Reading “Kopi Sumatera di Amerika” written by Yusran Darmawan (Kompasianer of the Year 2013 yang juga BobCat) :)

Posted: February 23, 2014 in Personal-Me
Tags: , , , , , , , , , , , , ,

kopisumateradiamerika 1ok 3ok2ok

Having an opportunity to study at Ohio University as well as having an opportunity to be an international student in United States have enriched my root for being an Indonesian (and a Javanese), surprisingly.

Bang Yus, membaca bukumu, aku merasa dibawa kembali ke Athens-Ohio, Washington DC dan New York. Perjalanan langkah demi langkah panca inderamu menciptakan jejak memori yang hampir senada dengan apa yang kualami dan kurasakan saat merantau dan menuntut ilmu disana; di kampus tercinta kita, Ohio University; di kampung tercinta kita, Athens. Sebagai sesama BobCat dan Atheners, ada pencerahan sekaligus kerinduan dalam merefleksikan apa yang kita alami disana. Sungguh benar adanya bahwa ada sisi-sisi yang tidak terlalu diekspose media mengenai negeri Paman Sam ini.

Dulu, jauh sebelum aku menginjakkan kakiku disini, ada sebersit ketakutan dan negative thinking atas respon banyak pemberitaan yang negatif mengenai Amerika Serikat dan warga negaranya. It turned out that my previous negative perspectives was proven to be wrong. Tidak berusaha sugar coating atau membela siapa-siapa, tapi selama aku disana, pengalaman yg kurasakan baik mulai dari studi, research, culture adjustment sampai pada bersosialisasi dengan US citizen pun hampir semuanya positif (yang negatif hanya you now lah bang, saat undergrad yg sedang party hard terus sering bau alkohol di lift apartemen atau ketemu yg pada lagi mabuk di jalan (haduh, asli worried banget) dan juga saat winter tiba yang membuatku mati kutu setiap kalinya karena terlalu dingin. Badan dan pikiranku harus bersusah payah “menjalankan fungsinya” karena aku tak tahan dingin. Fun partnya untuk salju sih hanya 2 minggu pertama, the rest was misery, to me hehe).

Membaca bab demi bab bukumu, membuatku senyum senyum sendiri lho bang. Inget saat-saat nikmatnya hunting sekuat tenaga untuk mie instan “Indonesia” (tanpa nyebut merk, you know lah apa haha), terasi, kangkung, kaki ayam (ceker), wardrobe second, dumpster hunting, lihat lucunya tupai-tupai berkeliaran, indahnya warna pohon-pohon waktu Fall tiba, jogging tengah malam sampai nikmatin kunang-kunang di cemetery, bikin pecel pake peanut butter (unless kita nitip sama yg pulang liburan ke Indonesia), excited saat nemu label made-in-Indonesia (mulai dari baju sampai kopi), thanksgiving yang exciting sambil makan turkey sambil bikin-bikin kue ginger, beliin homeless guy burger dan makan bareng di taman di Washington DC (karena dia mintanya makanan, dikasih uang gak mau), indahnya Cherry Blossoms festival, hectic dan super dinginnya New York waktu Winter, menjajal tingginya Empire State Building, Liberty Statue dan merapat sejenak di Ellis Island, ngerasain kampung Jerman (German colony) di Iowa, nge-bus dari Bowling Green University lewat Cincinatti dan Cleveland, ngerasain Summer di Chicago yang lumayan ber-angin dan ber-warna, ngerasain new year event di Indonesian Embassy di Washington DC yang gedungnya “gothic” banget, silaturahmi ke Indonesian embassy di Chicago dan ketemuan sama mba Shirley Malinton, ngerayain 17 Agustus-an di Athens yg sederhana tapi meriah plus akrab, nggelar tiker bareng-bareng buat liat pesta kembang api tiap tanggal 4 Juli di “padang gurun” nya Athens, ngerasain support-nya Professor-professor di Athens dan para akademisinya, ramahnya penduduk Athens, motivasi yang diberikan mahasiswa-mahasiswa baik dari US maupun dari negara-negara lain disana yang welcome banget liat kita mau belajar (even belajar presentasi ide, belajar mengemukakan pendapat saat diskusi, dll), gak diperkenankan fotokopi buku-buku diktat kuliah karena isu copyright (makanya alternatif paling cocok ya beli secondhand book yg lebih murah harganya hehe), dan masih banyak pengalaman positif lainnya yang gak cukup dituliskan disini.

