Sudahkah Anda mengenal Ayah dan Ibu Anda lebih dari sekedar “Ayah” dan “Ibu”?

Posted: October 1, 2012 in Personal-Me
Tags: , , , , , , , , , ,


Try your best to understand them as an individual and not just as Mom and Dad because that’s the key to your understanding towards them in your transitional phase as an adult.

Dulu, sering saya sebagai anak berpikir “Kok ga adil ya? Posisi sebagai anak membuat kita “kalah” segala-galanya dari orang tua: cap anak durhaka lah, anak tidak berbakti lah, anak yang gak tahu diri, dan serentetan “cap” mengerikan dengan berbagai konsekuensi neraka dan karma. Lha tapi bagaimana dengan orang tua yang sewenang-wenang thdp anaknya? yang menyia-nyiakan anaknya? yang ga ngertiin dan maksain kehendaknya pada anaknya? dll? They seem to be “justified” as okay because of their position as parents…then, karena saling mencari “kalah-menang”/”benar-salah”, akhirnya bukannya menyelesaikan masalah tapi menambahnya dengan segala macam efek samping seperti penolakan, pemberontakan, pelampiasan, dendam, dsb.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan bertempa dengan pengalaman hidup dan belajar dari hidup sendiri dan org lain, kekurangan, dan kesalahan diri, ada satu celah dalam hati saya dimana ada semacam “pengetahuan” yg entah darimana datangnya, “berbicara” pada diri sendiri “maklumilah orang tuamu apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sebab sebelum menjadi orang tuamu, mereka adalah juga seorang individu yang kompleks dengan segala macam peranannya di dunia ini. Nah, masalahnya, mendengar kata “maklumilah” pada saat itu membuat jiwa saya berontak “masak terus menerus maklum? kapan dong mereka gantian maklumin aku? kan kesel”. Lalu, “suara’ itu terus berlanjut “Maklum itu bukan berarti kalah, maklum itu bukan berarti tidak melakukan apa-apa, bahkan dengan maklum dirimu sudah berbuat sesuatu utk org tuamu, yaitu menunjukkan baktimu dalam peranmu sebagai anak. Kau tak akan pernah bisa benar-benar memahami “peran” orang tuamu jika dirimu belum benar-benar di posisi mereka. Nanti, saat kau sudah saatnya menjadi orang tua, kau akan benar-benar paham. Selagi menunggu waktu itu datang, belajarlah memaklumi, belajarlah mengerti, belajarlah bersabar dengan orang tuamu sendiri karena jika suatu saat waktu mereka telah habis untuk mendampingimu di dunia ini, kau akan benar-benar menyesal tak berkesudahan jika waktu yang tersisa ini tidak kau gunakan untuk benar-benar memaklumi, mengerti, bersabar, dan mengenal orang tuamu lebih dari sekedar “ayah” dan “ibu”, and you ought to know that by the heart.

Terlebih lagi, semakin tua usia, semakin sifat “kekanakan” itu mendominasi. Dengan kata lain, lanjut usia/usia lanjut=kekanak-kanak’an. Nah, fakta itu tidak bisa dipungkiri. Balajar sabar itu ga usah jauh-jauh…belajar sabarlah dulu dengan orang tuamu, lalu dengan saudara kandungmu, dengan keluargamu, dengan kerabatmu, dan akhirnya baru dengan lingkungan di luar itu. Sabar itu tak pernah sia-sia…

Teringat kembali/flashback masa-masa dimana usia saya yang pengennya berontak atau ngeyel saja. Dimana sering terjadi perdebatan dengan piyayi sepuh saya, termasuk almarhumah eyang putri saya sendiri. Masa-masa itu termasuk ngambek, ingin lari dari rumah, diam-diam’an selama berhari-hari bahkan bermingu-minggu, gebrak2 an kaki, tangan, meja,pintu, dsb. Astagfirullah…saya “berangasan” sekali ya? Alhamdulillah, walaupun masih jauh dari sempurna, pengetahuan “maklum” saya terhadap orang tua semakin terasah dengan lebih terbukanya hati dan pikiran saya dengan cara memposisikan diri saya di posisi mereka yg bertujuan untuk lebih mengenal dan memahami ibu saya (ayah saya sudah almarhum dan eyang saya sudah almarhumah) lebih dari sekedar peran beliau sebagai ibu, namun sebagai seorang individu yang punya masa-masa tumbuh dan berkembang dari bayi sampai gadis sebelum waktu saya lahir di dunia ini. Memang tidak gampang, tapi setidaknya hanya itulah yang dapat saya lakukan untuk mengungkapkan betapa sayangnya saya dengan beliau, betapa bangganya saya dengan beliau, betapa respectnya saya dengan beliau.

