Idealnya, jangan sampai yg normatif itu mengaburkan yg substantif

on

20180728_121845

Mengapa kita ndak bisa memilih utk lahir dari kombinasi orang tua yg mana dan yg seperti apa? Menurut keterbatasan pikir saya, ya karena itu semua hak prerogatifnya Sang Pencipta semata. (Lha memangnya rumah makan padang? Bisa touchscreen milih makanan yg disuka trus abrakadabra, kenyang, gitu?). Pelajaran yg saya ambil dari ini itu mengingatkeun saya bahwa yang menjadi hak prerogatifnya Tuhan Yang Maha Esa itu sebaiknya jangan di “copet” jadi haknya manusia semata. Otomatis kalau kita ndak bisa milih mau lahir dari orang tua mana, kita juga ndak bisa milih mau punya warna kulit apa, warna iris apa, warna rambut apa, tempat lahir dimana, dilahirkan dengan cara normal atau cesar (yg dikasih pilihan itu ortu bukannya kita), dilahirkan tanggal, bulan, tahun berapa, dll. Nah, ini jadi forever reminder kita juga bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan yg namanya perbedaan utk di-embrace. Iya, di-embrace, bukan di-unbrace. Di embrace dengan apa? Ya dengan segala elemen kemanusiaan yg ada. Agama itu pilihan. Bidang studi belajar itu juga pilihan. Bisa berubah sesuai dgn range dikasihnya umur seseorang tapi yg namanya perbedaan itu sampai matahari galaksi kesekian pun akan tetap ada bahkan didalam hal yg dianggap sama. Contoh, warna. Warna merah itu ada merah bata, merah marun, merah tua, merah muda. Atau Ijo, ada ijo lumut, ijo turquoise, ijo tua, ijo muda. Dan lain sebagainya. Bahkan suami istri dibawah atap yg sama dan disatukan dalam sumpah janji yg sama pun adalah dua individu yg perbedaannya bahkan bisa 360 derajat. Pun anak kembar identik yg tampilan fisiknya sama plek juga adalah dua pribadi yg memiliki perbedaan. Toilet di masing2 negara pun beda2 gaya; kering dan basah, traditional dan modern, etc. Masih belum puas?

Ada lagi. Sang Khalik menciptakan air-api-tanah-logam-udara itu dengan segala perbedaan cetho yang welo-welo sedemikian rupa itu bukan terus utk “dileburin” jadi satu atau dipaksa sama, bukan? Masing2 diciptakan dengan segala manfaat bagi kehidupan manusia. Pun manusia memanfaatkannya juga beraneka ragam sesuai upbringing konteks, kultur, budaya, dan kondisi fisiknya. Contoh: air, secara budaya dimanfaatkan tak hanya utk mandi tapi juga utk seremonial, utk tolak bala, utk obat, utk masak dan lain sebagainya. Dibelahan benua yg berbeda, cara menggunakan tanah-logam-api-udara pun beda2. Porsi tiap manusia menggunakan masing2 elemen itu pun juga beda-beda, dipilih sesuai dengan kebutuhannya yg dirasa pas.

Apa yg menyatukan segala perbedaan itu? Iya, manfaat; kebaikan dalam manfaat. Kebaikan air-api-tanah-logam-udara lah yg menyatukan manusia seantero jagad. Jangan terus kebablasen pengennya air semua; nanti banjir. Jangan terus pengennya api semua, nanti kebakaran. Jangan terus pengennya tanah semua, nanti longsor. Jangan terus pengennya logam semua, nanti ndak bisa makan-minum. Jangan terus pengennya udara semua, nanti masuk angin.

Nah, sekarang tinggal manusianya. Mau fokus ke perbedaannya atau mau fokus ke manfaat dari segala perbedaan yg ada untuk kebaikan? Karena persamaan dari segala perbedaan yang ada itulah pe er yg diberikan dari Sang Pencipta bagi masing2 manusia utk dikawruhi dan diimplementasikan sampai akhirnya masa kontrak di bumi ini habis. Carilah sisi manfaat, sisi positif, sisi membangun dari segala dan setiap perbedaan yg ada. Jangan mengambil hak prerogatif Sang Pencipta dengan membeda-bedakan yang sama atau menyama-nyamakan yg berbeda dengan tujuan memuaskan kepentingan, agenda, dan nafsu pribadi yg tak berkesudahan.

