TERNYATA (A short story that I wrote in 2002 for my creative writing workshop)

Posted: May 14, 2012 in Personal-Me
Tags: , , ,

I wrote this short story quite a while back when I was early undergrad. This short story was written in regards to writing workshop that I followed in 2002 (creative writing workshop). The names, places, or events used in this short story used for fictional purposes only. None is intended personally, and if there are any similarities at certain degrees, that would be a coinsidence. Furthermore, my intention for writing this short story was for an exercise for mind-entertainment only. Hope it entertains your mind!

Have fun reading it!
Any comments, critiques, and inputs are greatly welcomed and appreciated!

=========================================================================

T.E.R.N.Y.A.T.A

Kalau tak salah, kami pernah bertemu sebelumnya. Coba kuingat dulu, hmm ya benar, aku dan dia pernah bertatap muka dan terlibat dalam percakapan sejenak di Joe’s Fish Shack,sebuah restoran seafood yang cozy di kota Fremantle Perth Australia. Saat itu dua tahun silam, aku mempunyai kesempatan seminggu untuk refreshing. Setidaknya aku bisa melepaskan kepenatanku sejenak sebagai seorang penyiar radio dan sekaligus menyembuhkan hatiku yang sedang terluka karena kehilangan seorang pujaan hati.

Pekerjaan ini sudah kujalani sekitar tiga setengah tahun lamanya dan sulit bagiku untuk beralih ke profesi lain karena sudah seperti urat nadiku saja.Selama seminggu liburanku di Negeri Kangguru lalu, ada banyak kejadian yang kualami. Setiap kejadian yang kujumpai menjadi sebuah misteri tersendiri. Seperti sebuah kejadian yang mempertemukanku dengan dia malam itu. Wajahnya tak akan pernah kulupa. Ya, memang dialah orangnya. Seseorang yang sama yang pernah karena keadaan, semeja denganku. Saat itu Joe’s sedang ramai-ramainya. Sewaktu aku datang pun, tinggal tersisa satu meja. Terlebih lagi malam itu sedang turun hujan yang lumayan derasnya. Udara pun cukup dingin, mungkin sekitar 8 derajat celcius. Dan dia datang. Dengan coat tebalnya yang nyaris basah kuyup semua, dan ya ampun! aku benar-benar masih mengingatnya karena riasan wajahnya waktu itu. Benar-benar berantakan. Maskaranya meluber sampai ke bawah matanya, lipstiknya hampir memudar warnanya dan salah satu bagian matanya terlihat agak janggal. Rupanya bulu mata palsu yang dipakai pada salah satu matanya lepas.

Salah seorang waiter menghampirinya, dan dari isyarat tangannya aku tahu bahwa meja favoritnya telah terpakai. Kulihat rona bingung dan kecewa di wajahnya. Walaupun agak jauh, aku tetap bisa melihatnya dengan jelas. Sejenak aku membayangkan bila aku ada di posisinya, betapa kacau dan bingungnya diriku, belum lagi ditambah dengan beberapa pasang mata yang tak henti-hentinya melihat dengan penuh selidik. Risih sekali rasanya bila aku menjadi dia. Atas pertimbangan itulah maka kulambaikan tanganku pada waiter tadi dan segera mengisyaratkan kalau aku tak keberatan berbagi meja dengannya. Kulihat ia agak sedikit terkejut tapi kemudian kudapati binar lega pada wajahnya dan hei, dia tersenyum walaupun sedikit. Kuanggukkan kepalaku dan inilah aku, berhadap-hadapan dengan seorang wanita yang kurasa sedang mengalami bad luck, bad day, atau apapun yang pastinya buruk. Sedikit terkejut kusadari bahwa ternyata wanita didepanku ini serumpun, maksudku aku dan dia sama-sama orang Indonesia. Bedanya hanya dia berambut pirang kecoklatan (mungkin berasal dari cat rambut) sdangkan aku berambut hitam legam. Tapi yang pasti aku dapat langsung mengenali kalau dia sama denganku, walaupun rambut aslinya disamarkan dengan warna cat rambut. Sebelum keadaan terasa semakin canggung, kuawali saja percakapan ini. “Excuse me, do you live around here?” ucapku perlahan. “Mmh, Yes, I do” “I mean, I stay in Port Lodge near here, you know it’s a kind of boarding house for International students who study in Notredam University” ucapnya hati-hati.Hmm rupanya dia terlihat agak gugup, mungkin aku dikiranya mencurigakan. Kemudian keberikan dia senyum termanisku sambil mulai melanjutkan percakapan. “I’m sorry, I haven’t introduced myself. My name is Scaesaria Ayu, S-C-A-E-S-A-R-I-A, but you can call me Ayu”, kataku sambil mengeja bagian depan namaku yang agak susah bila hanya didengar sekali. Kulihat dia diam, wah apa dia tak mau memberikan identitasnya padaku. Tiba-tiba dia tersenyum lebar sambil menyambut uluran tanganku. “Ha…ha…kamu orang Indonesia juga toh, aku sudah menduganya dari tadi, lagian namamu juga sudah mencerminkan”. Ini dia! Tiba-tiba saja dia mulai menghilangkan rasa sungkannya dengan ber-aku-kamu padaku dan terus bercerita tentang dirinya yang kebanyakan dalam bahasa Indonesia. “Finally, this is my good luck, kamu tahu? Rasanya aku senang sekali bisa bertemu dengan sesamaku, sudah rindu rasanya bisa bercakap-cakap dalam bahasa sendiri” “Eh, maaf, namaku Djenar Pramesti, tapi teman-temanku disini lebih suka memanggilku Djen, ha..ha..mungkin dikiranya mirip dengan ejaan seperti pada nama Jenny” tuturnya bersemangat sembari sekali-kali tertawa kecil. “Bolehkan kalau aku memanggilmu Djenar saja?” kataku lembut. “Oh boleh saja, aku merasa lebih senang dengan panggilan itu”, katanya setengah merajuk. “Oh iya, kamu ngapain disini? Tinggal disini juga? Ucapnya akrab seolah aku sudah seperti sahabat lamanya saja.

