Thrift-Shop-Ecosystem: Menjumpai Diri di Akar Rumput Rasa-Pikir

Posted: September 14, 2015 in Personal-Me
Tags: , , , , , ,

Screenshot_2015-09-14-21-18-59-1

 

Assamualaikum Wr Wb, Salam sejahtera bagi kita semua 🙂

Thrift-Shop-Ecosystem: Menjumpai Diri di Akar Rumput Rasa-Pikir

Saya menulis ini lebih untuk “menyapa” diri; mencoba berkenalan kembali dengan diri saya sendiri

Sore ini, saya putuskan untuk mlipir sejenak; menyisihkan tumpukan buku-buku dan artikel jurnal yang sudah setengah jalan saya baca. Tadi siang sempat sejenak menghabiskan waktu menyusuri kota; observing segala yang mampu saya amati di awal musim semi (yang masih dingin) ini. Then I am struck by something (not by lightning for sure): reflecting my journey so far as a lifelong learner.

Alkisah, setelah saya dilahirkan, lalu saya pun mulai belajar membuka mata, belajar merespon segala stimuli, belajar merangkak, belajar berjalan, belajar bicara, belajar menulis, belajar naik sepeda dan seterusnya, selalu ada kata “belajar” di depan kata kerja yang menyertai perjalanan hidup saya. Sekilas hampir tak ada hal yang luar biasa disana, secara semua manusia pun mengalami hal yang sama. Namun, sesuatu yang baru saya sadari setelah sekian lama saya bernafas hingga di usia yang sekarang ini adalah sebuah pemahaman baru tentang hakikat belajar dan sekolah serta implikasi sesungguhnya yang baru saya rasakan dan pahami di usia sekarang (33 tahun); mungkin saya agak terlambat, tapi tak apalah. Ya, untuk saya, ternyata perjalanan kawruh ilmu saya, belajar dan sekolah itu “hanyalah” bagian dari sebuah ekosistem “thrift shop” (thrift-shop ecosystem) yang sedang saya bangun dalam kehidupan saya. Disini, saya ingin menggarisbawahi bahwa kosakata “bekas” itu tidak saya gunakan untuk suatu pemahaman yang negatif. Disini, saya akan mencoba “mengaplikasikan” kosakata ini ke dalam pengejawantahan “pangelmon” saya yang belumlah seberapa ini. Saya akan kembali kepada “thrift shop ecosystem” ini nanti. Ya, bekas itu artinya napak tilas jejak langkah: bekas dari tapak petilasan, bekas dari proses ngunduh pangelmon. Now, allow me to have a little journey down to the memory lane first.

 