Saya sadar tidak akan pernah dapat membalas segala jasa dan pengorbanan ibu saya terhadap saya, jadi sebisa mungkin hanya inilah yang bisa saya lakukan selagi saya masih diberikan waktu oleh Allah SWT untuk bersama dengan beliau jasmani dan rohani.

Hanya ingin berbagi saja malam ini, tentang pengetahuan “permakluman” ini, namun pengetahuan ini tak bisa dipaksa, tak bisa dikarbit namun bisa “dikondisikan”.

(Wini, Jakarta Feb-2012)

Dibawah ini terlampir tambahan kontemplasi dari Dewi “Dee” Lestari mengenai refleksinya untuk mengenal ibu beliau lebih dari sekedar “ibu”. Semoga bermanfaat and thank you for reading 🙂

==========================================================================================

Dua malam sebelum jadwal siaran rutinnya setiap Selasa pagi di Cosmopolitan FM, Reza mendiskusikan topik siarannya dengan saya. Dia ingin membahas dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Saya langsung setuju. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika tersebut adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Cepat atau lambat. Suka tak suka.

Kami lantas berdiskusi tentang banyak aspek, antara lain: pengondisian orangtua kita dulu yang akhirnya membentuk perilaku dan pola asuh mereka terhadap kita, hingga seringkali yang mereka terapkan bukanlah yang terbaik bagi anak melainkan sekadar meneruskan warisan dari orangtua mereka sebelumnya. Dan hal itu berlangsung dari generasi ke generasi, termasuk pada kita saat kebagian giliran jadi orangtua. Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Dalam pekerjaannya, Reza tak jarang menemukan belitan trauma akibat pola asuh masa kecil yang bisa mencengkeram seseorang meski umurnya sudah uzur.

Aspek lainnya lagi yang kami bahas adalah kejujuran yang utuh dan lengkap dalam komunikasi antara anak dan orangtua. Seringkali, karena takut dibilang durhaka, tekanan normatif, dsb, kita memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua kita. Akibatnya, anak tetap tidak bisa menunjukkan otentisitasnya sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, tetaplah Si Upik dan Si Buyung yang harus terus menerus diawasi dan dikendalikan.

Namun baru pada pagi inilah, saat saya mendengarkan siaran Reza secara langsung, mendarat hantaman yang juga langsung di batin saya. Pada segmen-segmen akhir, Reza berbicara mengenai transisi yang seringkali tak lancar—bahkan mungkin tak pernah terjadi—dalam perubahan peran “anak” dan peran “orangtua” menuju individu-individu yang real, sejajar, dan apa adanya. Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia—titik—dan bukannya Sang Pemberi Kehidupan, Sang Pemberi Makan, Sang Pengayom, Sang Pelindung, atau Sang Pengasuh. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang bahkan mungkin tak pernah mengenal anak-anaknya sebagai manusia—saja—dan bukannya Si Buah Hati, Si Penerus Keturunan, Si Harapan Bangsa & Keluarga, dst. Semua “Sang” dan “Si” tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius dan melenakan jika kita terus terjebak di dalamnya.

Izinkan saya berbagi sekelumit kisah pribadi. Tentang saya dan Mama.

Dengan kondisi ayah saya yang seorang perwira militer dan mengharuskannya untuk pindah-pindah tempat dinas, otomatis ibu sayalah yang lebih banyak di rumah untuk mengurusi anak-anak. Saya bertemu ayah saya hanya setiap akhir pekan. Dan dalam dua-tiga hari itu, ayah saya lebih sering menjelma menjadi Sinterklas yang selalu membawakan oleh-oleh, uang saku ekstra, dan kesenangan lainnya.

Sementara itu, dalam dinamika harian dari Senin hingga Jumat, Mama harus berperan ganda menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami. Mama memasak dan mengatur rumah, juga menjadi “polisi” dan penegak kedisiplinan, ditambah lagi dengan aktivitasnya yang padat di gereja sebagai penatua, anggota kor, dan ibu asuh tak resmi bagi banyak pemuda perantauan Tanah Batak yang terdampar di Kota Bandung. Begitu banyak peran yang ia jalankan dan semuanya ia jalani dengan sangat baik. Mama adalah sosok yang luar biasa bagi lingkungannya. Dan sosok yang kompleks bagi saya.

Mama meninggal karena kanker di ususnya pada tahun 1995. Saya masih 19 tahun saat itu. Baru kuliah tingkat dua, baru memulai karier bernyanyi. Baru saja berbangga karena bisa membiayai kuliah sendiri dan berhenti minta uang saku. Baru saja menyaksikan ibu saya berbangga melihat anaknya muncul di televisi. Dan baru saja pula saya berkhayal ingin menghadiahinya wisata ziarah ke tempat-tempat suci di Timur Tengah, sebagaimana yang selalu diimpikannya sebagai umat Kristiani.

