Bicara Mata: Dari Mata, oleh Mata, dan Untuk Mata

Posted: May 11, 2012 in Personal-Me
Tags: , , ,

Secara filosofis, kita semua tahu bahwa mata adalah jendela jiwa. Salah satu panca indera yang diberikan cuma-cuma oleh Sang Khalik sebagai media untuk memproses pikiran dan perasaan sebelum turun ke hati dan otak. Alangkah indahnya saat mata kita dapat menikmati setiap detiknya untuk melirik, berkedip, memandang, dan bahkan meneteskan oase jiwa yg bernama air mata. Kedua mata kita saling bersinergi untuk saling mengisi dan menujang satu sama lain dan senantiasa setia menemani hari-hari kita.

Saat pikiran, perasaan dan tubuh kita menginginkannya untuk terbuka, matapun akan tetap terbuka. Saat lelah dan penat melanda, mata pun ikut menutup untuk memproses kelelahan tersebut. Ya, mata memang memiliki suatu kekuatan yang mampu meluluhlantakkan pikiran dan perasaan seseorang. Jika direnungkan saat sebelum tidur dan menutup mata, anugerah Sang Khalik yang satu ini sudah sepatutnya kita jaga dengan penuh fokus, kesetiaan, dan tanggung jawab.

Saat lalai, kita cenderung menyepelekan anugerah ini dan bahkan terkadang sering lupa dirawat, didoakan, dan dijaga kebaikannya. Untuk itu, alangkah indahnya jika kita juga dapat menyempatkan waktu untuk “berbicara” dengan panca indera kita (dalam hal ini mata) supaya kita dapat selalu diingatkan untuk bersyukur dan menjaga keindahannya dalam hidayah Sang Khalik. Semua itu tidak lain dan tidak bukan karena pada akhirnya nanti, kita akan mengembalikan titipan Sang Khalik ini pada saat akhir perjalanan hidup kita dan pada akhirnya mata kita sebagai salah satu dari panca indera kita akan memiliki “hak prerogatif” untuk “berbicara” padaNya selama melekat di tubuh kita semasa hidup.

Penuhilah mata kita dengan cinta; rasakanlah setiap gerakannya dengan cinta; Pandanglah segala sesuatunya dengan cinta. Saat melihat ke atas, jadikanlah itu sebagai semangat untuk maju. Saat melihat ke bawah, jadikanlah itu sebagai ungkapan syukur atas semua yg kita terima dan miliki. Saat melihat ke samping, jadikanlah itu sebagai semangat kebersamaan. Saat melihat ke “dalam”, jadikanlah itu sebagai media dan proses untuk introspeksi dan evaluasi diri. Saat melihat ke luar, jadikanlah itu sebagai fondasi kesadaran dan adaptasi kita terhadap lingkungan sekitar. Saat melihat ke “belakang”, jadikanlah itu sebagai media kita untuk menghargai dan mensyukuri setiap pengalaman hidup kita dengan mengambil setiap hikmahnya. Dan saat melihat ke depan, jadikanlah itu sebagai “Bahan bakar” untuk selalu berusaha lebih baik lagi dan menjadi versi terbaik dari diri kita.

Mataku, jiwaku

Mataku, hatiku

Mataku, cintaku,

Mataku, syukurku,

Mataku, ibadahku

Mataku, kepedulianku

Mataku, kepercayaan diriku

Mataku, sahabatku

By Wini,

Jakarta, 27 Juli 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s