Posts Tagged ‘life’

Collagecintacinta5

Yang tersayang sahabat seumur hidupku, Yang terkasih nahkoda dari bahteraku, Yang tercinta suamiku;pasangan jiwaku,

Masih terbata-bata aku mengumpulkan tanggal, hari dan jam untuk tenggelam dalam pelukanmu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan keping benakku dari segala kepungan tanggung jawabku disini, utk tenggelam dalam senyum-mu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan angan utk bangun lebih pagi sebelum engkau, dengan secangkir teh hangat untukmu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan asa utk tidur lebih malam setelah engkau dan mengantar lelap istirahatmu setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan impian untuk memasakkan sesuatu yang kau suka dan melihat kau menikmatinya setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan harapan utk dapat menemani sujud Tahajudmu padaNya setiap waktu

Masih terbata-bata aku mengumpulkan cita-cita utk dekat di matamu, dekat di hatimu setiap waktu, sampai akhir waktu

Mungkin jarak ini diberikan oleh Tuhan utk lebih mendekatkan kita padaNya

Sebuah ikhtiar untuk makin menguatkan, melanggengkan, dan mendewasakan perjalanan yang sakinah-mawadah-warahmah, Insya Allah

Seperti yang selalu kau ucapkan padaku setiap waktu, di setiap kesempatan: La Tahzan, sayangku

Dan malam ini kembali kuserahkan segala rencana-rencana dan niat baik kita dalam sujudKu padaNya.

Maaf, aku belum fasih mencintaimu

Maaf, aku belum fasih menjadi istrimu

Kesempurnaan hanya milikNya; aku tidak meminta itu padaNya

Yang kupinta padaNya hanya jalan yg terbaik agar aku bisa fasih; sefasih-fasihnya mencintaimu; menghabiskan sisa hidup, waktu dan umurku bersamamu, setiap waktu

Semoga keterbataanku makin difasihkan oleh Tuhan dengan waktu terindahNya

Kutitipkan cinta itu pada mimpiku untuk dapat menjamah mimpimu disana setiap malam

Tak selalu harus terkatakan, namun semoga bisa selalu terasakan

Atas nama cinta, dengan ijin Tuhan, kudoakan jarak ini, tak ingin berlama-lama bersama kita,

Istrimu,
teman masa kecilmu 23 tahun yang lalu,
pendamping hidupmu yg hanya bisa melabuhkan cinta, rasa, asa, dan karsa padamu, untukmu

Di ujung rindu…berbincang syahdu dengan jarak dan waktu dan sedikit kata-kata sebagai penyeka kalbu

Jakarta, 26 Februari 2014

cintacinta

Advertisements

Guru itu ada dimana saja. Setiap manusia diciptakan untuk menjadi “guru” bagi yang lainnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bisa dari keluarga, orang lain, orang asing, karakter fiktif di cerita fiksi, bahkan binatang dan tumbuhan pun tak luput dari julukan “guru”. Bahkan, guru pun bisa hadir lewat representasi kondisi lingkungan dan masalah-masalah serta tantangan-tantangan hidup di sekitar kita. Segala sesuatunya diciptakan baik oleh Allah SWT dan walaupun kadang-kadang ada yang namanya orang jahat di dunia ini, saya tetap yakin, kejahatannya itu bisa menjadi kebaikan bagi yang lain, dalam artian, menjadi “cermin” untuk yg lain agar segera menyadari yg negatif dan merubahnya menjadi positif. Sejak kecil, entah kenapa saya “haus” ngelmu; itu bahasa halusnya. Bahasa agak halusnya ya penasaran dan ingin tahu tak kenal koma, tapi bukan karena ingin “kepo”. Ingin tahu 5W+1H di dalam setiap detik hidup saya. Awalnya saya tidak pernah sadar, namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa bahkan saat saya diam pun, batin dan pikiran saya tak pernah bisa di-diam-kan, seolah punya “diskursus” sendiri di dalam.

Mengapa harus terjadi global warming; mengapa korupsi menjadi sebuah kebiasaan lumrah; mengapa pemimpin yang adil dan jujur makin meredup; mengapa banyak wabah dan virus penyakit aneh; mengapa marak penculikan dan human trafficking; mengapa disiplin lalu lintas seolah mati suri; mengapa banyak pedagang menghalalkan segala cara untuk meraup untung; mengapa kondisi perekenomian negara ini makin tak terkendali; mengapa masih banyak rakyat yang tidak sejahtera; mengapa pertanian, peternakan, dan perikanan di negeri ini tidak diintensifikasi pengembangannya; mengapa banyak fenomena ilmu hitam; mengapa pendidikan masih harus banyak pembenahan; dan mengapa-mengapa yang lainnya….

Saya tidak pernah berpikir bahwa memikirkan hal-hal tersebut diatas adalah sesuatu yang (kadang) orang menganggap muluk-muluk; tidak. Untuk saya, makro dan mikro itu hubungannya sangat erat sekali. Terlebih lagi, cara saya berolah pikir tidak melulu sistematis, malah kadang tidak kenal sistem, bisa dari penjuru arah mana saja. Oleh sebab itu, “belajar” hidup itu ya justru dari apa yang terjadi di sekitar kehidupan saya: baik itu makro maupun mikro; baik itu khusus-umum maupun umum-khusus; baik itu kualitatif, kuantitatif, maupun gabungan keduanya. Penarikan sebuah kesimpulan pelajaran hidup dalam mekanisme olah pikir dan olah rasa saya harus melalui berbagai “gelembung-gelembung” zona, mulai dari zona sangat nyaman, zona nyaman, zona agak tidak nyaman, zona tidak nyaman, zona sangat tidak nyaman, bahkan zona yang sama sekali belum bisa teridentifikasi kenyamanannya. Saya melakukan hal tersebut karena saya membutuhkan “verifikasi-verifikasi” dari kesimpulan-kesimpulan pelajaran hidup (lesson learned) saya; mulai dari hal-hal yang sifatnya sangat simple sampai pada pada hal-hal yang bobotnya menurut saya berat dan complicated, tapi tak apa karena proses mengurai “benang kusut” itulah yang menjadi esensi kedewasaan berpikir saya yang tujuannya adalah meluaskan wawasan, menjadi lebih open minded tanpa kebablasan untuk minding someone else’s business.

Saat saya “belajar” dari “guru” yang makro ( bahkan sangat makronya sampai-sampai orang sering bilang kepada saya “ndak usah lah ikut-ikutan mikir begitu, pikirin aja dirimu dan kehidupanmu”), tak pernah terbersit pun dalam pikiran saya untuk gaya-gaya an atau sok-sok an; justru dengan demikian, saya menantang narrow-minded ness saya untuk “diluaskan” sedikit dengan melihat kondisi sekitar, kondisi yang sedang terjadi di lingkup masyarakat dan negara ini bahkan global. Tak jarang dari situ justru saya menemukan “tips dan trik”, semacam strategi saya sendiri untuk menghadapi dinamika kehidupan saya di lingkup yang lebih mikro. Contoh: Lewat isu mengenai makin tingginya harga pangan dunia, makin langkanya air bersih, makin tipisnya lapisan ozon, makin menimbunnya sampah dunia, makin tercemarnya lautan di dunia, dll, membuat saya belajar untuk tidak berlebihan dalam menggunakan air (walaupun kadang dinas dengan akomodasi hotel mewah), tidak mengucurkan air keran saat gosok gigi, tidak mengucurkan air keran saat cuci tangan, menuangkan air cucian beras ke tanaman, tidak neko-neko milih makanan yg serba wah tapi kurang sehat, tidak membuang-buang makanan dengan hanya kepengin thok terus tidak dihabiskan, dll. Itu hanya sebagian dari contoh paling simple-nya, atau bisa juga saat saya melihat, mempelajari gaya kepemimpinan para pemimpin negeri sekarang ini ataupun mempelajarinya dari biografi para pemimpin bangsa negeri ini di jaman dahulu kala saat saya belum lahir, membuat saya memahami benang merah dari apa itu arti sebuah kepemimpinan: budaya menjadi sebuah elemen penting yang membentuknya. Semakin luhur budaya nya (tindak tanduk, pola pikir tingkah laku, cara bicara, cara memilih kata, cara memposisikan diri, dll), semakin “matang” kualitas kepemimpinannya. Itulah teladan yg bisa saya ambil untuk setidaknya “memimpin” diri saya sendiri dulu: setidaknya mengatur ke-ego-an saya agar tidak menganggu harmonisasi lingkungan di sekitar saya dan tidak menimbulkan hawa yang negatif terhadap orang-orang di sekitar saya. Apa yang saya lihat, saya dengar, dan baca menjadi bagian dari proses pembelajaran tersebut.

