Archiving Facebook: Sebuah Biografi Tidak Resmi dan (Bisa Jadi) Museum Pribadi, Peninggalan Pribadi (Kalau sudah “Goodbye sama Dunia”), atau bahkan Novel Platform Baru “My Life”. Warning: Ini Tulisan Tidak Penting; Kontaminasi Bahasa Dimana-Mana.

Posted: October 11, 2012 in Personal-Me
Tags: , , , , , , ,

*Judulnya panjang amat, engga banget dan ga penting juga kaleee

*Uncensored/Extended version alias Non-Edited Ideas and Thoughts (Beware) 😛

*Disarankan kalau “biografi” nya udah “jadi” dan “cetak”: sebaiknya untuk konsumsi sendiri ajah ya hehe (e.g. I chose “only me” option as the only viewer who can view ArchivedBook result page).

*Tidak berlaku bagi yang sudah “off” selamanya dari Facebook dengan mendelete akun-nya (kalau de-activate sih mungkin masih bisa lah bikin biografinya) dan Facebookers tipe “back to Square One” alias yang memang sudah (dengan sengaja lah pastinya, masak ga nyadar hehe) men-delete keseluruhan postingannya di masa lampau (D3=dikit dikit delete) dan selalu maintain tampilan dan content Fb page/wall-nya dari waktu terkini (waktu current) alias selalu bersih sebersih lantai keramik warna putih yang di pel berkali-kali, atau selalu kosong sekosong tong yang nyaring bunyinya, atau (lagi) gersang -segersang (ini relatif lho ya) gurun sahara tanpa pasir (nah lho?)

*(Sangat) Tidak Berlaku bagi Facebookers yang memang Gak Mau dan Gak Minat buat Archiving serta para anti-FB-ers yang ga perlu repot baca postingan ini 😀 (Lha daripada dapet respon “emang gue pikirin mau archiving atau kagak?”) 😛

===============================

Nulis dari April 5, 2008 s.d Oktober 11, 2012, Total jenderal (sementara ini) sudah 419 Halaman PDF File

Hah? Nulis apaan? Blog?

Engga

Buku?

Engga

Surat?

Engga

Nulis apaan doong?

Status sama posting

Gubrakkkkkkh…hah? bisa ya? tapi kok PDF File? mbok ya di word platform gitu (sok tahu))

Ya ndak bisa lah, wong bukan traditional “writing” kok.

Kok aneh-aneh aja sih kamu. Memang bisa? pegimane caranya? (teteuuuuup mo tahuuu)

Aneh2 ya boleh dong ah, wong buat diri sendiri ini. Jawabannya bisa. Pake aja aplikasi Archivedbook dari Archivedbook.com (atau aplikasi lain yg senada) trus di PDF-in. tapi musti sabarrrr. Semakin lama (tua) kelahiran Facebookmu, semakin agak lamaan proses convert-nya. Satu lagi, sebaiknya disarankan untuk dilakukan di PC/laptop pribadi ya untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan seperti hacking, dll 😛

Kamu bilang itu nulis?! Ah Alay!

Mau Alay kek, Alang-alang kek, Aneh kek, biarin, wong buat kepuasan diri sendiri kok, wek!

——————————————

Mulai dari museum, album foto jadul, buku sejarah, sampai ke prasasti, ada satu hal yang mungkin secara tidak sadar jadi “obsesi” alam bawah sadar kita to “learn from the past but not living in the past”. Ada sebuah keunikan dan sensasi tersendiri saat re-living the past. Dulu pernah sempet punya coretan artikel mengenai “Facebook as My Own Personal History Ensiklopedia” (tapi entah ilang kemana ya file-nya, hiks) yang sebenernya pengen aku share. Ini juga sebenernya asal muasalnya dari ide research awal (beneran yg versi research seriusnya) mengenai Social media (khususnya FB) dan signifikansinya terhadap …..(ada deeeeeh), tapi kok lama2 aku ngerasa jadi latah ide gitu, soalnya akhir2 ini, sudah buanyaaaaaak juga research2 yg membahas ini (well, we’ll see ajah). Gara2 ga jadi pake ide ini, untuk preparation aku lanjut studi S3 nanti, aku putar haluan ambil arah fokus research (yg beneran) dengan berusaha “mengawinkan” Graduate Writing dan Digital Literacy (uhuk, awalnya pake batuk2 panjang sebelum nyerahin draftnya ke prospective advisorsku tapi alhamdulillah malah in turns, dapet masukan yang menggembirakan dan me-motivasi alias they do like my idea on this! *sekilas info numpang lewat).