Nah, ada lagi. Seragam sekolah itu lain benua juga beda2 bukan? Bahkan di dalam sekolah yg sama, dengan seragam yg sama, aturan dan tata tertib yg sama, guru dan kepala sekolah yg sama pun pribadi lepas pribadi dari yg memakai seragam itu berbeda-beda. Beda cita2, beda mimpi2, beda latar belakang kehidupan, beda selera, beda kemampuan belajar, dll. Seragam itu filosofinya baik yaitu utk menghumble-kan dan memfokuskan kepada tujuan belajar, bukan tujuan berpenampilan. Tiap seragam yg didesain masing2 model sekolah itu pasti didesain sebaik dan serapi mungkin, ndak ada yg desain ala kadarnya trus robek sana sini. Iya, seragam itu normatif. Norma itu perlu dan penting utk, salah satunya, menjaga ketertiban. Tapi ke-berlaku-an norma itu tergantung pada dimana bumi dipijak, dalam hal ini, masing2 sekolah norma nya bisa berbeda. Di lain hal, ilmu dan belajar itu substantif. Mau sekolah dimanapun itu pasti tujuan utamanya adalah belajar dan mencari ilmu. Dalam konteks ini, jangan sampai masalah seragam trus jadi tawuran. Jangan sampai masalah seragam jadi ejek2an. Jangan sampai masalah seragam jadi indikator nentuin sekolah ini bagus, keren, atau mumpuni. Lha, yg nentuin bagus, keren, dan mumpuni itu kan lebih pada prestasi dan kesuksesan proses belajar-mengajar dan bukan dari seragamnya toh? Intinya, jangan sampai yg normatif itu mengaburkan yg substantif.

Lha trus gimana kalau ada model sekolah yg memang membebaskan anak2nya ndak berseragam? Njuk terus dicap “kurang legit” gitu kah? Bagaimana kalau memang konsep sekolah mereka yang tidak harus berseragam itu justru karena anak2nya dipandang sudah mampu untuk humble tanpa diingetin pake seragam; udah mampu fokus belajar tanpa harus mikirin seragam? Kepikiran gitu ndak?

Lha, trus kalau kebetulan ada beberapa anak2 di sekolah tersebut yg, say for instance, membolos dan jalan2 ke mall trus ketangkep basah; yang salah itu seragamnya kah atau anaknya yg pakai seragam yg bolos? Kalau udah gitu, tanpa doremi dulu njuk terus semua siswa di sekolah itu, dgn seragamnya tersebut, dicap suka mbolos semua gitu? Disini saya merasa teringat akan wisdom reminder “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”, yg artinya semua disini udah pada pinter2 untuk tahu tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. Wisdom reminder ini utk diresapi dengan hati dan bukan hanya utk dihafalkan buat dapet nilai mapel Bahasa Indonesia yg bagus thuok. Sejalan dengan wisdom reminder ini, kita pun ndak mau kan makan nasi yg kecampur sama banyak gabah? Nah, gabah pun harus dipisahkan dari butiran padi yg akan diproses utk jadi nasi supaya ndak ikut kemakan dan kita bisa makan nasi dengan aman, nyaman, dan aman. Dalam hal aman, nyaman, dan aman, saling melindungi itu perlu. Saling menjaga dan memback up itu penting. Tapi, dilihat dulu yg dilindungi, yg diback up dan yg dijaga apakah willing juga mengembalikan kasih sayang yg sama dengan tidak menyalahgunakan itu? Jangan sampai bertepuk sebelah tangan kan? Sakit, miris, malu, dan sedihnya tuh disini!

Intinya, fokuslah kepada manfaat. Karena sebaik2nya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yg lain. Sudah, jangan diplintir jadi manfaat yg buruk….ini konteksnya manfaat yg baik dan positif. Arti “bagi yg lain” disini juga ndak cuma sesama manusia thuok, tapi juga terhadap ciptaan Allah SWT yg lain seperti hewan, tumbuhan, dan lingkungan alam.

Yuk setel fokus “kamera” masing2 biar dapet hasil “gambar” yang aduhai indahnya. Mas2 fotografer aja kalau mau dapet capturan yg apik aja musti ada strategi, seni, usaha, dan sabarnya (ndak waton asal njepret thuok). Karena saya percaya bahwa hasil gambar yg ndak fokus atau yg fokusnya ndak pas, pasti bikin ilfil dan emosian (buktinya klo lagi selfie ndak pas, pasti diulang lagi sampe maksimal bagus angle nya kan?). Ini soalnya kalau sudah ilfil dan emosian, segala sesuatu itu jadi makin ndak fokus lagi dan bisa bikin bablas “waras”e.

Selamat berlomba memberikan manfaat yg baik dan positif ya….jangan lomba yang….ah, sudahlah.

Wini, Wellington, December 9, 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s