Jadi, apapun bagi saya saat ini adalah guru dan cermin. Situasi negara ini, situasi masyarakat, situasi dunia, sampai pada situasi keluarga dan situasi diri saya sendiri. Semua zona situasi menjadi guru yang sangat berharga untuk saya. Justru dengan demikian lah saya menemukan mimpi, cita-cita, inovasi, kreasi, anomali, dan sudut pandang yang derajatnya sampai 360. Saya tak akan mungkin bisa menemukan itu semua jika tak “belajar” secara makro dan mikro yang bahkan terkadang sampai berada dalam posisi “out of my comfort zone”. Pada akhirnya memang semua pelajaran hidup itu saya jadikan cermin diri saya sendiri: mawas diri, evaluasi diri, mengkritik diri, mempelajari kesalahan diri, menjaga emosi dan hawa nafsu supaya tidak bablas, mendewasakan hati dan pikiran bahkan sampai belajar mentertawakan diri sendiri.

Tidak ada kata “muluk” dalam kamus kawruh (belajar) saya; sama seperti tidak ada kata “muluk” dalam bermimpi dan bercita-cita setinggi langit sampai keluar orbit planet pluto. Saya tidak akan pernah membatasi diri untuk “belajar”, dengan siapa saja, kapan saja, dalam situasi apa saja, formal, informal ataupun non formal, simple ataupun kompleks, mikro ataupun makro. Karena menurut saya, saat saya bisa belajar memposisikan diri saya di posisi orang lain, dalam kondisi yg lain dan konteks yg beraneka ragam, saya justru diberikan “alat” untuk merasa lebih bersyukur, lebih termotivasi, lebih memahami sudut-sudut dan sisi-sisi yang sebelumnya belum pernah saya rasakan atau tidak pernah saya alami: subyektivitas saya “diuji” dengan ini.

Overall, tentu saja, sebagai manusia, masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan saya dalam “belajar” dan kawruh, tak lepas dari trial dan error, jatuh dan bangun, dan suka-duka pembelajaran saya. Saya pun masih merasa ndak ada apa-apanya walau sudah “belajar” sampai setua umur saya ini. Namun satu yang pasti bahwa, saat hati saya “berontak”, “uneasy” dan “gelisah” terhadap sesuatu hal, saya tahu bahwa ada sesuatu yg “beyond what it appears; more than meets the eye”, walaupun terkadang pikiran saya tidak menyetujuinya. Belajar “membaca” hati saat kawruh adalah sebuah proses yang justru di umur saya sekarang ini, makin terasa lebih “berat” ketimbang jaman dulu sewaktu kedewasaan saya belum berproses. Bahwasanya benar adanya, belajar apapun kalau hanya mengandalkan logika dan pedagogis saja tidak akan seimbang. Harus melibatkan hati, nurani, atau conscience. Sama seperti halnya sebuah lagu, harmonisasi antara musik dan syair/lirik semuanya harus seimbang supaya “bunyi” nya menggungah siapapun yang mendengarnya. Bagi saya, belajar itu sama dengan nembang; sama dengan berlagu: antara rasa dan logika harus selaras, seimbang, dan harmonis. Dan untuk menciptakan sebuah pembelajaran pun senada dengan proses penciptaan sebuah lagu; limitless inspiration, oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja, dan bagaimana saja. Mengapa bagaimana saja? Ya karena, menurut saya, lagu itu bisa berasal dari syairnya dulu atau bisa juga dari musiknya dulu. Dan dari lagu lah, saya juga belajar bahwa suka duka hidup ini punya “nada” masing-masing yang sama indahnya. Have a lovely Wednesday!

Jakarta, January 15th 2014.


Hari ini, tepat di hari ulang tahun mama saya tercinta, terima kasih untuk kehadiran beliau di dunia ini yang 31 tahun yang lalu juga telah melahirkan saya dan mendidik saya, menjadi guru saya, hingga saat ini

 

Collage999

palu

Revenge has failed me many times. I’ve learnt the hardest way from my own mistakes and foolishness. Had I known that it served nothing but constant pain, I would have tried to avoid it since the very first beginning. Now, I have learnt that forgiveness never fails, at least for me. But I had gone such lengths in my journey to discover that. I might not as lucky as others when it comes to forgiveness. I sort of “envy” those who can forgive so easily, effortlessly without no hard feeling at all. My process has always been uneasy but it has taken me into such lengths I never thought I will get through.

 I used to be someone who was easy to keep grudge and extremely emotional. My determination to get back at those who hurt me so bad was so dark; I thought it would be the fairest answer. Yet, along the way, I realized it wasn’t the answer; the fair-least. The true strength is actually coming from forgiving those who hurt me the worst and I don’t learn it through a bumper sticker; I’ve learnt it the hardest way of my life but it’s all worth it.

wet

Everything is fair eventhough it might not seem like it is at first. I’ve learned that I don’t have to make revenge for those who wronged me. There’s always Higher Power that makes everything fair. I have discovered that having revenge only eats my soul from within and I never want to feel that way again. In the past, I was dragged and drowned in this kind of feeling: numbness.

 Yes, I am still human so I think it is still okay to be emotional sometimes. I realize that predicament will always come and go, never dissapears. I shall be ready at anytime to be tested in order to find wisdom. Sometimes, when I get so angry, very angry until I feel like I wanted to tear a curtain, the temptation to “get-back-at” is always kicking inside, as if it was an itchy feeling that needed to be scratched immediately. In my life journey, this feeling is the potential seed for revenge to grow larger and deeper. Yet, whenever I feel it within the greatest length of my anger, there’s a soft part in my heart telling that if I follow it, I will hurt everyone I love so dearly, and I don’t want that.

chicago

Somehow, in my 30s, the temptation for revenge seems to have faded away eventhough my memories doesn’t always surrender so easily to forget. Maybe my heart is getting more selective to notice what kind of feeling that’s worth to harbor. Losing someone very dear might add to that recipe of strength. It may be hard for me to forget those hurtful glimpses of horrible memory but I will dare say that I am willing to challenge myself every second to try my best to forgive. My heart always says “worry not, as everything that’s good and beautiful will be approaching at its own best time only when you don’t lose your sight; patience is always the key to ultimate happiness”.

 I know in my life dictionary, the journey to be able to forgive will not always come easily and smoothly but I am willing to try harder since I always long for how it makes me feel afterward: a true peace and serenity within myself. That’s what I am eventually aiming at when I leave this world; a true peace and serenity. So yes, I am willing to risk anything to finally forgive, even when I have to get through the roughest path. Because in the end, these true peace and serenity are the only things that’ll able to pay all the “dark debts” I still have within my soul, in hoping that it will continuously cleanse my soul until the end of my journey on earth.

