Diversity; Today’s context in the USA


D.i.v.e.r.s.i.t.y with commitment to serve others. People in USA post Trump starts to learn/acknowledge that the quality of humanity from their leaders is valued BEYOND race, religion, sexual orientation and more to their commitment to serve public needs with integrity.

Indonesia? Nanti dulu. Jangan semua2 yg kejadian di negara2 maju langsung di “bawa” ke konteks Indonesia. Indonesia memang secara “fisik” diverse, plural, dan beraneka ragam tapi secara “non-fisik” masih harus menjalani proses “kawah candradimuka” dulu, apalagi yg namanya politik dan sosial. Konteks Indonesia itu rawan mispersepsi dan masih kental mind-setting “kalau bisa disamain, kenapa musti beda” dan “musti ati2 sama yg beda”. Jangan juga langsung menjudge Indonesia “ndak maju2 kalo ndak begini begitu yg seperti di negara maju”; ndak wise juga judging begitu. Kita juga jangan punya mindsetting nenek moyang kita itu super kuno, terbelakang, ndak canggih dan ndak keren. Ndak pas juga itu. Justru kita harus banyak2 belajar sejarah dan bangga dgn nenek moyang kita yg dengan teknologi masa dulu nya mampu membangun candi Borobudur (dan candi2 serta rumah2 adat istimewa yg lainnya), yg mampu bernavigasi di lautan lepas hanya dengan modal tatanan bintang di langit dan hembusan angin di laut (jaman dulu banget ndak ada GPS, ndak ada kompas, apalagi apps2 an), yg mampu mengolah kekayaan hayati menjadi jamu2 an tradisional yg mumpuni walau belum ada laboratorium canggih dgn mikroskop dll seperti sekarang ini. Itu hanya sebagian kecil dari kehebatan nenek moyang bangsa ini, belum semuanya. Jadi intinya, setiap hal yg kita anggap maju yg kita pelajari dari bangsa lain jangan lantas membuat kita mengecilkan bangsa sendiri namun bagaimana caranya agar hal tersebut bisa difokuskan utk makin memajukan bangsa sendiri dgn lebih elegan dan respectful.

You see, semenjak saya nonton Kartini nya Dian Sastro, ada satu conversation dalam adegan filmnya yg buat saya sangat mengharu biru dalamnya. Scene itu adalah saat dimana ibu kandung Kartini bertanya pada Kartini apa yg sudah dia pelajari dari aksara londo dan apa yg tidak ditemukan di aksara londo dan hanya ditemukan di aksoro jowo. Kartini menjawab, ia belajar ttg kebebasan (freedom) dalam aksoro londo namun ia tak tahu jawabannya hal apa yg hanya ada di aksoro jowo yg tak ada di aksoro londo. Ibunya menjawab: bekti (pangkon). Filosofi bekti (atau bakti/mengabdi/memangku) itulah yg tak dimiliki aksoro londo dan hanya ada di aksoro jowo (utk ini nanti bisa lebih jauh dibrowsing ttg fungsi pangkon dalam aksoro jowo). Nah, esensi dari conversation ini yg utk saya kontekstual pakai banget dan bisa diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan. Dalam kaitannya dgn diversitas atau keragaman (baik budaya, agama, adat, suku, dll) di Indonesia, dimana hal ini seperti two-edged sword; bisa menjadi kelebihan/kekuatan namun sekaligus kekurangan/kelemahan depending on bangsa Indonesia sendiri dan para wakil2nya di pemerintahan dgn segala sektor2 utama kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, segala nilai2 “asing” (baca: dari luar negeri) tidak serta merta cocok utk secara langsung diimplementasikan di Indonesia begitu saja tanpa filter. Harus dilihat dulu konteksnya yg dinilai sesuai, di adjust dulu, baru bisa jalan implementasi. Intinya, Indonesia menghargai kebebasan dan juga menjaminnya dalam undang2, namun perlu disadari juga bahwa dalam kebebasan ini tetap harus juga menjunjung tinggi “pangkon” itu tadi, dimana hal ini diwakili oleh Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Filosofi pangkon ini juga bisa ditemukan hampir di setiap kearifan lokal di Indonesia. Selama saya jadi abdi negara dan berkesempatan on duty di seantero negeri, yg saya “sentuh” dan pelajari terlebih dahulu adalah kearifan lokalnya; bagaimana filosofi budaya yg ada di masing2 daerah memiliki dampak thdp masyarakatnya dan hubungannya dgn alam lingkungannya. Ini penting dalam kaitannya dengan “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”.

Filosofi bagaimana menghargai alam lingkungan dan nenek moyang, filosofi tentang nilai2 pernikahan, filosofi tentang kematian dan kemanusiaan, filosofi tentang belajar/pendidikan dll, semua itu penting buat saya agar saya juga dapat terus belajar bagaimana lebih menghargai satu sama lain; memangku kebaikan dari masing2 saudara setanah air dalam rangkaian keragaman budaya sebagai satu bangsa yg besar. Hal inilah yang tak dimiliki negara atau bangsa lain yg membuat mereka kagum dan bahkan sampai rela meninggalkan negaranya utk langsung mempelajari budaya2 di Indonesia dan bahkan jadi warga negara Indonesia krn saking cintanya terhadap budaya Indonesia. Ada juga yg tetap mantain kewarganegaraan asingnya tapi justru terpanggil ikut melestarikan budaya Indonesia yg kemudian diperkenalkan ke negara asingnya (ini contohnya bisa dibrowsing sendiri ya).

Terkait dgn video ini, yg ingin saya garis bawahi disini adalah munculnya leader2 di negara paman Sam yg mulai anti-mainstream (lebih diverse backgroundnya baik personal maupun professional – mewakili yg dulu nya marginal dan hampir dipastikan tak bisa atau tak dianggap mampu leading). Tentunya hal ini juga pastinya akan ditanggapi dgn pro dan kontra namun jika masyarakat di region2 yg seperti disebutkan di USA dalam video ini akhirnya mampu embrace beliau2 ini, berarti ada people power yg mulai menyadari deeper value of being what a leader means; outside of “labels”. Ini tidak mudah. Pengolahan dan perluasan mindsetting itu tidak semudah mengolah dan meluaskan lahan sawah atau ladang jagung. It can take ages and generation shifting. Nah, buat saya, yg diambil itu ya sisi positifnya aja; fokus pada the positive leadership quality of these leaders instead of mempertanyakan dan ngata2in “lha tapi dia kan gay; lha tapi dia kan transgender, lha tapi dia kan dari agama ini, itu, dll” yg ndak ada kaitannya sama leadership skillnya beliau2. Dan sekali lagi, fokus sama yg positive itu juga ndak mudah karena ya kita kan mahkluk yg dari sononya terlahir dgn subjektivitas yg cenderung nyaman di zona yg diketahuinya. Kalau sudah ada di zona yg serba tak pasti dan tak diketahui ya wajar kalau muncul ketimpangan subjektivitas. Karena itulah dalam peradaban kita ada proses yg namanya kawruh/belajar/menuntut ilmu.

So, I do respect this type of grassroots awareness in USA towards the quality of leaders and their leadership. The way I perceive and learn from it have been described as above. Semoga hal ini dapat membawa perubahan yg lebih baik bagi warga negara Amerika.

Wini,

Wellington, Nov 15, 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s