One thing for sure: Asian Market and Miller’s Chicken are such a “lifesaver” in Athens, at least for me 🙂

Satu hal yang aku kangen banget adalah kelasnya Professor Jaylyne Hutchinson yang eye opening banget, yang supportive, yang transendental baik ilmu maupun kepribadiannya; karena beliau yg walaupun Professor tapi penampilannya funky, down to earth banget, pinter banget untuk menyatukan benang merah diskusi dari berbagai macam ide, fasilitatif banget, dan sangat apresiatif sekali terhadap mahasiswa-mahasiswi asing yang non-US. Pengetahuannya dan wisdom-nya yang sangat open minded itu lah yg melatarbelakangi ketertarikan aku mendalami tentang isu rasisme disana yang ternyata masih sangat kental dirasakan justru oleh orang-orang Amerika sendiri. Di salah satu kelasnya yang waktu itu membahas tentang cultural root, sampai pada pembahasan arti nama dari masing-masing mahasiswa sampai kepada pembelajaran tentang filosofi dibalik nama tersebut sukses membuatku nangis dalam hati, kangen berat dengan keluarga, tanah air dan segalanya tentang Jawa dan Indonesia, hiks. Di beberapa pertemuan kelas beliau pun ada potluck dan kita makan bareng-bareng. Sungguh bukan sosok killer, jauh dari tendensius dan sama sekali tidak arogan sebagai seseorang yg notabene bergelar setinggi itu dalam akademik. Pengalamanmu terhadap dosen-dosen di Ohio University ini juga sangat senada dengan yg aku alami:
“aku juga beruntung karena dosen di Amerika bukanlah tipe dosen killer. Mereka sangat menghargai orisinalitas gagasan. Meskipun gagasan itu disampaikan dalam bahasa Inggris yang terbata-bata atau pas-pasan, mereka akan memberikan apresiasi jika ide-idenya brilian. Mereka juga tak pernah memaksakan mahasiswa untuk berbicara di kelas.” (Darmawan, 2013. P. 19).

Aku juga gak milih tesis tapi professional project yang alhamdulillahnya sangat diapresiasi oleh supervisorku aku. Bener banget bahwa disana gak ada itu rasanya “model ujian ala pengadilan” seperti yang kauceritakan di halaman 25. Melanjutkan tentang professor, aku tergelak saat membaca deskripsimu tentang Jaylyn di halaman 34, sungguh sangat menyegarkan! And that is exactly how she impressed me when we first met at her class. Dari beliau lah aku jadi gandrung John Dewey yang sangat visioner itu (sangat pas menurutku untuk teladan dan aspirasi melengkapi kekagumanku terhadap Ki Hajar Dewantara).

Khusus tentang Alden Library, aduh, bang, tulisanmu perseptif sekali! Jadi makin kangen aku “camping” belajar semalaman (apalagi klo pas finals hehe), rindu baca dan nikmatin segala macam buku, film dan media yg ada disana. Ngerjain tugas-tugas kuliah disini serasa anugerah hehe. Ini juga yang mendorong aku memasukkan Alden Library sebagai salah satu rujukan mengapa pusat sumber belajar (learning resource center) itu sangat penting keberadaannya dalam naskah akademik yg saat ini sedang kususun bersama temen-temen di Pustekkom supaya nanti bisa menjadi trigger yg kuat untuk keluarnya peraturan menteri tentang keberadaan pusat sumber belajar beserta pengakuan sumber daya manusia di dalamnya, doain ya bang.

Aku kagum dengan diksimu, bang. Aku sangat menyukai flow pendeskripsian pengalamanmu yang jujur dari hati, tanpa selaput. Dari kacamatamu, aku banyak belajar. Belajar tentang semangatmu, belajar tentang cita-cita dan perjuanganmu, belajar tentang kiprahmu, belajar tentang prestasimu, belajar tentang budayamu (hayooo, itu mantra dari ibunda bang Yus dibagi doooong biar aku juga belajar “calming effect” nya hehe), belajar tentang humormu via kaosmu yang kaupakai di Detroit airport: “Walaupun aku buaya namun aku sudah tobat dan menjadi vegetarian=I’m handsome” hahaha; salah satu humornya lho ini hehe), belajar tentang pemahamanmu terhadap berbagai banyak hal yang lucunya tidak pernah aku lakukan secara langsung tatap muka denganmu karena pada saat bang Yus kesana, aku sudah alumni hehe. However, walaupun belum pernah bersua, tapi tulisanmu membuat seolah-olah kita berada di “ruangan” yg sama (semoga suatu saat nanti bisa bersilaturahmi ya bang). Aku hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih untuk inspirasi dan pengalaman hidup bang Yus yang sudah dengan indahnya di share disini; baik di buku ini maupun di tulisan-tulisan bang Yus yang lainnya.