 I am never proud of what I had done ugly in the past and I have honestly learnt to enjoy humiliating myself in a good way for that; A therapeutic method I’ve invented for myself to avoid making the same mistakes again, hopefully.

Wini,

Jakarta, December 12, 2013

lakehope

*Playlist while writing:

 Lesson Learned by Carrie Underwood

 Better in Time by Leona Lewis

 Yesterday by Leona Lewis

 The Climb by Miley Cyrus

 Someone’s Watching Over me by Hillary Duff

CIMG6118

“Ojo dolanan ning kene, kowe kan bolone kae” (“Jangan bermain disini, kamu kan temannya dia”). Masih kuingat waktu itu aku belum masuk TK besar, mungkin 4 tahun-an; pertama kali mengenal dan mengalami apa yg disebut “prasangka” (prejudice) dan “diskriminasi”. Hanya karena aku meminjamkan untaian karet gelang untuk lompat tali (atau sprentel) pada salah satu anak tetangga, aku dibenci anak-anak yg lain yang memang tidak suka dia dgn alasan yang aku sendiri tak pernah tahu dengan jelas. Saat itu, hampir nangis karena bingung oleh diskriminasi dan prasangka yg tiba-tiba macam itu namun yg aku ingat kemudian hanya pulang ke rumah dan main-main lagi dengan koleksi boneka-boneka balon plastik yg sering dibelikan mama di Simpanglima. Hampir nangisnya tak bertahan lama.

“Papamu dimana, kasian banget sih ga ada yang beliin ini (sambil menunjukkan rumah-rumahan Barbie)”. Ingatanku tak pernah bohong. Walau sudah lebih dari 20 tahun berlalu sejak saat itu diucapkan, ingatanku tak pernah bisa melupakan hal-hal yg menyakitkan, walaupun kadang sudah kutepis dengan berbagai macam cara. Saat itu memang saat-saat dimana papaku tidak dapat menjalankan tugasnya mengayomi keluarga; pergi tanpa berita, meninggalkan tanggung jawabnya. Marah? Bukan marah lagi, tapi sempat benci menjadi-jadi. Masa pra remaja yg sangat sensitif. Disaat yg lain seusiaku bisa bermanja minta ini-itu dengan papanya; bermain dengan papanya; aku harus menggigit bibir dan menahan tangis melihat semua adegan itu. Saat seharusnya aku menikmati masa itu tanpa beban lahir batin, ternyata hidup mendaftarkan dirinya menjadi guruku lebih awal dari anak seusiaku yang lain: prihatin dan mandiri adalah pelajaran utamanya. Membangunkanku lebih awal untuk menjadi dewasa: menjaga perasaan mamaku, adikku, dan keluarga disekitarku. Habis-habisan mengejar makhluk yang namanya prestasi di sekolah hanya karena ingin membuat bangga mamaku sebagai pembuktian pada dunia luar bahwa aku tak butuh dikasihani. Saat menginginkan sesuatu, tak bisa asal tunjuk dan minta; yang ada dalam benakku hanyalah berapa lama yg harus kutabung untuk bisa mendapatkannya. Aku tahu mamaku adalah orang yg kuat. Tak pernah sekalipun kudengar keluhan darinya. Yang selalu berusaha memberikan segala sesuatu yang dimiliknya untuk kebahagiaanku. Sesekali mendengarnya menangis saat malam tiba sudah menjadi hal yang cukup memunculkan keinginan kelamku untuk “membalas dendam” pada semua, pada hidup ini, pada papaku, bahkan pada Yang Diatas. Saat itu adalah saat dimana dunia adalah tempat yg kejam, menyedihkan dan tak adil. Jiwaku kelam sekelam kertas karbon. Kujadikan sekolah (pendidikan) sebagai tempat pelampiasanku untuk mencari makna bahwa kehadiranku penting didunia ini; yang penting, setiap terima raport, mamaku bisa tersenyum. Itulah pertama kali kurasakan apa yang dinamakan insting anak sulung dan insting sebagai seorang kakak. Peran eyang putri dan keluarga mamaku juga sangat besar untuk mengisi kehampaan psikologis ku karena ketidakhadiran figur seorang ayah.

“Kamu ngobat ya? Pantesan, anak broken home sih, ga usah mimpi sekolah tinggi deh, siapa yang mau bayarin?”. Kembali kutelan pil pahit itu. Pahit menusuk memang, tapi kutahan. Sudah sering menerima prasangka macam begini jadi lama-lama sakitnya tak terlalu kuanggap. Ya, aku marah pada dunia. Dan masa ini berlangsung hingga aku lulus kuliah S1. Godaan pelampiasan mulai dari merokok, trek-trek-an, icip-icip “puyer 16”, dolan nongkrong sampai malam, dan sebagainya hadir silih berganti tapi tak sampai hati aku melakukannya. Yang ada dalam benakku hanya satu: Tak ingin membuat mamaku sedih apalagi menangis karena kuatir dan marah. Kulalui semua itu dengan badan yg kurus kering dan emosi serta mood yang turun naik ekstrimnya. Psikiater pun sempat kucicipi tanpa sepengetahuan mamaku, hanya karena aku mulai sering berhalusinasi dan tak bisa tidur berhari-hari. Syukurlah tak sampai parah. Aku masih bertahan walau kadang sering melarikan segala perih dengan film, musik, dan buku. Tenggelam seakan tak ingin bangun dan menghadapi realita. Dalam hati sambil masih menanyakan dimana papaku saat itu. Badanku kurus kering bukan karena ngobat dan cacingan, tapi ya memang mungkin karena hormon dan gizi yg tidak seimbang, sering skip makan dan jarang istirahat. Ada saat-saat dimana aku sangat putus asa ingin gemuk supaya orang-orang tidak berprasangka yang aneh-aneh.

“Kapan kamu pernah ke luar negeri? Memang bisa? Ga usah ngayal deh”. Lama-lama pantulan rasa sakit itu makin keras. Saat ada kesempatan seleksi konferensi mahasiswa di Perth, Australia, kuberanikan diri ikut dan akhirnya kubuktikan mampu. Itulah pengalaman overseasku yg pertama kali; saat menjadi mahasiswa S1. Bangga? Lebih tepatnya puas. Puas membuktikan aku bisa. Saat-saat itu, tujuan hidupku hanyalah pembuktian demi pembuktian: pada dunia, pada orang-orang yang merendahkanku. Maklum, pemahamanku akan hidup masih dangkal. Emosi masih membuncah dimana-mana. Kedewasaanku tertutupi dengan kabut kebencian dan balas dendam.

“Kerja kok Cuma gitu thok. Mau maju kapan?”. Peluh kesal kubasuh lagi. Saat itu aku memang hanya staf export-import di perusahaan swasta; woodworking company tepatnya. Masih fresh graduate, berusaha mencari pengalaman kerja, tapi sudah merasakan sakitnya disepelekan. Maklum lagi, masih muda, masih idealis, gampang terluka egonya. Kecewa? Lebih tepatnya ngotot kerja sampai capek sehingga tidak ada waktu lagi untuk mengeluh. Vertigo, mimisan, dan maag kronis menjadi efek samping dari ini. Memang dasar aku keras kepala, kusembunyikan semua itu dari mamaku. Aku paling benci dengan diri sendiri kalau sampai mengecewakan, terlebih mamaku. Diam itu emas.

