Up Close and Personal: Bahasa Jawa (Javanese)- Peringkat ke-11 Dunia

Posted: September 24, 2012 in Professional-Me
Tags: , , , , , ,

Seperti halnya bahasa-bahasa suku-suku bangsa di Indonesia, bahasa Jawa merupakan aset bangsa Indonesia yang sangat penting. Dunia begitu mengakui keberadaan Bahasa Jawa, tak kurang dari situs web paling populer di dunia, yaitu Google, menyediakan edisi khusus pencarian dalam Bahasa Jawa, Google Nggoleki. Selain itu situs web enslikopedia terbesar di dunia, yaitu Wikipedia menyediakan edisi khusus Bahasa Jawa dengan konten 37.290 artikel (posisi 28 Oktober 2011).

Berdasarkan estimasi ethnologue.com pada tahun 2009, Bahasa Jawa menempati peringkat ke 11 di dunia dari segi jumlah penutur, yaitu berturut-turut setelah: 1. Bahasa China dengan jumlah penutur 1,21 milyar orang (paling dominan Bahasa Mandarin dengan 845 juta penutur); 2. Bahasa Spanyol (329 juta); 3. Bahasa Inggris (328 juta); 4. Bahasa Arab (221 juta); 5. Bahasa Hindi (182 juta); 6. Bahasa Bengali (181 juta); 7. Bahasa Portugis (178 juta); 8. Bahasa Rusia (144 juta); 9. Bahasa Jepang (122 Juta); 10. Bahasa Jerman (90,3 juta); dan 11. Bahasa Jawa (84,3 juta). Jumlah penutur Bahasa Jawa lebih banyak dibanding Bahasa Vietnam, Perancis, Korea dan Turki.Sedangkan untuk Bahasa Indonesia sendiri, berada di peringkat 41 (23,2 juta) setelah Romania (23,4 juta) dan sebelum Bahasa Belanda (21,7 juta).

Berdasarkan Sensus Tahun 2000 (ethnologue.com) jumlah penutur Bahasa Jawa mencapai 84,3 juta orang, tersebar di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur 69 juta orang, Cirebon (termasuk Indramayu) 2,5 juta orang, Banten 500 ribu orang (tersebar di Pantai Utara Serang dan Tangerang). Selain itu tersebar di Papua, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Sumatera, Sabah, Singapura, bahkan sampai ke Belanda, Suriname dan Kaledonia Baru. Sebenarnya bahasa Jawa sudah tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia serta puluhan negara di berbagai benua. Keberadaan suku bangsa Jawa bahkan sangat dominan di beberapa daerah luar Jawa, seperti di Lampung 62 persen, Sumatera Utara 33 persen, serta Jambi dan Sumatera Selatan masing-masing 27 persen. Setelah Bahasa Jawa, bahasa dengan jumlah penutur terbanyak kedua di Indonesia adalah Bahasa Sunda (Sensus tahun 2000 sebanyak 34 juta orang). Bahasa Sunda sendiri merupakan bahasa peringkat 31 (34 juta) terbesar di dunia, melampaui Bahasa Persia (31,4 juta), dan Tagalog (23,9 juta).

Bahasa Jawa meliputi beragam dialek seperti Jawa Halus, Solo, Yogyakarta, Cirebon, Tegal, Indramayu, Tembung, Pasisir, Surabaya, Malang-Pasuruan, Banten, Manuk, Tegal, Surabaya, dan Malang-Pasuruan.

Bahasa Jawa merupakan salah satu warisan budaya dunia yang ada di Indonesia, sudah semestinya Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya meng-internasional-kan keberadaannya. Beberapa universitas dengan kultur Jawa yang kental seperti Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Sebelas Maret (UNS), bisa menjadikan bahasa dan budaya Jawa sebagai keunggulan spesifik untuk menuju posisi universitas kelas dunia (world class university).

Lebih jauh lagi, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Wiendu Nuryanti mengatakan, bahasa Jawa telah menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam sambutan mewakili Mendikbud Mohammad Nuh pada pembukaan Kongres Bahasa Jawa ke-5 (KBJ5, 2011). Beliau mengatakan bahwa “Bahasa itu menunjukkan kemampuan budaya suatu etnik tertentu dan bahasa Jawa banyak mengajarkan petuah yang memiliki kedalaman makna. Bahasa Jawa dikenal halus, santun, dan berkedalaman makna, karena banyak petuah dan ajaran yang akhirnya menjadi inspirasi dalam kehidupan keseharian dan kehidupan berbangsa/bernegara. Lebih jauh lagi, dalam sambutannya, beliau pun mencontohkan sejumlah petuah Jawa seperti Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa yang mengajarkan kepada kita, bagaimana berbeda tapi tetap satu, bagaimana menghargai perbedaan dan tenggang rasa, walau kita beragam. Ada pula petuah “Sugih Tanpa Bondho” yang mengajarkan kekayaaan material itu bukan segalanya, melainkan kekayaan spiritual itulah yang utama. Demikian pula petuah “Nglurug Tanpa Bondho, Menang Tanpa Ngasorake” yang mengajarkan kemenangan tanpa mempermalukan.

