Archive for the ‘Personal-Me’ Category

https://www.facebook.com/plugins/video.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2FHuffPost%2Fvideos%2F551467535197398%2F&show_text=0&width=476

D.i.v.e.r.s.i.t.y with commitment to serve others. People in USA post Trump starts to learn/acknowledge that the quality of humanity from their leaders is valued BEYOND race, religion, sexual orientation and more to their commitment to serve public needs with integrity.

Indonesia? Nanti dulu. Jangan semua2 yg kejadian di negara2 maju langsung di “bawa” ke konteks Indonesia. Indonesia memang secara “fisik” diverse, plural, dan beraneka ragam tapi secara “non-fisik” masih harus menjalani proses “kawah candradimuka” dulu, apalagi yg namanya politik dan sosial. Konteks Indonesia itu rawan mispersepsi dan masih kental mind-setting “kalau bisa disamain, kenapa musti beda” dan “musti ati2 sama yg beda”. Jangan juga langsung menjudge Indonesia “ndak maju2 kalo ndak begini begitu yg seperti di negara maju”; ndak wise juga judging begitu. Kita juga jangan punya mindsetting nenek moyang kita itu super kuno, terbelakang, ndak canggih dan ndak keren. Ndak pas juga itu. Justru kita harus banyak2 belajar sejarah dan bangga dgn nenek moyang kita yg dengan teknologi masa dulu nya mampu membangun candi Borobudur (dan candi2 serta rumah2 adat istimewa yg lainnya), yg mampu bernavigasi di lautan lepas hanya dengan modal tatanan bintang di langit dan hembusan angin di laut (jaman dulu banget ndak ada GPS, ndak ada kompas, apalagi apps2 an), yg mampu mengolah kekayaan hayati menjadi jamu2 an tradisional yg mumpuni walau belum ada laboratorium canggih dgn mikroskop dll seperti sekarang ini. Itu hanya sebagian kecil dari kehebatan nenek moyang bangsa ini, belum semuanya. Jadi intinya, setiap hal yg kita anggap maju yg kita pelajari dari bangsa lain jangan lantas membuat kita mengecilkan bangsa sendiri namun bagaimana caranya agar hal tersebut bisa difokuskan utk makin memajukan bangsa sendiri dgn lebih elegan dan respectful.

You see, semenjak saya nonton Kartini nya Dian Sastro, ada satu conversation dalam adegan filmnya yg buat saya sangat mengharu biru dalamnya. Scene itu adalah saat dimana ibu kandung Kartini bertanya pada Kartini apa yg sudah dia pelajari dari aksara londo dan apa yg tidak ditemukan di aksara londo dan hanya ditemukan di aksoro jowo. Kartini menjawab, ia belajar ttg kebebasan (freedom) dalam aksoro londo namun ia tak tahu jawabannya hal apa yg hanya ada di aksoro jowo yg tak ada di aksoro londo. Ibunya menjawab: bekti (pangkon). Filosofi bekti (atau bakti/mengabdi/memangku) itulah yg tak dimiliki aksoro londo dan hanya ada di aksoro jowo (utk ini nanti bisa lebih jauh dibrowsing ttg fungsi pangkon dalam aksoro jowo). Nah, esensi dari conversation ini yg utk saya kontekstual pakai banget dan bisa diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan. Dalam kaitannya dgn diversitas atau keragaman (baik budaya, agama, adat, suku, dll) di Indonesia, dimana hal ini seperti two-edged sword; bisa menjadi kelebihan/kekuatan namun sekaligus kekurangan/kelemahan depending on bangsa Indonesia sendiri dan para wakil2nya di pemerintahan dgn segala sektor2 utama kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, segala nilai2 “asing” (baca: dari luar negeri) tidak serta merta cocok utk secara langsung diimplementasikan di Indonesia begitu saja tanpa filter. Harus dilihat dulu konteksnya yg dinilai sesuai, di adjust dulu, baru bisa jalan implementasi. Intinya, Indonesia menghargai kebebasan dan juga menjaminnya dalam undang2, namun perlu disadari juga bahwa dalam kebebasan ini tetap harus juga menjunjung tinggi “pangkon” itu tadi, dimana hal ini diwakili oleh Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Filosofi pangkon ini juga bisa ditemukan hampir di setiap kearifan lokal di Indonesia. Selama saya jadi abdi negara dan berkesempatan on duty di seantero negeri, yg saya “sentuh” dan pelajari terlebih dahulu adalah kearifan lokalnya; bagaimana filosofi budaya yg ada di masing2 daerah memiliki dampak thdp masyarakatnya dan hubungannya dgn alam lingkungannya. Ini penting dalam kaitannya dengan “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”.

Filosofi bagaimana menghargai alam lingkungan dan nenek moyang, filosofi tentang nilai2 pernikahan, filosofi tentang kematian dan kemanusiaan, filosofi tentang belajar/pendidikan dll, semua itu penting buat saya agar saya juga dapat terus belajar bagaimana lebih menghargai satu sama lain; memangku kebaikan dari masing2 saudara setanah air dalam rangkaian keragaman budaya sebagai satu bangsa yg besar. Hal inilah yang tak dimiliki negara atau bangsa lain yg membuat mereka kagum dan bahkan sampai rela meninggalkan negaranya utk langsung mempelajari budaya2 di Indonesia dan bahkan jadi warga negara Indonesia krn saking cintanya terhadap budaya Indonesia. Ada juga yg tetap mantain kewarganegaraan asingnya tapi justru terpanggil ikut melestarikan budaya Indonesia yg kemudian diperkenalkan ke negara asingnya (ini contohnya bisa dibrowsing sendiri ya).

Terkait dgn video ini, yg ingin saya garis bawahi disini adalah munculnya leader2 di negara paman Sam yg mulai anti-mainstream (lebih diverse backgroundnya baik personal maupun professional – mewakili yg dulu nya marginal dan hampir dipastikan tak bisa atau tak dianggap mampu leading). Tentunya hal ini juga pastinya akan ditanggapi dgn pro dan kontra namun jika masyarakat di region2 yg seperti disebutkan di USA dalam video ini akhirnya mampu embrace beliau2 ini, berarti ada people power yg mulai menyadari deeper value of being what a leader means; outside of “labels”. Ini tidak mudah. Pengolahan dan perluasan mindsetting itu tidak semudah mengolah dan meluaskan lahan sawah atau ladang jagung. It can take ages and generation shifting. Nah, buat saya, yg diambil itu ya sisi positifnya aja; fokus pada the positive leadership quality of these leaders instead of mempertanyakan dan ngata2in “lha tapi dia kan gay; lha tapi dia kan transgender, lha tapi dia kan dari agama ini, itu, dll” yg ndak ada kaitannya sama leadership skillnya beliau2. Dan sekali lagi, fokus sama yg positive itu juga ndak mudah karena ya kita kan mahkluk yg dari sononya terlahir dgn subjektivitas yg cenderung nyaman di zona yg diketahuinya. Kalau sudah ada di zona yg serba tak pasti dan tak diketahui ya wajar kalau muncul ketimpangan subjektivitas. Karena itulah dalam peradaban kita ada proses yg namanya kawruh/belajar/menuntut ilmu.

So, I do respect this type of grassroots awareness in USA towards the quality of leaders and their leadership. The way I perceive and learn from it have been described as above. Semoga hal ini dapat membawa perubahan yg lebih baik bagi warga negara Amerika😊

Wini,

Wellington, Nov 15, 2017

 

 

Advertisements

Beberapa sobat-jauh (sahabat yg lagi ada di lain benua) nge-WA saya a wee-while ago, “Wik, hambok tulisen ki lho sing mbiyen kae pernah mbok kandak’ke aku. Mbok menowo onok sing lagi ngalami sing podho, kan yo iso rodok2 ngringanke roso, ngono lho”. Saya udah bolak balik nolak, “halah, ndak perlu lah. Horak penting. Iki lho, ngaraku isih luwih penting mbagi2 video kucing2 sing lucu2, lha kuwi kan yo marakke enteng roso”😻

Intinya daripada saya “dibawelin” terus, yo wes, ki lho sidane tak tulise. Tapi sakkarepku ala cah Semarang egrang2 lho, horak nganggo boso akademis ndhisik hehe😎

Wes lho ya, ojok mbok baweli meneh😁 (ngelusngeluskuping).

========================================

Syahdan, dulu almarhumah eyang putri pernah ngendikan kepada saya “ndhuk, nek kowe “ditampeg” uwong ning pipi kiwomu, wenehono pipi tengenmu. Lalu saya protes, “yang, yo bengkak kabeh pipiku tho. Nek pipine “entek”, sing tanggung jawab sopo jal? Enak wae. Eyang putri pun berkata “Gusti Sing Moho Kuwoso sing tanggung jawab: milih bengkak pipine opo atine? Bengkak pipi luwih cepet mari lho tinimbang bengkak ati sing orak ketok wujude”. Lalu tahun pun berlalu. Susah sekali belajar ngasih pipi kanan itu karena waktu jaman jahiliyah dulu itu, saya tipe orang yg dendaman. Dijahatin org sedikit aja, saya ndak betah pengen gek mbales. Ucapan saya rimba semua. MTA (Misuh Tiada Akhir). Lalu saya pun dikasih berkah nambah umur. Makin nambah umur kok makin nambah juga “hadiahnya”; ya sakit hati, ya sakit pinggang, ya sakit kepala, ya sakit gigi. Nah, yang terakhir itu berkah pencerahan banget buat saya (walaupun sakit kepala dulu juga bikin saya sering pingsan dan mimisan). Oke, kembali ke sakit gigi. Ndak cuma gigi, tapi juga gusi dan pipi. Pokoknya the whole nine yard sampai bahkan bengkak2 semacam pantat gajah nemplok di pipi. Kalau sudah begitu, yg namanya sakit hati, lhah…boro2 kepikiran, kerasa aja ndak babar blas! Sidone horak nggagas! Tapi yo mosok mesthi harus sakit gigi terus dulu baru belajar nahan emosi hati sik? Kan yo ndak tambah belajar itu namanya. Yg ada juga tambah kurang ajar. Di titik inilah saya belajar dari sakit gigi sendiri. Bahwasanya ini mengingatkan saya sama apa yg almh eyang putri saya ngendikan: serasa ngasih pipi dua2nya (lha ya iya, lha wong saking sakitnya, sampai2 ndak ngerasa punya pipi).