“Enak amat bisa masuk PNS, pasti nyogok ya? Bayar berapa? Pasti dibantu koneksi deh”. Ini prasangka yang sampai sekarang mungkin masih berlaku untukku. Saat-saat pertama CPNS ku. Kenyataanya aku masuk PNS tanpa nyogok sepeserpun, tanpa koneksi siapapun: terlalu naif tapi alhamdulillah masuk ga pake neko2. Pandangan sinis orang-orang yang merasa tak ingin aku tersenyum, mulai menjadi makanan sehari-hari. Saat itu belum intens social media, jadi kulampiaskan keluh kesahku pada pekerjaan dan makanan. Tenggelam dalam pekerjaan dan terjangkit sindrom perfeksionis. Sering kubohongi diri sendiri dengan mengatakan dalam hati “I am okay” yang in fact, “I wasn’t”.

“Ga usah mimpi ketinggian deh, memang kamu mampu lanjut S2?”. Well, mimpiku memang kadang kurasakan sendiri terlalu tinggi. Tapi eyang putri pernah ngendikan bahwa aku bisa jadi apapun yang aku inginkan. Mamaku juga tak pernah sekalipun memaksakan kehendaknya padaku. Mama paling nrimo yang pernah kumiliki. Saat aku gagal meraih sesuatu yg kuinginkan, mamaku justru yang selalu “ngayem-ngayemi” bahwa itu adalah keberhasilan yg tertunda. Klise memang, tapi itu sangat kuat efeknya. Justru aku yang sering menghukum diri sendiri hingga hidup sehari-hari kok rasanya seperti kompetisi. Lelah. Amat sangat lelah. Sampai pada suatu saat, di tahun 2005, aku bertemu kembali dengan papaku yang sudah belasan tahun “hilang” dari peredaran keluarga kecilku. Genap 15 tahun sudah ketidakhadirannya dalam hidupku. Tahun 2005 aku sudah di Jakarta. Bertemu lagi dengannya serasa mengoyak luka lama, namun saat detik pertemuan itu terjadi, yg bisa kulakukan hanya diam, bingung, rasanya ingin demo dan protes tapi tak tahu pada siapa. Papaku sudah berumah tangga lagi dan punya dua orang anak yang semuanya perempuan. Ya, aku punya adik lagi. Mungkin mamaku sudah punya feeling sejak lama, jadi saat kuberitahukan ini, beliau tak kaget (walau mungkin tetap sedih karena membuka luka lama). Yang paling marah adalah adikku. Aku paham perasaannya tapi tak tahu musti bagaimana. Yang aku tahu, perasaan seperti itu hanya bisa dikendalikan oleh diri sendiri. Sakitnya memang harus dialami, dijalani dan kemudian baru bisa dilakukan: memaafkan. Proses ini serasa seumur hidup untukku. Saat setahun kemudian, tahun 2006, papaku pergi lagi untuk yg kedua kalinya, namun kali ini untuk selamanya: tutup usia tepat di hari Idul Adha tahun 2006. Saat papaku dipanggil Allah SWT, umur kedua putrinya yang ditinggalkan saat itu sama dengan umurku dan adikku yg dulu ditinggalkannya. Saat itu aku heran tak bisa menangis. Sehari sebelum pemakamannya, aku hanya mengelus kakinya dan memanjatkan doa, tanpa air mata. Saat pemakamannya pun aku tak bisa hadir karena sedang tes kesehatan CPNS yang tak bisa diagendakan ulang: wajib tes. Saat pulang dari tes kesehatan itulah, air mataku baru tumpah di dalam bus. Aku sudah tak peduli lagi orang mau bilang apa, air mataku tak bisa berhenti. Setelah seminggu kepergian papaku, baru aku bisa berhenti menangis tapi tetap belum bisa memaafkan. Hingga berita itu tiba: beasiswa melanjutkan S2 ke USA. Dan perjalanan itupun harus kulalui hingga disana aku akhirnya bisa benar-benar memaafkan: memaafkan diriku sendiri dan papaku. Berdamai dengan ketidakadilan hidup.

“Kok belum nikah-nikah sih? Gonta-ganti melulu kan? Standardnya ketinggian”. Haduh, begitu gampangnya kah orang mengambil kesimpulan terhadapku tentang masalah pendamping hidup. Saat itu sudah 27 tahun umurku. Well, aku paham, they are not me so I forgive them for taking that conclusion. Saat pertama kali pacaran dulu sampai harus bolak-balik gagal, dikecewakan, dan disakiti, membuatku sempat tak pernah berfikiran untuk menikah. Pikirku dulu, aku bisa hidup kok tanpa harus ada suami. Duniaku belum kiamat kalau aku tidak nikah. So, nothing to lose. Saking seringnya gagal, dikecewakan dan disakiti, membuatku antipati terhadap lelaki: bukan trauma tapi antipati. Hingga menjelang saat-saat mendekati dipertemukannya lagi diriku dengan suamiku yang sekarang. Itupun melewati suatu peristiwa kegagalan dulu untuk yg kesekian kalinya. Allah maha adil, jika Dia sudah berkehendak, semuanya akan mengalir: ditunjukkan jalan dan dimudahkan walaupun dengan rintangan yg sepertinya mustahil untuk ditaklukkan. Sampai sekarang terkadang masih amazed dengan statusku sebagai istri yang mendampingi suamiku yg dulunya adalah teman SD ku. Jodoh itu misteri.

“Masak Cuma gara-gara nikah aja pindah agama sih? Sempit amat, murtad amat”. Ya Allah, prasangka ini membuatku benar-benar menangis dalam hati. Tak perlu juga kujelaskan bahwa sebenarnya jauh-jauh hari sebelum menikah pun, ada sebuah kerinduan yang tak bisa dijelaskan saat aku melihat mukena dan sajadah; saat aku mendengar lantunan ayat suci walaupun tak paham artinya; saat aku berkali-kali bertemu sosok bersorban keemasan yang sering kuanggap bunga tidur karena kelelahan. Sejak SMP aku sudah mengalami semua itu, tapi tak pernah kuceritakan pada siapapun: tidak pada mamaku, adikku, eyang putriku ataupun keluargaku bahkan temanku, Kusimpan sendiri, kusangka akan hilang sendirinya dengan berlalunya waktu. Tapi justru semakin lama semakin kuat, sampai pada akhirnya, dipilihkannya waktu-ku oleh waktunya Allah SWT: yang terbaik untuk mengucapkan 2 kalimat syhadat. Rasa haru yang tak bisa dijelaskan dengan kata-katapun kusimpan dalam hati. Hanya sholatlah yang mampu mengungkapkannya. Aku tahu sempat ada saat-saat dimana aku mengecewakan beberapa pihak dengan menjadi mualaf. Tapi aku tidak melakukannya karena terpaksa. Dan aku mendapatkan hidayah itu pun setelah melalui perjalanan panjang dan penempaan yang tiada henti. Hanya karena waktu nya dekat dengan waktu pernikahanku, maka prasangka tersebut muncul. Well, I don’t blame them. Aku terima semua ungkapan kekecewaan, cacian, makian, kemarahan, kekesalan, penyepelean, dan sebagainya dengan rasa syukur. Anehnya, setelah moment itu, sedikit demi sedikit, yang namanya cobaan hidup itu datang makin bertubi, namun tak sepenuhnya kurasakan sakit, luka atau berat yang menjadi-jadi seperti dulu. Hanya semacam tergores sedikit saja: sebentar sakit lalu perlahan memudar sakitnya. Sejuk perlahan.