Petuah Jawa lainnya yang dikutip Wiendu adalah “Melu Handarbeni, Melu Hangruwebi” yang mengajarkan rasa ikut memiliki, ikut menjaga, dan ikut bertanggung jawab.Sayangnya, semua petuah itu mulai diabaikan seiring dengan kecenderungan peran bahasa daerah yang tenggelam akibat penggunaan bahasa nasional dan juga bahasa asing,” katanya.

Mulai dari saat ini dan ke depannya, semoga segala daya upaya untuk melestarikan bahasa Jawa dapat menelurkan strategi pengembangan bahasa dan budaya Jawa untuk ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Dahulu kala, nilai-nilai itu diajarkan sejak dini lewat cerita, tembang/lagu, dan sejenisnya, maka sekarang perlu dirancang strategi-strategi baru dengan menggunakan sarana teknologi digital dan TIK.

Melanjutkan usaha pelestarian budaya (dan bahasa) Jawa sebagai aset bangsa, belum lama ini telah “ditelurkan” e-wayang. E-wayang adalah sebuah portal yang diciptakan untuk melestarikan wayang yang memang sampai saat inipun masih menuai kontroversi, pro dan kontra disana-sini, terutama kekuatiran dari sebagian kalangan dalang tradisional, bahwa nilai perwayangan bisa luntur akibat proses digitalisasi wayang tradisional ke wayang digital, atau E-Wayang (http://www.e-wayang.org). Namun menurut saya peribadi, setelah meluangkan waktu untuk browsing dan mengeksplorasi konten portal tersebut, komik-komik wayang yang ada, mulai dari Semar, Petruk, Gareng, Bagong dan lainnya adalah sebuah inisiatif mahakarya dari anak negeri yang dibuat oleh tiga orang Sahabat, Mawan Sugiyanto, Rina Mardiayana dan Dhiny yang sungguh merupakan suatu pencapaian tersendiri dalam ranah Wayang untuk dapat lebih mengenalkan budaya asli bangsa sendiri kepada masyarakat luas lewat perantara teknologi digital.

Di era modern ini, wayang seperti terjebak dalam labirin waktu. Yakni, hanya dikenal namanya saja, tanpa ditelusuri keberadaannya. Untuk itu, dengan adanya E-Wayang, terlepas dari masalah kontroversi atau tidak, tentunya patut diacungi jempol. Sebab, sedikitnya telah mengenalkan budaya bangsa sendiri lewat internet yang banyak merambah ke masyarakat luas. Jangan sampai menunggu warisan budaya ini di-klaim dulu oleh bangsa lain dan pada akhirnya kita sendiri yang kebakaran jenggot.

Tidak ketinggalan juga acungan jempol juga patut diberikan untuk aplikasi-aplikasi versi mobile phone yg bertujuan untuk membantu lebih memahami bahasa Jawa (dalam level pemula) seperti Ngomong Jawa versi 1.1 yang dikembangkan oleh Plugie dan untuk sekarang baru tersedia untuk platform Android.

Memang, pada akhirnya, kelestarian dan kelangsungan “hidup” bahasa Jawa berada di tangan generasinya sendiri. Idealnya generasi senior dan junior “bersatu-padu” menghilangkan gap dalam komunikasi dan bersepakat untuk satu suara memelihara dan “nguri-nguri” bahasa Jawa secara bersama-sama. Dan juga, jangan bahasa nya saja yang dipelajari dan diperdalam pengetahuannya, namun juga unggah-ungguh, filosofi hidup dan makna budaya Jawa secara holistik.

Jangan tunggu punah dulu…penyesalan selalu datang di bagian akhir. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal yang baik. Karena itu, jangan pernah malu untuk dikatakan “kampungan” karena berbahasa Jawa (atau daerah), malah justru sebaliknya. Sebenarnya, hal tersebut adalah sesuatu yang mulia karena berbahasa Jawa itu mencerminkan bakti kita terhadap leluhur dan budaya kita.

Semoga bermanfaat 🙂

*Diramu dari berbagai sumber

Advertisements
Comments
  1. vhUjAebroF says:

    Woman of Alien

    Fantastic perform you may have finished, this page is really amazing with excellent information. Time is God’s way of keeping almost everything from taking place without delay.

  2. BsVdFdynHV says:

    Souls in the Waves

    Fantastic Morning, I just stopped in to go to your site and considered I would say I experienced myself.

  3. Pei says:

    I believe you have observed some very interesting points , thankyou for the post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s