Di sisa perjalanan hidup saya yg sekarang, “dua pipi” ini disempurnakan menjadi “satu senyuman”. Bahwasanya tersenyum saja insya Allah sudah menjadikan pahala dan berkah. Senyum thok wae ki lho, wes entuk pahala soho berkah. Yo tapi senyume sing tenanan seko ati, horak senyum kecut trus mecut. Dengan sakit gigi, saya pun belajar senyum di hati (yo soale sokdong nek wes bengkak, pipi-gigi-gusi ketarik senyum dadi loro je). Saat saya merasa “duh, kok dibeginiin ya…atau kok dibegituin ya….atau kok saya ndak ngira ternyata bla bla bla, saya langsung muter kembali “rekaman” bengkak sakit gigi-gusi-pipi saya. Perlu dijabarkan (walo lagi2 ndak penting sik), buat saya, klo sudah sakit macam ini, dari range 1-10, levelnya itu 15. Saya pun belajar menikmati sakit; belajar mringis manis dan tetap mbayangin yg manis2 (#lho?). Jadi, rekaman ini berguna sekali sebagai ketapel batu ego dan emosi saya yg jujur saja sampai saat ini masih terus dalam proses utk berhati2 supaya ndak kepleset. Therefore, setiap saya merasa emosi saya mulai “tunyuk2”, njuk terus saya hadirkan rekaman rasa sakit gigi.

Alhamdulillah, it works wonder, walaupun klo sudah terlalu emosi, I’d express sesopan yg saya mampu, senyum, trus melaju ke pelarian saya selanjutnya utk nyari ice cream atau nyemil kayak jalannya treadmill hiwil-hiwil. Well, at least, sudah ndak seperti saya jaman jahiliyah dulu yg boro2 senyum, mungkin buto ijo pada seneng ada saya yg mukanya lebih jelek dan nggegirisi dari mereka. So, yes, perspektif sakit gigi buat saya itu berkah banget (walaupun pada akhirnya nanti saya musti memberanikan diri buat nyabut semua gigi super bungsu dan gigi belakang yg bolong2 ini). Ya, saya lebih memilih bengkak pipi tapi hati tetep adem daripada ayu2 (iki maksude duduk ngalem awak’e dewe tapi ayu ne kuwi mengacu pada: cah putri/ekspresi gender sbg perempuan) tapi ono buto ning ati sing marai sesek, turu rak enak, melek yo rak enak. Kemudian saya milih ngetest “ketapel” saya sendiri; iso horak sakmampumu senyum walaupun sedang dijahatin-dikata2in-di-urik’i dan di-di yg lain yg ndak enak. Sing penting usoho sik sak kuatmu, nek niatmu apik, mengko mesthi ono wae sing marai ayem atimu, termasuk yo loro untu kuwi mau. Nek wes loro untu kuwi yo, orak keroso meneh meh pengen mbales dendam utowo mbales surat (#eh) *ini sambil ngomong sama diri sendiri plus maskeran di depan kaca.

Then, slowly but sure, I have learnt to manage my own anger. Not yet perfect but at least I try my best to focus on better, bigger things than my own anger. Ya, ngomel2 dikit boleh lah, namanya juga perempuan yg berbalut berbagai macam level hormon. Ndak mampu lah saya seperti Dalai Lama atau Bunda Teresa: bener2 ndak mungkin mampu. So, ngomel2 saya, saya chanelin sambil bersih2 atau ngulik2 dapur (dapur sendiri, bukan dapur orang). Ya bersih2 atau masak2 apa aja deh sesuka saya. Soalnya kalau pengen ngomel, mau chanelling ke hal2 akademis yo mesti orak nyambung’e, malah soyo bubrah. So, I better  blow the steam off first then try to concentrate again on my academic stuff.

So yes. I have learnt to embrace sakit gigi saya dengan cara saya sendiri yg menurut saya lebih positif (hopefully). Be it real life, virtual life, sosmed, sakit gigi, sakit pinggang, sampai sembelit sekalipun lah, semua penuh pergumulan dan proses pemaknaan buat saya pribadi (buat yg lain mungkin ndak sama lho; disclaimer). Saya pun makin kesini, makin “ndak berani” asal ngeluh ini itu tanpa filter. Biasanya saya timbang dulu, masih sehat kok, masih bisa makan kok, masih ada tempat berteduh, sampai masih bisa sosmed’ an begini kok brani2nya ngeluh. Malu sama yg lagi ndak sehat, malu sama yg ndak bisa makan, malu sama yg homeless, malu sama yg ndak medsos’an (eh ada kali yak?).

Sebelum ditampar orang, saya usahakan setiap harinya utk nampar diri saya sendiri. Biar belajar juga utk tetep ngambah lemah dan ndak kurang ajar. Tapi ya itu, proses dan pergumulannya 7 hari 24 jam lho…jangan dikira semudah scroll up and down timeline. Anyway, basically saya setuju dgn defending ourselves from others’ wrongdoing. Begitu pula dengan defending yg lemah dari kesemena-mena an. Tapi ya itu, harus “cucuk” sama buto ijo nya sendiri dulu. Harus bisa menjinakkan, setidaknya anaknya buto ijo yg sering ngawe2 klo lagi kesinggung, panas, disolot, atau emosi. Jika sudah “sembodo”, boleh lah seperlunya, secukupnya defend and express setelah itu wes hewes hewes bablaske wae (opo meneh nek ngadepi “the ngeyels”).

Demikianlah coretan yg seadanya ini. Kalau ada yg kurang berkenan ya saya mohon maaf duluan. Karena sudah saya pasang disclaimer bahwa ini acuannya pengalaman hidup saya sendiri, maka kalau ada yg beda pengalaman ya jangan digeneralisasi 🙂

Last but not least, mungkin saya perlu lebih disiplin lagi banyakin minum air putih tapi ngurangin gula, ngurangin garem, ngurangin cokelat….eh jangan, ngurangin buttercream, atau ngurangin nyemil supaya lebih “sehat” lagi. Maklum, klo sudah sakit pinggang, sakit gigi, dan sakit kepala jadi satu dan kambuh bebarengan, ini rasanya kok seperti umur 70 tahun, hiks.

Sekian, terima kasih, matur nuwun, thank you.
#SakDegSakNyet #LemahTeles #AboutBlowingOffSomeSteam

Wellington,

From Throwback draft on November 2016🤗

Collage333

Longer hours at school? Is that really the case? Or is that really a solution? Or is that the priority? Or is that necessarily implemented? From which perspective we view this idea/concept? What can we learn from other countries that have implemented it and failed? What can we learn from other countries that have implemented it and succeed? What are the short term implications to this? What are the long-term implications to this? Have we done needs-assessment for it before putting it into a nationwide-policy? Are there any hidden agenda that might possibly come along with it? Is there any risk-management for such concept when implemented into an action? What triggers this concept/idea at this particular of time? Any underpinning factors/consideration for it to be approved/welcomed? Do we (Indonesian citizen) have a say/voice in it?

Nah, setelah itu, baru dimulailah merespon hal tersebut. Setuju-Tidak setuju dan Positif-Negatifnya responses yang muncul tergantung dari mana point of view utk menyikapinya, I think. I believe that wacana itu muncul atas maksud dan niat baik, that’s all I want to keep hanging onto.

Belum, saya belum mau memutuskan apakah setuju atau tidak setuju; positif atau negative terhadap wacana ini karena well-oh-well, guess what? It takes time to finally come into suitable answer/decision!

Sementara ini, sebagai respon atas wacana ini, biarlah saya tak sharing “secara ndak langsung” hal-hal yang saya rasa “bersinggungan” dengan wacana ini (ndak langsung lho ya).

To me, there are always pros and cons. There are always weaknesses and strengths. There are always changes. What remains intact is wise-choice/option; what is the most suitable of all. Not the best (to whom?). Not the smartest (to whom?). Not the strongest (to whom?). Not the highest (to whom?). Not the most expensive (to whom?). Not the most sophisticated (to whom?). Not perfection (to whom?). Not the longest (to whom?; ehm, if you know what I mean).

To me, the word suitable has a sense of most-contented fulfillment of success and happiness with just the right amount of self-determination and passion (that might be very subjective and has variety of standards).

When it comes to education. It has a slightly different continuum. Education from the perspective of the nation. Education from the perspective of the community/society. Education from the perspective of the family. And education from the perspective of the individual. Every perspective has different set of goals, objectives, agenda, standards, to the question: “What is the meaning of “your” education?” The word “your” refers to each layer of perspective: the nation, community/society, family, and individual. Regardless of the differences in scope, each and every layer has its own implication on one and another, and nation, of course, has the highest authority and power over the rest (I am talking about policy, politics, and stuff). Kuncinya: harus “saling” mengerti dan memahami, that’s it. Pertanyaannya: Apa bisa begitu? Well, saya aja belum bisa “nemu” jawabannya.