“Istri yang egois, bukannya ngikutin suami, malah menjauh mementingkan karir”. Sebuah tarikan nafas yang sangat panjang kuambil. Ya Allah, ini sakit sekali tapi ya sudahlah. Toh mereka tak tahu dan tak harus tahu. Siapa yang tak ingin satu atap sebagai suami-istri. Idealnya begitu, tapi saat ini kami masih sama-sama memulai dan menyelami. Tirakat istilahnya. Kami hanya bisa berusaha yg terbaik untuk masa depan dan tak ingin selamanya begini. Planning sudah ada untuk satu atap namun kami menyerahkan semua usaha ini di tangan Allah SWT. Biarlah itu hanya kami dan Allah yang tahu.

“Makanya gak isi-isi, wong jauhan terus. Ga usah ditunda, kapan sih jadinya kalo begini terus?”. Prasangka yang tak pelak lagi menohok tepat di pulung ati. Siapa sih yang tak ingin punya keturunan. Namun sekali lagi, kami hanya bisa berusaha. Anak itu adalah rizki Allah. Jika memang kami sudah dipercaya untuk memilikinya, pasti ada jalan. Jika tidak, ya kami harus siap, namun tanpa lelah berusaha dan terus husnudzon. Jujur, kadang saking menohoknya, kutahan airmata dengan segala cara. Ada suara dalam hati: “kamu gak boleh begitu, gak boleh menangisi yang begini, itu namanya tidak mensyukuri”, dan tumpah semuanya dalam doa, saat benar-benar penat dengan segala prasangka yang menghujam. Tidur adalah anugerah terindah untuk mengakhiri hari dan menyambut pagi.

“Sudah muslimah kok engga berhijab sih? Gak tahu apa kalau itu wajib? Nunggu mati ya baru pasang hijab. Ntar telat loh” Ya Allah, satu lagi yang membuat perih di hati. Seperti waktu mualafku yang butuh timing tersendiri. Seperti anak yang belajar bicara dan berjalan. Hatiku sedang mencari karomah. Aku yakin niat akan menunjukkan jalan, tapi bukan karena terpaksa, dipaksa atau terburu-buru waktu. Aku yakin Allah akan memberi waktu yg terbaik untukku. Akan ada waktunya nanti untukku, yang pas, sama seperti saat aku mengucap syahadat. Tidak pernah aku menetapkan tanggalnya namun jalan yang diberikan memungkinkan itu semua. Itulah yg kuinginkan untuk hijabku. Bukan karena semata-mata wajib-sunnah, hidup-mati, neraka-surga, suci-dosa; aku ingin melakukannya hanya karena cinta, mengalir seperti nafas, alami tanpa mengharapkan pamrih atau apapun. Dan itu tak akan pernah bisa muncul dengan ultimatum. Semoga Allah SWT menunjukkan jalan menuju hijabku nanti.

“Kamu bukan dosen. Kamu bukan civitas akademika Perguruan Tinggi. Kamu bukan peneliti. Kamu hanya pemerhati. Ngapain lanjut S3? Cari penyakit. Fokus aja sama program baby dan suami. Ga usah neko-neko”. Ya Allah, sekali lagi salahkan mimpiku? Cita-citaku kalau bisa tak pernah berhenti sekolah. Lanjut studi bukan untuk mencari gelar, status, posisi apalagi gengsi. Jauh dari itu semua. Aku suka sekolah. Aku merasakan sensasi yag luar biasa saat tak tahu menjadi tahu. Aku menikmati proses kuliah. Aku menikmati pusingnya menulis akademik walau kadang harus tertatih dengan segala tantangan dan lika-likunya. Aku suka menemukan hal baru yang kutempatkan dengan konteksku sendiri. Aku suka sensasi saat pikiran sempitku dibukakan jadi lebih lebar. Aku suka perbedaan pendapat dan debat akademik. Aku suka belajar dengan mengeluarkan diri dari comfort-zone ku. “Mesin cuci” paling ampuh utk drilling, exploring and experimenting “deterjen” ide2 ku yg sering unpredictable. To put it simply, tuntutlah ilmu sampai kutub utara. Aku suka…dan suka…salahkah? Ingkarkah aku akan kodratku sebagai seorang wanita dan seorang istri? Hanya bisa kuserahkan semua cita-cita ini dalam doa. Mungkin terlalu muluk tapi aku tak pernah ingin berhenti bermimpi muluk.

Dan….hidupku memang tak pernah berhenti dari tempaan prasangka dan diskriminasi. Kurasa tak apa begitu karena saat ini semuanya terasa beda. Tak lagi aku marah pada dunia. Tak lagi kupunya dendam pada dunia. Tak lagi kuingin mengisi hidupku dengan pembuktian-pembuktian egois tanpa esensi makna. Tak lagi kurasa sembilu yang menderu saat menerima cobaan, hambatan dan tantangan; yang ada hanya penasaran untuk tak berhenti belajar sabar, tawakal, dan ikhlas. Walaupun kadang terasa sakit dan perih namun tak lagi kelam seperti kertas karbon. Mungkin sekarang jika hati sedang menyerah, tangis semalam lebih dari cukup untuk meredakannya. Besok hari harus selalu berusaha menyambut mentari dengan helaan nafas penuh syukur karena masih diberi hidup dan masih bisa tersenyum.

Aku hanya bisa bersyukur untuk tetap bahagia karena masih bisa merasakan sedih, kecewa, marah, kesal, dan terluka. Semua itu nikmat dari Allah SWT yg diberikan padaku sebagai manusia. Bukan cobaan, tapi nikmat dalam cobaan. Tanpa itu semua, tak bisa kurasakan kedalaman esensi sentuhan kebahagiaan. Saat ini sedang belajar merindukan kematian dengan indah; bukan karena putus asa dan pesimis, melainkan sebuah harapan di kehidupan selanjutnya untuk bertemu orang-orang yang sudah terlebih dahulu mendahuluiku; orang-orang yang kusayangi di Jannah: para leluhurku; sosok dimana jejak yang pernah hidup mengalirkan dan meneruskan darahnya padaku. Tak ingin meninggalkan dunia ini dengan kesakitan dan ketakutan namun juga tetap ingin menjalani hidup ini dengan kenikmatan syukur di setiap detiknya dengan hiasan mimpi, harapan, cita-cita dan usaha.

Melihat sejenak kebelakang, betapa konyolnya diriku, betapa sempitnya pikiranku, betapa dangkalnya kesabaranku, betapa kecilnya keikhlasanku. Saat ini pun aku masih merasa penuh dosa. Tak pantas rasanya meminta dalam doa. Malu. Aku sudah terlalu banyak meminta dan Allah SWT sudah memberikan lebih dari yang aku minta. Saat aku terpeleset, masih juga aku ditegur dan diingatkan dengan rangkaian peristiwa dalam hidupku: tanda-tanda yang harus kubaca dengan hati. Semoga aku masih diijinkan untuk berbagi, untuk mengabdi, untuk berserah diri.Semoga masih diijinkan bersyukur karena diberikan mama dan adik yang sebaik dan sekuat ini; diberikan suami yang benar-benar mengerti dari hati; diberikan papa yang membuatku lahir di dunia ini dan mengajarkanku prihatin, mandiri dan arti memaafkan; diberikan eyang putri yang sudah menginspirasi dan menguatkan; diberikan keluarga yang benar-benar mengayomi; diberikan teman-teman yang menjadi guru setiap hari.

Dan aku yakin, bahwa hampir 8 tahun mamaku pantang menyerah menungguku hadir di dunia ini bukanlah tanpa sebab. Sebuah penantian yg menjadi “tetenger” atau tanda seumur hidup utk tidak mudah putus asa. Saat ini hingga akhir nanti aku tak ingin mudah menyerah utk setidaknya membuat mamaku, suamiku dan org2 yg aku sayangi, termasuk diriku sendiri utk tersenyum, semampuku. Sebuah janji utk bahagia dan membagi senyum dari hati.