Anyway, inti dari coretan aku yang waktu itu hilang (dan belum ketemu sampe sekarang, hiks lagi) adalah “Seeing myself and evaluating myself from a social media called Facebook”. Asik juga sih berpetualang mulai dari pakai apps Facebook Stat (e.g Zeebly yg kmrn sempet di-share Nyoman Widia Anggreni, thanks ya Nyo) that “sort of” concluding what kind of person I am (percaya ga yaaaaa sama machine-like psychoanalyst macam begini? hehe) sampai pada sebuah pemikiran yang bunyinya kira2 gini “Cool kali ya liat seluruh status-status (atau postingan) Facebook aku dari mulai pertama kali join sampai sekarang TANPA REPOT HARUS BERGANTUNG TERUS SAMA KONEKSI INTERNET dan tanpa harus susaaaaah dan lamaaaa scroll downnya, apalagi klo koneksinya -when love and hate collide  plus bisa “dibaca” KAPAN AJA, DIMANA AJA, LEWAT GADGET APA AJA ASAL ADA PDF READERNYA”. Yak benar sekali, semacam e-book yang KB-KB alias Klik Baca-Klik Baca.

Well, point aku sebenernya cuma satu sih: belajar menertawakan diriku sendiri baik lewat status-status newbie, status galau, status ga penting, status emo, status mellow, status marah/kesel/jengkel, status serius, status setengah serius, status seperempat rius, dan jenis status2 lainnya (beserta postingan dan my related comments). But, FYI, not even once I tried to fake all of those; status newbie, galau, ga penting, emo, mellow, marah/kesel/jengkel, serius/setengah/seperempat rius dll nya itu beneran happening for real within me, inside of me. Jadi inget waktu workshop Karya Tulis Ilmiah di Bogor September 2012 lalu saat Prof. Wasmen Manalu (DIKTI) berkata bahwa “Yang namanya researcher/peneliti atau akademisi itu boleh salah tapi ga boleh bohong. Yang ga boleh salah tapi boleh bohong itu namanya bisnismen. Nah, kalau yang boleh salah dan boleh bohong itu namanya baru politikus” (Icebreaking KTI Penulisan Jurnal Teknodik, September 2012 di Bogor). That is why (berbekal semangat boleh salah tapi ga boleh bohong-nya Prof. Manalu), sebenernya ga ada maksud alay atau lebay utk ber-status ria di FBku but I have been  trying my best (scout’s honor!) to be as honest as possible BUKAN UTK ORG LAIN but TO MYSELF. So, berstatus ria buatku itu BUKAN utk cari Likes atau Comment tapi lebih sebagai “archive maya” dimana aku bisa nyalurin segala “kemanusiaanku” dan “kemerdekaan” ku dalam berekspresi dan beremosi via status, notes, photo albums, postings, etc. Dari situlah sering aku kadang2 nemuin “oalahdotcom” moment yang membuatku jadi lebih “sadar” diri tentang hal-hal yang sebelumnya luput dari refleksiku sehari-hari. Looking back on my old statuses and postings allow me to be “brave” belajar dari masa lalu tanpa harus “takut” terjebak di masa lalu (malahan it motivates me to move forward and not trapped in my own past).

Fungsi dari sesuatu itu relative, tergantung pada penggunanya dan ‘modus operandi” nya (jiaaah). Ada yang berpendapat FB itu totally trashful. Ada yang berpendapat FB itu just for killing time. Ada pula yang berpendapat FB itu fungsional and helpful in their own terms. Tapi ada juga yang memutuskan untuk “pensiun” (off atau deactivate sementara) dari FB karena reasons yg bervariasi (mungkin karena bosan, karena hack, karena pencemaran nama baik, karena bullying (serius amat sih?! *marah!), karena ingin lepas dari addiction-nya, karena angin-anginan, dan karena-eh-karena yang lain-lainnya (ssst, dilarang terlalu eksplisit). Apapun reasons-nya itu hak masing-masing pribadi dan sah-sah saja. Nah, to me, my birthday with Facebook is on April 5, 2008. Therefore, my “relationship” with Facebook has been for 4 years, 6 month and 6 days per tanggal 11 Oktober 2012 ini (prikitieeww, sneeze!).