It is no doubt that there will be competition, comparison, standards of achievements, rewards, and punishments in school but how far would it take in education? How wise a line should be drawn between school and education? How far the role of nation, society, family, and individual in each of the dimension (school and education)? Have we, Indonesian, distinguish that yet? Are we there yet? Or are we still looking for what’s suitable in our own context? How long would it take to finally be “content” in our own context?

Siapa yang ndak mau/bangga kalau anaknya pinter?

Siapa yang ndak mau/bangga kalau anaknya sukses?

But

Have we asked them (anaknya), how happy they feel about it in the process?

(pasti semua orang tua pengennya ya anaknya pinter, sukses, dan bahagia, betul?)

Jika nanti tiba saatnya si anak jadi dewasa dan jadi orang tua, will they “repeat” after what they parents had taught them or will they have a different way of “teaching” their kids a lesson?

My mother has never, I repeat, never forces or pushes me into achieving greatness, either in my school or in my education. She shows me the concept the greatness and provides several options on how to achieve it secara sederhana, bahagia, jujur, dan lurus. She simply trusts me and that in itself is a lesson: I do not want to destroy my mother’s trust in any way. So I have learnt a lot about trust through her actions for trusting me. I also never feel “pressed” into a certain kind of “framework”. It is from her method that I have learnt to treat options in my life equally valuable because every option has its own silver linings as well as consequences.

I also have learnt to achieve what so-called greatness in my own perspective from my society, environment and side effects of things such as media. Gampangnya, mama saya ndak pernah nyuruh saya ranking satu. Ndak pernah maksa saya dapet NEM (jaman itu) tertinggi. Ndak pernah menghukum saya kalau saya dapet nilai jelek atau membandingkan nilai atau kemampuan saya dengan temen2 saya (in fact, saya malah sering merasa dihukum dengan silent-treatment nya mama saya, which she does kalo pas saya udah kebangetan keras kepala dan ngeyelnya. Setelah itu, mama saya pasti akan selalu ngejelasin secara dewasa alasan mengapa silent treatment itu diberlakukan).

Nah, saya malah belajarnya dari temen-temen lain yang sering disuruh dapet ranking satu, distandardisasi harus dapet NEM tinggi, dihukum klo dapet nilai jelek. When they did achieve greatness: ranking 1, NEM tertinggi, atau ndak dihukum karena sudah dapet 9 atau 10, I have learnt to distinguish every responses from their parents, family, friends, society, and so on. Then, I started to develop a kind of self-determined mechanism where I felt so worried to make my mother felt disappointed at me at school (around 4th grade of elementary school). As a result, I pushed myself so hard for earning recognition, winning competition, getting acknowledgment, getting rewards and praised for first ranking, highest score, etc. For a while, I never realized I pushed so hard, I over-achieved, I forced myself too much. I began to feel numb for recognition, winning competition, getting acknowledgment, rewards, first ranking, or highest score. I even felt numb to any compliments because I somehow felt that they were so very superficially given to me.

I felt something was still missing. Was I not grateful? Maybe, but I was looking for something intangible that feels tangible and couldn’t fulfill it with all of those recognition, winning competition, acknowledgment, rewards, first ranking, highest score, etc. I had not realized that I was a “mess” inside and began to develop OCD, acute insomnia, being a workaholic, being ridiculously perfectionist, and being intolerable to small messiness, failures, and mistakes. All of those feelings when you need to know the answer to every question right away and feel unbelievably stupid for not knowing the answer. Everything had to be perfect, arranged in order, classified like a box, and wrapped in a fancy lace (at that time). That’s why I got accustomed to think that I need to focus quickly on how to find solution to any problem that I have instead of expressing any emotional effects. Ditambah lagi dengan what society called me as “a broken-home” girl. Lengkap sudah trigger untuk defense mechanism itu bekerja. This happened until when I completed my master degree in USA and got back to work. It was all there. TK, SD, SMP, SMA, Undergraduate, Graduate, and Full-time employment did not seem “enough” or “fulfilled”. Was I not grateful? Maybe, but I was still finding that tangible thing I felt missing in my school and my education.

Something changed when I got married and something is definitely changing while I am currently undertaking my postgraduate study. Something in the way I look at how my schooling and education throughout years of my life. Although I am grateful for all of the teachers, lecturers, school environment and education process I had gotten a chance to meet, experience, and learn from, the more aging I am now, the more I feel that I actually learn nothing, feel small and clueless; somehow, I feel there so much more I haven’t learnt about. Then, I have been rigorously questioning myself all over again: what is the point of your study? What is the point of your school? What is the point of your education? What makes it worthwhile, meaningful, and suitable for my own version of success, happiness, and passion? I think I will still be learning to figure out the answers to these questions I’ve been asking myself to.

Yes, getting married changes my perspectives of things. Undertaking postgraduate study also changes my perspectives of things. But the most impact comes from how my mother has taught me through her not-comparing-and-forcing-things-upon-me endeavor. There are no good and bad changes, positive or negative changes to me. There are only changes and my good and bad attitude and perspectives or positive and negative attitudes and perspectives towards them. Changes are pure while attitudes and perspectives are not. The way I see my current schooling and education is all about managing my attitudes and perspectives towards myself, others, and the world in a way that it is suitable for me while contributing to others’ harmony of nature (instead of disrupting it). There have been “leftover’ perspectives and attitudes that I still need to suitably ‘situate’ and ‘adjust’ to my current state of being. These leftovers are the products from my old-school and education that I don’t see fit anymore and need some proper adjustments.

Do I still have manners of OCD, acute insomnia, workaholic, ridiculously perfectionist, and intolerable to small messiness, failures, and mistakes? Well, I do sometimes; a very little though. I have learnt to cope with those quite nicely, walaupun masih ndak bisa move on dari being a night owl or night person. They cannot disappear completely. It takes another dimension of life to make them completely gone, I guess hehe. Anyway, I have fought my portion of battles and learnt my lessons. The only difference now is I start to develop a changed-mechanism; different priorities, different views and perspectives, and different attitudes: angles that I didn’t see, corners that I didn’t bother to touch, lines that I didn’t think exist, and layers that I didn’t think to discover.

Saya sekolah lagi itu sebenarnya karena simply makin kesini-nya makin merasa masih ‘ndak tahu banyak’. Saya pengen tahu lebih banyak supaya saya bisa lebih “mampu” menghadapi flow and form of ‘changes’ yang ada sekarang ini dan yang akan datang (kalau masih dikasih umur), as simple as that. “Mampu” disini adalah overcoming changes with more good/positive attitudes and perspectives. Buat saya pribadi, a journey to obtain good/positive attitudes is to test it with terus belajar, terus studi, terus sekolah semampu saya; formal dan informal, yang dua-duanya penting untuk saya. Flow and form of “Changes” itu beberapa diantaranya ya menikah, punya anak, dan menua.

“Lha terus nanti pendidikan anak kamu gimana? Sekolahnya mau dimana? Pasti pengennya bisa sekolah setinggi kamu dong ya” Nah, pertanyaan ini sering saya dapet, sesering saya ditanya “kapan punya anak”, hehe. Sering saya mbatin, kadang2 Indonesian society itu unik: terlalu visioner. Bagus sih kalau visioner tapi kalau terlalu visioner ya saya bingung njawabnya. Lha wong anak aja belum ada, gimana saya bisa sharing pengalaman ‘parenting’ utk nyekolahin apalagi ngedukasi anak, coba? Hehe. The fact is, I may or may not have kids, only Allah SWT knows. Until then, my current state of being is simply a wife and a student, that’s all. Itu saja sudah memiliki “dinamika” tersendiri. Maybe, just maybe, having kids will bring out ‘different’ dynamic in which I have not yet experience; maybe one day. So for now, judulnya grateful, grateful, and grateful, that’s it. Karena saya belum jadi a parent, saya ndak mau sok-sok an parenting, bisa kepleset nanti hehe. Yang saya share ini diambil dari perpective saya yang sekarang udah “feel like a parent to the younger version of me”. Gampangnya, ya semacam scribbles dari versi tua nya saya “ngomong” ke versi muda-nya saya dulu. Tulisan ini banyak disclaimernya dan banyak limitasinya seperti pada research limitation (halah) yang mungkin bisa atau mungkin juga ndak bisa digeneralisasi di semua konteks. Ini cuma “nyampah” setelah bolak-balik terekspose sama opini sana, sini, dan situ tentang wacana (ini baru wacana loh ya) longer hours at school yang kemudian membawa rasa penasaran saya “googling” tentang countries with best education systems. Yang dimaksud “best” disini ya menurut standard beberapa research organizations and institutions yang kemudian merangkum review dan reportnya ke dalam sistem rankingisasi (halah). But then again, the most important question is that how will Indonesia respond to this in a way that is not forceful (atau force majeure), dehumanizing, de-characterizing, and devaluing Indonesian culture, wisdom, and strengths sebagai bangsa yang luhur dan berbudaya?

Pintar-sukses-(apalagi kaya) bijaksananya dibarengi dengan bahagia, rendah hati (humble), toleransi, dan kebersamaan untuk berbagi.

Karena itulah, menurut saya (lah ini menurut saya aja lho), dua pertanyaan yang penting untuk dijawab sebenarnya adalah:

  1. How would you choose to experience your schooling?
  2. What’s the point of your schooling being part of your education?

*To be continued

Keterangan ilustrasi: left (tas kesayangan jaman TK, selain tas koper hello Kitty ijo yang udah dihempas banjir bandang). Right (saya jaman TK dan papan tulis kapur pertama saya).