Kurasa wanita ini sudah melupakan bad luck dan bad day nya, dan kujawab saja pertanyaanku dengan enteng bahwa aku disini hanya liburan selama seminggu dan kemudian kulanjutkan dengan menceritakan pekerjaanku dan keseharianku di Indonesia. “Wah, menarik sekali! Jadi kamu penyiar ya? Menyenangkan sekali!” katanya bersemangat. “Kalau kamu? Ceritakan tentang dirimu.” “Kalau aku disini sih sedang menyelesaikan S2 ku di Notredam University, aku sedang mengambil program Graduate School of Humanities, tepatnya jurusan Language and Culture” ada nada bangga saat ia mengucapkannya. “Lho, bukannya ini sedang winter, pastinya khan season ini adalah holiday, kok kamu nggak pulang?” kataku penasaran. “Nah itu dia, aku memang lagi males pulang soalnya pasti selalu dikejar-kejar untuk cepat-cepat married. Aku khan masih ingin sendiri dan berkarir, lagian disini juga tidak begitu buruk, aku juga masih bisa fun kok!” kelihatan sekali kalau ia sedang membela dirinya sendiri. Rupanya dia sedang berusaha meyakinkanku bahwa dirinya sedang tidak bermasalah.

Diam-diam kupandangi bola matanya dan kucoba cari tahu sebenarnya apa yang terjadi. “Benarkah begitu?” “Ah, kamu, Don’t look at me like that, iya deh, aku baru nggak mood aja kok. “I got a terrible boyfriend yang benar-benar menyiksa hidupku. In the end, aku putuskan saja untuk menyudahi hubungan ini, eh dianya malah balik mengancamku dan menggangguku, I think if it goes worse, I’m going to call the police” suaranya sedikit bergetar karena menahan emosi. Kusodorkan secangkir cappuccino dan satu porsi Fish ‘n Chips yang memang menjadi menu andalan di tiap-tiap restoran di Fremantle yg dikenal sebagai harbour city itu. “Thanks” ucapnya pendek. Aku lihat dia makan dengan lahapnya sampai-sampai lupa aku berada didepannya.”Uhm, sorry, aku lapar sekali, aku belum sempat makan apa-apa dari siang tadi” bola matanya naik turun sedinamis mulutnya yang sedang mengunyah makanan. Tiba-tiba saja dia memegang jemariku,”The bill is going to be mine, percayalah, kalau kamu menolak maka lupakan saja pertemuan ini” katanya sedikit memaksa. “Oke, oke, silahkan, with pleasure” pikirku, terserah saja dia kalau mau membayarnya, pun pengeluaranku jadi agak lebih hemat. Sepanjang malam itu kami berbicara panjang lebar sambil sesekali tertawa terbahak-bahak. Tak lupa kukatakan betapa kacaunya penampilannya sebelum kami berpisah. Dia berkata tak akan pernah melupakanku dan tanpa sadar saat itu aku membalasnya dengan berkata bahwa kami akan bertemu lagi, entah kapan, tapi akan bertemu lagi.