Bolehlah mungkin pada posting kali ini bakal ada yg mengkritisi “Ah jangan terlalu didramatisir; Ah, jangan terlalu berlebihan; Ah, jangan terlalu lebay (udah lebay pake terlalu lagi); Ah, jangan alay; dan Ah-ah yang lainnya. Oh well, it’s okay for me though, yg penting, I don’t mean to be all that. I just want to share my perspective and if it can not be accepted ya leave it alone. It is either take it or leave it (halah).

Dalam hidup, dramatisasi itu kadang2 perlu, lebay atau alay itu kadang2 menyenangkan, emo atau mellow itu kadang2 membebaskan (maksudnya liberating gitu). Bahkan dalam menulis hal ini pun sekarang, aku pake bahasa suka-suka (“renang gaya bebas klo boleh bilang) yang mencoba untuk tidak mempedulikan tanda baca (titik, koma), susunan kalimat (SPO), keruntutan (awal-akhir-statement-reasons), dan lain-lain yang umumnya dipakai dalam penggunaan penulisan yang baik dan benar semacam academic writing, scientific writing (nulis jurnal, halah), artikel resmi, review resmi, dll. Yup, ini tulisan yang tidak baik dan tidak benar dalam hal tata cara yang juga (sangat) tidak resmi, hehe, so tidak menerima komplen karena sudah kupaparkan sebagai warning disclaimer pengantar tulisan ini haha.

Seperti tadi yg sudah kusebutkan di atas bahwa ada variety of free online apps yg bisa dipakai utk “menganalisa” Facebook behavior dan character kita (belum pasti orangnya juga sih tergantung motivasi dan treatment masing-masing orang terhadap akunnya sendiri-sendiri). Nah, awalnya sih sebelum sistem Timeline FB yang sekarang (apalagi yang ada promote status yg musti bayar, hedeh), lumayan gampang buat Scroll Down liat2 “lahirnya” FB kita (tapi kadang capek juga sih, hihi). Tapi begitu sekarang pada interface FB yang sudah mulai “advanced”, tambah 2R (rebyek dan ribet) lagi deh yg namanya scroll down.

Tahun demi tahun ada masa-masa dimana aku mengalami “I to the Bored to the Max” pada FB, nah saat2 itu aku pindah ke lain hati buat Multiplying (yang in udah RIP), blogging sampe maling list-an (tapi intinya sama sih, agak susah lepas sama yg namanya online activity) tapi ga tahu kenapa ga pernah terbersit pikiran buat deactivate. Sebentar…sebentar, ada yg nanya “Wi, kamu ga Friendster-an tho?” Jawabku “ha? apa tuh? ga kenal…maklum jaman friendster dulu, awareness ke-social-mediaan-ku belum “terbangun” (ngikik).

Anyhow, pada saat2 boring itulah, signifikansi (ya elah) FB agak sedikit tereliminasi dan sama sekali ga terpikir buat update2 an (boro-boro buka akun). Makin kesininya, entah kenapa jadi balik “aktif” lagi semenjak involving di pelatihan guru—guru untuk pemanfaatan social media for education, pemanfaatan online resources, dsb-dsb, secara naluriah (dan harafiah) muncul lagi yg namanya rasa penasaran “kilas balik” untuk “membaca” bagaimana karakter dan behavior FB aku sampai sekarang. Ya sudah, alhasil, iseng-iseng aku balik lagi nyobain Zeebly dan ArchivedBook buat “menganalisa” ini dengan catatan hasil analisanya lebih diperuntukkan dan dimaksudkan untuk “keasyik-masyukan” diri pribadi. Dan voila, dapetlah itu namanya oalahdotcom dan a-ha moments haha.

Intinya sekarang aku (somehow lebay-nya) seneeeeeeeng banget udah punya biografi pribadi tidak resmi berplatform PDF file (Tebelnya nyampe 419 halaman dari ArchivedBook! Pas 92.0 MB!) dari FB page aku terutama untuk status dan postingan. Definitely tidak akan pernah published dan hanya untuk konsumsi pribadi hehe (no copyright violation hopefully and no royalty deal haha) . Ehm, 419 halaman itu statusnya masih “to be continued” dan (ini mungkin lho) bisa sampai ribuan halaman kalau Facebooking-nya masih dilanjutin sampai in the next future (dengan catatan kalo aplikasi FBnya in the next future masih ada ya).