Ruapehu, with love. This is how it feels to play out in the snow in the spring: cold but quite warm, alhamdulillah 🙂

“Getting in touch” with nature is part of my get-up-and-go-remedy. By doing so, it creates a balance to the vibe I am in now. Luckily, I don’t need to face any nosebleeds or any discomfort by snow as what I had been through when I was in the USA. Here, the snow is such a friendly gal (I said here is in the context of North Island ya…belum ke South island yg bisa lebih duingin berkali-kali lipat. Well, itu nanti ajah, I still have quite plenty of time to go there, insya Allah, with my husband…and that will be more exciting I guess) 🙂

With +/- 4 hours drive from Wellington, then there it goes: a very friendly snow playground. Baru bisa “catching up” Spring ini karena waktu Winter kemaren, rada “umeb” krn adjustment for re-routing my academic “stuff”. Alhamdulillah walaupun sudah agak berkurang snow nya (unlike waktu Winter kemaren yg masih tebel), it is a quite sufficient snow-play kok hehe 🙂

It’s so true that a PhD journey is like no other; it is completely different from my master journey or any of my academic journey beforehand: perlu refreshing yang ndak “sembarangan” refreshing. Now, I need to “formulate” my own get-up-and-go remedy to overcome the ups and downs of this particular-unique journey: one of them is by getting in touch with nature more and taking its “vibe” to balance the negative energy which might harshly “tailing” around while I am too much preoccupied with the study. Well, playful study; studious play…maksudnya begitu hehe. And, it has been good; New Zealand is fortunately an excellent “provider” for this kind of “treatment”: by exploring nature, chances are, you are also exploring about yourself, reflecting a lot along the way 🙂

Step by step, I am discovering things along the way and it has kept me engaged, alhamdulillah. New Zealand is full of surprises, love it! Hopefully I could visit Mount Ruapehu again with my husband; belajar pacaran lagi, out of our comfort zone (karena out of comfort zone ndak cuma untuk bekerja atau belajar, tapi juga untuk rediscovery of sa-ma-ra: skainah, mawadah, warahmah…aamiin yra 🙂

With love from Mount Ruapehu,
Spring 2015

*abaikan ke-ungu-an sayah 😛

 

IMG_20150913_080410-1-1 12002641_10207892343851238_8355317582365342313_o 11953460_10207892336851063_5429379554995922072_o IMG_20150913_235137 IMG_20150913_235124 IMG_20150913_235108 IMG_20150913_235054 IMG_20150913_235041 IMG_20150913_234955 IMG_20150913_234855 IMG_20150913_234921 IMG_20150913_234808 IMG_20150913_234732 IMG_20150913_234552 IMG_20150913_234321 IMG_20150913_234421 IMG_20150913_234221 IMG_20150913_234300 IMG_20150913_234139 IMG_20150913_234105 IMG_20150913_233814 IMG_20150913_233523 IMG_20150913_154553 IMG_20150913_232402 IMG_20150913_152409 IMG_20150913_152537 IMG_20150913_152615-1 IMG_20150913_152821-1 IMG_20150913_154525

Screenshot_2015-09-14-21-18-59-1

 

Assamualaikum Wr Wb, Salam sejahtera bagi kita semua 🙂

Thrift-Shop-Ecosystem: Menjumpai Diri di Akar Rumput Rasa-Pikir

Saya menulis ini lebih untuk “menyapa” diri; mencoba berkenalan kembali dengan diri saya sendiri

Sore ini, saya putuskan untuk mlipir sejenak; menyisihkan tumpukan buku-buku dan artikel jurnal yang sudah setengah jalan saya baca. Tadi siang sempat sejenak menghabiskan waktu menyusuri kota; observing segala yang mampu saya amati di awal musim semi (yang masih dingin) ini. Then I am struck by something (not by lightning for sure): reflecting my journey so far as a lifelong learner.

Alkisah, setelah saya dilahirkan, lalu saya pun mulai belajar membuka mata, belajar merespon segala stimuli, belajar merangkak, belajar berjalan, belajar bicara, belajar menulis, belajar naik sepeda dan seterusnya, selalu ada kata “belajar” di depan kata kerja yang menyertai perjalanan hidup saya. Sekilas hampir tak ada hal yang luar biasa disana, secara semua manusia pun mengalami hal yang sama. Namun, sesuatu yang baru saya sadari setelah sekian lama saya bernafas hingga di usia yang sekarang ini adalah sebuah pemahaman baru tentang hakikat belajar dan sekolah serta implikasi sesungguhnya yang baru saya rasakan dan pahami di usia sekarang (33 tahun); mungkin saya agak terlambat, tapi tak apalah. Ya, untuk saya, ternyata perjalanan kawruh ilmu saya, belajar dan sekolah itu “hanyalah” bagian dari sebuah ekosistem “thrift shop” (thrift-shop ecosystem) yang sedang saya bangun dalam kehidupan saya. Disini, saya ingin menggarisbawahi bahwa kosakata “bekas” itu tidak saya gunakan untuk suatu pemahaman yang negatif. Disini, saya akan mencoba “mengaplikasikan” kosakata ini ke dalam pengejawantahan “pangelmon” saya yang belumlah seberapa ini. Saya akan kembali kepada “thrift shop ecosystem” ini nanti. Ya, bekas itu artinya napak tilas jejak langkah: bekas dari tapak petilasan, bekas dari proses ngunduh pangelmon. Now, allow me to have a little journey down to the memory lane first.

 

SOKO GURU

Saat TK kecil dan besar, saya belajar untuk bersosialisasi (baca: bermain bersama), mostly. Selain itu, saya juga belajar ber-puisi (tentang buah tomat), belajar mengenal huruf/abjad, belajar mewarnai, belajar menggambar, belajar bernyanyi bersama-sama (ya kalau nyanyi sendiri kan bisa dirumah), serta belajar konsep how it felt to be a student and having teachers for the first time (karena guru yang pertama ya mama-papa saya). Dua tahun saya belajar ini semua; TK kecil dan TK besar. Next was saat saya Sekolah Dasar. Enam tahun belajar tentang “how it felt to be a student and having teachers” at the higher level. Saya mulai belajar tentang “struktur”. Tak hanya struktur keilmuan yang saya pelajari tapi juga struktur hubungan dengan guru-guru-nya: guru yang ini, approachnya harus begini…guru yang itu, approachnya harus begitu. Approach disini terkait dengan cara mengajar masing-masing guru SD saya: saya merasa bahwa saya lah yang harus menyesuaikan diri supaya proses belajar saya bisa lancar. Kemudian struktur pertemanan. Nah, ini maksudnya bukan geng-geng an atau diskriminasi loh ya. Ini maksudnya begini: ada beberapa teman yang pemalu, jadi saya yang harus memulai dan berinisiatif. Ada beberapa teman yang sangat confidence, jadi saya tinggal ngikutin irama nya saja dan menyesuaikan. Ada beberapa teman yang usil atau semacamnya, ya saya pasang ketegasan sama keusilannya, then move away. Begitu juga dengan beberapa teman yang mungkin (mungkin loh ya) melihat saya “tidak pantas” untuk berteman dengan mereka, ya saya sih keleus aja then memilih mlipir kiyambak kagem kumpul kalih rencang-rencang ingkang sehati-sepikir lah. Bukan apa-apa, di masa SD inilah perjalanan kehidupan saya diuji dengan ujian dalam keluarga saya dimana akhirnya saya hanya merasakan growing up dengan mama, adik, dan eyang putri saya (almh) tanpa didampingi ayah kandung saya. Hal ini yang kemudian membuat saya struggling so hard to be who I am now dimana kekaguman saya terhadap single parent itu sangatlah dalam. Juga kekaguman saya terhadap wanita-wanita penuh kesabaran, dedikasi, kejujuran, dan kesetiaan seperti sosok eyang putri saya (almh) dan mama saya yang menghiasi transformasi perjalanan hidup saya sebagai seorang perempuan. Eyang putri saya masih sangat muda belia dengan lima anak (satu putra masih dalam kandungan) ketika ditinggal eyang kakung pulang ke haribaanNya karena sakit sedangkan mama saya, harus “berpisah” dua kali dengan suami: perpisahan pertama saat saya masih berumur tujuh tahun dan adik saya tiga tahun dan perpisahan kedua saat saya berumur 26 tahun dan adik saya berumur 22 tahun. Mengapa dua kali? Well, perpisahan pertama ya karena something happened in the family dan papa saya memilih meninggalkan kami. Perpisahan kedua adalah saat papa saya dipanggil menghadapNya untuk selamanya. Jeda dari perpisahan pertama ke perpisahan kedua ini adalah 18 belas tahun. Ya, honestly speaking, delapan belas tahun tanpa pendampingan seorang papa bagi seorang anak perempuan adalah suatu ujian terberat saya; it was harsh and hard, tak hanya saya “harus” dewasa sebelum waktunya (dimana anak-anak lain masih sangat enjoy bermanja-manja bersama kedua orang tuanya dan tak harus serius dulu memikirkan masa depan). Di umur tujuh tahun, saya sudah kepikiran apakah saya bisa sekolah, apakah saya bisa melakukan sesuatu yang membanggakan untuk keluarga dan mengusir kesedihan mama dan adik saya. My mother was devastated but alhamdulillah she had finally gotten through with it. To put it another way, I was struggling with revenge since I was 7 years old, up until years after my father passed away; just to forgive him, forgive everything and trying to make peace with myself. So, saat-saat Sekolah Dasar, tak hanya saya belajar tentang dasar-dasar ilmu di sekolah tapi juga dasar-dasar survival (mistky secara psikologis) sebagai seorang anak perempuan yang sedang mencari jejaknya dengan belajar memadamkan “dendam”nya sendiri di dunia. It went well, Alhamdulillah. Lulus SD dengan baik dan hanya dengan perkenanNya saya mampu melanjutkan ke jenjang SMP-SMA-S1-S2-dan sekarang S3 dengan segala dinamikanya. Until now, the reason why my late father abandoned me is left untold and I had learnt to let it go. The moment I finally forgave him, I cried for days. Serasa lega walaupun tak pernah bisa lupa. Now, I have come to realize that whatever happened between my parents and their family as well as extended family is something I have chosen not to dwell, as I have finally made peace with it. To me, the father-daughter relationship stays eternally; nothing can come between that. I have learnt to accept that my late father was only human who made mistakes as blessing in disguise to be grateful for. Although I had struggled so much but I believe Allah SWT has given me His best. I have chosen to forgive him because despite everything that happened, I love him and he will always be the first man I have ever known in my life who loved me the best he possibly could. Bersyukur tiada akhir judulnya.

