sebagai istri yang mendampingi suamiku yg dulunya adalah teman SD ku. Jodoh itu misteri.

“Masak Cuma gara-gara nikah aja pindah agama sih? Sempit amat, murtad amat”. Ya Allah, prasangka ini membuatku benar-benar menangis dalam hati. Tak perlu juga kujelaskan bahwa sebenarnya jauh-jauh hari sebelum menikah pun, ada sebuah kerinduan yang tak bisa dijelaskan saat aku melihat mukena dan sajadah; saat aku mendengar lantunan ayat suci walaupun tak paham artinya; saat aku berkali-kali bertemu sosok bersorban keemasan yang sering kuanggap bunga tidur karena kelelahan. Sejak SMP aku sudah mengalami semua itu, tapi tak pernah kuceritakan pada siapapun: tidak pada mamaku, adikku, eyang putriku ataupun keluargaku bahkan temanku, Kusimpan sendiri, kusangka akan hilang sendirinya dengan berlalunya waktu. Tapi justru semakin lama semakin kuat, sampai pada akhirnya, dipilihkannya waktu-ku oleh waktunya Allah SWT: yang terbaik untuk mengucapkan 2 kalimat syhadat. Rasa haru yang tak bisa dijelaskan dengan kata-katapun kusimpan dalam hati. Hanya sholatlah yang mampu mengungkapkannya. Aku tahu sempat ada saat-saat dimana aku mengecewakan beberapa pihak dengan menjadi mualaf. Tapi aku tidak melakukannya karena terpaksa. Dan aku mendapatkan hidayah itu pun setelah melalui perjalanan panjang dan penempaan yang tiada henti. Hanya karena waktu nya dekat dengan waktu pernikahanku, maka prasangka tersebut muncul. Well, I don’t blame them. Aku terima semua ungkapan kekecewaan, cacian, makian, kemarahan, kekesalan, penyepelean, dan sebagainya dengan rasa syukur. Anehnya, setelah moment itu, sedikit demi sedikit, yang namanya cobaan hidup itu datang makin bertubi, namun tak sepenuhnya kurasakan sakit, luka atau berat yang menjadi-jadi seperti dulu. Hanya semacam tergores sedikit saja: sebentar sakit lalu perlahan memudar sakitnya. Sejuk perlahan.

“Istri yang egois, bukannya ngikutin suami, malah menjauh mementingkan karir”. Sebuah tarikan nafas yang sangat panjang kuambil. Ya Allah, ini sakit sekali tapi ya sudahlah. Toh mereka tak tahu dan tak harus tahu. Siapa yang tak ingin satu atap sebagai suami-istri. Idealnya begitu, tapi saat ini kami masih sama-sama memulai dan menyelami. Tirakat istilahnya. Kami hanya bisa berusaha yg terbaik untuk masa depan dan tak ingin selamanya begini. Planning sudah ada untuk satu atap namun kami menyerahkan semua usaha ini di tangan Allah SWT. Biarlah itu hanya kami dan Allah yang tahu.

“Makanya gak isi-isi, wong jauhan terus. Ga usah ditunda, kapan sih jadinya kalo begini terus?”. Prasangka yang tak pelak lagi menohok tepat di pulung ati. Siapa sih yang tak ingin punya keturunan. Namun sekali lagi, kami hanya bisa berusaha. Anak itu adalah rizki Allah. Jika memang kami sudah dipercaya untuk memilikinya, pasti ada jalan. Jika tidak, ya kami harus siap, namun tanpa lelah berusaha dan terus husnudzon. Jujur, kadang saking menohoknya, kutahan airmata dengan segala cara. Ada suara dalam hati: “kamu gak boleh begitu, gak boleh menangisi yang begini, itu namanya tidak mensyukuri”, dan tumpah semuanya dalam doa, saat benar-benar penat dengan segala prasangka yang menghujam. Tidur adalah anugerah terindah untuk mengakhiri hari dan menyambut pagi.

“Sudah muslimah kok engga berhijab sih? Gak tahu apa kalau itu wajib? Nunggu mati ya baru pasang hijab. Ntar telat loh” Ya Allah, satu lagi yang membuat perih di hati. Seperti waktu mualafku yang butuh timing tersendiri. Seperti anak yang belajar bicara dan berjalan. Hatiku sedang mencari karomah. Aku yakin niat akan menunjukkan jalan, tapi bukan karena terpaksa, dipaksa atau terburu-buru waktu. Aku yakin Allah akan memberi waktu yg terbaik untukku. Akan ada waktunya nanti untukku, yang pas, sama seperti saat aku mengucap syahadat. Tidak pernah aku menetapkan tanggalnya namun jalan yang diberikan memungkinkan itu semua. Itulah yg kuinginkan untuk hijabku. Bukan karena semata-mata wajib-sunnah, hidup-mati, neraka-surga, suci-dosa; aku ingin melakukannya hanya karena cinta, mengalir seperti nafas, alami tanpa mengharapkan pamrih atau apapun. Dan itu tak akan pernah bisa muncul dengan ultimatum. Semoga Allah SWT menunjukkan jalan menuju hijabku nanti.