*
Sesaat, aku tak percaya bahwa yang kulihat ini benar. Detik ini, dengan jarak yang hanya beberapa meter saja, aku dapat mereka-reka wajah itu. Kujaga agar dia tak dapat melihatku, sebab bila itu terjadi, akan kacaulah semuanya. Ia sedang tersenyum dan bercakap-cakap dengan seseorang, akrab sekali seperti sepasang kekasih. Kelihatannya sih itu memang kekasihnya atau pujaan hatinya. Kuperhatikan sesekali tangan kekasihnya itu mengusap dan menggenggam jemarinya. Kulihat sinar bahagia terpancar dari raut wajahnya. Ada raut aneh terpancar dari wajah waiter yang mengantarkan menu pesanan ke meja mereka. Kalau saja aku punya cukup keberanian untuk menerangkan yang sebenarnya pada waiter itu, pasti ia tidak akan bingung lagi. Kujamin itu, tapi biarlah lagipula bukan itu yang menjadi fokus perhatianku. Setelah waiter itu pergi, kulihat kekasihnya itu mengambil sesuatu dari saku bajunya yang necis dan kemudian memberikannya padanya dengan penuh sayang. Sebuah cincin! Cincin yang benar-benar sangat bersinar! Sebagai sentuhan akhir, ia memberikan kecupan yang terlihat sangat romantis pada keningnya. Hmm, rupanya ia sudah bisa menerima komitmen, pikirku. Dulu aku ingat ia pernah berkata masih ingin sendiri dulu. Mungkin dengan berlalunya waktu, pendirian seorang wanita seperti dia bisa berubah. Wanita yang sekarang ini berada di depanku benar-benar sangat mempesona, seperti seorang putri yang bersahaja. Sangat kontras dengan penampilannya dulu ketika pertama kali kami bertemu di Joe’s. Kemungkinan besar sekarang dia sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan plus gaji yang tinggi. Dengan predikatnya yang lulusan S2 luar negeri, rasa-rasanya semua impian wanita untuk berkarir ada dalam genggaman tanganya. Belum lagi wajah yang rupawan, tubuh yang tinggi semampai, dan selera penampilan yang lux membuat aku tak bisa beropini lebih lanjut tentang dirinya. Anehnya, kok aku sepertinya mengenal kekasihnya itu, tapi apa tidak salah? Aku belum berani memastikannya dengan jelas sebab posisinya agak membelakangiku.

Kupesan secangkir cappuccino lagi sekedar untuk berpantas-pantas ria berada di restoran ini. Setidaknya aku jadi punya alasan untuk bisa duduk lebih lama. Satu jam berlalu dengan cepat dan kelihatanya sepasang manusia itu segera kan mengakhiri persinggahannya. Sebenarnya sih, aku ingin cepat-cepat menghampiri wanita itu, hanya untuk memastikan seratus persen bahwa dia adalah Djenar yang pernah kukenal dulu sekaligus menyambung lagi tali komunikasi kami yang sempat terputus. Siapa tahu aku bisa mewawancarainya di program acara radio tentang jejak langkah seorang wanita sukses, mungkin akan berguna utk pendengarku. Baiklah, aku tak ingin kehilangan dia lagi, kapan lagi bisa bertemu dengannya? Indonesia kan cukup luas kalau hanya dihabiskan utk mencarinya saja.

Kuputuskan saja utk segera mendekatinya sementara dia dan pujaan hatinya itu hampir sampai ke pintu keluar. Selagi aku menghampirinya, kusiapkan kata-kata dan kalimatkalimat pembuka percakapanku dengannya. Oops, tinggal beberapa senti lagi jarakku dengannya. Dengan sesegera mungkin kujulurkan tanganku utk mencolek bahunya dan bersiap-siap mendaratkan ciuman di pipinya. Dalam beberapa saat saja setelah kedua sejoli itu menoleh padaku, senyumku mendadak memudar. Sebagai gantinya aku tertegun tak percaya dengan apa yang kulihat. Wanita itu sih tak salah lagi memang benar-benar adalah Djenar yang kukenal dulu sedangkan wajah kekasihnya itu begitu familiar bagiku. Dia pernah ada dalam hidupku dan mengisi hari-hariku. Dia membuatku tak pernah bisa berpaling pada laki-laki lain untuk selamanya. Dia adalah Jane, seorang kekasih hati bagi diriku dan rupanya bagi Djenar juga. Ternyata aku dan Djenar sama-sama berasal dari satu dunia. Dunia dimana hanya ada satu cinta dari dan untuk satu wanita yang bisa berperan ganda baik sebagai sumber maskulinitas dan feminitas sekaligus. Sebuah dunia dengan sisi kehidupan yang membedakan aku, Djenar dan juga Jane dengan dunia lain. Dimata orang lain, dengan penampilan seperti itu, mungkin Jane hanya dianggap seorang wanita abnormal yang kebetulan gagah, cantik sekaligus tampan, tipikal seorang lesbian. Tapi bagi kami, bagiku dan Djenar, dia adalah seorang pujaan hati yang benar-benar normal dan sempurna. Yang aku tahu pasti bahwa setelah ini, berat rasanya jika aku harus bersaing dengan Djenar untuk mendapatkan cinta Jane kembali apalagi mengharapkan sebuah cincin dan kecupan hangat darinya!

=========================================================================
Copyright by Pratiwi Wini Artati @2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s