 

Kembali ke masa SMP-SMA-S1, saya bahkan mengalami krisis psikologi dimana saya beranggapan bahwa semua yang terjadi adalah karena salah saya. Then I started blaming everything, blaming myself and everyone. Mudah marah, mudah jengkel, mudah kesel, mudah sedih, sangat emosional, tapi di waktu-waktu tertentu bisa sangat cuek seperti benda mati. Sekolah tetap jalan, prestasi tetap ada, tapi deep within my psyche itulah yang membuat saya pontang-panting berjuang mengalahkan “diri sendiri” untuk tetap stabil dan dikatakan “normal”. I kept everything inside all by myself. Never opening every bit of this to anyone, even not to my mother or sister or someone in the family. I locked everything so tight up until the point where I was always trying to be accepted as “okay” or “normal” as if nothing happened. It was extremely hard. Saat “kambuh” (mengacu pada saat2 emosional dimana segala rasa menerobos paksa keluar tanpa rem dan bercampur baur jadi satu), saya akan bisa bertahan berhari-hari tidak tidur, menangis sampai mata bengkak, minum obat sakit kepala berlebih karena rasa sakit tak tertahankan menyerang bagian belakang bawah kanan kepala, sampai pada cutting myself to bleed, tidak parah, hanya membuatnya berdarah supaya saya masih aware rasa sakit dan merasa masih hidup. Ini memalukan dan mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan saat membacanya but it happened. Alhamdulillah saya tidak terbawa “gila” ke arah yang lebih parah seperti misalnya narkoba dan kenakalan serius yg lain-lainnya karena yang ada di benak saya saat itu hanya satu: tak ingin membuat mama saya tambah sedih, tak ingin beliau ikut merasakan kesedihan saya dan tak ingin beliau menangis karena saya; saya merasa sangat-sangat durhaka kalau itu sampai terjadi so I managed to the point where I am assuming it as “an acceptable pain-reduction”. Di masa-masa ini, secara akademis, Alhamdulillah saya masih bisa membuat mama (dan eyang putri) saya tersenyum, dan itu rupanya tak cukup untuk saya, so I did the best I could to occupy myself secara berlebihan yang sampai mengakibatkan saya lulus S1 hanya 3,5 tahun dan bisa bekerja sendiri sebelum lulus S1 (sambil nyambi) karena saya tak tega bergantung uang saku terus pada eyang putri saya yang hanya pensiunan janda pegawai negeri dan juga mama saya yang single parent. Pokoknya, saat itu, apapun yang membuat saya sibuk berpikir sehingga saya terlupa dengan apa yang terasa, menjadi prioritas way of living saya. Jatuh bangun iya, tapi setiap jatuh ya nangis sebentar trus bangun lagi, pokoknya selama masih hidup, ya berjuang terus semampunya. Kalau eyang putri saya dan mama saya saja mampu berjuang kenapa saya harus merusaknya dengan menyerah pada keadaan? Disini pembelajaran keilmuan saya mungkin masih hanya sebatas on paper. Tak semuanya mampu saya serap dalam-dalam. Hanya sebagian kecil saja mungkin yang mampu saya tanam sampai dalam hingga sekarang.

 

Kemudian datanglah masa early adulthood: masa bekerja. Setelah berjibaku di jalur swasta dan hampir kesampaian masuk pramugari sebuah maskapai penerbangan, mama saya menyarankan saya untuk ikut seleksi CPNS. Well, at first I felt “what the “h**l?” but then I soon realized bahwa mama saya jarang “menyarankan”, maksudnya dari saya kecil sampai besar, tak pernah sekalipun membanding-bandingkan saya dengan siapapun (I am so grateful to have a mother like her!), tak pernah menstandarisasi nilai saya harus bagus, IPK harus begini begitu, sukses harus begini begitu: yang penting saya ndak neko-neko, mampu menjaga kehormatan dan perasaan keluarga, sehat dan bahagia with what I am doing. Saran hanya beliau berikan kalau memang itu dipandang penting dan perlu. Dan saya memilih mengikuti saran mama saya dengan agak apatis sebenarnya: karena saya ndak punya koneksi siapa-siapa, ndak punya biaya sepeserpun seandainya musti bayar (asumsi awal rata-rata masuk PNS jaman dulu banget). Then, I did apply, I got in, got interviewed and finally “settled” on paper as CPNS dan Alhamdulillah sekarang sudah berjalan sepuluh tahunan sebagai abdi negara. Inipun juga dilalui dengan shock therapy karena perpindahan dari swasta ke negeri itu, berdasarkan ego, sangat kompleks shocknya. I managed that too. Di masa ini pula Allah SWT memberikan saya berkah studi lanjut S2 ke USA. Up to this point, perjalanan kawruh keilmuan saya mulai setapak demi setapak “berjalan” agak lain dari sebelumnya: saya mulai berani mempertanyakan apa yang saya tahu, saya pelajari dan menempatkannya dalam konteks yang berbeda dimana itu seringkali jauh dari zona nyaman saya. Di masa ini pun saya juga struggling in the eyes of the society karena dianggap sudah telat menikah. Oh well, Alhamdulillah setelah gagal disana-sini, dikecewakan disana-sini, sakit disana-sini, akhirnya Allah SWT memperkenankan saya berbagi hidup dengan teman masa saya SD. Insya Allah yang namanya jodoh itu seringkali ndak bisa dijelaskan dengan kata-kata dan terjadi mengalir saja di luar segala perkiraan dan perencanaan saya. Mungkin saya harus melalui itu semua untuk bertemu dengan yang terbaik; teman SD tersebut adalah suami saya. Pun di tahapan ini, proses relijiusitas saya pun jadi pertanyaan banyak orang. Well, I would much prefer to call it my spiritual journey dimana tak harus saya gebyah-uyah disini, cukup hanya saya dan Yang Diataslah yang tahu, secara nanti yang saya bawa “mati” ya hanya ini dan “thrift-shop-ecosystem” saya.

 

Then, di tahun 2015, Allah SWT memberikan kesempatan untuk studi lanjut S3 di New Zealand setelah melewati perjalanan perjuangan panjang ke arah sana, Alhamdulillah. Disinilah new meaning-making itu dimulai. Saya mulai menyadari bahwa segala macam ilmu yang saya pelajari mulai dari TK sampai sekarang itu “hanyalah” semacam “benang” untuk diolah menjadi berbagai macam hal yang lebih “besar” seperti contohnya baju, celana, jaket, selimut, sweater, topi, gaun, tas, dan lain-lain yang nilai ekonomisnya lebih dari hanya sekedar benang. Ilmu yang saya pelajari tentang segalah macamnya mulai dari matematika, IPA, IPS, muatan lokal, fisika, kimia, biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, linguistic, English literature, sampai yang lebih kompleks lagi macam instructional design technology, cultural education, dll “hanyalah” benang-benang dengan berbagai macam tekstur dan warna yang “harus” saya “pintal-jahit-olah” sendiri menjadi my own kind of “wardrobe”. Ibaratnya, mulai TK-SD saya belajar menyebutkan nama-nama benang, dari benang jahit, benang mouline, benang melange, benang yaspis, benang logam, benang karet, benang suji, benang border, benang jagung, benang tetoron, benang wol, benang weft-yarn/benang pakan, benang rajut/knitting, sampai pada fancy yarn/benang hias. Kemudian mulai SMP, saya mulai belajar mengenal benang-benang tersebut lebih jauh dengan memegangnya, merasakan teksturnya, dan mendefinisikan fungsi dan kegunaanya. Mulai SMA saya belajar menggunakan masing-masing benang tersebut sesuai jenis dan fungsinya supaya ndak salah benang (hehe). Lalu di masa S1, saya belajar membuat masing-masing “prakarya” atau hasil tangan yang dibuat dari masing-masing benang. Kemudian di masa S2, saya mulai belajar memadu-padankan benang dengan berbagai macam kemungkinan yang ada supaya bagaimana caranya padu-padan benang ini menghasilkan sesuatu yang baru yang bermanfaat dan lebih berinovasi. Dan sampailah di masa S3 saya dimana kini saya tidak lagi belajar tentang semua benang dan bagaimana memadu-padankan-nya tapi lebih kepada “benang mana yang paling sreg bagi saya untuk saya gunakan untuk membuat hasta karya yang bermanfaat, long lasting dan walaupun dipakai berkali-kali masih bisa awet dan tahan lama”. Ini lebih kepada pilihan untuk lebih fokus; karena semua manusia pada akhirnya harus memilih dari sekian banyak (eaaa, halah). Dan disinilah konsep “thrift-shop-ecosystem” ini hadir dalam pemahaman saya. Sungguh, ini pemahaman murni hasil dari olah rasa dan raga saya sendiri, lahir dari pengalaman hidup sendiri yang saya coba eja-wantahkan sendiri.