“Kamu bukan dosen. Kamu bukan civitas akademika Perguruan Tinggi. Kamu bukan peneliti. Kamu hanya pemerhati. Ngapain lanjut S3? Cari penyakit. Fokus aja sama program baby dan suami. Ga usah neko-neko”. Ya Allah, sekali lagi salahkan mimpiku? Cita-citaku kalau bisa tak pernah berhenti sekolah. Lanjut studi bukan untuk mencari gelar, status, posisi apalagi gengsi. Jauh dari itu semua. Aku suka sekolah. Aku merasakan sensasi yag luar biasa saat tak tahu menjadi tahu. Aku menikmati proses kuliah. Aku menikmati pusingnya menulis akademik walau kadang harus tertatih dengan segala tantangan dan lika-likunya. Aku suka menemukan hal baru yang kutempatkan dengan konteksku sendiri. Aku suka sensasi saat pikiran sempitku dibukakan jadi lebih lebar. Aku suka perbedaan pendapat dan debat akademik. Aku suka belajar dengan mengeluarkan diri dari comfort-zone ku. “Mesin cuci” paling ampuh utk drilling, exploring and experimenting “deterjen” ide2 ku yg sering unpredictable. To put it simply, tuntutlah ilmu sampai kutub utara. Aku suka…dan suka…salahkah? Ingkarkah aku akan kodratku sebagai seorang wanita dan seorang istri? Hanya bisa kuserahkan semua cita-cita ini dalam doa. Mungkin terlalu muluk tapi aku tak pernah ingin berhenti bermimpi muluk.

Dan….hidupku memang tak pernah berhenti dari tempaan prasangka dan diskriminasi. Kurasa tak apa begitu karena saat ini semuanya terasa beda. Tak lagi aku marah pada dunia. Tak lagi kupunya dendam pada dunia. Tak lagi kuingin mengisi hidupku dengan pembuktian-pembuktian egois tanpa esensi makna. Tak lagi kurasa sembilu yang menderu saat menerima cobaan, hambatan dan tantangan; yang ada hanya penasaran untuk tak berhenti belajar sabar, tawakal, dan ikhlas. Walaupun kadang terasa sakit dan perih namun tak lagi kelam seperti kertas karbon. Mungkin sekarang jika hati sedang menyerah, tangis semalam lebih dari cukup untuk meredakannya. Besok hari harus selalu berusaha menyambut mentari dengan helaan nafas penuh syukur karena masih diberi hidup dan masih bisa tersenyum.

Aku hanya bisa bersyukur untuk tetap bahagia karena masih bisa merasakan sedih, kecewa, marah, kesal, dan terluka. Semua itu nikmat dari Allah SWT yg diberikan padaku sebagai manusia. Bukan cobaan, tapi nikmat dalam cobaan. Tanpa itu semua, tak bisa kurasakan kedalaman esensi sentuhan kebahagiaan. Saat ini sedang belajar merindukan kematian dengan indah; bukan karena putus asa dan pesimis, melainkan sebuah harapan di kehidupan selanjutnya untuk bertemu orang-orang yang sudah terlebih dahulu mendahuluiku; orang-orang yang kusayangi di Jannah: para leluhurku; sosok dimana jejak yang pernah hidup mengalirkan dan meneruskan darahnya padaku. Tak ingin meninggalkan dunia ini dengan kesakitan dan ketakutan namun juga tetap ingin menjalani hidup ini dengan kenikmatan syukur di setiap detiknya dengan hiasan mimpi, harapan, cita-cita dan usaha.