SOKO GURU

Saat TK kecil dan besar, saya belajar untuk bersosialisasi (baca: bermain bersama), mostly. Selain itu, saya juga belajar ber-puisi (tentang buah tomat), belajar mengenal huruf/abjad, belajar mewarnai, belajar menggambar, belajar bernyanyi bersama-sama (ya kalau nyanyi sendiri kan bisa dirumah), serta belajar konsep how it felt to be a student and having teachers for the first time (karena guru yang pertama ya mama-papa saya). Dua tahun saya belajar ini semua; TK kecil dan TK besar. Next was saat saya Sekolah Dasar. Enam tahun belajar tentang “how it felt to be a student and having teachers” at the higher level. Saya mulai belajar tentang “struktur”. Tak hanya struktur keilmuan yang saya pelajari tapi juga struktur hubungan dengan guru-guru-nya: guru yang ini, approachnya harus begini…guru yang itu, approachnya harus begitu. Approach disini terkait dengan cara mengajar masing-masing guru SD saya: saya merasa bahwa saya lah yang harus menyesuaikan diri supaya proses belajar saya bisa lancar. Kemudian struktur pertemanan. Nah, ini maksudnya bukan geng-geng an atau diskriminasi loh ya. Ini maksudnya begini: ada beberapa teman yang pemalu, jadi saya yang harus memulai dan berinisiatif. Ada beberapa teman yang sangat confidence, jadi saya tinggal ngikutin irama nya saja dan menyesuaikan. Ada beberapa teman yang usil atau semacamnya, ya saya pasang ketegasan sama keusilannya, then move away. Begitu juga dengan beberapa teman yang mungkin (mungkin loh ya) melihat saya “tidak pantas” untuk berteman dengan mereka, ya saya sih keleus aja then memilih mlipir kiyambak kagem kumpul kalih rencang-rencang ingkang sehati-sepikir lah. Bukan apa-apa, di masa SD inilah perjalanan kehidupan saya diuji dengan ujian dalam keluarga saya dimana akhirnya saya hanya merasakan growing up dengan mama, adik, dan eyang putri saya (almh) tanpa didampingi ayah kandung saya. Hal ini yang kemudian membuat saya struggling so hard to be who I am now dimana kekaguman saya terhadap single parent itu sangatlah dalam. Juga kekaguman saya terhadap wanita-wanita penuh kesabaran, dedikasi, kejujuran, dan kesetiaan seperti sosok eyang putri saya (almh) dan mama saya yang menghiasi transformasi perjalanan hidup saya sebagai seorang perempuan. Eyang putri saya masih sangat muda belia dengan lima anak (satu putra masih dalam kandungan) ketika ditinggal eyang kakung pulang ke haribaanNya karena sakit sedangkan mama saya, harus “berpisah” dua kali dengan suami: perpisahan pertama saat saya masih berumur tujuh tahun dan adik saya tiga tahun dan perpisahan kedua saat saya berumur 26 tahun dan adik saya berumur 22 tahun. Mengapa dua kali? Well, perpisahan pertama ya karena something happened in the family dan papa saya memilih meninggalkan kami. Perpisahan kedua adalah saat papa saya dipanggil menghadapNya untuk selamanya. Jeda dari perpisahan pertama ke perpisahan kedua ini adalah 18 belas tahun. Ya, honestly speaking, delapan belas tahun tanpa pendampingan seorang papa bagi seorang anak perempuan adalah suatu ujian terberat saya; it was harsh and hard, tak hanya saya “harus” dewasa sebelum waktunya (dimana anak-anak lain masih sangat enjoy bermanja-manja bersama kedua orang tuanya dan tak harus serius dulu memikirkan masa depan). Di umur tujuh tahun, saya sudah kepikiran apakah saya bisa sekolah, apakah saya bisa melakukan sesuatu yang membanggakan untuk keluarga dan mengusir kesedihan mama dan adik saya. My mother was devastated but alhamdulillah she had finally gotten through with it. To put it another way, I was struggling with revenge since I was 7 years old, up until years after my father passed away; just to forgive him, forgive everything and trying to make peace with myself. So, saat-saat Sekolah Dasar, tak hanya saya belajar tentang dasar-dasar ilmu di sekolah tapi juga dasar-dasar survival (mistky secara psikologis) sebagai seorang anak perempuan yang sedang mencari jejaknya dengan belajar memadamkan “dendam”nya sendiri di dunia. It went well, Alhamdulillah. Lulus SD dengan baik dan hanya dengan perkenanNya saya mampu melanjutkan ke jenjang SMP-SMA-S1-S2-dan sekarang S3 dengan segala dinamikanya. Until now, the reason why my late father abandoned me is left untold and I had learnt to let it go. The moment I finally forgave him, I cried for days. Serasa lega walaupun tak pernah bisa lupa. Now, I have come to realize that whatever happened between my parents and their family as well as extended family is something I have chosen not to dwell, as I have finally made peace with it. To me, the father-daughter relationship stays eternally; nothing can come between that. I have learnt to accept that my late father was only human who made mistakes as blessing in disguise to be grateful for. Although I had struggled so much but I believe Allah SWT has given me His best. I have chosen to forgive him because despite everything that happened, I love him and he will always be the first man I have ever known in my life who loved me the best he possibly could. Bersyukur tiada akhir judulnya.