Hanya waktu yang akan menjawab segala misteri hidup
Kita semua punya waktu sendiri-sendiri
Dan jawaban dari waktu itu selalu indah pada waktunya
Tak perlu diburu-buru, biarkan mengalir apa adanya dengan doa dan usaha yang terbaik
Alhamdulillah – Insya Allah – Bismillah

Ambon – Maluku, 27 November 2013; Pukul 02:44 WIT
After Duty, Moment tak bisa tidur, when my thought’s switch off button is nowhere to be found.

Beraneka warna hikmah dalam prasangka yang telah membiaskan kelamnya hati (Pied in Prejudice)

Image

Flashback on Soulmate

Posted: May 20, 2013 in Personal-Me
Tags: , , ,

Collage12

There were times in my life when I was wrong: thinking that “title” is the answer to everything; that success is determined by certain kind of quota; that happiness is made from how much I can prove to the world that I can do anything, be everything; that satisfaction is created by pride; that I can be strong on my own; that I won’t need anyone but me to be great. I was so overpride and arrogant. I was so defensive and thinking that everyone is constantly attacking me. I was so thirsty of proving myself in and out. That was before I hit rock bottom.

Losing, failing, being helpless, hopeless, and powerless have taught me that every great thing I achieve will mean NOTHING without someone to share it with. A little too late for me perhaps to finally believe that soulmate exists and I’m just grateful to still be given a chance to meet my soulmate, to share my life with, to trust to, to hang on to, to love, along with my beloved mother and sister of course. A soulmate who can simply give me happiness and wither away my complexities in life. A soulmate who can make me see the beauty of the simplest thing on earth. A soulmate who can show me that happiness is not merely determined by label, status, degree, stamp, or power. A smile from that soulmate I love is priceless and knowing that I’m loved as much as I love is equally priceless.

You can put a quantity and price on every material you have; every label you own; every degree you achieve; every status you get; every product you produce; every work you finish; every stamp and power you hold but NOT on that smile and happiness coming from someone you love and love you back. I am NOTHING without all of that. They teach me so much about the true meaning of love and life. They remind me to get away from being too arrogant. They give me spirit I need to get back on track. They give more meaning to everything I do, have, achieve, own, cherish, and hold. With them, life is more meaningful, colorful, beautiful. With them, every bitterness feels like tenderness.

Life is not just about what you are and do, you know. Life is more about who you are being selfless without those title, status, achievement, material, label, stamp, degree, product, work, and power. Life is about putting a smile on the faces you love and love you back; on the faces you meet by being who you are without those labels. Regarding that, I am still a student on that lesson.

Have you put a smile on someone else’s face today?

Wini, Jakarta

(Peluru Kertas on Reflection, 2013)

A Marriage To Me

Posted: March 25, 2013 in Personal-Me
Tags: , , ,

me

 

Every fight, every bitter encounter, every misunderstanding is worth it when our hearts still speak the same language and we can always learn better to love each other again. There’s no such thing as shortcuts or instant ways of a happily ever after in a marriage. It’s an underwater world where we have to try our best to wisely dive without drowning; It’s an outer space horizon where we have to try our best to wisely breathe with no oxygen without dying. However, with the right person whose souls are mirroring each other, any underwater or outer space horizon is always a true paradise (Wini, 2013).

After encountering some discussion and brainstorming with couples who had (and have just had) been very happy celebrating their silver (25 years of marriage) or gold (50 years of marriage) (and even platinum, more than 50 years of marriage) anniversary, I am enlightened in a way where I can see the silver lining of the ups and downs in my own marriage life (even though it is still a long way from silver, gold or platinum). I have been married for almost a year on April 13 this year (2013). Most people say the first five years of marriage is a struggle and the second five years will depend on how the first five years had been handled. Therefore, now I am in a starting point of making it work at my best. In the end, I can only hope, try, and pray that my marriage will last till “death do us apart” in which it can be a priceless legacy for my kids and grand kids later on to cherish, Insya Allah…Amin YRA.

Happy wedding anniversary to any of you who are celebrating today 😉

Love,

Wini

Jakarta, March 20, 2013

Part of the questions explored in the Men Studies I don’t get from school: Are Gentlemen, nowadays, close to extinction? What makes a man a gentleman? Why men (not all) lately are so insensitive, lack of manner and boosting up their ego and selfishness too much here and there with lack of consideration towards others? Personally speaking, only the few whom I’d say are real gentlemen: as a husband now (of course; he is the most gentleman of all. The one whom I finally married to after a very long harsh and broken heart), as friends, as a boyfriend, as ex(es), as best friends, or even acquaintances.

Regrading young men now, especially in the big city I am living in, They seem too be busy with toys on their hands and their ears. Sometimes, I am thinking, do they use those toys as an excuse to just not care with the environment around them?

I know that we are not perfect but I think we need to keep the real thing real, such as simple and good attitudes. From variety of resources, understanding, perspectives, experiences, and observations, I believe with all my heart that being a man does not always make a man a gentleman. It is important to state here that being a gentleman is not just about wearing bespoke suits made by international or most expensive brands, the ability to knot ties in variety of ways; it’s also not about owning the latest car, electronic toys or being moneyed. Being gentleman is mostly behavioral. Being a gentleman is about treating people right, not just to us, ladies. It’s also about the cultural values. The more cultured you are, the more accommodating you are with people.

A gentleman should not treat women shabbily. Real gentlemen understand that everyone is equal before God, whether male and female. He also understands that women are not as privileged in society as men are, so he gives them respect. This does not mean he bows or worships them; but he understands their disadvantages and seeks to compensate them. Being a gentleman is also about showing integrity; a gentleman will deliver on what he promises.

A gentleman does not parade himself. Gentlemen are very circumspect, not boastful. A real gentleman will never attempt to show off to others the number of cars he possess or the number of houses he has built. Simply, a gentleman is not “in your face” as many people (or should I say, men) do nowadays. Some of old-fashioned-good manners that are forgettable nowadays – saying please and thank you, holding open doors, standing up when someone enters the room, asking questions of others rather than talking about oneself, ensuring to give appropriate compliments and so on.

One thing for sure, privilege and private education do not automatically confer gentlemanly status. So, please guys…from now on, be not just a man, but a real gentleman!

PS. My perspective might be bias and very subjective because of my gender. Yet, I am just trying to be honest without any intention of discrediting anyone or anything.

 

For this, please, pardon my subjectivity 😉

Wini, Jakarta, 2012


(illustration taken from http://www.604republic.com)

One of my friends has just shared me this notion of working dead. I had no clue what it meant until he explained to me that it's actually the simplification of acting like working. Ah-ha, my comic bubble above my head finally blinks. This notion could be someone else's paradise and someone else's hell. That just depends on how deep the passion is rooted.

Further away he said:
"When the big boss cat was away on vacation, the worker mice shared a six pack"

Before I finally said any word (I was opening my mouth and prepared to say something), he cut me off and continued saying:
"I get paid to watch television all day.” — “I get paid to stay in an air conditioned office all day.” — “I get paid to play solitaire all day.” — “I get paid to browse the Internet all day.” — “I get paid to babysit a phone all day.” — “I get paid to attend meetings all day.” — “I get paid to watch the clock all day.”

