Beyond Facebook; Beyond Wall; Beyond Timeline. Connecting The Long-Lost Connection to be A Long Lasting Connection.

Posted: February 22, 2014 in Personal-Me
Tags: , , , , , , ,

As A little bit serious-ly funny and unpredictable as can be: Part of my love story, How I met my husband (again).

 

“Aku bukan siapa-siapa, dan sejatinya aku juga tak punya apa-apa. Apapun yang kumiliki di dunia ini hanya “titipan” sementara yang bisa diambil Ingkang Maha Kuwasa sewaktu-waktu”…kembali saya diingatkan lagi saat jarum jam menunjukkan pukul 00:00 WIB.

 

Setelah bersujud malam ini, pun saya lanjutkan jam dengan mengutak-atik beberapa deadline yang saya rasa masih jauh dari sreg. Lagi, tak bisa tidur. Entah mengapa sambil mencari referensi, jari-jari saya punya maunya sendiri utk scrolling up and down mengikuti “gundah gulana” nya hati malam ini. Bukan apa-apa, kadang-kadang, saya pun tak habis pikir, merasa tak memikirkan apa-apa tapi restless mind ini serasa “jalan” sendiri mencari “refleksi” nya.

 

Spontan ada bisikan tanpa getaran “ndhuk, jangan terlalu kuatir. Tuhan tak pernah meninggalkanmu, apapun yang kaualami dalam hidup ini, seberapa pahit dan getirnya air matamu, Tuhan tak akan membiarkanmu jatuh dan luruh. Ingatlah kembali perjalanan hidupmu sampai umurmu saat ini dan tak ada yang mustahil bagiNya untuk memberikan makna di setiap jejak langkah rencana-rencanamu. Saat kau tak selalu tahu pasti apa yang kau inginkan, Dia selalu tahu pasti apa yang terbaik untukmu. Saat kau tertatih mencari jawaban atas semua makna hidupmu, Dia selalu hadirkan makna itu di setiap suka-dukamu. Jika engkau sudah susah payah dinanti sekian lama oleh ayah ibumu, dan susah payah dilahirkan dengan segenap kekuatan ibumu, dan susah payah dibesarkan dengan teladan dan pengabdian ibumu, maka saat engkau menyerah, yang paling sedih adalah ibumu. Ayahmu mungkin tak selalu ada untukmu, namun bukan berarti kau tak punya “ayah-ayah” yg lain dalam hidupmu yang juga mampu memberikan kasih sayang dan teladannya untuk hidupmu. Ibumu mungkin tak selalu bisa mengobati resah rindu terhadap ayahmu, tapi bukan berarti tak ada “ibu-ibu” yang lain yang akan mampu mencukupkan kasih sayang itu.

 

Dan ada yang aneh dengan selaput mata saya…sedikit aneh, semuanya berpendar. Saya tak boleh mudah putus asa. Terlalu malu untuk berputus asa karena kasih sayang Tuhan begitu besar untuk saya, baik lewat suka maupun duka saya.

 

Saat kecil, saya sudah harus belajar “mendewasakan” diri utk menerima realita hidup yg tidak semanis impian saya. Tapi masa kecil saya banyak bahagianya daripada sedihnya.

 

Saat remaja, saya sudah harus belajar “melawan” ego diri sendiri dalam proses pencarian jati diri yang tidak semanis imajinasi saya. Tapi masa remaja saya banyak bahagianya daripada sedihnya.

 

Saat awal dewasa, saya sudah harus belajar “mengalah” terhadap apa yang mampu saya kalahkan dan belajar“memaklumi” apa yang tidak mampu saya maklumi….saat itu. Tapi masa awal dewasa saya banyak bahagianya daripada sedihnya.

