MayaNyata; Intertwined “Windows”.

20171104_151037

Adalah hak setiap insan untuk berpendapat, namun adalah juga tanggung jawab setiap insan utk berusaha yg terbaik supaya sebisa mungkin tidak menyakiti sesama insan yg lain dengan pendapatnya. Setidaknya, kesopanan dalam bertutur kata patut diapresiasi dibandingkan kebrutalan diksi (jangan digeneralisasi). Saat kau membaca dengan hatimu, kau sudah selangkah lebih maju menjadi penjala segala emosimu. Lebih tenang, lebih ringan, lebih legowo di tengah segala topan-tornado opini, emosi, dan gengsi.

Mungkin kau tak menyadari, sesama insan dengan kebrutalan diksi, keekstriman benci, dan kenyinyiran bunyi juga sedang “berjuang” dan mengalami “pergumulan” yang lebih darimu untuk menjadi lebih baik. Proses mereka mungkin tak sama denganmu, jadi jangan paksakan size “sepatu” perjalanan hidupmu utk “dikenakan” oleh size sepatu perjalanan hidup sesama insanmu. Agak sedikit egois dan angkuh terselubung bulu domba jika kau mengatakan “kau tak akan terbawa seperti mereka”. Mungkin dalam hal yg lainnya kau nantinya akan menyadari bisa juga “terbawa”. Kapan, dimana dan apa-nya, hanya waktu, engkau dan Sang Khalik lah yg lebih tahu. Jadi, berendah hatilah dengan size sepatumu.

Tak ada yg ingin dilahirkan sebagai insan antagonis permanen. Semuanya dilahirkan dengan kebaikan dari Sang Khalik dan doa dari semesta yg menyayangi. Yang ada hanya pilihan-pilihan dalam berproses. Selagi masih diberi nafas, sekecil apapun kebaikan dari sang insan yg kau anggap antagonis permanen itu, tetap ada dan tetap punya kesempatan utk bertumbuh lebih baik.

Definisi jahat ada krn baik. Definisi huru-hara ada karena damai. Semua adalah proses dan tahapan pembelajaran. Baik itu melalui dunia nyata ataupun dunia maya. Dunia maya juga “berputar” atas “poros” interaksi dunia nyata. Jadi jangan juga kau katakan tak ada kebaikan di dunia maya. Dua dunia ini “ada” sebagai ladang pergumulan proses bertumbuh dan pembelajaran yg merupakan hak dan juga tanggung jawab setiap insan. Yang membuatnya berbeda hanyalah waktu dan proses bangunnya kesadaran.

Untuk itu, jika definisi bahagiamu berbeda konteks dengan sesama insanmu, lepaskanlah, hantarkanlah dengan kehangatan, jangan dengan tendensi terselubung bahwa definisi bahagia sesama insanmu tak masuk ukuran standarmu. Nah, coba rasa…terkadang kau tak sadar terbawa oleh “dirimu” sendiri yg tak bisa terlihat karena kau tak mau mengakui potensimu utk “merasa terbawa”. Ah, sudahlah, itu pun pilihanmu. Aku yg sudah tua ini, yg ukuran sepatu ausnya memang sudah berbeda dgnmu; yg masih bagus, yg masih kinclong, hanya bisa mendoakanmu.

Once upon a time, a note from digital immigrant.

Wellington,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s