 

So here it is; thrift-shop-ecosystem. Kebanyakan dari kita (saya juga pada awalnya) berasumsi bahwa segala yang bekas itu pokoknya tidak baru (ya iyalah, lha wong di kamus juga ada). Tetapi ada kelanjutannya, segala yg bekas dan tidak baru itu biasanya adalah sesuatu yg kualitasnya sepersekian dari seratus prosen. Well, that is not how I think it is now. Begini, berbekal dari pengalaman berburu barang-barang bekas, saya jadi “ngeh” bahwa terkadang (tidak sering loh) masih banyak juga barang-barang bekas yang kualitasnya “seperti baru”: masih awet, sangat pantas untuk dipakai dan masih sehat-normal fungsionalitasnya an yang pasti, kalau nemu barang-barang tersebut, saya selalu mikir ada dua kemungkinan: barangnya yg memang bagus karena merupakan pembuktian walau sudah terpakai bertahun-tahun tapi masih tetap juga awet kuatnya, awet bagusnya, tahan lama, tahan uji dan orang yang memakai barang tersebut memang tipe yang hati-hati, yang setiti lan ngati-ati, yang telaten, yang ndak asal pakai lah pokoknya. Inilah yang menjadi dasar pemahaman saya tentang pangelmon di tingkat S3.

 

Terus terang saja, saya masih dalam taraf adjustment di periode pengejawantahan ini. Mengapa? Ya, karena pada saat saya menulis ini, belum ada empat bulan saya mengenyam waktu untuk menelusuri perjalanan kawruh ini. Dalam waktu yang hampir empat bulan ini saya berpikir: a new way of meaning-making ini harus dilakukan sesering mungkin, semampunya, sedari dini perjalanan dan bukan harus menunggu dulu sampai jadi proposal, sampai selesai sidang atau bahkan nunggu dulu sampai lulus dan dapet gelar. Gelar? Hmm, sesungguhnya saya tidak mengejar itu dan sesungguhnya saya makin malu dengan per-gelar-an ini. Mengapa? Ya karena pada dasarnya saya hanyalah seorang istri, hanyalah seorang putri dari single parent, hanyalah seorang abdi negara biasa, hanyalah seorang lifelong learner. Segala sertifikat dan per-gelar-an itu hanya murni efek samping dari proses yang saya lalui; bukan esensinya tapi semacam “tetenger” atau prasasti penanda perjalanan kawruh saya. Setidaknya itu yang ada dalam benak saya. Disini saya justru sedang menantang diri sendiri: “wardrobe” macam apakah yang bisa saya hasilkan dari benang pilihan saya yang nantinya bisa awet, long lasting, tahan pakai, tahan uji, dan kuat ketahanannya walau sudah “diapakai” berkali-kali tapi tetap seperti baru sampai pada akhirnya nanti masuk “thrift shop” dan masih bisa bermanfaat dan memiliki “daya jual” yang layak (biasanya barang-barang thrift shop yang tidak bagus, daya jualnya turun berlebihan sampai pada tidak dihargai”. “Harga” dan “daya Jual” disini bukan semata-mata masalah bisnis/uang/untung loh ya. Ini lebih kepada “esensi” barang tersebut; bagaimana orang masih “mengakui” keberadaanya yang mumpuni by simply saying “this goods are not supposed to be in thrift shop because they still look like brand new and are still in an excellent condition” dimana hal tersebut “menguntungkan” yang punya thrift shop dan “buyers”nya. Sedangkan pembuat dan penggunanya “disibukkan” dengan terus berupaya membuat dan menggunakan dengan baik apa yang sudah dihasilkan. Filosofi thrift shop juga muncul karena secara fungsional (ini fungsional loh ya, jangan dimasukkan ke dalam kacamata prestige) everyone can go there, find what they are looking for, what they need, in a more economical way; lebih terjangkau. Through thrift shop as well, you may learn about the value of historical attachment within every single thing that is available there. You will find yourself submerged in a way you see things differently. At least, that’s how it get me.

 

Simply saying, I am trying to put everything that I am learning here in a more “solidified” manner. Karena yang saya pelajari dari TK sampai S2 kemarin saya anggap variable yang fluidly abstract dan kini saatnya membuatnya menjadi lebih kongkrit (ini ndak ada hubungannya dengan aliran-aliran mana yang lebih bagus dalam lukisan, tidak sama sekali). Dan bagaimana menjadikannya more concrete? Ya dengan metode yang saya pelajari di S2 dulu tapi plus plus, maksudnya disini, saya mulai berpikir seberapa jauh ilmu yang saya fokuskan untuk saya pelajari ini bisa teraplikasikan secara interdisciplinary (as the ripple effect loh ya, bukan pada esensi keilmuannya itu sendiri tapi lebih kepada perpaduan dari esensi bidang keilmuan dan ripple efeknya) yang menurut saya idealnya mampu dikolaborasikan dengan berbagai macam disiplin ilmu hingga tercipta suatu “wardrobe” baru yang memberikan manfaat bagi yang membutuhkannya. Saya dari dulu kok yakin masing-masing bidang keilmuan itu ndak berdiri sendiri-sendiri, karena semua itu terkoneksi dengan ripple effect. Yang pasti, prioritasnya lebih kepada seberapa jauh ilmu tersebut menemukan esensi holistiknya dengan kemampuannya menyentuh hati, pikir, dan rasa dalam kemanusiaan pada suatu ekosistem/lingkungannya: menjadi soko guru bagi setiap solusi dari berbagai macam masalah kompleks yang dihadapi manusia. Pun approach yang digunakan memiliki limitasi dan kelebihan masing-masing. Disini lebih digarisbawahi pada kesesuaian approach: bukan pada mana yang lebih bagus, lebih keren, atau lebih mentereng-nya.

 

Suatu waktu saya nanya sama diri: saya sekolah buat apa sih? Ngapain sih saya sekolah tinggi-tinggi? Kayak kurang kerjaan aja, begitu kata saya terhadap diri sendiri. Eh tapi dijawab sama diri sendiri juga bahwa esensi dari sekolah itu terletak di proses belajarnya. Hasilnya kalau bagus ya hanya sebagai tanda kesiapan utk belajar hal lain yg lebih kompleks, atau kalau hasilnya ndak sesuai harapan ya itu berarti tetap suatu pelajaran yg berharga untuk diulang mana yang kurang pas sehingga bisa lebih memahami. Belajar dan sekolah itu bukan semacam adu balap. Lha saya juga ditanyai sama diri sendiri: what’s the point of studying when things we are studying for are not able to help us becoming the best version of ourselves? Untuk apa belajar jauh-jauh, tinggi-tinggi, kompleks-kompleks kalau ndak bisa menjadikan kita better human with better awareness (better ini erat kaitannya dengan conscience loh ya, jangan digeneralisasi dengan standard kebudayaan yang berbeda-beda di tiap peradaban manusia di berbagai negara; dan karena human thok tanpa awareness ya percuma).

 

Buat saya, yang menjadikan ilmu itu berharga dan bermanfaat adalah segala sesuatu yang menyertai proses keilmuan tersebut: ndak melulu berada pada sekat-sekat kepongahan keilmuan kita sendiri namun harus mampu menembus batas sekat itu dan masuk ke dalam aspek kehidupan kita sebagai anggota peradaban lokal (nasional, maksudnya) dan global (dunia). Studi doktoral itu bukan tentang jargon-jargon keilmuan kompleks yang seringkali ndak semua orang bisa memahami, tapi lebih kepada seberapa mampu para “siswa doktoral” ini mengejawantahkan keilmuanya menjadi suatu hal yang simply uplifting dan menjadi pencerahan bagi banyak orang serta lingkungannya untuk memahami dengan lebih luas, lebih kompleks, lebih dalam, lebih bijak. Bagi saya proses ini ndak bisa dicapai dengan hanya ngendon di depan screen laptop saya atau semedi bertapa mbaca setumpuk buku2 dan artikel jurnal yang terkadang bikin mati kutu. Ndak bisa. By doing so, terkadang saya me-meaning-making kan proses ini dengan cara jalan-jalan, menyambangi alam, berinteraksi dengan banyak orang, menyapa supir bus, makan makanan baru, duduk berjemur sambil nikmatin banyak burung dara ngumpul, atau bahkan hanya ngukur jalan sambil lihat-lihat dinamika yang terjadi. Disini saya belajar mengkaitkan dan mengkongkritkan konsep, ide, falsafah (halah) dan prinsip-prinsip keilmuan pada day-to-day lives saya: apa yang terjadi dalam diri saya beserta pergolakannya. Naik turunnya mood, galaunya batin, dan segala macamnya bertumpu jadi satu menghiasi perjalanan ini. Dan itu ndak melulu soal kegalauan gimana saya bakal nulisin background, literature review, milih methods dan approach yg pas, planning the study sampai ke tahap nganalisa hasil kemudian presentasi hasil. But then, after all of that has been accomplished; What is next? How do I relate that to my own life and to others? Apakah cuma bisa gahar di sebatas kalimat-kalimat dengan jargon akademis yg rancak bana bersliweran dengan suksesnya di lembaran demi lembaran disertasi dan kemudian bertahan dalam sekat blink-blink oral defense-nya? How about its post-finishing study? Seberapa banyak kah itu bisa relate to others? Relate to my own life? Relate to the environment? Seberapa jauh bisa memberikan trigger untuk berkolaborasi mencari solusi-solusi baru bagi setiap masalah-masalah baru yg kompleks di peradaban manusia. Dan, pada akhirnya, bagaimana kita sebagai pebelajar dan pelaku proses pengejawantahan ilmu tersebut mampu tetap membuat ilmu tersebut bermanfaat dan mentrigger manusia lain yg masih bernafas untuk melanjutkan segala kebaikan keilmuan yang pernah kita pelajari agar lebih dapat terus disempurnakan walaupun sudah tak lagi bernafas di dunia? Inilah yang mendasari “thrift-shop-ecosystem” pemahaman saya tentang bagaimana esensi belajar dan sekolah di jenjang S3 itu. Disini saya banyak belajar bahwa tingkat kematangan wisdom keilmuan seseorang itu terletak pada “kesiapannya berbagi dan kelegowo-an-nya menyikapi”. Tak mudah memang mengalahkan ke-ego-an diri sendiri; eksistensi selalu menuntut ter-akui-i. Saya hanya bisa berharap utk dapat sedikit saja semampu saya meneladani beliau-beliau dan rekan-rekan, sahabat, teman, dan kolega saya yang sudah terlebih dahulu “matang” keilmuannya dalam hal ini. Apa yang diteladani selain dari esensi keilmuannya? Ya tak lain adalah kesiapannya untuk secara refleks “give back to society” tanpa diminta, tanpa dimohon, tanpa dieluk-elukan, tanpa dijanji-janjikan; intinya tanpa pamrih. Siap dikritisi, siap dimaki, siap dicaci, siap dieliminasi, siap dimarginalisasi jika proses “giving back to society” ini menentang “arus” karena berlawanan dengan hati  nurani dan tak sejajar dengan “kepentingan” serta “vested interest” dari yang diberi namun tetap memberi dengan hati tanpa henti, seberapapun tak berartinya kontribusi menurut pikiran dan perkataan yang diberi. Istilahnya, tough love 🙂 Nah, seberapa siap saya menjalani ini pun saya belum bisa menjawab, tapi satu yang pasti, sebisa mungkin, semampu mungkin, saya siap belajar untuk ini, insya Allah diberi umur dan kesehatan untuk sampai pada titik dimana saya bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah saya pelajari-lakukan-bagikan.