 

Saat dewasa, saya masih harus belajar untuk “memaafkan” masa lalu dan “berprasangka baik” pada masa depan. Dan saat-saat ini, di dalam masa dewasa saya, proses “pendewasaan” itu pun masih bertanda koma, belum titik. Tuhan masih sayang pada saya dan masih memberikan waktu untuk terus memperbaiki diri sebelum tanda titik itu dinoktahkan dalam perjalanan akhir hidup saya.

 

Dan kali ini pun, saya memaknai kembali perjalanan cinta saya lewat peran serta “wall” dan “timeline”. Mungkin terdengar remeh temeh dan berlebihan, tapi kalau tidak melakukan “flashback” terhadap “remeh-temeh” ini, saya pun tidak akan pernah “ngeh” kalau tanggal 24 September 2010 adalah tanggal dimana saya memberanikan diri untuk nge-wall belahan jiwa saya, bukan apa-apa, I just needed to know how he was doing at that time, no expectation at all.Dan lucunya, posting pertama itu adalah tentang sepeda dan topi 🙂

 

Tanpa “flashback” terhadap “remeh-temeh” ini pun saya tidak akan pernah “ngeh” kalau tanggal 7 Oktober 2010 adalah tanggal dimana saya “ditembak” dan tanggal 28 Oktober 2010 adalah tanggal dimana saya dan mantan pacar (sekarang suami saya) berkomitmen untuk mengenal lebih jauh (alias jadian). Entah mengapa kami pun butuh “waktu” sekitar 21 hari untuk memutuskan “officially jalan bareng”.

 

Pada tanggal 7 Oktober 2010 itu lah, saya mengupload puisi saya “19 Years Later is Now” dimana hal tersebut merupakan curahan “keheranan” saya dengan penuh syukur bahwa tak ada yang mustahil bagiNya. Saat saya lelah memaknai cinta sampai ke seberang benua lain; Saat saya lelah dengan pencarian pelabuhan hidup saya; saat saya apatis dengan arti pernikahan; saat saya lelah “dijudge” dengan status single saya; saat saya sempat berpikir bahwa saya tak perlu menikah; saat saya sudah mati rasa dengan yang namanya cinta…saat itulah Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada saya: setiap manusia punya perjalanan sendiri-sendiri dan waktu sendiri-sendiri, dan semua memang akan indah pada waktunya yang terbaik. Hanya Allah SWT lah yang mampu mempertemukan kami kembali setelah sekian lama kami bertemu utk pertama kalinya di bangku SD hingga kemudian bersatu mengikat janji sehidup semati, ditengah perjalanan yang begitu banyak duri. Bahkan kami berdua pun sampai saat ini masih saja heran dengan jalan Allah yang mempertemukan kami kembali yang diawali dengan a simple phone call then writing on the“wall”; cenderung klise malah, but it happens.

 

Mengingat hal-hal seperti inilah yang membuat saya kembali mensyukuri hadiah cinta dari Gusti Allah ini. Moment-moment yang tak sengaja ter-record inilah yang membuat saya berpikir, segala sesuatu itu diciptakan baik oleh Allah SWT, bila memang dilandasi dengan niat baik dan gak neko-neko, akan memberikan energi yang positif. Salah satunya ya…jatuh cinta lagi dengan suami saya. Semoga Allah SWT memberikan waktu bagi kami berdua untuk mengarungi hidup bersama ini sampai akhir nafas kami (amin yra).

 

Tak malu saya ucapkan, thank you Facebook; for being a research media I could use to get findings about myself and everything related to it. Semoga hipotesa-nya bisa terus memberikan pencerahan 🙂

 

Dan, entah mengapa setelah menulis ini, Alhamdulillah, saya pun sukses mengantuk. I gotta sleep now. The “finger print” and bunch of deadlines are waiting at the office tomorrow 🙂

 

Wini,

Jakarta, 20 Februari 2014

firsttime_okky

tembak_okky

poem_october72010

inarelationship_okk2

inarelationship_okky

married_okky

married_okky2

marriedstatus_okky

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s