Reflection of April 21st: What “Kartini” Means To Me (2)

Hari Kartini adalah sebuah hari dimana selebrasi dari hati ditujukan untuk memaknai suatu kemandirian yg berbudi pekerti dan berbudaya luhur. Kemandirian yang memerdekakan, mencerahkan, menerangi sekaligus mengasihi dan merengkuh relung hati yang “belum mandiri” karena “terpenjara” oleh kekuatiran, rasa takut, dan keraguan yg membawa energi negatif. Kemandirian yang tak akan pernah lekang oleh waktu dan jaman, apapun bentuknya. Kemandirian cinta dan kasih dari perempuan; ciptaan Allah SWT yg digariskan utk meneduhkan “deru topan” kaum adam yang cenderung tak kenal lintas batas. Kemandirian yg juga adalah sebuah keberanian yang bukan menyalahi namun melengkapi kodrat. Kemandirian yg mampu diaktualisasikan dengan kematangan sebuah kesadaran dan pemahaman akan suatu jati diri sejati.Menyelami arti lahirnya RA Kartini dan makna peringatan hari lahir beliau utk perempuan seperti saya mengingatkan saya bahwa masih banyak yg harus saya benahi dalam peran saya sbg istri, anak, saudari, abdi negara, dan bagian dari masyarakat.

Saat saya kecil dan naif, sosok pejuang emansipasi kaum wanita yg saya kenal “standing out” dalam buku teks pelajaran sejarah hanya Ibu Kartini, namun saat jiwa dan pikiran saya “berontak”, saya mulai berusaha menjawab pertanyaan dari diri sendiri “Apakah hanya Kartini saja? Pasti ada pejuang wanita lainnya dengan visi, misi dan kiprah sama bahkan mungkin lebih”. Memang utk saya dimulai dari Kartini, namun demikian tidak pernah sedikitpun saya menggugat Kartini atau mempertanyakan jasa beliau. Kalau dipolitisasi, memang banyak yg menggugat “Kok Kartini?/Kartini itu mitos/Yg lebih berhak selain Kartini banyak/Kartini itu cermin politik Belanda, dll. I am aware that Indonesian lady warriors and heroes are not only Kartini. Dan akan butuh lebih dari 365 hari utk memberikan hari “jadi” bagi setiap pahlawan perempuan di Indonesia.

Untuk saya, setiap tanggal 21 April itu tak hanya Kartini’s day namun juga hari Sultanah Safiatudin, Siti Aisyah We Tenriolle, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Pecut Baren, Pecut Meurah Intan, Cutpo Fatimah dan masih banyak lagi pejuang wanita yang belum sempat masuk “publisitas” sejarah tapi punya karya nyata yang signifikan, termasuk mama dan almarhumah eyang putri saya yg juga menjadi representasi dari Kartini dalam hidup saya, dan juga para ibu-ibu yang lainnya sebagai pejuang keluarga. Saya yakin, pejuang wanitanya sendiri ndak ngoyo dan ndak haus publikasi seperti halnya jaman sosial media seperti sekarang karena di masa-nya, saya percaya bahwa beliau-beliau berjuang dari hati dan bukan utk infotainment atau jadi selebriti dengan target likes atau rating mention di hashtag. Nah, memang adalah suatu inisiatif yg baik utk mempublikasikan pejuang wanita yg lain yg belum terekspose sejarah tapi bukan berarti membanding-banding kan, mempertanyakan perjuangan, mendiskreditkan satu dgn yg lain, atau malah mem-politisasinya sehingga esensi keseluruhan perjuangan dari semua tokoh wanita Indonesia tersebut malah jadi kabur. The way I see it adalah bukanlah masalah fair atau ndak fair kenapa hanya Kartini dan bukan yg lainnya. The way I see it adalah Kartini is among those incredible lady warriors and heroes. Yg namanya “perwakilan” itu bukan berarti mengecilkan peran yg lain. Sama seperti para wakil generasi muda bangsa yang membawa nama Indonesia di kancah internasional. Bukan berarti generasi muda yg lain tak dianggap kan? Pun, Kartini itu bagi saya lebih mengacu pada representasi “filosofi” (walaupun sosoknya nyata) dari perjuangan dan eksistensi anak manusia yg dilahirkan dengan gender perempuan. Kita terwakili oleh Kartini, bukannya digantikan oleh Kartini. Jadi, dari sudut pandang sesama Kartini, tolong, rukunlah.

Di lain sisi, untuk saya, eksistensi, perjuangan, dan cita-cita “Kartini” juga tak lepas dari hadirnya “Kartono” yang senantiasa memahami, mendukung, menghargai, menyayangi, dan mendoakannya (dan sebaliknya) di tengah segala limitasi, tekanan, ujian, dan cobaan hidup. Note: Sosok “Kartono” bisa jadi adalah ayah, suami, paman, kekasih, eyang kakung, bro-best friend, bro-friend, bro-colleague, Bapak supervisor, Pakdhe, Paklik, younger and older bro, and others. Karena semuanya itu punya harmoni dan akan lebih indah klo kita tidak sexist atau perang gender. Memang sudah banyak contoh-contoh represivitas laki-laki terhadap perempuan dari berbagai macam kasus dengan beraneka ragam budaya dan situasi lingkungan sosial. Namun, dibalik semuanya itu, untuk saya, rasanya kurang bijaksana kalau menggeneralisasi semua laki-laki itu me-marginalisasi perempuan. Dalam perjalanan hidup saya, saya mengenal perempuan-perempuan hebat yang didukung oleh laki-laki yang panjang sabar, pengertian, serta mengapresiasi eksistensi sang-perempuan-nya. However, ini juga bukan instan. Diperlukan komunikasi, pemahaman, dan kedewasaan berpikir-rasa-karsa yang sudah teruji dengan waktu dan beragam peristiwa hidup; dimana laki-laki yang dengan kebijaksanaan, pengertian, dan kasih sayangnya mengaspresiasi yang meng-handarbeni para perempuan dalam setiap momentum dan kesempatan yg sama utk bermimpi, berharap, menuntut ilmu, bekerja, berkiprah, dan beremansipasi tanpa meninggalkan kodratnya. 

Jadi, to all of Indonesian lady “warriors” and heroes, represented by Kartini, hari ini, tanggal 21 April 2018; Selamat hari Kartini untuk perempuan-perempuan Indonesia yg tak lelah berjuang utk bahagia dan memperjuangkan kebahagiaan untuk membahagiakan yang dicintai. Selamat hari perempuan se-Indonesia! Semoga peringatan hari Kartini ini dapat semakin mencerahkan perempuan-perempuan di Indonesia sebagai penjaga peradaban bangsa dan negara yg lebih baik lagi, aamiin yra. Hanya ada satu Ibu Pertiwi dan semoga semangat Kartini membuatnya tak akan pernah “mati”.

Wini,

 

Wellington, 21 April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s