 

Apalah saya? Sekali lagi, saya bukan siapa-siapa. Dosen juga bukan, peneliti juga bukan, penulis juga bukan; sekali lagi, hanya seorang istri yang juga abdi negara. Ngapain menyusahkan diri dengan sekolah tinggi-tinggi, jauh-jauh pulak? (itu anggapan most people). Well, what I am looking for is the process accompanying this journey; tidak sekadar the-on-paper “stuff”nya. Bagaimana saya, sebagai seorang istri (not yet a mother though hehe) mengatasi segala “struggling dynamic” yang menyertai perjalanan kawruh keilmuan inilah yang saya cari. Dengan pushing myself to the limit where everything has to be understood out of my comfort zone, I have learnt to discover things I never knew I have: step-by-step understanding terhadap berbagai macam hal-hal yg kompleks. Seperti benang-benang tadi, saya tidak hanya belajar mengenal benang, tapi juga memahami masing-masing jenis dan fungsinya kemudian belajar menggunakannya sampai mengelaborasinya menjadi sebuah karya seni (saya cenderung menyebut hasil belajar itu senada dengan karya seni) yang (harapannya) bermanfaat, tidak untuk saya sendiri. Pun dengan kondisi benang kusut, disini saya juga belajar bagaimana mengurainya tanpa harus pake gunting; potong dhes bar, instantly. Tidak mudah menjelaskan bahwa “I am not that kind of Doctor”. Tidak mudah menjelaskan bahwa siswa PhD itu bukan semacam pintu kemana saja yang tahu apa saja dan bisa apa saja. Tapi setidaknya, jika mampu sharing pemahaman tentang ketidaksempurnaan kawruh keilmu-annya untuk kemudian dapat lebih mampu disempurnakan orang banyak; that’s what I call a journey worth living for, a journey worth fighting for. Karena saya selalu beranggapan, apa yang saya pelajari dan apa yang saya sharingkan setidaknya bisa sepersekian prosen dari tetesan air hujan, memberikan “alas” utk lebih baik lagi dipikir-rasa-kan, lebih baik lagi diimplementasikan, lebih baik lagi di-dekonstruksikan. Karena sejatinya, saya selalu berpikir, lebih banyak lagi yang mampu lebih baik dari saya (tapi bukan berarti saya jelek hehe). Lebih banyak lagi yang bisa saya pelajari dari mereka-mereka yang sudah terlebih dahulu “pangelmon”nya menjadi “thirft-shop-ecosystem”. Sebuah makna kawruh keilmuan dari seorang anak manusia yang juga seorang istri, seorang abdi negara yang hanya ingin belajar dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Semoga “goresan” ini akan selalu bisa mengingatkan saya untuk tidak terjebak dalam kepongahan sekat-sekat saya sebagai manusia yang fasih-nya hanya made mistakes dan kepleset (ngomong sendiri di kaca).

 

Bagian pertama, soko guru kelihatanya sampai disini saja, namun bagian kedua dari my thrift-shop-ecosystem; Lelangenan, will have to continue another day, and it will discuss more on the way I put what I have academically learnt so far into perspectives in relation with my non-academic dynamic of life.

 

To be continued; Bersambung…

 

Wellington-New Zealand, September 14, 2015

11872203_10205977408087832_228507888729245684_o

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teruslah bermimpi denganku, teruskan bermimpi
Bertahanlah, air mata yang mengalir perlahan
Jangan terlihat cara hidupmu yang penuh kesedihan
Yang selalu ingin kau keluarkan
Dengan jeritan yang bernada tinggi
Dengan keraguan yang besar
Seperti sinar pertama sebuah bintang yang baru naik
Biarkan mimpi yang mulai mendapat bentuk
Meneruskan lagunya samar-samar
Dan tidak menghempas tebing laut
Karena ini ibarat perahu

(Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemawardhani)

*******

Lahir 17 September 1921 di Solo dari pasangan ningrat GKR Timoer Mursudariyah dan KGPAA Mangkoenagoro VII, embun yang cantik dari Solo ini masih menjadi kesejukan yang mampu menginspirasi bumi Pertiwi sampai saat ini. Di masa muda, kecantikannya pernah menggetarkan hati banyak laki-laki berkarisma tingkat tinggi termasuk Bung Karno, Bung Sjahrir, dan Sultan Hamengku Buwono IX. Putri Solo yang rela meninggalkan kenyamanan hidup di dalam istana demi cinta.

Anyway, membaca biografi tentang beliau ini, seperti penawar tabur bunga melati putih di pusara eyang putri saya di Astana Bibis Luhur Solo. Sebagai wanita yang dilahirkan dengan budaya Jawa yang kental, saya paham mengapa Gusti Noeroel lebih memilih “bersabar” sampai usia kepala tiga untuk menjawab cintanya dari seorang biasa namun punya cinta yang luar biasa yang tidak ingin memadu cintanya dan membuat Gusti Noeroel menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya. Gusti Noeroel tetap mampu bersabar untuk sebuah cinta yang tidak akan pernah menjadikannya dimadu, sambil memegang teguh perkataan sang bunda “Nduk, mugo-mugo suk kowe ojo dimaru”.

Dalam hidup saya sebagai seorang wanita, chapter tentang cinta, mimpi, dan cita-cita “tertulis” agak “berbeda” dari chapter-chapter yang lainnya; but it has been truly meaningfully written, alhamdulillah. To me, setiap kata dalam puisinya menyentuh saya. First time reading her poem above, my heart has shivered ever since; Those words, I can truly relate. Cinta, mimpi dan cita-cita itu untuk saya ibarat perjuangan. Menyeimbangkan cinta, mimpi, dan cita-cita itulah yang membuatnya menjadi suatu perjuangan. Beliau ini ndak muluk-muluk dalam ikhtiar kesabarannya. Kecantikannya berpendar beyond her physical appearance. Her words, her thoughts, her way of thinking had shown her bravery to stepping out of her comfort zone. Terlebih lagi saat itu, dimana “stepping out of the comfort zone” for a woman like her was a struggle of its own.

Kembali lagi ke soal cinta. Kenapa sih kok “cheesy” banget hari gini masih aja ngebahas soal cinta, kayak ndak ada yang lebih penting ajah dari buku ini (kata salah satu kolega saya, di suatu waktu). I just said, read it again with your heart.

Bisa saja beliau menerima pinangan salah satu dari very well-known gentlemen yang menaruh hati pada beliau. Bisa saja beliau ndak perlu belajar nari. Ndak perlu belajar jadi horse-rider yang mumpuni (saat itu dianggap masih tabu untuk wanita menjadi penunggang kuda), ndak perlu pinter2 maen tenis, ndak perlu pinter2 meningkatkan kemampuan intelektualnya dalam seni sastra, atau ndak perlu repot nunggu sampai kepala tiga buat akhirnya memutuskan menikah (mendobrak perjodohan dan menikah muda dan memilih sabar menunggu pujaan hati), seperti yang dituturkan oleh Anton DH. Nugrahanto (2012):”Kecantikannya bikin terpukau banyak orang, seorang Bung Karno, lelaki paling hebat di jaman Revolusi 1945, pernah melamarnya, tapi ditolak. Begitu pun Sutan Sjahrir, lelaki Indonesia paling rasional dan brillian kecerdasannya pernah tersungkur jatuh rindu, tenggelam dalam bayangan cinta Gusti Nurul Kamaril. Tapi Gusti Nurul Kamaril menolak semua lelaki hebat, ia malah memilih lelaki yang sederhana, seorang Kolonel yang tak memiliki ambisi, seorang tentara yang tak berniat menjadi Panglima. Dialah Kolonel Raden Mas Surjosularso. Kolonel Suryo ini adalah jenis tentara dibalik meja, bahkan boss Kolonel Surjosularso, Jenderal Nasution sendiri pernah berkomentar : “Dia amat tipikal Jawa, dia tak pernah bicara banyak, bahkan ketika dia hendak protes karena marah besar, dia hanya datang kepada saya dan diam lama sekali di depan saya”.