Saat membuka halaman prolog, aku pun sudah tersentuh dengan paragraf ini:
“Yah, hidup ini ibarat menebar harapan. Mencoba beragam peluang ibarat menabung harapan yang kelak akan berbuah sesuatu. Kau tak pernah tahu kapan jaring itu akan menjerat ikan. Namun saat momen itu datang, kau akan menyadari bahwa semua diawali dengan ikhtiar untuk menebar harapan. Semuanya adalah hasil dari kerja keras dan keberanian menjemput peluang. Dirimu telah melempar jaring, dan kelak dirimulah yang akan disapa keajaiban. Sebab keajaiban tak akan hadir pada mereka yang hanya bisa berpangku tangan, mereka yang hanya menunggu, mereka yang hanya memelihara pesimisme sehingga tak mau melakukan apapun. Keajaiban adalah milik mereka yang menyingsingkan lengan baju untuk melakukan sesuatu dan berani menebar jaring harapan” (Darmawan, 2013). Dan kutipan salah satu “endorser”nya, mas Chozin tentang “hasrat terdalam untuk menemukan diri” (Chozin, 2013), itu sangatlah mengena ke lubuk hati yang paling dalam.

Aku jadi kurang lebih paham mengapa dipilih representasi “Kopi Sumatera” dan “Amerika”. Menurut rasaku, Kopi Sumatera itu mewakili ke-Indonesiaan kita dan Amerika itu sebenarnya sangat mengagumi kekayaan alam dan keindahan budaya Indonesia, diantaranya lewat kopi dengan meletakkannya sebagai sesuatu yang prestisius disana. Ibarat kata, Starbucks saja mengakuinya. Lewat kekentalan “kopi” mu, kau coba suguhkan Indonesia dengan rasa Amerika dan Amerika dengan rasa Indonesia yang komplementer; saling melengkapi dan membutuhkan. Sebuah konsep cross-cultural understanding yang sangat indah. Lain daripada itu, bukumu ini penuh dengan “viral meaning” yang sangat kontekstual buatku dan juga seolah menjadi “terjemahan” rasa dan pengalamanku, maka tak heran kalau buku ini penuh dengan “marking”, corat coret, dan highlight di sana-sini. Menyusuri dan membaca bukumu ini seolah aku “pergi” lagi ke Athens, ke Washington DC dan ke New York. Hopefully, one day, I can visit these places again.

Sungguh suatu priceless experience dapat menimba ilmu dan merasakan cultural experience di negeri Paman Sam ini karena dengan keluar dari comfort zone kita dan secure bubble kita, open-mindedness kita akan terus lebih diasah dan insya Allah menjadi lebih peka dan lebih bijak dalam melihat segala sesuatunya dari berbagai macam sisi. Thank you bang Yus, sudah membukukan pengalaman dan aspirasimu di buku ini. Semoga buku ini dapat pula membawa inspirasi dan semangat bagi yang lain yg membacanya. Membacanya dengan ditemani puff pastry soup dan Watermelon-Strawberry juice (aku gak ngopi lagi hehe), aku merasa buku ini adalah sebuah “oase” yang menyegarkan dan mencerahkan.

Teruslah menulis dan tetaplah menginspirasi! (supaya “guru”ku juga makin bertambah lagi hehe).

Salam Indonesia Raya dan Salam BobCat,

Wini

Jakarta, 23 Februari 2014
*NB. lupakan bahasa “ilmiah” barang sejenak 🙂

4ok5ok6ok7ok

8ok9ok10ok11ok12ok13ok14ok15ok16ok17ok19ok20ok21ok

Advertisements
Comments
  1. ameliatanti says:

    lovely .. salam kenal yaa Wini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s