 

Kembali ke masa SMP-SMA-S1, saya bahkan mengalami krisis psikologi dimana saya beranggapan bahwa semua yang terjadi adalah karena salah saya. Then I started blaming everything, blaming myself and everyone. Mudah marah, mudah jengkel, mudah kesel, mudah sedih, sangat emosional, tapi di waktu-waktu tertentu bisa sangat cuek seperti benda mati. Sekolah tetap jalan, prestasi tetap ada, tapi deep within my psyche itulah yang membuat saya pontang-panting berjuang mengalahkan “diri sendiri” untuk tetap stabil dan dikatakan “normal”. I kept everything inside all by myself. Never opening every bit of this to anyone, even not to my mother or sister or someone in the family. I locked everything so tight up until the point where I was always trying to be accepted as “okay” or “normal” as if nothing happened. It was extremely hard. Saat “kambuh” (mengacu pada saat2 emosional dimana segala rasa menerobos paksa keluar tanpa rem dan bercampur baur jadi satu), saya akan bisa bertahan berhari-hari tidak tidur, menangis sampai mata bengkak, minum obat sakit kepala berlebih karena rasa sakit tak tertahankan menyerang bagian belakang bawah kanan kepala, sampai pada cutting myself to bleed, tidak parah, hanya membuatnya berdarah supaya saya masih aware rasa sakit dan merasa masih hidup. Ini memalukan dan mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan saat membacanya but it happened. Alhamdulillah saya tidak terbawa “gila” ke arah yang lebih parah seperti misalnya narkoba dan kenakalan serius yg lain-lainnya karena yang ada di benak saya saat itu hanya satu: tak ingin membuat mama saya tambah sedih, tak ingin beliau ikut merasakan kesedihan saya dan tak ingin beliau menangis karena saya; saya merasa sangat-sangat durhaka kalau itu sampai terjadi so I managed to the point where I am assuming it as “an acceptable pain-reduction”. Di masa-masa ini, secara akademis, Alhamdulillah saya masih bisa membuat mama (dan eyang putri) saya tersenyum, dan itu rupanya tak cukup untuk saya, so I did the best I could to occupy myself secara berlebihan yang sampai mengakibatkan saya lulus S1 hanya 3,5 tahun dan bisa bekerja sendiri sebelum lulus S1 (sambil nyambi) karena saya tak tega bergantung uang saku terus pada eyang putri saya yang hanya pensiunan janda pegawai negeri dan juga mama saya yang single parent. Pokoknya, saat itu, apapun yang membuat saya sibuk berpikir sehingga saya terlupa dengan apa yang terasa, menjadi prioritas way of living saya. Jatuh bangun iya, tapi setiap jatuh ya nangis sebentar trus bangun lagi, pokoknya selama masih hidup, ya berjuang terus semampunya. Kalau eyang putri saya dan mama saya saja mampu berjuang kenapa saya harus merusaknya dengan menyerah pada keadaan? Disini pembelajaran keilmuan saya mungkin masih hanya sebatas on paper. Tak semuanya mampu saya serap dalam-dalam. Hanya sebagian kecil saja mungkin yang mampu saya tanam sampai dalam hingga sekarang.

 