Melihat sejenak kebelakang, betapa konyolnya diriku, betapa sempitnya pikiranku, betapa dangkalnya kesabaranku, betapa kecilnya keikhlasanku. Saat ini pun aku masih merasa penuh dosa. Tak pantas rasanya meminta dalam doa. Malu. Aku sudah terlalu banyak meminta dan Allah SWT sudah memberikan lebih dari yang aku minta. Saat aku terpeleset, masih juga aku ditegur dan diingatkan dengan rangkaian peristiwa dalam hidupku: tanda-tanda yang harus kubaca dengan hati. Semoga aku masih diijinkan untuk berbagi, untuk mengabdi, untuk berserah diri.Semoga masih diijinkan bersyukur karena diberikan mama dan adik yang sebaik dan sekuat ini; diberikan suami yang benar-benar mengerti dari hati; diberikan papa yang membuatku lahir di dunia ini dan mengajarkanku prihatin, mandiri dan arti memaafkan; diberikan eyang putri yang sudah menginspirasi dan menguatkan; diberikan keluarga yang benar-benar mengayomi; diberikan teman-teman yang menjadi guru setiap hari.

Dan aku yakin, bahwa hampir 8 tahun mamaku pantang menyerah menungguku hadir di dunia ini bukanlah tanpa sebab. Sebuah penantian yg menjadi “tetenger” atau tanda seumur hidup utk tidak mudah putus asa. Saat ini hingga akhir nanti aku tak ingin mudah menyerah utk setidaknya membuat mamaku, suamiku dan org2 yg aku sayangi, termasuk diriku sendiri utk tersenyum, semampuku. Sebuah janji utk bahagia dan membagi senyum dari hati.

Hanya waktu yang akan menjawab segala misteri hidup
Kita semua punya waktu sendiri-sendiri
Dan jawaban dari waktu itu selalu indah pada waktunya
Tak perlu diburu-buru, biarkan mengalir apa adanya dengan doa dan usaha yang terbaik
Alhamdulillah – Insya Allah – Bismillah

Ambon – Maluku, 27 November 2013; Pukul 02:44 WIT
After Duty, Moment tak bisa tidur, when my thought’s switch off button is nowhere to be found.

Beraneka warna hikmah dalam prasangka yang telah membiaskan kelamnya hati (Pied in Prejudice)

Image

3228_1132184698348_404692_n

This is the poem I wrote to my beloved father, 3 years after he passed away. My very long journey from anger to revenge to denial until forgiveness had never been easy. However, I am grateful to be given the life I have been living now. Without getting through every hardship in my life, I would have never discovered the hidden gem of my life journey and meaning. My father will always be my father; every strength and good deed of him has created me; every weakness and wrongdoing of him has shaped my independence so….yes, I had learnt to forgive, the hardest way but I made it.

Also, I wrote this before I got married. A promise to introduce a man who’s now my husband had been fulfilled. Before we got married, I took him to come and visit my father and asked for his blessing at his grave. It was such a beautiful moment, watching my husband was “speaking” to my father through prayers. I cried, silently. Allah SWT has arranged everything accordingly beautiful, in His own time.

Rest in peace, father…I will see you again later when my time is up in this world 🙂

========================

To my father,

Father, first time you left me, I felt it was so unfair…

Second time you left me, I felt myself buried under the ground

I lost hope, vision, heart, everything that enabled me to sense the world

 

Day by day struggling to understand

Day by day struggling to fix

Day by day struggling to step on

Day by day struggling to cry

Day by day struggling to feel

Day by day struggling to reach my common sense

Day by day struggling to hope

Day by day struggling not to get lost

on my own…my very own…

 

Until one day, when I visited you; looking at your new place, I was struck

How much you wanted to hold me so tight last time we met

How much you wanted to apologize

How much you wanted me to forgive

How much you wanted me to fly without broken wings

How much you wanted to turn back the time; never letting me go

How much you wanted to atone

How much you wanted to hold my cold hands and heart

How much you wanted me to see how much you love me

 

I do apologize, father. I missed that…oh how much I missed that

You were trying to stand up strong while you were so weak even to walk

You were trying to smile while you were so painful inside

You were trying to say things while you were literally wordless

You were trying to walk in the middle of the night just to see me while you needed some rest

You were trying to hold an umbrella in the middle of blistering and rainy night while your hands were so trembling

You were trying to have dinner with me while you probably knew you wouldn’t be able to do so in the next morning

 

Father, I am so sorry, how could I be so blind?

How could I be so selfish?

How could I be so ridiculously ignorant?

Even though you left me twice you are still mine, my father, for the rest of my life; How could I not feel and see?