I said "Wow….sounds like paradise".
He said " Well, it was for quite a while…then my soul felt decomposed"
I asked "what did you do? Did you quit?"
He said "It took me almost 10 years to finally realize to quit, I wish I could do it faster. I was too afraid of taking risks… letting my soul captivated by the insecurity of not being able to pay my bills"
He proceed…"Wini, it was a job I was working so I’d have something impressive to say when someone asked me what I did for a living. It was a job I was working to make my parents proud. It was a job I was working to pay the bills"."Wini, it’s easy to bury your passion beneath a pile of bills and let rationality run your life. I’ve done it, just as many others have and countless others do — but I don’t recommend it"

—-to be continued—–

He made me think a lot afterwards….wondering whether there's an outside-of-the-box alternative for this working dead (unable to fall in love with your job) other than just quitting…Hmmm…There must be some ways…I am sure there must be.

Thanks dude!
The big boss cat and worker mice sounds to co-exist with the context…I got it! hahaha

Wini, Athens, Spring 2009


Try your best to understand them as an individual and not just as Mom and Dad because that’s the key to your understanding towards them in your transitional phase as an adult.

Dulu, sering saya sebagai anak berpikir “Kok ga adil ya? Posisi sebagai anak membuat kita “kalah” segala-galanya dari orang tua: cap anak durhaka lah, anak tidak berbakti lah, anak yang gak tahu diri, dan serentetan “cap” mengerikan dengan berbagai konsekuensi neraka dan karma. Lha tapi bagaimana dengan orang tua yang sewenang-wenang thdp anaknya? yang menyia-nyiakan anaknya? yang ga ngertiin dan maksain kehendaknya pada anaknya? dll? They seem to be “justified” as okay because of their position as parents…then, karena saling mencari “kalah-menang”/”benar-salah”, akhirnya bukannya menyelesaikan masalah tapi menambahnya dengan segala macam efek samping seperti penolakan, pemberontakan, pelampiasan, dendam, dsb.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan bertempa dengan pengalaman hidup dan belajar dari hidup sendiri dan org lain, kekurangan, dan kesalahan diri, ada satu celah dalam hati saya dimana ada semacam “pengetahuan” yg entah darimana datangnya, “berbicara” pada diri sendiri “maklumilah orang tuamu apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sebab sebelum menjadi orang tuamu, mereka adalah juga seorang individu yang kompleks dengan segala macam peranannya di dunia ini. Nah, masalahnya, mendengar kata “maklumilah” pada saat itu membuat jiwa saya berontak “masak terus menerus maklum? kapan dong mereka gantian maklumin aku? kan kesel”. Lalu, “suara’ itu terus berlanjut “Maklum itu bukan berarti kalah, maklum itu bukan berarti tidak melakukan apa-apa, bahkan dengan maklum dirimu sudah berbuat sesuatu utk org tuamu, yaitu menunjukkan baktimu dalam peranmu sebagai anak. Kau tak akan pernah bisa benar-benar memahami “peran” orang tuamu jika dirimu belum benar-benar di posisi mereka. Nanti, saat kau sudah saatnya menjadi orang tua, kau akan benar-benar paham. Selagi menunggu waktu itu datang, belajarlah memaklumi, belajarlah mengerti, belajarlah bersabar dengan orang tuamu sendiri karena jika suatu saat waktu mereka telah habis untuk mendampingimu di dunia ini, kau akan benar-benar menyesal tak berkesudahan jika waktu yang tersisa ini tidak kau gunakan untuk benar-benar memaklumi, mengerti, bersabar, dan mengenal orang tuamu lebih dari sekedar “ayah” dan “ibu”, and you ought to know that by the heart.

Terlebih lagi, semakin tua usia, semakin sifat “kekanakan” itu mendominasi. Dengan kata lain, lanjut usia/usia lanjut=kekanak-kanak’an. Nah, fakta itu tidak bisa dipungkiri. Balajar sabar itu ga usah jauh-jauh…belajar sabarlah dulu dengan orang tuamu, lalu dengan saudara kandungmu, dengan keluargamu, dengan kerabatmu, dan akhirnya baru dengan lingkungan di luar itu. Sabar itu tak pernah sia-sia…

Teringat kembali/flashback masa-masa dimana usia saya yang pengennya berontak atau ngeyel saja. Dimana sering terjadi perdebatan dengan piyayi sepuh saya, termasuk almarhumah eyang putri saya sendiri. Masa-masa itu termasuk ngambek, ingin lari dari rumah, diam-diam’an selama berhari-hari bahkan bermingu-minggu, gebrak2 an kaki, tangan, meja,pintu, dsb. Astagfirullah…saya “berangasan” sekali ya? Alhamdulillah, walaupun masih jauh dari sempurna, pengetahuan “maklum” saya terhadap orang tua semakin terasah dengan lebih terbukanya hati dan pikiran saya dengan cara memposisikan diri saya di posisi mereka yg bertujuan untuk lebih mengenal dan memahami ibu saya (ayah saya sudah almarhum dan eyang saya sudah almarhumah) lebih dari sekedar peran beliau sebagai ibu, namun sebagai seorang individu yang punya masa-masa tumbuh dan berkembang dari bayi sampai gadis sebelum waktu saya lahir di dunia ini. Memang tidak gampang, tapi setidaknya hanya itulah yang dapat saya lakukan untuk mengungkapkan betapa sayangnya saya dengan beliau, betapa bangganya saya dengan beliau, betapa respectnya saya dengan beliau.

Saya sadar tidak akan pernah dapat membalas segala jasa dan pengorbanan ibu saya terhadap saya, jadi sebisa mungkin hanya inilah yang bisa saya lakukan selagi saya masih diberikan waktu oleh Allah SWT untuk bersama dengan beliau jasmani dan rohani.

Hanya ingin berbagi saja malam ini, tentang pengetahuan “permakluman” ini, namun pengetahuan ini tak bisa dipaksa, tak bisa dikarbit namun bisa “dikondisikan”.

(Wini, Jakarta Feb-2012)

Dibawah ini terlampir tambahan kontemplasi dari Dewi “Dee” Lestari mengenai refleksinya untuk mengenal ibu beliau lebih dari sekedar “ibu”. Semoga bermanfaat and thank you for reading 🙂

==========================================================================================

Dua malam sebelum jadwal siaran rutinnya setiap Selasa pagi di Cosmopolitan FM, Reza mendiskusikan topik siarannya dengan saya. Dia ingin membahas dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Saya langsung setuju. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika tersebut adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Cepat atau lambat. Suka tak suka.

Kami lantas berdiskusi tentang banyak aspek, antara lain: pengondisian orangtua kita dulu yang akhirnya membentuk perilaku dan pola asuh mereka terhadap kita, hingga seringkali yang mereka terapkan bukanlah yang terbaik bagi anak melainkan sekadar meneruskan warisan dari orangtua mereka sebelumnya. Dan hal itu berlangsung dari generasi ke generasi, termasuk pada kita saat kebagian giliran jadi orangtua. Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Dalam pekerjaannya, Reza tak jarang menemukan belitan trauma akibat pola asuh masa kecil yang bisa mencengkeram seseorang meski umurnya sudah uzur.

Aspek lainnya lagi yang kami bahas adalah kejujuran yang utuh dan lengkap dalam komunikasi antara anak dan orangtua. Seringkali, karena takut dibilang durhaka, tekanan normatif, dsb, kita memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua kita. Akibatnya, anak tetap tidak bisa menunjukkan otentisitasnya sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, tetaplah Si Upik dan Si Buyung yang harus terus menerus diawasi dan dikendalikan.