Kemudian datanglah masa early adulthood: masa bekerja. Setelah berjibaku di jalur swasta dan hampir kesampaian masuk pramugari sebuah maskapai penerbangan, mama saya menyarankan saya untuk ikut seleksi CPNS. Well, at first I felt “what the “h**l?” but then I soon realized bahwa mama saya jarang “menyarankan”, maksudnya dari saya kecil sampai besar, tak pernah sekalipun membanding-bandingkan saya dengan siapapun (I am so grateful to have a mother like her!), tak pernah menstandarisasi nilai saya harus bagus, IPK harus begini begitu, sukses harus begini begitu: yang penting saya ndak neko-neko, mampu menjaga kehormatan dan perasaan keluarga, sehat dan bahagia with what I am doing. Saran hanya beliau berikan kalau memang itu dipandang penting dan perlu. Dan saya memilih mengikuti saran mama saya dengan agak apatis sebenarnya: karena saya ndak punya koneksi siapa-siapa, ndak punya biaya sepeserpun seandainya musti bayar (asumsi awal rata-rata masuk PNS jaman dulu banget). Then, I did apply, I got in, got interviewed and finally “settled” on paper as CPNS dan Alhamdulillah sekarang sudah berjalan sepuluh tahunan sebagai abdi negara. Inipun juga dilalui dengan shock therapy karena perpindahan dari swasta ke negeri itu, berdasarkan ego, sangat kompleks shocknya. I managed that too. Di masa ini pula Allah SWT memberikan saya berkah studi lanjut S2 ke USA. Up to this point, perjalanan kawruh keilmuan saya mulai setapak demi setapak “berjalan” agak lain dari sebelumnya: saya mulai berani mempertanyakan apa yang saya tahu, saya pelajari dan menempatkannya dalam konteks yang berbeda dimana itu seringkali jauh dari zona nyaman saya. Di masa ini pun saya juga struggling in the eyes of the society karena dianggap sudah telat menikah. Oh well, Alhamdulillah setelah gagal disana-sini, dikecewakan disana-sini, sakit disana-sini, akhirnya Allah SWT memperkenankan saya berbagi hidup dengan teman masa saya SD. Insya Allah yang namanya jodoh itu seringkali ndak bisa dijelaskan dengan kata-kata dan terjadi mengalir saja di luar segala perkiraan dan perencanaan saya. Mungkin saya harus melalui itu semua untuk bertemu dengan yang terbaik; teman SD tersebut adalah suami saya. Pun di tahapan ini, proses relijiusitas saya pun jadi pertanyaan banyak orang. Well, I would much prefer to call it my spiritual journey dimana tak harus saya gebyah-uyah disini, cukup hanya saya dan Yang Diataslah yang tahu, secara nanti yang saya bawa “mati” ya hanya ini dan “thrift-shop-ecosystem” saya.

 

Then, di tahun 2015, Allah SWT memberikan kesempatan untuk studi lanjut S3 di New Zealand setelah melewati perjalanan perjuangan panjang ke arah sana, Alhamdulillah. Disinilah new meaning-making itu dimulai. Saya mulai menyadari bahwa segala macam ilmu yang saya pelajari mulai dari TK sampai sekarang itu “hanyalah” semacam “benang” untuk diolah menjadi berbagai macam hal yang lebih “besar” seperti contohnya baju, celana, jaket, selimut, sweater, topi, gaun, tas, dan lain-lain yang nilai ekonomisnya lebih dari hanya sekedar benang. Ilmu yang saya pelajari tentang segalah macamnya mulai dari matematika, IPA, IPS, muatan lokal, fisika, kimia, biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, linguistic, English literature, sampai yang lebih kompleks lagi macam instructional design technology, cultural education, dll “hanyalah” benang-benang dengan berbagai macam tekstur dan warna yang “harus” saya “pintal-jahit-olah” sendiri menjadi my own kind of “wardrobe”. Ibaratnya, mulai TK-SD saya belajar menyebutkan nama-nama benang, dari benang jahit, benang mouline, benang melange, benang yaspis, benang logam, benang karet, benang suji, benang border, benang jagung, benang tetoron, benang wol, benang weft-yarn/benang pakan, benang rajut/knitting, sampai pada fancy yarn/benang hias. Kemudian mulai SMP, saya mulai belajar mengenal benang-benang tersebut lebih jauh dengan memegangnya, merasakan teksturnya, dan mendefinisikan fungsi dan kegunaanya. Mulai SMA saya belajar menggunakan masing-masing benang tersebut sesuai jenis dan fungsinya supaya ndak salah benang (hehe). Lalu di masa S1, saya belajar membuat masing-masing “prakarya” atau hasil tangan yang dibuat dari masing-masing benang. Kemudian di masa S2, saya mulai belajar memadu-padankan benang dengan berbagai macam kemungkinan yang ada supaya bagaimana caranya padu-padan benang ini menghasilkan sesuatu yang baru yang bermanfaat dan lebih berinovasi. Dan sampailah di masa S3 saya dimana kini saya tidak lagi belajar tentang semua benang dan bagaimana memadu-padankan-nya tapi lebih kepada “benang mana yang paling sreg bagi saya untuk saya gunakan untuk membuat hasta karya yang bermanfaat, long lasting dan walaupun dipakai berkali-kali masih bisa awet dan tahan lama”. Ini lebih kepada pilihan untuk lebih fokus; karena semua manusia pada akhirnya harus memilih dari sekian banyak (eaaa, halah). Dan disinilah konsep “thrift-shop-ecosystem” ini hadir dalam pemahaman saya. Sungguh, ini pemahaman murni hasil dari olah rasa dan raga saya sendiri, lahir dari pengalaman hidup sendiri yang saya coba eja-wantahkan sendiri.