I remember staring at you when you left me second time for good

I couldn’t cry, tearlessly staring at you, just stoned

you were so cold, I called your name silently, hoping you could still answer that

 

Father, now I know what it means, everything, even though the most part of it still kept in puzzle

I know that you are okay now; no more tears, no more pain

Forgive me, father for being so ignorant; so ignorant to you and to myself

Last time, when I asked you…”what do you want from me this time?”…you just answered…”I just want you to be happy”…

I laughed, I said “father, I am happy, can’t you see?” You said “No, I can’t…I know what I see”…

I was raged inside trying to deny the fact that a father will always be a father who will always know, timelessly, even though you weren’t there for me all along my life cycle, you would still know; so painful to deny that

 

Now I see, father, I promise that I will always try to be happy

I promise, as I promise to live fully

Someday, I will ask someone to come along with me, visiting you

Someday, I promise that you will see me sharing my life with someone I love for the rest of my life

Someday, father, someday; you will walk me through the way from up above, to the new chapter of my life

 

Father, my life is full of challenges

Sometimes I am tempted to give up

I am tempted to curse

I am tempted to blame

I am tempted to gripe

But, when I look at the memory of you; shame on me if I do that

 

Therefore father, I will do my best to not giving up, cursing, blaming, or griping

I realize that to love you is to love myself and the world around me, wholeheartedly

I thank you, for being a father always, through my rejection and denials to you

Good night, father

your existence is now as warm as sunshine…

I am embracing you, as I embrace hope

take care, father

Wini – Athens, Spring 2009

Flashback on Soulmate

Posted: May 20, 2013 in Personal-Me
Tags: , , ,

Collage12

There were times in my life when I was wrong: thinking that “title” is the answer to everything; that success is determined by certain kind of quota; that happiness is made from how much I can prove to the world that I can do anything, be everything; that satisfaction is created by pride; that I can be strong on my own; that I won’t need anyone but me to be great. I was so overpride and arrogant. I was so defensive and thinking that everyone is constantly attacking me. I was so thirsty of proving myself in and out. That was before I hit rock bottom.

Losing, failing, being helpless, hopeless, and powerless have taught me that every great thing I achieve will mean NOTHING without someone to share it with. A little too late for me perhaps to finally believe that soulmate exists and I’m just grateful to still be given a chance to meet my soulmate, to share my life with, to trust to, to hang on to, to love, along with my beloved mother and sister of course. A soulmate who can simply give me happiness and wither away my complexities in life. A soulmate who can make me see the beauty of the simplest thing on earth. A soulmate who can show me that happiness is not merely determined by label, status, degree, stamp, or power. A smile from that soulmate I love is priceless and knowing that I’m loved as much as I love is equally priceless.

You can put a quantity and price on every material you have; every label you own; every degree you achieve; every status you get; every product you produce; every work you finish; every stamp and power you hold but NOT on that smile and happiness coming from someone you love and love you back. I am NOTHING without all of that. They teach me so much about the true meaning of love and life. They remind me to get away from being too arrogant. They give me spirit I need to get back on track. They give more meaning to everything I do, have, achieve, own, cherish, and hold. With them, life is more meaningful, colorful, beautiful. With them, every bitterness feels like tenderness.

Life is not just about what you are and do, you know. Life is more about who you are being selfless without those title, status, achievement, material, label, stamp, degree, product, work, and power. Life is about putting a smile on the faces you love and love you back; on the faces you meet by being who you are without those labels. Regarding that, I am still a student on that lesson.

Have you put a smile on someone else’s face today?

Wini, Jakarta

(Peluru Kertas on Reflection, 2013)

A Marriage To Me

Posted: March 25, 2013 in Personal-Me
Tags: , , ,

me

 

Every fight, every bitter encounter, every misunderstanding is worth it when our hearts still speak the same language and we can always learn better to love each other again. There’s no such thing as shortcuts or instant ways of a happily ever after in a marriage. It’s an underwater world where we have to try our best to wisely dive without drowning; It’s an outer space horizon where we have to try our best to wisely breathe with no oxygen without dying. However, with the right person whose souls are mirroring each other, any underwater or outer space horizon is always a true paradise (Wini, 2013).

After encountering some discussion and brainstorming with couples who had (and have just had) been very happy celebrating their silver (25 years of marriage) or gold (50 years of marriage) (and even platinum, more than 50 years of marriage) anniversary, I am enlightened in a way where I can see the silver lining of the ups and downs in my own marriage life (even though it is still a long way from silver, gold or platinum). I have been married for almost a year on April 13 this year (2013). Most people say the first five years of marriage is a struggle and the second five years will depend on how the first five years had been handled. Therefore, now I am in a starting point of making it work at my best. In the end, I can only hope, try, and pray that my marriage will last till “death do us apart” in which it can be a priceless legacy for my kids and grand kids later on to cherish, Insya Allah…Amin YRA.

Happy wedding anniversary to any of you who are celebrating today 😉

Love,

Wini

Jakarta, March 20, 2013