Usut punya usut, mulai ngebacanya dari awal, tengah, sampai yang terbaru bikin aku sukses cuek sama release film2 terbaru, baca buku penting, atau bahkan bisa dibilang ini kali pertamanya aku ga ngantuk yg namanya baca. Geli-geli gimana gitu, kok bisa ya dulu aku begini-begitu, dsb. Ya hitung-hitung filsuf buat diri sendiri lah. That’s why rada menghindari make-up status yg buatku ga ada gunanya, coz to me, itu sama aja boong sama diriku sendiri. So, mau gak dicomment kek, mau dicomment kek (alhamdulillah), mau di acungin jempol kek (alhamdulillah lagi), atau bahkan kalo ada yg mau di block atau di unfriend ya monggo2 aja lah (cuma tetep aja penasaran sih jangan2 aku sudah bikin marah anak orang hehe). Jujur, GAK PERNAH kepikiran aja what’ll happen next to my status update seperti yg baru saja kujelaskan, yg penting bisa “sempet” ngeluarin uneg2, pikiran atau emosi itu sendiri sudah lumayan melegakan (dengan catatan ga ngerugiin orang lain, ga nyinggung orang lain, ga bikin ribut, ga bikin sensasi” kandang ayam”, berusaha “sesopan” mungkin karena teteplah, walaupun ini platformnya dunia maya, kan musti ada kode etik “netiquette” nya).

Well itulah sekelumit moment of sharing hari ini, siapa tahu ada yg suka bernostalgia juga, mungkin iseng2 ga ada salahnya bikin archive page Facebookmu sekalian buat lucu-lucuan aja sama diri sendiri hehe. Sebenernya ada lagi hal menarik mengenai Instagram, Twitter, WordPress, Kompasiana, BlogDetik, dan lain-lainnya tapi aku belum cukup “research” dan “jam terbang” buat mengulasnya (nunggu beberapa waktu dulu sambil menyelam minum air). Soon as I feel that I’ve gathered quite decent sharing moment enough, I’ll write about it (in the most informal way). Actually hal ini juga bisa ditulis dalam bentuk resmi, akademis, dan ilmiah sih tapi ntar ajah (soalnya kalo itu butuh waktu lebih lama lagi buat compiling, referencing, paraphrasing, and finally editing-revising haha).

Singkat kata (dan akhir kata untuk posting kali ini-masih bakal bersambung) ini tulisan paling ga penting dan paling amburadul mulai dari bentuknya, bahasanya, tata caranya, maupun tampilannya BUT I’m still personally proud to myself krn udah mencoba “ber-ektrovert ria” (kata Zeebly, aku termasuk orang yg introvert dalam bersocial media jadi (mungkin) Zeebly menyarankan agar aku bisa lebih “pushing boundaries to myself” dalam mengekpresikan sesuatu haha.

Last but not least (lagi), mohon maaf ya kalau ada sesuatu yang kurang berkenan di postingan ini. Jarang-jarang soalnya aku posting sesuatu yang TANPA editan yg decent (maksudnya first draft coming from my thoughts and feelings), so mohon maaf akan ke-naif-an, ke-alay-an, dan kelebay-an ku (semoga dimaafkan) hehe.

Terakhir dari yang paling akhir, semoga dengan “keruwetan” postingan resource sharingku kali ini, insya Allah tetap dapat memberikan manfaat (ngarepdotcom. biarin, yg penting sudah berniat baik pengen share :P-lha?! niat baik kok pake diomongin segala?! :D)

Well, see you on the next edition of my non-edited posting! 🙂

And, thanks for reading 🙂

*To be continued

*semoga professors aku ga ikutan baca postinganku yg ini (bisa panjang jelasinnya mengenai hasrat “ngawurisme” ku dalam menulis) 😛

Contoh tampilan dari laman web maupun yg sudah PDF (419 halaman; 92.0 MB)

   

Hari lahir, ulang tahun FBku: 5 April 2008 (Siapa yang nanya? wek :P)

“History” lain yg bikin aku sendiri ngikik 😛

Per Oktober 11 ini sudah 4 tahun, 6 bulan , 6 hari usia Facebook-ku 😛 (ga penting banget deh)

Advertisements
Comments
  1. Juliette says:

    Some genuinely nice and useful information on this site, too I conceive the style contains excellent features.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s