Namun baru pada pagi inilah, saat saya mendengarkan siaran Reza secara langsung, mendarat hantaman yang juga langsung di batin saya. Pada segmen-segmen akhir, Reza berbicara mengenai transisi yang seringkali tak lancar—bahkan mungkin tak pernah terjadi—dalam perubahan peran “anak” dan peran “orangtua” menuju individu-individu yang real, sejajar, dan apa adanya. Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia—titik—dan bukannya Sang Pemberi Kehidupan, Sang Pemberi Makan, Sang Pengayom, Sang Pelindung, atau Sang Pengasuh. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang bahkan mungkin tak pernah mengenal anak-anaknya sebagai manusia—saja—dan bukannya Si Buah Hati, Si Penerus Keturunan, Si Harapan Bangsa & Keluarga, dst. Semua “Sang” dan “Si” tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius dan melenakan jika kita terus terjebak di dalamnya.

Izinkan saya berbagi sekelumit kisah pribadi. Tentang saya dan Mama.

Dengan kondisi ayah saya yang seorang perwira militer dan mengharuskannya untuk pindah-pindah tempat dinas, otomatis ibu sayalah yang lebih banyak di rumah untuk mengurusi anak-anak. Saya bertemu ayah saya hanya setiap akhir pekan. Dan dalam dua-tiga hari itu, ayah saya lebih sering menjelma menjadi Sinterklas yang selalu membawakan oleh-oleh, uang saku ekstra, dan kesenangan lainnya.

Sementara itu, dalam dinamika harian dari Senin hingga Jumat, Mama harus berperan ganda menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami. Mama memasak dan mengatur rumah, juga menjadi “polisi” dan penegak kedisiplinan, ditambah lagi dengan aktivitasnya yang padat di gereja sebagai penatua, anggota kor, dan ibu asuh tak resmi bagi banyak pemuda perantauan Tanah Batak yang terdampar di Kota Bandung. Begitu banyak peran yang ia jalankan dan semuanya ia jalani dengan sangat baik. Mama adalah sosok yang luar biasa bagi lingkungannya. Dan sosok yang kompleks bagi saya.

Mama meninggal karena kanker di ususnya pada tahun 1995. Saya masih 19 tahun saat itu. Baru kuliah tingkat dua, baru memulai karier bernyanyi. Baru saja berbangga karena bisa membiayai kuliah sendiri dan berhenti minta uang saku. Baru saja menyaksikan ibu saya berbangga melihat anaknya muncul di televisi. Dan baru saja pula saya berkhayal ingin menghadiahinya wisata ziarah ke tempat-tempat suci di Timur Tengah, sebagaimana yang selalu diimpikannya sebagai umat Kristiani.

Saat orang-orang datang melayat, dan juga jauh sesudah itu, kerap saya mendengar berbagai kesan dan cerita orang-orang terhadap Mama. Mereka yang saya kenal, dan juga seringnya tak saya kenal, bercerita banyak hal yang asing di kuping saya tentang Mama. Tak jarang saya takjub bahkan terguncang, menyadari betapa saya tidak mengenal ibu saya sendiri. Dan sebaliknya. Saya merasa Mama pun tidak sempat mengenal saya. Anaknya sendiri.

“Saya ini anak yang besar di luar rumah,” begitu saya selalu berkata. Dan kurang lebih memang benar adanya. Sebagai anak yang dikenal paling cuek di antara lima bersaudara, justru sayalah yang ternyata paling kuat terkena dampak meninggalnya Mama. Saya memimpikannya setiap malam selama berbulan-bulan, dan untuk sekian lama saya tidak bisa membicarakan bahkan memikirkan Mama lebih dari tiga menit tanpa menitikkan air mata. Padahal, saat beliau masih hidup, sayalah yang paling berjarak dengannya.

Selama bertahun-tahun, banyak jawaban dan alasan yang sudah saya renungi. Namun khususnya setelah mendengarkan siaran Reza pagi ini, renungan itu menggenap. Kehilangan saya yang paling kuat bukan disebabkan karena saya belum sempat menghadiahinya wisata melihat Betlehem, bukan karena Mama tidak sempat melihat saya memberinya cucu, bukan karena banyaknya peristiwa penting dan bersejarah dalam hidup saya yang membutuhkan kehadirannya, tapi semata-mata karena saya belum mengenalnya sebagai manusia—titik. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap saya ingin mengenang beliau, saya selalu berbenturan dengan tembok tebal yang diciptakan aneka peran yang Mama mainkan selama hidupnya. Ditambah lagi dengan tameng dari peran saya sendiri sebagai anaknya.

Selama ia hidup, saya hanya mengenalnya sebagai ibu. Mama. Inang Mangunsong. Saya tidak kenal perempuan bernama Tiurlan Siagian. Dan sebaliknya, saya pun merindu dan meradang untuk ia kenali sebagai manusia—saja. Bukan semata anak keempatnya yang hobi menulis dan menyanyi. Dalam sembilan belas tahun kami berinteraksi, kami belum sempat menanggalkan peran-peran kami sebagai ibu dan anak, berjabat tangan atau berpelukan atau sekadar menatap satu sama lain sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang real. Ia pergi sebelum kami sempat bertransisi.

Ayah saya kini berusia 71 tahun. Barangkali tak selamanya ia merasa beruntung hidup lebih lama, karena dengan demikian ia “terpaksa” menyaksikan segala tingkah-polah kelima anaknya yang bertransisi menjadi manusia dewasa, lengkap dengan segala konflik dan pertentangan batin yang turut menyertai proses tersebut. Namun, walaupun mungkin tidak terus-terusan, setidaknya saya sempat merasakan interaksi kami berdua bertransisi dari ayah dan anak menjadi manusia dan manusia.

Pagi ini, saya memberanikan diri untuk berkata: sesungguhnya, itulah hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orangtua kita. Itu jugalah hadiah terbaik yang kelak bisa kita berikan bagi anak kita. Dan hanya itulah persembahan terbaik yang bisa kita tawarkan bagi sesama manusia di sekeliling kita. Meski secercah, meski tak selamanya berakibat indah, otentisitas dan kejujuran kita sebagai manusia adalah satu-satunya jabat tangan yang riil antarhati. Antarjiwa. Hanya dengan demikian kita benar-benar tahu rasanya “terhubung”. Dan sungguh, itu adalah pengalaman yang nyaris punah.

Selama kita bersembunyi dan terperangkap dalam peran-peran yang kita jalankan, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas tameng. Sebatas pengondisian. Kita bahkan bisa berjalan sepanjang hayat dikandung badan di atas planet ini tanpa pernah menyadari topeng-topeng yang kita kenakan, yang meski dalam interaksinya kita bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan hal-hal positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua.

Kesempatan itu sudah tidak ada lagi bagi Mama dan saya, setidaknya dalam kehidupan kali ini. Tapi kesempatan itu masih ada untuk saya gunakan dengan ayah saya, anak saya, suami saya, kakak-adik saya, dan semua orang dalam kehidupan saya. Begitu juga dengan Anda dan siapa pun yang masih ada dalam kehidupan Anda sekarang. Semoga saja kita mau dan berani menggunakannya.

(Dewi “Dee” Lestari)

Inspiration, where are you now when I need you the most?

I don’t know why I keep losing your track no matter how hard I have tried, not yet there. Sometimes my days are not so friendly; however, I always…always try to be friend-ed with it. My mind sometimes becomes my most enemy. What is more, it is so infectious that I can not even comprehend myself. I don’t mean to be complicated but sometimes complexity teaches me a lot: paradoxes, ambivalence, and ambiguities against clarity, certainty, and divinity, and that is what I am made of. In other words, simplicity is a struggle but also a reward..he..he..

I know that everything I have now will not last but at least there’s a great advantage of being so versatile and adjustable. It is all because variety (with regards to complexity) is a another dimension that will always take me higher, wider into the horizon of almost anything that exists mentally and physically.

*A one night-stand intimate conversation with myself in the midst of intense disappointment and distraction along the way…

Wini, Jakarta, 2012