 

So here it is; thrift-shop-ecosystem. Kebanyakan dari kita (saya juga pada awalnya) berasumsi bahwa segala yang bekas itu pokoknya tidak baru (ya iyalah, lha wong di kamus juga ada). Tetapi ada kelanjutannya, segala yg bekas dan tidak baru itu biasanya adalah sesuatu yg kualitasnya sepersekian dari seratus prosen. Well, that is not how I think it is now. Begini, berbekal dari pengalaman berburu barang-barang bekas, saya jadi “ngeh” bahwa terkadang (tidak sering loh) masih banyak juga barang-barang bekas yang kualitasnya “seperti baru”: masih awet, sangat pantas untuk dipakai dan masih sehat-normal fungsionalitasnya an yang pasti, kalau nemu barang-barang tersebut, saya selalu mikir ada dua kemungkinan: barangnya yg memang bagus karena merupakan pembuktian walau sudah terpakai bertahun-tahun tapi masih tetap juga awet kuatnya, awet bagusnya, tahan lama, tahan uji dan orang yang memakai barang tersebut memang tipe yang hati-hati, yang setiti lan ngati-ati, yang telaten, yang ndak asal pakai lah pokoknya. Inilah yang menjadi dasar pemahaman saya tentang pangelmon di tingkat S3.

 

Terus terang saja, saya masih dalam taraf adjustment di periode pengejawantahan ini. Mengapa? Ya, karena pada saat saya menulis ini, belum ada empat bulan saya mengenyam waktu untuk menelusuri perjalanan kawruh ini. Dalam waktu yang hampir empat bulan ini saya berpikir: a new way of meaning-making ini harus dilakukan sesering mungkin, semampunya, sedari dini perjalanan dan bukan harus menunggu dulu sampai jadi proposal, sampai selesai sidang atau bahkan nunggu dulu sampai lulus dan dapet gelar. Gelar? Hmm, sesungguhnya saya tidak mengejar itu dan sesungguhnya saya makin malu dengan per-gelar-an ini. Mengapa? Ya karena pada dasarnya saya hanyalah seorang istri, hanyalah seorang putri dari single parent, hanyalah seorang abdi negara biasa, hanyalah seorang lifelong learner. Segala sertifikat dan per-gelar-an itu hanya murni efek samping dari proses yang saya lalui; bukan esensinya tapi semacam “tetenger” atau prasasti penanda perjalanan kawruh saya. Setidaknya itu yang ada dalam benak saya. Disini saya justru sedang menantang diri sendiri: “wardrobe” macam apakah yang bisa saya hasilkan dari benang pilihan saya yang nantinya bisa awet, long lasting, tahan pakai, tahan uji, dan kuat ketahanannya walau sudah “diapakai” berkali-kali tapi tetap seperti baru sampai pada akhirnya nanti masuk “thrift shop” dan masih bisa bermanfaat dan memiliki “daya jual” yang layak (biasanya barang-barang thrift shop yang tidak bagus, daya jualnya turun berlebihan sampai pada tidak dihargai”. “Harga” dan “daya Jual” disini bukan semata-mata masalah bisnis/uang/untung loh ya. Ini lebih kepada “esensi” barang tersebut; bagaimana orang masih “mengakui” keberadaanya yang mumpuni by simply saying “this goods are not supposed to be in thrift shop because they still look like brand new and are still in an excellent condition” dimana hal tersebut “menguntungkan” yang punya thrift shop dan “buyers”nya. Sedangkan pembuat dan penggunanya “disibukkan” dengan terus berupaya membuat dan menggunakan dengan baik apa yang sudah dihasilkan. Filosofi thrift shop juga muncul karena secara fungsional (ini fungsional loh ya, jangan dimasukkan ke dalam kacamata prestige) everyone can go there, find what they are looking for, what they need, in a more economical way; lebih terjangkau. Through thrift shop as well, you may learn about the value of historical attachment within every single thing that is available there. You will find yourself submerged in a way you see things differently. At least, that’s how it get me.