Nah, bisa saja kan beliau tetep anteng di zona nyamannya? Tetapi beliau bukanlah tipikal yang anteng di zona nyaman dan untuk keluar dari zona nyaman itu (apalagi waktu itu) tidaklah mudah saudara-saudara, namun saat keberanian itu hadir dan pengalaman keluar dari zona nyaman itulah yang akan membuat hidup ini akan jauh lebih bermakna, insya Allah.

Pasca menikah, tidak seperti halnya selebriti jaman sekarang, seperti yang dituturkan kembali oleh Anton DH Nugrahanto (2012) bahwa: “Gusti Nurul hidup jauh dari kemewahan, jauh dari kemewahan bangsawan dan berjarak pada kisah romantika kisah cinta para bangsawan. Sikap cinta sederhana Gusti Nurul ini adalah sebuah laku, bahwa cinta itu amat indah bila dibangun dengan cara yang sederhana dimana pondasinya adalah : Kepercayaan.Kepada Gusti Nurul Kamaril kita banyak belajar bahwa cinta tanpa kepercayaan adalah sebuah lelucon tanpa kelucuan. Cinta yang percaya adalah ibu dari segala ibu keindahan manusiawi”.

Dari beliau, saya belajar tentang korelasi antara keluar dari zona nyaman dan perjuangan: Gusti Noeroel berjuang untuk apa yang beliau yakini terbaik untuk dirinya dengan memberanikan dirinya keluar dari zona nyamannya.

Starting today, I shall ask myself over and over again with these question: 1) Why should I step out of my comfort zone? 2) am I brave enough to step out from my comfort zone?

Dan, tentang cinta. Cinta yang sederhana itu ada. Ullen Sentalu-lah saksinya smile emoticon

Dan tentang kesabaran. Menunggu sampai kepala tiga untuk kemudian memutuskan menikah? Gusti Noeroel pun melakoninya smile emoticon

*Compiled from previous

 

While I was reading Robert. E. Stake and listening to Boyce Avenue and Ed Sheeran, all of a sudden, I ended up….kangen 😛

 

soultraveler

Kenyamanan yang paling terasa yang justru saya dapatkan saat keluar dari zona nyaman saya adalah kenikmatan untuk menikmati ketidaktahuan dan bereksplorasi untuk memenuhi rasa ketidaktahuan itu seperti seorang anak kecil yang berlari mengejar indahnya kupu-kupu.

Karena anak ayam pun harus “memecahkan” kenyamanan cangkang telurnya untuk tumbuh. Dan bayi pun harus “memecahkan” kenyamanan ketuban untuk berkembang. Saat dulu remaja, pernyataan iconic yang mendera adalah proses pencarian jati diri. Setelah dewasa, proses itu pun sebaiknya “tumbuh dan berkembang” pula menjadi sebuah proses pencarian (kese)-jati-(an) diri.

Untuk itu, bagi teman-teman sekalian yang melalui proses tersebut dengan harus sementara waktu berpisah dan meninggalkan keluarga tercinta; saya ingin menyampaikan bahwa justru itu adalah bentuk cinta yang sedang berproses menuju kese-jati-an nya. Mengapa? Karena tak setiap orang “berani” menempuh jalan tersebut. “Keberanian” ini lah yang insya Allah akan mendapatkan segala kebaikan yang penuh dengan pemaknaan kehidupan yang benar-benar dari hati. Dan yakinlah, saat teman-teman jauh dari keluarga untuk berjuang, berikhtiar, dan berdaya upaya, bukan berarti tidak memprioritaskan, tidak mengutamakan keluarga, atau tidak sayang keluarga. BUKAN. Justru inilah salah satu bentuk selfless love and commitment yang insya Allah nanti juga akan diberikan Gusti Allah SWT waktu terindahnya untuk “berlabuh” pada kesejatiannya. Karena semuanya hanyalah sementara. Karena tidak ada yang abadi. Karena hidup tanpa “keberanian” sama halnya berlayar tanpa angin, panas, hujan, badai, ganas ombak, dan…pelangi.

Saya percaya, teman-teman yang sedang merantau jauh dari keluarga adalah pribadi-pribadi yang memiliki ketahanan, kekuatan, kesabaran di atas rata-rata. Dan saya percaya, teman-teman yang sedang merantau jauh dari keluarga insya Allah diberikan keteguhan untuk melindungi dan menghangatkan keluarganya dari jauh seolah serasa tanpa jarak dan waktu.

Kelak, segala ikhtiar teman-teman semua yang sedang dirantau akan menjadi rekam jejak yang indah tidak hanya bagi anak cucu dan keluarga namun juga sesama. Selamat berjuang meraih asa dan impian. Percayalah, suatu saat, pelangi itu akan membiaskan sendiri jalan cahayanya untuk teman-teman untai dalam doa dan rasa syukur yang tak berkesudahan.

Hidup hanya sekali, carilah arti yang hakiki sampai ke ujung bumi untuk menjaga dan memaknai hati setiap hari dengan pelangi.

Titip salam saya untuk keluarga tercinta dari teman-teman semua yang sedang merantau jauh. Semoga doa dan kiriman semangat, kasih dan sayang dari keluarga tercinta akan senantiasa menghangatkan periuk keteguhan, kesabaran, dan kekuatan teman-teman sampai pada waktu terindahnya nanti yang bahkan jarak-pun tak mampu membagi. Carpe Diem!

(Wellington, June 25, 2015)

soul2

Mungkin ini hanya perasaan saya saja, but somehow, when I have found people with the same “wave”, all of a sudden, the boundary of age dissapears; poof. It doesn’t mean to disrespect. It’s just…when my wave is connected to others with similar one, all I can feel is transcendental bliss. However, it doesn’t happen often. Most definitely it is by surprise. Through the way they write, say, think, express their thoughts through words, phrases, sentences, ideas, and even context! This is not judging; this is the way I “read” and understand people.

So far, it has been verified 95% (through my life experiences) that meeting these similarly-waved people has been a rare-but-full-of blessing-in-disguise opportunity where I don’t usually meet them often, in person (usually ocean apart) but when we have a chance to converse our thoughts, that kind of “conversation” lasts forever. I call them my fellow soul travelers. Such a blessing! Alhamdulillah.

To you…yes, you. You know who you are and I think our souls traveled centuries ago and will be “traveling” again together in the other dimension in another realm, insya Allah. You have been giving me good influence and teaching me to never stop learning to be a better person. So until then, stay passionate! 

meandhim

 

We have been given a “privilege” to experience long distance relationship again (from dating until we are married now). This kind of privilege is not for every couple but we continue to be grateful for it as we have learnt so much in a way that we are strengthened by it. The ups and downs are there and we continue to learn from each other by being who we truly are. Three years and counting and all we can say is Alhamdulillah, Insya Allah, and Bismillah for every hope and dream we have in building our love & life together.

Along the way, we have developed a sense of understanding that might be different from other couples but that’s just fine, because every couple has different path and journey as well as the preferences to go along with them. Differences are good in a way that they give us perspective to understand everything deeper. In the midst of struggles, we believe that every struggle we have, comes with countless blessings in disguise and that we always try our best to perceive it positively. Yes, we have also learnt that distance is not the issue. It is all about mantaining communication as it is an important foundation to explore and find meaning to and of each other. Semoga ikhtiar, mimpi, cita-cita, harapan, dan niat baik kami berdua diberikan jalan yg terbaik oleh Allah SWT.

One thing we have learnt is that there’s no such thing as trivial topic in our way of communicating. Every topic, word, sentence and phrase, as simple as it may be, is woven into something priceless in our hearts. This is how we are learning from each other. Karena pada dasarnya, semuanya kembali ke asal muasal, mengapa kami berdua bisa bertemu, suka, jatuh cinta, menikah, mencintai, menyayangi dan menjaga sampai detik ini.

Never in our lives had we thought to be husband & wife (We were elementary school friends and that was how and when we met for the first time). Dari situ kami belajar utk memahami bahwa jika Allah SWT sudah Berkehendak maka tak ada satu pun hal yang mustahil terjadi. Dan, kami pun hanya mampu utk terus belajar bercita-cita, berencana, berusaha, dan menjalani dgn sebaik-baiknya sembari senantiasa memasrahkan segalanya dalam Tangan dan KuasaNya semata. Jika mengingat itu semua, hanya rasa syukur yg menggema, yg insya Allah selalu dapat menjadi reminder kami dalam menghadapi setiap badai yg ada. Karena bagi kami, menikah adalah sebuah keindahan perjalanan yg tidak hanya sebatas fisik namun juga batin, yang ingin kami bawa sampai setelah kami menyelesaikan kehidupan kami di dunia ini menuju Jannah, insya Allah.

I am grateful to have someone like my husband to grow old with. Beliau benar2 memberikan saya ruang seluas-luasnya utk belajar menjadi seorang istri yg juga diberikan kesempatan agar tetap dapat senantiasa mengepakkan “sayapnya” utk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, alhamdulillah. Finally, it has been such a wonderful journey in our marriage with us being perfect in our own imperfection. Saling menyempurnakan; saling membahagiakan. ‪#‎BahagiaItuSederhana ‪#‎marriage ‪#‎communication ‪#‎love ‪#‎kawruhjiwa #reflection

 

Wini,

June 6, 2015

Wellington, New Zealand