Saat orang-orang datang melayat, dan juga jauh sesudah itu, kerap saya mendengar berbagai kesan dan cerita orang-orang terhadap Mama. Mereka yang saya kenal, dan juga seringnya tak saya kenal, bercerita banyak hal yang asing di kuping saya tentang Mama. Tak jarang saya takjub bahkan terguncang, menyadari betapa saya tidak mengenal ibu saya sendiri. Dan sebaliknya. Saya merasa Mama pun tidak sempat mengenal saya. Anaknya sendiri.

“Saya ini anak yang besar di luar rumah,” begitu saya selalu berkata. Dan kurang lebih memang benar adanya. Sebagai anak yang dikenal paling cuek di antara lima bersaudara, justru sayalah yang ternyata paling kuat terkena dampak meninggalnya Mama. Saya memimpikannya setiap malam selama berbulan-bulan, dan untuk sekian lama saya tidak bisa membicarakan bahkan memikirkan Mama lebih dari tiga menit tanpa menitikkan air mata. Padahal, saat beliau masih hidup, sayalah yang paling berjarak dengannya.

Selama bertahun-tahun, banyak jawaban dan alasan yang sudah saya renungi. Namun khususnya setelah mendengarkan siaran Reza pagi ini, renungan itu menggenap. Kehilangan saya yang paling kuat bukan disebabkan karena saya belum sempat menghadiahinya wisata melihat Betlehem, bukan karena Mama tidak sempat melihat saya memberinya cucu, bukan karena banyaknya peristiwa penting dan bersejarah dalam hidup saya yang membutuhkan kehadirannya, tapi semata-mata karena saya belum mengenalnya sebagai manusia—titik. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap saya ingin mengenang beliau, saya selalu berbenturan dengan tembok tebal yang diciptakan aneka peran yang Mama mainkan selama hidupnya. Ditambah lagi dengan tameng dari peran saya sendiri sebagai anaknya.

Selama ia hidup, saya hanya mengenalnya sebagai ibu. Mama. Inang Mangunsong. Saya tidak kenal perempuan bernama Tiurlan Siagian. Dan sebaliknya, saya pun merindu dan meradang untuk ia kenali sebagai manusia—saja. Bukan semata anak keempatnya yang hobi menulis dan menyanyi. Dalam sembilan belas tahun kami berinteraksi, kami belum sempat menanggalkan peran-peran kami sebagai ibu dan anak, berjabat tangan atau berpelukan atau sekadar menatap satu sama lain sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang real. Ia pergi sebelum kami sempat bertransisi.

Ayah saya kini berusia 71 tahun. Barangkali tak selamanya ia merasa beruntung hidup lebih lama, karena dengan demikian ia “terpaksa” menyaksikan segala tingkah-polah kelima anaknya yang bertransisi menjadi manusia dewasa, lengkap dengan segala konflik dan pertentangan batin yang turut menyertai proses tersebut. Namun, walaupun mungkin tidak terus-terusan, setidaknya saya sempat merasakan interaksi kami berdua bertransisi dari ayah dan anak menjadi manusia dan manusia.

Pagi ini, saya memberanikan diri untuk berkata: sesungguhnya, itulah hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orangtua kita. Itu jugalah hadiah terbaik yang kelak bisa kita berikan bagi anak kita. Dan hanya itulah persembahan terbaik yang bisa kita tawarkan bagi sesama manusia di sekeliling kita. Meski secercah, meski tak selamanya berakibat indah, otentisitas dan kejujuran kita sebagai manusia adalah satu-satunya jabat tangan yang riil antarhati. Antarjiwa. Hanya dengan demikian kita benar-benar tahu rasanya “terhubung”. Dan sungguh, itu adalah pengalaman yang nyaris punah.

Selama kita bersembunyi dan terperangkap dalam peran-peran yang kita jalankan, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas tameng. Sebatas pengondisian. Kita bahkan bisa berjalan sepanjang hayat dikandung badan di atas planet ini tanpa pernah menyadari topeng-topeng yang kita kenakan, yang meski dalam interaksinya kita bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan hal-hal positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua.

Kesempatan itu sudah tidak ada lagi bagi Mama dan saya, setidaknya dalam kehidupan kali ini. Tapi kesempatan itu masih ada untuk saya gunakan dengan ayah saya, anak saya, suami saya, kakak-adik saya, dan semua orang dalam kehidupan saya. Begitu juga dengan Anda dan siapa pun yang masih ada dalam kehidupan Anda sekarang. Semoga saja kita mau dan berani menggunakannya.

(Dewi “Dee” Lestari)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s