 

Simply saying, I am trying to put everything that I am learning here in a more “solidified” manner. Karena yang saya pelajari dari TK sampai S2 kemarin saya anggap variable yang fluidly abstract dan kini saatnya membuatnya menjadi lebih kongkrit (ini ndak ada hubungannya dengan aliran-aliran mana yang lebih bagus dalam lukisan, tidak sama sekali). Dan bagaimana menjadikannya more concrete? Ya dengan metode yang saya pelajari di S2 dulu tapi plus plus, maksudnya disini, saya mulai berpikir seberapa jauh ilmu yang saya fokuskan untuk saya pelajari ini bisa teraplikasikan secara interdisciplinary (as the ripple effect loh ya, bukan pada esensi keilmuannya itu sendiri tapi lebih kepada perpaduan dari esensi bidang keilmuan dan ripple efeknya) yang menurut saya idealnya mampu dikolaborasikan dengan berbagai macam disiplin ilmu hingga tercipta suatu “wardrobe” baru yang memberikan manfaat bagi yang membutuhkannya. Saya dari dulu kok yakin masing-masing bidang keilmuan itu ndak berdiri sendiri-sendiri, karena semua itu terkoneksi dengan ripple effect. Yang pasti, prioritasnya lebih kepada seberapa jauh ilmu tersebut menemukan esensi holistiknya dengan kemampuannya menyentuh hati, pikir, dan rasa dalam kemanusiaan pada suatu ekosistem/lingkungannya: menjadi soko guru bagi setiap solusi dari berbagai macam masalah kompleks yang dihadapi manusia. Pun approach yang digunakan memiliki limitasi dan kelebihan masing-masing. Disini lebih digarisbawahi pada kesesuaian approach: bukan pada mana yang lebih bagus, lebih keren, atau lebih mentereng-nya.

 

Suatu waktu saya nanya sama diri: saya sekolah buat apa sih? Ngapain sih saya sekolah tinggi-tinggi? Kayak kurang kerjaan aja, begitu kata saya terhadap diri sendiri. Eh tapi dijawab sama diri sendiri juga bahwa esensi dari sekolah itu terletak di proses belajarnya. Hasilnya kalau bagus ya hanya sebagai tanda kesiapan utk belajar hal lain yg lebih kompleks, atau kalau hasilnya ndak sesuai harapan ya itu berarti tetap suatu pelajaran yg berharga untuk diulang mana yang kurang pas sehingga bisa lebih memahami. Belajar dan sekolah itu bukan semacam adu balap. Lha saya juga ditanyai sama diri sendiri: what’s the point of studying when things we are studying for are not able to help us becoming the best version of ourselves? Untuk apa belajar jauh-jauh, tinggi-tinggi, kompleks-kompleks kalau ndak bisa menjadikan kita better human with better awareness (better ini erat kaitannya dengan conscience loh ya, jangan digeneralisasi dengan standard kebudayaan yang berbeda-beda di tiap peradaban manusia di berbagai negara; dan karena human thok tanpa awareness ya percuma).

 

Buat saya, yang menjadikan ilmu itu berharga dan bermanfaat adalah segala sesuatu yang menyertai proses keilmuan tersebut: ndak melulu berada pada sekat-sekat kepongahan keilmuan kita sendiri namun harus mampu menembus batas sekat itu dan masuk ke dalam aspek kehidupan kita sebagai anggota peradaban lokal (nasional, maksudnya) dan global (dunia). Studi doktoral itu bukan tentang jargon-jargon keilmuan kompleks yang seringkali ndak semua orang bisa memahami, tapi lebih kepada seberapa mampu para “siswa doktoral” ini mengejawantahkan keilmuanya menjadi suatu hal yang simply uplifting dan menjadi pencerahan bagi banyak orang serta lingkungannya untuk memahami dengan lebih luas, lebih kompleks, lebih dalam, lebih bijak. Bagi saya proses ini ndak bisa dicapai dengan hanya ngendon di depan screen laptop saya atau semedi bertapa mbaca setumpuk buku2 dan artikel jurnal yang terkadang bikin mati kutu. Ndak bisa. By doing so, terkadang saya me-meaning-making kan proses ini dengan cara jalan-jalan, menyambangi alam, berinteraksi dengan banyak orang, menyapa supir bus, makan makanan baru, duduk berjemur sambil nikmatin banyak burung dara ngumpul, atau bahkan hanya ngukur jalan sambil lihat-lihat dinamika yang terjadi. Disini saya belajar mengkaitkan dan mengkongkritkan konsep, ide, falsafah (halah) dan prinsip-prinsip keilmuan pada day-to-day lives saya: apa yang terjadi dalam diri saya beserta pergolakannya. Naik turunnya mood, galaunya batin, dan segala macamnya bertumpu jadi satu menghiasi perjalanan ini. Dan itu ndak melulu soal kegalauan gimana saya bakal nulisin background, literature review, milih methods dan approach yg pas, planning the study sampai ke tahap nganalisa hasil kemudian presentasi hasil. But then, after all of that has been accomplished; What is next? How do I relate that to my own life and to others? Apakah cuma bisa gahar di sebatas kalimat-kalimat dengan jargon akademis yg rancak bana bersliweran dengan suksesnya di lembaran demi lembaran disertasi dan kemudian bertahan dalam sekat blink-blink oral defense-nya? How about its post-finishing study? Seberapa banyak kah itu bisa relate to others? Relate to my own life? Relate to the environment? Seberapa jauh bisa memberikan trigger untuk berkolaborasi mencari solusi-solusi baru bagi setiap masalah-masalah baru yg kompleks di peradaban manusia. Dan, pada akhirnya, bagaimana kita sebagai pebelajar dan pelaku proses pengejawantahan ilmu tersebut mampu tetap membuat ilmu tersebut bermanfaat dan mentrigger manusia lain yg masih bernafas untuk melanjutkan segala kebaikan keilmuan yang pernah kita pelajari agar lebih dapat terus disempurnakan walaupun sudah tak lagi bernafas di dunia? Inilah yang mendasari “thrift-shop-ecosystem” pemahaman saya tentang bagaimana esensi belajar dan sekolah di jenjang S3 itu. Disini saya banyak belajar bahwa tingkat kematangan wisdom keilmuan seseorang itu terletak pada “kesiapannya berbagi dan kelegowo-an-nya menyikapi”. Tak mudah memang mengalahkan ke-ego-an diri sendiri; eksistensi selalu menuntut ter-akui-i. Saya hanya bisa berharap utk dapat sedikit saja semampu saya meneladani beliau-beliau dan rekan-rekan, sahabat, teman, dan kolega saya yang sudah terlebih dahulu “matang” keilmuannya dalam hal ini. Apa yang diteladani selain dari esensi keilmuannya? Ya tak lain adalah kesiapannya untuk secara refleks “give back to society” tanpa diminta, tanpa dimohon, tanpa dieluk-elukan, tanpa dijanji-janjikan; intinya tanpa pamrih. Siap dikritisi, siap dimaki, siap dicaci, siap dieliminasi, siap dimarginalisasi jika proses “giving back to society” ini menentang “arus” karena berlawanan dengan hati  nurani dan tak sejajar dengan “kepentingan” serta “vested interest” dari yang diberi namun tetap memberi dengan hati tanpa henti, seberapapun tak berartinya kontribusi menurut pikiran dan perkataan yang diberi. Istilahnya, tough love 🙂 Nah, seberapa siap saya menjalani ini pun saya belum bisa menjawab, tapi satu yang pasti, sebisa mungkin, semampu mungkin, saya siap belajar untuk ini, insya Allah diberi umur dan kesehatan untuk sampai pada titik dimana saya bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah saya pelajari-lakukan-bagikan.

 

Apalah saya? Sekali lagi, saya bukan siapa-siapa. Dosen juga bukan, peneliti juga bukan, penulis juga bukan; sekali lagi, hanya seorang istri yang juga abdi negara. Ngapain menyusahkan diri dengan sekolah tinggi-tinggi, jauh-jauh pulak? (itu anggapan most people). Well, what I am looking for is the process accompanying this journey; tidak sekadar the-on-paper “stuff”nya. Bagaimana saya, sebagai seorang istri (not yet a mother though hehe) mengatasi segala “struggling dynamic” yang menyertai perjalanan kawruh keilmuan inilah yang saya cari. Dengan pushing myself to the limit where everything has to be understood out of my comfort zone, I have learnt to discover things I never knew I have: step-by-step understanding terhadap berbagai macam hal-hal yg kompleks. Seperti benang-benang tadi, saya tidak hanya belajar mengenal benang, tapi juga memahami masing-masing jenis dan fungsinya kemudian belajar menggunakannya sampai mengelaborasinya menjadi sebuah karya seni (saya cenderung menyebut hasil belajar itu senada dengan karya seni) yang (harapannya) bermanfaat, tidak untuk saya sendiri. Pun dengan kondisi benang kusut, disini saya juga belajar bagaimana mengurainya tanpa harus pake gunting; potong dhes bar, instantly. Tidak mudah menjelaskan bahwa “I am not that kind of Doctor”. Tidak mudah menjelaskan bahwa siswa PhD itu bukan semacam pintu kemana saja yang tahu apa saja dan bisa apa saja. Tapi setidaknya, jika mampu sharing pemahaman tentang ketidaksempurnaan kawruh keilmu-annya untuk kemudian dapat lebih mampu disempurnakan orang banyak; that’s what I call a journey worth living for, a journey worth fighting for. Karena saya selalu beranggapan, apa yang saya pelajari dan apa yang saya sharingkan setidaknya bisa sepersekian prosen dari tetesan air hujan, memberikan “alas” utk lebih baik lagi dipikir-rasa-kan, lebih baik lagi diimplementasikan, lebih baik lagi di-dekonstruksikan. Karena sejatinya, saya selalu berpikir, lebih banyak lagi yang mampu lebih baik dari saya (tapi bukan berarti saya jelek hehe). Lebih banyak lagi yang bisa saya pelajari dari mereka-mereka yang sudah terlebih dahulu “pangelmon”nya menjadi “thirft-shop-ecosystem”. Sebuah makna kawruh keilmuan dari seorang anak manusia yang juga seorang istri, seorang abdi negara yang hanya ingin belajar dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Semoga “goresan” ini akan selalu bisa mengingatkan saya untuk tidak terjebak dalam kepongahan sekat-sekat saya sebagai manusia yang fasih-nya hanya made mistakes dan kepleset (ngomong sendiri di kaca).

 

Bagian pertama, soko guru kelihatanya sampai disini saja, namun bagian kedua dari my thrift-shop-ecosystem; Lelangenan, will have to continue another day, and it will discuss more on the way I put what I have academically learnt so far into perspectives in relation with my non-academic dynamic of life.

 

To be continued; Bersambung…

 

Wellington-New Zealand, September 14, 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s